
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻
Perjodohan adalah tradisi yang sering dilakukan pada jaman dulu, bahkan ada perjodohan yang sampai saat ini menjadi legenda dimasyarakat yaitu tentang perjodohan Siti Nurbaya..
bahkan jika perjodohan dilakukan pada jaman sekarang pasti anak muda-mudi sekarang menyebutkan ini bukan jaman Siti Nurbaya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻
Di masion besar keluarga Wijaya, Nyonya besar Wijaya merupakan seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik dengan umurnya yang mau memasuki kepala lima sedang duduk termenung. Wanita paruh baya itu bernama Angelina Wijaya,yah itu mama Gibran Prasetya Wijaya. Beliau berencana untuk mengatur perjodohan untuk anak semata wayangnya,karena di umurnya yang hampir menginjak kepala tiga. Belum pernah ada seorang gadis yang di kenalkannya kepada kedua orangtuanya. Ia memang Gibran belum pernah membawa seorang perempuan mana pun kerumah keluarganya.
Sampai-sampai sang mama nyonya Angelina Wijaya,di bikin pusing mendengar ocehan teman-teman sosialitanya, yang selalu mengungkit kapan punya mantu dan kapan punya cucu.
Begitulah pertanyaan teman-teman sosialitanya yang sering ia degarkan,saat mereka berkumpul bersama jika mereka mengadakan arisan. Maklum jeng ibu-ibu sosialita kan? pada rempong-rempong.
Mereka penasaran dengan Gibran, apalagi Gibran itu kan tampan dan mapan? pasti banyak dong perempuan yang mau?,begitulah yang ada dipikiran mereka.
Dan rencana mamanya Gibran, akan menjodohkan Gibran dengan anak rekan bisnis mereka. Yaitu anak dari Pak Budianto, sekaligus sahabat Papanya Gibran semasa kuliah dulu. Karena yang mereka tahu Pak Budianto juga mempunyai seorang anak gadis yang cantik dan masih melajang.
*Tr*ing tring tring
"Sayang kapan kamu pulang jenguki mama..?" tanya nyonya Angelina menelepon sang anak.
"Ia Ma. Nanti malam Gibran akan mampir" jawab Gibran lembut mendengar suara wanita paruh baya yang sangat dicintai olehnya.
"Ia. Jangan lupa mampir ada yang mau mama omongin" cerocos sang mama.
"Ia Mamaku sayang.Ya sudah Gibran matiin dulu ya ,soalnya Gibran lagi banyak kegiatan ini Ma" sahutnya.
Belum sempat Nyonya Wijaya menjawab,
tutt...tutt..tutt telepon dimatikan oleh Gibran sebelah pihak, membuat sang Nyonya besar terbakar jenggotnya karena saking kesal dengan tingkah sang anak.
"Nih lihat Pa. Anak Papa, selalu kayak begitu,selalu alasannya banyak kegiatan,kapan mau dapat jodoh kalau begitu terus, bisa-bisa dia melajang seumur hidup" cerecosnya ke arah sang Suami.
"Ingat Ma. Itu anak Mama juga" jawab sang Suami dengan nada kekehan.
"Ia Pa. Mama tau" jawabnya dengan muka manyum.
"Lagian kalau kita nelpon tanpa babibu langsung dimatiin teleponnya,anak itu sudah kelewatan banget sih ,awas ya anak nakal, kalau pulang entar Mama jewer kupingnya biar dia tau rasa" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Oh ya. Gimana dengan bisnis Papa, lancar tidak Pa?" tanyanya kepada sang Suami.
"Alhamdulillah Ma lancar, kenapa sih Ma?" tanya sang Suami.
"Eggak kenapa-napa kok Pa."
"Oh ya Pa. Kalau menurut Papa, kita jodohin Gibran dengan anaknya sahabat Papa itu bagaimana?"tanyanya lagi.
"Anak sahabat Papa yang mana sih Ma..?" tanya sang Suami.
"Itu loh Pa, anak Pak Budianto, Mama dengar beliau punya anak gadis yang cantik masih lajang lagi, mungkin akan cocok dengan Gibran anak kita" jelas Nyonya Wijaya panjang lebar.
"Terserah Mama, Papa sih ikut,kalau Gibrannya mau boleh-boleh saja" jawab sang Suami lembut.
"Ya sudah Papa. Telepon gih Pak Budianto nya ,undang mereka makan malam, malam ini di rumah kita" usul Nyonya Wijaya.
"Ya Ma. Papa akan nelpon, atau sebaiknya Mama ngomong dulu sama Gibran, siapa tahu Gibran sudah ada pilihannya" jawab sang Suami memberi saran.
"Tidak usah Pa, mana mungkin Gibran punya pilihan sendiri, kalau ada dari dulu sudah di bawa kesini, tapi ini belum ada seorang juga yang dia bawa" ujar Nyonya Wijaya.
"Ya sudah terserah Mama. Mana yang baik,Papa ikut saja" ujar sang Suami.
Sorepun berganti dengan malam,seperti janjinya Gibran pulang ke rumah orang tuanya.
*T*okk tokk tokk
"Assalamualaikum" Gibran memberi salam.
"Waalaikum salam" jawab pelayan sambil lari tergopoh-gopoh membuka pintu rumah besar keluarga Wijaya.
"Mama mana Bik?"
"Diruang tamu Tuan Muda".
Sementara diruang keluarga,ke-dua orang tua Gibran sedang berbincang-bincang dengan keluarga Budianto. Yah rencananya Pak Wijaya mau ngejodohin Gibran dengan anak Pak Budianto. Revalina nama putri Pak Budianto,pemilik butik terbesar di kota itu, ya gadis sexy dan cantik dengan tinggi semampai bodynya kayak model internasional.
"Ma Pa Gibran pulang" teriak Gibran sesampainya diruang tamu, tanpa memperdulikan ada orang lain diantara kedua orang tuanya.
"Pulang juga anak nakal ini yah" sahut Nyonya Wijaya berdiri dari duduknya,lalu menjewer kuping Gibran,yah walaupun Gibran dingin tapi tidak berlaku bagi Nyonya Wijaya.
__ADS_1
"Ampun Ma sakit,lepas Ma Gibran bukan anak kecil lagi"ucapnya sambil megaduh kesakitan karena dijewer oleh sang Mama.
Orang-orang yang ada diruang tamu pada tertawa dengan tingkah anak dan ibu tersebut.
"Sudah-sudah Ma kasian Gibrannya" Pak Wijaya menengahi anak dan Istrinya.
"Duduk dulu ada yang Papa mau omongin sama kamu." Guman Pak Wijaya lagi.
"Ya Pa. Ada apa?"tanya Gibran tanpa berbasa-basi.
"Perkenalkan, ini Revalina anak Om Budianto pemilik butik terbesar di kota ini,dan sekaligus sahabat Papa" ucap tuan Wijaya sambil memperkenalkan gadis cantik yang ada di depannya.
"Mmm" jawab Gibran acuh tak acuh
( kumat deh sifat dinginnya, karena berhadapan dengan orang yang tidak ia sukai).
"Apa maksudnya dengan semua ini Pa Ma..??" ucapnya lagi.
"Rencananya kami mau menodohkan kamu dengan dia" jawab sang Papa.
"Maaf Pa. Gibran tidak bisa" balasnya the points.
"Tapi" belum selesai Tuan Wijaya berbicara Gibran berlalu kekamarnya, tanpa menghiraukan tatapan kecewa para tamu
yang berada diruang tamu tersebut.
"Maaf ya jeng atas sikap Gibran,memang dia begitu anaknya" ucap nyonya Wijaya mencairkan suasana yang sempat menegang.
"Ya tidak apa-apa jeng" balas nyonya Budianto.
Sementara Reva tengah asyik melamun, karena dari pertama dia melihat Gibran sudah kepincut dengan kegantengannya.
"Aduh ganteng sekali sih, pokoknya bagaimanapun caranya aku harus dapati dia,tajir banget lagi"batinnya sambil tersenyum dengan licik.
Sementara dikamarnya Gibran tak henti-hentinya ngedumel sendiri.
"Mama,Papa apaan sih? pakai ngejodohoni aku segala lagi,mereka pikir aku tidak laku apa? apa lagi di jodohinnya sama cewek kayak begitu kayak Kucing garong" kesalnya. Karena dari pertama dia melihat Reva, dia sudah tidak suka dengan cewek genit seperti Reva.
"Lebih baik aku pulang saja kemasion ku,siapa tau cewek abal-abal itu sudah datang" ucap Gibran sambil senyum-senyum sendiri ngebayangin wajah cewek abal-abalnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻