Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Rencana Reva


__ADS_3

🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹


Terkadang jika kita melakukan suatu perbuatan baik, belum tentu di nilai baik oleh orang lain tetapi jangan takut Allah takkan salah menilai hamba nya.


Sedikit berharap banyak bersiap, sedikit menghakimi banyak menghargai, sedikit menyesali banyak mensyukuri.


🌻🌹🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌻🌹


Sementara di masion besar keluarga Wijaya, Nyonya Angelina Wijaya selaku Nyonya rumah sedang sibuk menyiapkan makan malam. Kali ini dia harus menyiapkan sendiri makan malamnya, karena akan ada kedatangan tamu yang sangat penting baginya.


Ting tong ting tong.


Bel massion itu berbunyi.


"Bik coba dilihat siapa yang datang."


"Baik Nyonya" sahut si bibik sambil lari tergopoh-gopoh melihat siapa yang datang.


"Eh Nyonya Budianto dan Nona Reva, silahkan masuk" sapa si bibik ramah.


Yah tamu yang di tunggu- tunggu oleh Nyonya Wijaya, adalah Nyonya Budianto dan anaknya Reva.


"Mmm majikan kamu ada?" tanya Nyonya Budianto dengan gayanya yang sok elegan.


"Ada Nyonya, Nyonya besar lagi diruang makan, silahkan Nyonya" ucap bibik mempersilahkan tamu majikannya untuk masuk.


Tanpa basa-basi kedua tamu tersebut, segera nyelonong masuk dan tanpa salam tentunya. Karena bagi mereka mengucapkan salam itu hal yang kolot, padahal bagi orang lain ya yang tentunya bagi umat muslim. Kalau masuk rumah orang ataupun rumah sendiri salam wajib di ucapkan, katanya setan akan takut jikalau kita mengucapkan salam jadi dia tidak berani ikut kita masuk kedalam rumah.


"Hai jeng, sudah pada datang ya?"sapa Nyonya Wijaya berbasi- basi kepada sang tamu.


"Ia nih jeng, kami baru datang" sahut Nyonya Budianto sok ramah.


"Berdua saja jeng?" tanya Nyonya Wijaya karena tidak melihat Pak Budianto di antara mereka.

__ADS_1


"Ia nih jeng, Papanya Reva lagi sibuk sekali tuh dengan bisnisnya, yang makin berkembang"sahut Nyonya Budianto dengan suara ramah yang di buat-buat ala wanita sosialitalah.


"Kalau begitu silahkan duduk jeng" ucap Nyonya wijaya sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Dan dia juga menyuruh untuk Bibik menyuguhkan teh, dan sedikit makanan ringan.


"Oh ya jeng Gibrannya mana?" tanya Nyonya Budianto sambil duduk di kursi yang ada diruang tamu.


"Oh Gibran di kantor mungkin, maklum jeng dia banyak kerjaan, dia memang jarang pulang ke sini apalagi dia sudah ada massion sendiri" ucap Nyonya Wijaya ramah.


"Oh begitu ya jeng?"


"Oh ya Reva katanya ada yang mau kamu omongin sayang, ke tante Angelina, kok diam sih sayang?" ucap Nyonya Budianto kepada sang anak.


"Maklum jeng, anak muda kalau bertemu calon mertua jadi malu" sambungnya lagi.


"Emang ada apa sih sayang..?" tanya Nyonya Wijaya dengan senyum ramahnya khas seorang ibu.


"Gini tante...Reva mau di jodohin sama Gibran... kalau bisa acara tunangannya di percepat"ucap Reva malu-malu mengutarakan maksudnya.


"Betul jeng" Jawab Nyonya Wijaya.


"Tapi bagaimana dengan Gibran tante?Kayaknya Gibran sudah mencintai orang lain" ucap Reva khawatir dengan sikap Gibran, apalagi dia melihat Gibran bersama Riani begitu mesra waktu Reva bertamu ke kantornya tempo hari.


"Kamu tenang saja sayang, urusan Gibran biar tante yang urus. Soal Gibran mencintai orang lain itu hanya gosip, jangan kamu dengerin. Buktinya sampai sekarang belum pernah satu gadis pun di bawa kesini sama Gibran" jelas Nyonya Wijaya panjang lebar.


"Beneran tante..?" ucap Reva semangat seulas senyum terpapar di wajah mulusnya, yang penuh dengan berbagai macam mack up merek terkenal.


"Berarti cewek gatel itu hanya mainan sesaat untuk Gibran, tetapi gue yang akan menjadi Nyonya Gibran. Jadi buat apa juga gue harus pusingin dan ngelapor tentang cewek gatel itu ke tante Angelina yang ada mood gue nanti hilang lagi" gumamnya dalam hati sambil tersenyum licik, dan dia juga ngebayangin dia akan jadi Nyonya dari pewaris tunggal WIJAYA GROUP, apalagi Gibran juga punya perusahaan sendiri yang tidak kalah besar dari punya keluarganya. Pasti dia akan menjadi satu-satunya wanita yang sangat beruntung menjadi istri sang penguasa kota, ngebayangin saja sudah bikin dia bahagia, apalagi kalau itu kenyataan, entah apa yang akan terjadi..? Apalagi harta kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan.


Reva juga membayangkan betapa orang akan iri dengan dirinya terutama kaum hawa,


dia dapat menikah Gibran. Sudah tampan, keren, tajir melintir lagi siapa yang tidak mau.

__ADS_1


"Benaran kok sayang, buktinya tante jodohin Gibran dengan kamu" ucap Nyonya Wijaya lembut.


"Itu dengerin sayang,jadi tidakk ada yang perlu kamu khawatirkan" ucap nyonya Budianto menyemangati anaknya.


"Ayo kita makan malam dulu" ajak Nyonya Wijaya.


"Ayo jeng" jawab Nyonya Budianto sambil bangun mengikuti Nyonya rumah,


sementara Reva sudah senang bukan kepalang.


"Yeesss yess akhirnya satu langkah terselesaikan, tinggal menaklukan Gibran. Pokoknya dia harus menjadi milik gue apapun ceritanya, dan bagaimana pun caranya gue akan dapati dia. Termasuk gue akan ngingkirin cewek sialan itu, kalau dia berani ngehalangi jalan gue buat dapatin Gibran" ucapnya dalam hati sambil tersenyum senang.


Mereka makan malam seperti biasa tanpa ada yang berbicara, hanya sendok dan garpu saling tendang- menendang.


Setelah makan malam selesai mereka kembali duduk di ruang tamu, di situ sudah ada Nyonya Wijaya, Tuan Wijaya, Reva dan mamanya. Nereka sedang membahas rencana pertunangan Reva dan Gibran yang akan di laksanakan dua bulan lagi, mereka berencana merencanakan pertunangan yang sangat megah serta mewah. Apalagi anak mereka masing-masing anak tunggal, karena keluarga Wijaya adalah keluarga terkaya di kota tersebut, apalagi kolega bisnis mereka terdapat di mana-mana


Nyonya Wijaya dan Tuan Wijaya juga menunggu keputusan dari Gibran terlebih dulu, seandainya Gibran menyetujuinya akan di percepat acaranya. Seandainya Gibran tidak menyetujui mereka akan mengasih dua pilihan kepada Gibran, membawa calon istri atau mereka akan memaksa Gibran menikah segera dengan Reva. Sebetulnya kedua orang tuanya Gibran tidak memaksa kehendak mereka, mereka cuma khawatir, apakah anak mereka normal atau tidak. Karena sampai saat ini belum ada satu perempuan pun yang dekat dengan anak mereka, apalagi dekat di gosipin pun tidak pernah,makanya dari itu membuat kedua orang itu sangat khawatir.


Mereka juga tidak mau memilih-milih jodoh untuk Gibran tapi ini sudah terpaksa, seandainya nanti Gibran membawa orang yang dia cintai di hadapan mereka. Mereka janji akan menerima dengan lapang dada, walaupun kasta mereka berbeda karena bagi mereka harta bukan yang utama tapi kebahagiaan yan lebih utama.


Dan mereka pun akan memutuskan rencana perjodohan Gibran dan Reva dengan secara baik-baik, karena mereka tidak mau egois dengan memaksa kehendak mereka dengan sang anak.


Karena bagi mereka Gibran adalah permata yang lebih berharga dari apapun.


🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌹🌹🌻🌹🌻🌹🌹


mohon like and komen nya ...


terima kasih atas dukungan nya...


love you readers....


love you

__ADS_1


😄😘😍😆


__ADS_2