
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌻
Balas dendam memang dapat memuaskan mu.
Tetapi tidak dapat membuat keadaan menjadi lebih baik.
🌻🌹🌻🌻🌹🌻🌻🌻🌻🌹😂🌹🌹🌹🌻🌹
Setelah kepulangan Astrid dari rumahnya, Riani kesal sendiri. Dia menggerutu tiada henti-hentinya.
"Dasar Astrid sialan, berani sekali dia mengancam aku. Mau merayu mas Gibran lagi, masak mau medekatu calon suami orang pakai bilang sama calon istrinya dulu sih. Apalagi ini pakai minta bantuan aku segala lagi, siapa juga yang mau bantuin dia,memangnya aku sudah gila apa? Aku kan sebel banget, apalagi dengan pedenya dia bilang pasti Mas akan ninggalin aku, bila dia melihat Astrid. Tidak ada yang bisa menolak pesonanya Astrid, mau muntah aku dengar kata-katanya. Terus bagaimana kalau Mas Gibran benar-benar terpesona ya? Awas aja kalau itu benar-benar terjadi, aku akan menyunat nya sekali lagi( kejam amat sih neng). Susah banget ya kalau punya calon suami ganteng begitu,banyak pelakor merajalela".
Tanpa Riani sadari ada Bibi di belakang nya.
"Kamu kenapa Ndok?"
"Eh Bibi. Baru pulang Bik?" tanya Riani, dia sangat terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Bibi di belakang nya.
"Iyo Ndok. Kamu belum menjawab pertanyaan Bibi, kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa kok Bik."
"Jangan bohong Ndok. Bibi sudah mengenalmu sejak kecil, Bibi tidak bisa kamu bohongin."
"Hehe memang Bibi paling tau aku"
"Makanya cerita dong sama Bibi."
"Ini lho Bik. Tadi Astrid kesini"
"Ngapain dia kesini Ndok?"
"Riani juga tidak tau Bik. Seperti nya betul apa yang di bilang Marni tempo hari,Astrid menyukai Mas Gibran"
"Memang dia ada bilang begitu tadi?"
"Ada Bik, dia minta Riani buat dekati dia dengan Mas Gibran"
"Terus kamu bilang apa Ndok?"
"Yah aku bilang kalau Mas Gibran sudah punya calon istri, jadi aku suruh dia mundur."
"Dia ada curiga tidak? Kalau calon istri nya Nak Gibran kamu Ndok?"
__ADS_1
"Tidak sih Bik, tapi dia ngancam Riani."
"Bagaimana dia ngancam nya Ndok?"
"Dia akan ngerayu Mas Gibran sendiri tanpa bantuan Riani, Riani takut bik, takut Mas Gibran akan tergoda nantinya."
"Jangan takut Ndok. Kalau dia memang jodoh kamu tidak akan tergoda dengan yang lain, yakinlah Ndok kalau jodoh tak kan kemana."
"Ia sih Bik. Apa kita bilang saja sama warga kalau Mas Gibran calon Suaminya Riani?"
"Kita tanya dulu ya ke Paman mu Ndok. Maaf ya Ndok gara-gara usulan kami menimbulkan masalah untuk kamu"
"Tidak apa-apa kok Bik."
Flashback.
Setelah memetik beberapa sayur di kebun, Bibi segera ke pasar untuk menjual sayur tersebut. Kemudian Bibi pulang untuk membantu Riani menyiapkan makan siang, dan dia merasa terheran-heran melihat keponakan nya sedang mengumpat dan menggerutu sendiri. Seperti habis perang dunia ketiga baru di mulai.
Flash on.
Berbeda dengan di tempat Astrid dia lagi menyusun rencana untuk mendekati Gibran, dia juga menggerutu sendiri sambil pulang dari Rumah nya Riani.
"Dasar Riani sialan, dia sudah gak mau bantuin aku, malah dia mengusir aku lagi. Sombong banget sih dia mentang-mentang punya sepupu ganteng dari kota, ini main bilang sudah punya istri lagi, dia pikir aku percaya apa?. Pokoknya bagaimana pun caranya aku harus dapatkan cowok itu, apabila perlu aku harus nyingkirin calon istrinya terlebih dulu. Aku harus memikirkan ide yang bagus untuk menyusun rencana, lebih baik aku menemui orang ini, siapa tahu mereka punya ide bagus"
Kemudian Astrid pergi mencari dimana ketiga temannya berada, setelah beberapa menit menyusuri jalan setapak akhirnya Astrid menemukan ketiga temannya, sedang duduk-duduk ditempat biasa mereka sering berkumpul.
"Oh tumben kamu cari kami, ada apa?" tanya Marni yang memang tidak suka dengan Astrid.
"Yee kan biasa kita kumpul"
"Ya tapi sering kami yang harus ke rumah kamu" jawab Marni kesal.
"Sudah-sudah jangan pada ribut lagi. Ada apa sih Astrid kamu cari kita-kita?" Devi menengahi pertengkaran Astrid dengan Marni. Memang di antara mereka Devi lah yang paling bijak.
"Emm ini. Aku tadi ke rumahnya Riani" perkataan Astrid segera di potong oleh Marni.
"Nekat banget sih kamu, kan sudah aku bilang."
"Diam kamu. Ini gak ada urusan nya sama kamu" bentak Astrid.
"Terserah kamu deh" Marni memilih untuk mengalah.
"Jadi ngapain kamu ke rumahnya Riani? Jangan bilang kamu benar-benar menyukai sepupunya itu?" tanya Devi penasaran.
__ADS_1
"Ia tebakan kamu memang benar. Aku memang ke sana, untuk meminta bantuan Riani untuk dekati sepupu nya."
"Ya ampun Astrid. Arman mau kamu ke manain? Terus Riani ngomong apa?" tanya Devi lagi.
"Soal Arman itu gampang. Arman kan bisa jadi ban serep, ya itu Riani gak mau bantuin aku."
"Jahat banget sih kamu Astrid" timpal Marni dia kesal dengan tingkah kawannya.
"Biarin saja memang gue pikirin"
"Ingat Astrid karma pasti ada. Dan ingat juga karma tak semanis kurma." balas Marni lagi.
"Sok puitis kamu Mar. Terus kenapa Riani tidak mau bantuin?"tanya Devi.
"Katanya sepupunya itu sudah punya calon istri, dan sebentar lagi mau nikah."
"Kan benar yang aku bilang" Marni tidak tinggal diam, dia terus mengoceh.
"Sudah aku bilang kamu diam kenapa? Tapi aku tidak akan percaya begitu saja perkataan nya Riani. Pasti dia ngiri kalau aku dapati sepupu nya yang ganteng itu, dia kan selalu begitu" ujar Astrid dengan pedenya.
Sedangkan teman-temannya sudah mau muntah mendengar perkataan Astrid barusan, apalagi Kucing tetangga yang lewat tadi di depan mereka. Buru-buru lari author rasa Kucing itu sudah muntah mendengar celotehan nya Astrid.
"Kalian kenapa begitu? mukanya seperti orang mau muntah?" tanya Astrid dengan bodohnya.
"Gak tadi lewat burung hantu, dengan pedenya burung tersebut memuji dirinya sendiri"jawab Marni dengan nada mengejek Astrid. Tapi Astrid belum juga menyadari nya, malah Astrid semakin menjadi.
"Alah kamu Mar. Burung hantu kamu peduliin, memang burung itu sudah begitu tidak tahu diri"
"Ya seperti kamu" jawab mereka serempak, tapi cuma dalam hati saja takut perang dunia nanti kalau mereka terus terang.
"Siapa sih nama sepupunya Riani yang dari kota itu?" tanya Devi kemudian.
"Gibran kayaknya" jawab Marni
"Ia Gibran. emang kenapa?" tanya Astrid.
"Kayaknya aku pernah lihat orangnya, dan pernah dengar namanya. Dimana ya?" Devi mulai berpikir dimana dia pernah melihat Gibran.
"Emang di mana sih kamu melihat nya?" tanya Astrid penasaran.
"Ia aku gak tau. Coba aku pikir-pikir dulu ya?."
Akhirnya setelah berpikir agak lama sedikit Devi mendapatkan jawabannya.
__ADS_1
"Oh aku ingat dia kan Gibran Prasetya Wijaya, pengusaha muda dan pewaris tunggal penguasa Kota A, dan perusahaan nya nomor satu di kota A , yang bernama GIBRAN GROUP" jelas Devi setelah mengingat siapa Gibran.
Sedangkan Astrid makin ingin memiliki Gibran sepenuhnya, setelah tau siapa Gibran sebenarnya.