
🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻💖💖🌹
Kamu boleh bermain dengan drama mu.
Tapi siap-siap bermain dengan karma mu.
💖🌹🌹🌹🌹🌻💖🌻💖🌹💖🌹💖🌹💖🌹
Happy reading readersku tercinta.
Akhirnya setelah mendengar keputusan Gibran, Pak Sabri beserta keluarga pulang dengan hati dan perasaan kecewa.
Apalagi Astrid dia sangat marah, karena orang yang ingin dimiliki nya.
Menolak mentah-mentah dirinya, bahkan waktu dia di sana apalagi suka melirik sedikit pun tidak.
Dia sangat marah dengan pengakuan Gibran, dia masih beranggapan ini semua pasti ulah nya Riani.
Riani yang telah menghasut Gibran supaya menolak perjodohan antara dia dan Gibran, dia sangat yakin. Apalagi dengan alasan Gibran sudah mempunyai calon sendiri, menurutnya itu tidak masuk akal.
Dengan kejadian tadi menambah pula kadar kebencian nya terhadap Riani, dia ingin membalas Riani suatu hari nanti.
Sesampainya di rumah Astrid langsung mengadu kepada sang Ayah.
"Pak Astrid tidak terima dengan semua ini, pokoknya bagaimana pun caranya aku harus dapatkan Mas Gibran"
"Ia Ndok sabar. Bapak akan cari cara."
"Pokoknya Bapak harus bisa membuat Mas Gibran jadi milik Astrid"
"Ia Ndok. Bapak akan pasti kan dia akan menerima kamu"
"Terima kasih Pak. Bapak memang yang terbaik."
"Bapak. Bapak harus berpikir dulu sebelum bertindak, hargai keputusan Nak Gibran" nasihat sang istri.
"Ibu lebih baik diam, ibu tahu apa? Ini demi kebahagiaan anak kita satu-satunya" bentak Pak Sabri.
"Kalau begitu caranya itu bukan demi kebahagiaan anak kita, tapi itu demi membuat anak kita celaka"
__ADS_1
"Maksud ibu apa? ibu memang tidak ingin melihat aku bahagia. Ibu sebenarnya ibu kandung aku atau bukan sih?" bentak Astrid.
"Itu Pak lihat. Anak yang selama ini bapak manjakan, dia semakin kurang ajar. Berani-beraninya dia membentak ibu nya begini" bu Latifah diam sebentar mengatur napasnya, karena dia sangat emosi dengan sifat Astrid.
"Ibu bilang begitu demi kebahagiaan kamu juga, karena tidak baik pernikahan di paksakan pasti tidak akan bahagia. Apalagi Nak Gibran tidak mencintai kamu Ndok, kamu tidak baik memaksakan keinginan kamu kepada orang lain. Ingat Ndok dia sudah punya calon sendiri, kamu tidak boleh begitu" nasihat Bu Latifah panjang lebar, tetapi tidak di dengar oleh Astrid.
Seumpama nya masuk lewat telinga kiri, keluar telinga kanan. Malah dia semakin menjadi-jadi.
"Ibu jangan sok menasehati aku, aku tahu sendiri apa yang menjadi kebahagiaan aku. Dan Mas Gibran itu kebahagiaan aku" teriak Astrid tepat di depan muka sang ibu.
Sedangkan sang ayah cuma diam saja,dia sama berambisi seperti Astrid ingin menjadikan Gibran sebagai bagian dari keluarga mereka. Apalagi setelah dia tahu siapa Gibran yang sebenarnya, dia kian berambisi.
Plakk..
Sebuah tamparan yang sangat keras melayang di pipinya Astrid.
Membuat Astrid dan Pak Sabri terkejut, karena belum pernah melihat kemarahan sang mama dan Istri bagi Pak Sabri.
Yah orang yang menampar Astrid adalah buk Latifah, karena dia sangat geram dengan perkataan nya Astrid. Kian hari kian menjadi-jadi, apalagi Astrid sudah berani mengucapkan kata-kata tidak pantas di depannya.
"Pak coba lihat ibu, dia sudah berani menampar Astrid" ngadu Astrid dengan air mata berurai.
"Apa yang kamu bilang Ndok. Ibumu mungkin tidak sengaja, biar nanti Bapak nasehatin" ujar Pak Sabri menangkan sang anak.
"Ia Pak Astrid ke kamar dulu" ujar Astrid berlalu ke kamarnya sambil mengusap wajahnya yang memar akibat tamparan sang ibu tadi.
Sementara di situ tinggal Pak Sabri dan Bu Latifah.
"Ibu kenapa harus main kasar terhadap Astrid? Kasihan dia, kan bisa ibu ngomong baik-baik" ujar sang Suami membuka suara.
"Kurang baik apalagi sih Pak, Ibu ngomong nya. Dia itu semakin kurang ajar, coba Bapak tidak menuruti setiap keinginan nya. Jadi dia tidak seperti itu, keras kepala"
"Ia itu salah Bapak" jawab Pak Sabri mengalah.
"Ia kalau tahu itu salah Bapak, Ibu mohon agar tidak di lanjutkan lagi tentang keinginan nya Astrid ingin memiliki Nak Gibran. Dia sudah punya calon sendiri, lagian Bapak tahu sendiri siapa Nak Gibran itu kan? Ibu tidak mau Bapak berurusan dengan dia, bisa-bisanya dia nanti akan menghentikan kerupuk-kerupuk kita masuk ke restoran nya" Nasihat sang Istri karena takut apa yang di omonginnya menjadi kenyataan, lagipula dia pernah mendengar betapa kejamnya Gibran kalau seseorang menyinggung nya.
"Ia Bu Bapak tahu. Tapi maaf Bu, Bapak tidak akan menghentikan ini semua. Karena Bapak dari dulu sangat ingin mempunyai menantu orang kaya, apalagi orang yang berpengaruh seperti Nak Gibran. Bapak akan menanggung segala resiko nya, demi menjadikan Nak Gibran sebagai menantu keluarga kita. Memang ibu tidak ingin menjadi orang terpandang hah?" tanya Pak Sabri.
"Bapak kenapa Bapak terlalu serakah, tidak cukup dengan harta yang kita miliki sekarang? Bapak sadar, ibu takut karena keserakahan Bapak membuat apa yang kita miliki sekarang menjadi hancur"Bu Latifah kembali menasehati suaminya, karena tidak ingin suaminya serakah.
__ADS_1
Memang kita manusia tidak cukup dengan apa yang kita punya, kita selalu menginginkan lebih dan lebih.
Walaupun nyawa taruhannya sekalipun, kita juga tidak akan berhenti untuk mendapatkan keinginannya kita.
Setelah mendengar perkataan sang Istri Pak Sabri mulai berpikir, tetapi keserakahan nya menyalahkan nalurinya.
"Ibu jangan menasehati Bapak lagi, Bapak tetap akan menjalankan rencana Bapak. Jadi tidak ada gunanya Ibu banyak bicara, lebih baik Ibu mendukung saja keputusan Bapak" teriak Pak Sabri mulai emosi.
"Terserah Bapak saja, kalau Bapak tidak mau mendengarkan. Maaf Ibu tidak mau mendukung Bapak, karena Ibu tidak mau terkena imbasnya dari perbuatan Bapak"
"Terserah Ibu saja" ujar Pak Sabri berlalu ke kamar mandi.
Sedangkan Ibu Latifah juga kembali ke kamarnya, karena malam semakin larut.
Sementara di kediaman Pak Fadli, selepas keluar Pak Sabri pulang. Semua orang yang berada di situ merasa heran dengan tingkah nya Astrid tadi.
Apalagi Riani dia sangat ingin meledek Gibran,lagipula keluarga nya Astrid juga sudah pulang. Ini kesempatan untuk Riani meledek Gibran, dan dia mulai melakukan Aksinya.
"Bagaimana Mas? Cantikkan calon istrinya Mas? Apalagi tadi calon mertua Mas bilang,kalian cocok sekali. Benar-benar cocok hehe"
"Apaan sih kamu sayang, Mas tidak menyukai dia. Yang Mas cinta hanyalah kamu"
"Uh ngombal, belum kena rayuan Astrid sih"
"Enggak kok sayang, walaupun kena rayuan Mas tidak akan tergoda"
"Yang betul?"
"Betul kok sayang, berani sumpah di gigit Bebek deh"
"Apa di gigit Bebek? Berarti Mas tidak serius dong" Riani pura-pura cemberut.
"Enggak kok sayang Mas serius, tadi Mas salah sebut"
"Sudah-sudah jangan ribut lagi, mendingan kalian tidur sudah malam" ujar sang Paman, membuat Riani dan Gibran diam seketika.
Kemudian mereka masuk ke kamar masing-masing, begitu juga Paman dan bibi.
Bersambung.
__ADS_1