
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Kebahagiaan adalah suatu anugerah terindah dalam hidup yang di berikan yang maha kuasa kepada hamba nya....
maka jika kebahagiaan itu menghampiri mu, bersyukur lah karena dengan bersyukur semua nya akan terasa indah...
jangan pernah mengeluh karena mengeluh itu tiada guna nya.... mengeluh itu cuma percuma saja ,, karena dengan Kita mengeluh semua nya tidak akan berubah...maka dari itu bersyukur lah.....
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Setelah Nyonya Wijaya pulang dari pertemuan nya dengan Nyonya Budianto, dia merasa lega karena masalah perjodohan antara Gibran dan Reva sudah terselesaikan. Menurut Nyonya Wijaya mereka sudah membatalkan, walaupun dengan terima atau tidak di terima oleh pihak Nyonya Budianto. Menurutnya itu bukan urusan dia, karena dia sudah menyelesaikannya. Walaupun suatu hari nanti keluarga Budianto membuat ulah, dia juga tidak akan segan-segan lagi terhadap keluarga itu.
Setelah sampai di rumahnya Nyonya Wijaya berencana membahas pernikahan antara Gibran dan Riani, rencananya di sambut baik oleh sang anak. Dia juga berencana segera mungkin menyiapkan pernikahannya dengan sang pujaan hati, apalagi masalah perjodohannya dengan Reva sudah terselesaikan.
Tetapi sebelum semua itu terjadi Riani meminta Gibran,untuk pergi menemaninya meminta restu dari Bibinya yang ada di kota C. Apalagi semenjak Riani menginjak kaki di kota itu, belum pernah sekalipun ia berkunjung ke rumah Bibinya rasa kangen dan rindu, terhadap Bibinya tak bisa ia tahan lagi.
Hari ini adalah hari libur ,ini bisa jadi kesempatan untuk Riani beserta Gibran pergi ke kota C, setelah mereka pamit kepada kedua orang tuanya Gibran. Mereka segera berangkat ke Kota C, mereka pergi cuma berdua. Karena orang tua Gibran akan menjumpai Bibinya Riani,beberapa hari sebelum di laksanakan pernikahan mereka. Begitulah yang di tuturkan oleh Mamanya Gibran kepada Riani, karena sekarang ini mereka lagi di sibukkan dengan banyak pekerjaan. Apalagi banyak persiapan yang harus mereka siapkan, untuk pernikahan anak semata wayangnya.
Walaupun pernikahannya akan di buat sesederhana mungkin, hanya kerabat terdekat dan beberapa kolega bisnis saja yang akan di undang. Sebetulnya mereka ingin mengadakan pesta yang sangat mewah, apalagi Gibran anak satu-satunya bagi mereka.Tetapi karena permintaan Riani tempo hari,dia tidak mau pernikahannya terlalu mewah, apalagi harus banyak menghambur-hamburkan uang. Baginya walaupun sederhana yang penting sah, apalagi dia juga tidak ingin pernikahannya di ketahui khalayak ramai, dia belum siap jadi sorotan publik. Apalagi Gibran merupakan pengusaha muda,yang sangat terkenal dikalangan pebisnis dan juga anak seorang penguasa kota,pasti akan banyak sorotan dari publik.
Riani juga ingin merahasiakan pernikahan mereka untuk sementara waktu, terutama dari karyawan kantor,barlah mereka menganggapnya seperti biasa. Sebenarnya Gibran dan kedua orang tuanya merasa berat dengan permintaan Riani, mereka ingin supaya Riani di kenal oleh khalayak ramai sebagai anggota keluarga Wijaya. Tapi apa boleh buat itu permintaan Riani sendiri, jadi mau tidak mau harus di turutin. Mereka juga berjanji suatu saat nanti, jika Riani sudah siap mempublikasikan hubungan nya dengan Gibran, mereka akan mengadakan pesta yang sangat meriah.
Hampir empat jam Riani dan Gibran melakukan perjalanan menuju ke kota C tempat Bibinya Riani, mereka pergi mengunakan mobil dengan di kendarai oleh Gibran sendiri. Gibran sengaja tidak mengajak sopir, karena dia hanya ingin berduaan di dalam mobil dengan Riani,apalagi ini perjalanan pertama mereka yang paling jauh.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di pedesaan tempat tinggal Bibinya Riani. Hamparan sawah dan kebun, membuat suasana di desa tersebut sangat sejuk. Apalagi dengan pohon-pohon hijau yang sangat asri, Riani merasa seperti ia kembali ke masa kanak-kanaknya. Riani sangat merindukan masa-masa itu, apalagi saat dia melihat hamparan sawah yang menghijau, dan air sungai yang jernih mengalir. Serta pohon-pohon yang melambai-lambaiksn daunnya saat di tiup oleh angin,begitu sejuk apalagi saat ia mendengar burung berkicau menambah kerinduannya pada masa lampau.
Tidak terasa mobil mewah Gibran memasuki sebuah lorong yang tidak terlalu sempit, di situ sudah bisa terlihat sebuah gubuk dengan anyaman daun Rumbia. Sebagai atapnya dan anyaman bambu sebagai dindingnya, kalau di lihat begitu nyaman. Apalagi ada beberapa pohon hidup di depan rumah tersebut, menjadi tempat untuk di buat persinggahan.
Bagi orang kota seperti Gibran rumah seperti itu, mungkin tidak layak lagi untuk di huni tetapi tidak bagi Riani. Baginya rumah seperti itu adalah rumah ternyaman, apalagi itu rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya.
Sesampainya mereka di depan rumah tersebut,Riani segera turun dari mobil begitu pun dengan Gibran ia juga turun dari mobil mengikuti Riani.
"Assalamualaikum."
"Bibi Bibi Riani pulang"
"Walaalaikum salam Ndok kapan pulangnya..?" jawab wanita paruh baya yang baru keluar dari rumah gubuk tersebut, tubuhnya yang kurus dan kulitnya sudah mulai keriput di sekitar wajah menandakan ia sudah berumur puluhan tahun.
setelah melepas rasa rindunya terhadap wanita paruh baya itu Riani baru melepas pelukannya.
"Masuk dulu Ndok. Oh siapa gerangan pemuda tampan ini" tanya Bibik yang baru menyadari kehadiran Gibran,
dan Gibran langsung memperkenalkan diri.
"Saya Gibran Bik calon Suaminya Riani" ujar Gibran sambil menyalami tangannya Bibi.
"Ooh calon Suami kamu toh Ndok. Kasep pisan" ujar Bibi memuji kengantengan Gibran.
__ADS_1
"Ayo masuk dulu Ndok" ujar Bibi mempersilahkan mereka masuk.
Mereka masuk dan duduk di atas tikar yang sudah di gelar maklum rumah Bibi,cuma rumah sederhana jadi tidak ada sofa atau bangku begitu.
Setelah mereka duduk Bibi selaku Tuan rumah, segera membuat minum untuk mereka berdua. Dengan cemilan seadanya, apalagi tadi waktu Riani pulang juga sempat ia membeli oleh-oleh sedikit.
"Bik biar Riani saja yang membuat minum" ujar Riani menahan wanita paruh baya itu.
"Ndak apa-apa Ndok kamu pasti capek baru melakukan perjalanan jauh, lebih baik kamu istirahat dulu, biar Bibik saja yang membuat minum" ujar sang Bibi.
Setelah melakukan perdebatan sedikit,Riani mengalah dan membiarkan sang Bibi membuat minum untuk mereka.
Selang beberapa menit kemudian, Bibi sudah selesai membuat minum dan menyajikan di depan mereka.
"Silakan di minum dulu Ndok" ujar Bibi.
"Terima kasih Bik" ujar mereka.
"Oh ya Bik. Paman dan orang ini pada kemana?" tanya Riani.
"Oh Pamanmu pergi ke kebun, dan orang-orang ini lagi ada kegiatan di madrasah" ujar Bibi
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
hy readers ku tersayang aku kembali lagi terima kasih atas dukungan nya