Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Anggara di kerjain.


__ADS_3

💖🌻💖🌹💖🌻🌹🌻🌹💖🌻💖🌻🌹💖🌹


Cinta adalah suatu definisi keberanian dan harga diri dipertaruhkan.


🌻💖🌻🌹💖🌻🌻🌹💖🌻🌹💖🌻💖🌻💖


Happy reading reader ku tercinta.


Setelah aksi lempar-lemparan yang dilakukan oleh Gibran dan Anggara, yang akhirnya mengenai muka Paman. Mereka juga ditendang keluar dari sawah.


Akhirnya mereka duduk sambil termenung, memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk menyenangkan hati Riani.


Tiba-tiba timbul ide di hati Gibran untuk mengerjai Anggara.


"Eh kamu, dipanggil sama Paman tuh di suruh jemput Riani di perkebunan"


"Yang betul?" tanya Anggara bersemangat karena mendapat kesempatan emas untuk mendekati Riani kembali.


"Betul. Kalau tidak percaya biar aku saja yang jemputnya" ucap Gibran pura-pura ingin pergi.


"Tidak-tidak biar aku saja" jawab Anggara, tanpa menaruh curiga sedikitpun Anggara bergegas ke perkebunan.


Selepas Anggara pergi, Gibran tersenyum senang karena satu hambatan sudah ia selesaikan.


"Mantap, bodoh sekali si cecenguk itu bisa aku kibulin, ini baru ada kesempatan aku berduaan dengan Riani tanpa ada yang menganggu" monolog Gibran sambil tersenyum menang.


"Sayang lagi apa hmmn?" tanya Gibran sesampainya di dapur di dekat Riani.


"Lagi masak Mas, Mas kenapa di sini enggak bantuin Paman lagi?"


"Enggak kok sayang, pekerjaan Mas sudah selesai" jawab Gibran enteng.


"Kalian tidak membuat kekacauan lagi kan?"


"Tidak kok sayang, lagian bukan Mas kok yang membuat kekacauan, sicecenguk mantan cinta monyet kamu itu yang membuat kekacauan" ujar Gibran tanpa merasa bersalah.


"Hahaha kok aneh sih Mas, Mas kasih nama sicecenguk?"


"Kenapa? Kamu marah?" tanya Gibran suaranya mulai dingin.


"Enggak kok Mas, cuma merasa aneh aja"


"Ehhm aku pikir marah, kan dia cinta pertama kamu"


"Enggak kok Mas, kenapa Mas tahu dia cinta pertamaku?"


"Cuma nebak aja, ia kan kamu marah?"

__ADS_1


"Enggak kok Mas, dia cuma masa lalu ku"


"Terus masa depan kamu siapa?"


"Ya Maslah"jawab Riani malu-malu mukanya sudah bersemu merah.


"Kalau Mas masa depan kamu, kenapa kamu diam saja waktu dia menantang Mas untuk bersaing dalam mendapatkan hati kamu?" tanya Gibran agak sedikit ragu dengan pengakuan Riani barusan.


"Aku hanya ingin dia menembus kesalahan nya Mas, dan agar dia merasa sakitnya dikhianati, dan karena aku juga tahu Mas Gibran pasti akan menang. Tidak ada yang bisa mengalahkan calon suamiku yang ganteng ini"puji Riani membuat Gibran hampir melayang ke atas awan.


"Tidak boleh sayang memberi harapan palsu untuk orang, emang tidak kasihan lihat nya?"


"Ya memang aku harus bagaimana Mas? Dia yang ninggalin aku tanpa sepatah kata, dia juga telah membuat keluarga ku malu, tapi sekarang setelah lima tahun berlalu, di saat aku sudah membuka hati untuk orang lain, dia datang seenaknya ingin membawa ku bersama nya. Siapa coba yang tidak sakit hati?" jelas Riani panjang lebar.


"Ia. Mas tahu, yang sabar ya sayang. Tapi kamu tidak boleh pendendam ya" nasihat Gibran.


"Ia deh Mas"


"Ya sudah. Mas ke depan dulu ya"


"Oke Mas" Gibran segera ke depan sedangkan Riani melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Sesampainya di perkebunan Anggara segera mencari, dimana keberadaannya Riani.


Setelah mencari ke sana kemari, tetapi Anggara juga tidak menemukan Riani. Yang ada di situ, Pak Fadli, Bu Anis dan Andi anaknya, karena sudah mencari ke segala penjuru, tetapi tidak temukan juga Riani.


"Assalamualaikum Paman, Bibi" sapa Anggara.


"Waalaikum salam, eh Nak Anggara ada apa ya?"tanya Paman, sedangkan bibi yang memang tidak menyukai Anggara cuma menjawab salam saja, tanpa menyapa Anggara.


"Tadi katanya Pak Gibran, Paman menyuruh saya untuk menjemput Riani di perkebunan. Tapi setelah saya cari Riani, Riani nya tidak ada" ucap Anggara polos.


"Emang Ndak ada kok, wong Riani nya sedang masak buat makan siang di rumah" jawab Bibi sinis.


"Jadi Riani di rumah ya Bik?" tanya Anggara bingung.


"Ia Riani memang di rumah Nak" jawab Paman. Anggara cuma terdiam bingung, sambil memikirkan kejadian waktu Gibran menyuruh nya untuk menjemput Riani.


Kemudian dia paham, ternyata dia baru sadar kalau dia sudah dikerjain sama Gibran. Mana mungkin Gibran mau memberi dia peluang untuk mendekati Riani, seandainya betul Riani di kebun, pasti Gibran sendiri yang akan menjemputnya tanpa bicara terlebih dahulu kepada dirinya. Setelah dia pikir-pikir betapa bodohnya dirinya, sampai-sampai dia bisa dibohongi oleh Gibran yang jelas-jelas lawannya dalam mendapatkan Riani.


"Dasar, kenapa gue bodoh sekali ya? Padahal jelas-jelas Gibran itu lawan gue" monolog Anggara sendiri seperti orang gila hehehe.


"Ya sudah Paman, Bibi saya pamit dulu untuk pulang" Pamit Anggara.


"Jangan pulang dulu, sudah tanggung karena sudah ada disini. Bantu kami untuk menanam jagung ini, tidak banyak lagi" perintah Bibi sengaja karena beliau tahu maksudnya Gibran sengaja mengerjai Anggara.


"Buk ini dikit lagi, tidak usah merepotkan Nak Anggara" ucap Paman merasa tidak enak.

__ADS_1


"Bapak dibiarkan saja, lagian tanggung dia pulang lagi, mendingan dia bantuin kita disini" ujar Bibi.


"Tidak apa-apa kok Paman saya akan membantu" ujar Anggara dia segera mengambil biji jagung untuk di tanam.


Sementara Andi sudah terkikik sendiri melihat tingkah ibunya, yang sudah berhasil mengerjai Anggara. Karena dia juga tidak menyukai Anggara, karena Anggara telah membuat kakak satu-satunya malu serta kecewa.


Sementara di rumah setelah memasak semua makan siang, Riani segera menyiapkan di rantang untuk di antar ke Paman dan Bibi yang ada di perkebunan.


"Mau ke mana sayang?" tanya Gibran tiba-tiba sudah muncul di belakang Riani.


"Mau mengantar makan siang Mas ke perkebunan"


"Biar Mas aja sayang"ujar Gibran sambil mengambil rantang.


"Tapi Mas.."


"Tidak ada tapi-tapian, kamu masuk gih"


"Ya sudah. Aku ikut ya?"


"Gak boleh" teriak Gibran.


"Kenapa Mas?" tanya Riani heran karena Gibran berteriak.


"Gak kenapa-kenapa sayang, takut kamu nya di gigit nyamuk nantinya" Gibran memberikan alasan yang tidak jelas.


"Sudah biasa kok Mas, aku sering ke kebun."


"Bukan itu kok sayang, Mas takut kamu capek" ucap Gibran beralasan lagi.


"Mana ada capek, kan sudah biasa lagian kita naik sepeda kok" ujar Riani.


"Gak bisa juga sayang, sepeda nya kempes" ujar Gibran masih ngotot.


"Sebenarnya kenapa sih Mas?" tanya Riani mulai curiga.


"Tidak kenapa-kenapa kok sayang, tidak usah kita berdebat nanti keburu orang di kebun pada lapar" ujar Gibran tetap ngotot untuk tidak membiarkan Riani ikut.


"Ya sudah pergi sana gih, hati-hati ya Mas" ujar Riani walaupun dia merasa heran dengan tingkahnya Gibran.


"Ya sayang"


Akhirnya Gibran segera pergi ke kebun untuk mengantarkan makan siang.


Kira-kira kenapa ya reader Gibran melarang Riani kekebun? Ada yang tahu gak guys?


Ditunggu jawabannya di kolom komentar.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2