
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌻🌹
Saya tidak tahu, kenapa saya mencintaimu, karena bagi saya mencintai itu tidak membutuhkan alasan.
🌻🌻🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌹🌹🌻
Sesampainya Riani di Sawah, dia segera menuju ke pondok yang ada ditengah-tengah sawah. Setelah melihat Riani datang, Paman dan Gibran segera membersihkan badannya dikali, kemudian ikut bergabung dengan Riani.
Riani segera menyendok nasi beserta lauk ke dalam piring, untuk Paman dan Gibran.
"Kamu sudah makan Ndok?"
"Sudah Paman. Tadi di rumah saya makan."
"Oo. Ya sudah kalau begitu kami makan dulu ya?"
"Ia Paman. Silakan"
"Mari Nak Gibran kita makan dulu."
Paman dan Gibran segera menyantap nasinya dengan lahap,karena mereka sudah sangat kelaparan. Riani merasa kasihan melihat Gibran, dengan peluh banyak bercucuran di sekitar wajahnya.
Nampaknya Gibran sangat kelelahan,karena belum pernah ia mengerjakan pekerjaan yang begitu berat. Namun Riani juga merasa sangat bangga dengan Gibran, dan dia semakin mencintai Gibran.
Setelah Paman dan Gibran makan, mereka segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat dhuhur.
"Kamu sudah shalat Ndok?.?
"Sudah Paman sebelum Riani kesini, Riani shalat dulu."
"Kalau begitu kamu pulang duluan."
"Baik Paman."
Sedangkan Gibran dari tadi dia tidak bersuara,Gibran hanya diam saja.
Tidak seperti biasanya ia selalu menggoda Riani, mungkin kali ini dia segan karena ada Paman di antara mereka.
"Ya sudah Paman,Mas, Riani pamit dulu ya"
"Ya. Hati-hati Ndok"
"Hati-hati sayang" Gibran akhirnya membuka suara.Walaupun dia merasa malu dengan Paman, tetapi dia sangat merindukan Riani. Setelah Riani pergi mereka segera melaksanakan shalat zhuhur, di atas pondok.
Setelah melaksanakan shalat dhuhur, Paman dan Gibran kembali melakukan pekerjaan mereka, karena masih ada sepetak tanah yang belum mereka bajak.
Riani sudah sampai di rumah dan tiba-tiba handphonenya berbunyi, rupanya Mamanya Gibran menelpon,Mama is calling. Tampa pikir panjang lagi,Riani segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Assalamualaikum Ma."
"Waalaikum salam sayang. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik Ma. Mama apa kabar?"
"Alhamdulillah Mama juga baik"
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu. Papa bagaimana kabarnya Ma?"
"Alhamdulillah Papamu juga baik. Gibran mana sayang?"
"Mas Gibran..."Riani agak ragu menceritakan yang sebenarnya, dia merasa tidak enak dengan kedua orang tuanya Gibran. Riani juga belum tahu bahwa orang tuanya Gibran, sudah tahu tentang persyaratan yang diberikan oleh Paman kepada Gibran. Karena Gibran belum sempat cerita ke Riani.
"Gibran kenapa sayang?"tanya Nyonya Wijaya agak sedikit panik, takut terjadi apa-apa dengan anak semata wayangnya.
"Mas Gibran lagi membajak sawah Ma."
"Oh. Mama pikir Gibran kenapa?"
"Mama tidak marah dengan Riani?"
"Ngapain Mama marah sama kamu sayang?"
"Karena gara-gara Riani,Mas Gibran harus ngalamin ini semua"
"Tidak apa-apa kok sayang. Mama tidak marah,malah Mama bangga. Kamu bisa mengubah Gibran sampai sejauh ini. Dia mau berjuang demi cintanya."
"Terima kasih Ma."
"Ia sayang sama-sama. Ya sudah ya, Mama tutup dulu. Mama mau pergi sebentar. Assalamualaikum sayang"
"Ia Ma. Waalaikum salam"
Setelah menutup telepon Riani merasa sangat lega, apalagi saat mendengar Mamanya Gibran tidak mempermasalahkan dengan syarat yang diajukan oleh Paman.
Riani sudah merasa sangat khawatir,dia takut orang tuanya Gibran akan marah. Karena keluarga nya Riani menyuruh anak mereka untuk membajak Sawah,anak seorang penguasa kota di suruh membajak sawah? Apa kata dunia?.
"Assalamualaikum. Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam. Eh Marni. Ada apa ya Mar? tumben kamu main ke rumahku"
"Ini loh Riani. Aku kesini cuma mau kasih tahu"
"Kasih tahu apa? Kamu masuk dulu gih."
Riani mempersilahkan tamunya untuk masuk, ternyata yang bertamu ke rumahnya adalah Marni, temannya waktu SMA dulu dan temannya Astrid juga.
"Duduk dulu Mar"Riani menyuruh Marni untuk duduk.
"Yo. Tapi aku ndak lama-lama kok."
"Ada apa sih Mar?"
"Kamu harus hati-hati dengan Astrid."
"Memang kenapa dengan Astrid?"
"Dia menyukai sepupumu. Makanya dia mendekati kamu."
"Sepupu aku? sepupu aku yang mana?" tanya Riani tidak paham dengan maksudnya Marni,dia merasa tidak mempunyai sepupu yang sudah dewasa. Soalnya anak-anak Bibi dan Paman masih kecil-kecil,tidak mungkin kan? Astrid menyukai salah satu dari Anak Paman dan Bibi.
"Ituloh Riani. Yang dari kota itu"
__ADS_1
"Oh Mas Gibran? dia bukan..." belum sempat Riani melanjutkan sudah di potong oleh Bibinya, yang baru pulang dari kebun.
"Ia dia ponakan Pamannya Riani. Ada apa toh dengan Nak Gibran Marni?"
"Ini loh Bik. Astrid menarok perasaan terhadap Mas Gibran. Jadi saya mengingatkan Riani untuk hati-hati. Kan Bibi tahu sendiri sifatnya Astrid."
"Ia terima kasih. Atas peringatan kamu, tetapi Nak Gibran sudah mempunyai calon Istri. Dan bentar lagi mereka juga mau nikah."
"Oo begitu ya Bik. Semoga saja Mas Gibran jadi nikah dengan calon istrinya ya. Biar tidak di ganggu oleh Astrid."
"Amin. Kamu doain saja semoga lancar."
"Ia Bik. Kalau begitu saya pamit pulang dulu Bik, Riani. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Hati-hati di jalan ya Mar."
"Ia Riani"
Setelah Marni pulang Riani meminta penjelasan kepada Bibi, kenapa Bibi mengatakan kalau Gibran ponakan Paman pada Marni.
"Bik, kenapa Bibi bilang ke Marni? bahwa Mas Gibran ponakannya Paman?"
"Begini loh Ndok. Pamanmu bilang sama Bibi sebelum kalian menikah. Paman merahasiakan dulu hubungan kalian dari warga,takut nantinya timbul gosip yang tidak enak."
"Oh begitu ya Bik?"
"Maaf ya Paman dan Bibi tidak memberi tahu kamu terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa Bik. Itu demi kebaikan Riani juga."
"Ya sudah. Kamu sudah shalat ashar?"
"Belum Bik."
"Shalat dulu gih. Habis itu kita masak, ada bibi petik Pete tadi di kebun."
"Waah enak kali Pete nya"
"Ya sudah buruan gih shalat. Bentar lagi Paman dan calon Suamimu pulang"
"Oke siap Bik" ujar Riani sambil memberi hormat kepada Bibi ala-ala militer, sedangkan Bibi cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah ponakannya yang satu ini.
Memang dari dulu Riani selalu ceria, walaupun dia sedih tetapi tidak pernah ia tunjukkan kepada Paman dan Bibi.
Riani juga selalu patuh dengan apa yang diperintahkan oleh Paman dan Bibinya, karena semenjak orang tuanya meninggal Riani sudah menganggap Paman dan Bibi pengganti orang tuanya.
Apalagi Paman dan Bibi menyayangi Riani seperti anaknya sendiri, walaupun mereka punya anak sendiri, tetapi kasih sayang mereka terhadap Riani tidak pernah kurang dari suatu apapun.
Maka semua keputusan mengenai hidupnya Riani serahkan kepada mereka, apalagi tentang menentukan jodohnya.
Pasti mereka akan lebih bijaksana,dan Riani yakin pilihan mereka yang terbaik.
Bersambung..
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌹🌻
__ADS_1