
🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌻🌻
Hidup tanpa cinta sepi, hidup tanpa musik sunyi,hidup tanpa agama tiada arti,taman tanpa bunga seperti kuburan orang mati,dan tentunya hidup tanpa kamu, hidupku tidak berarti.
🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌹🌹
Keesokan paginya Riani seperti biasa bangun jam menunjukkan setengah lima pagi, setelah shalat subuh Riani membuat sarapan seperti biasa di bantu oleh bik Surti sekaligus pelayan di masion itu.
Oh ya di masionnya Gibran, Gibran tidak terlalu banyak memperkerjakan pelayan cuma beberapa orang dari sopir, tukang kebun,tukang masak dan tukang bersih-bersih,sekarang di tambah lagi dengan Riani.
Setelah menyiapkan sarapan pagi Riani segera bergegas masuk ke kamarnya,untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ke kantor.
Setelah siap-siap Riani turun ke lantai bawah, untuk melihat apakah Bosnya sudah bangun apa belum?.
"Mbak Surti. Bos sudah bangun apa belom ya?" tanya Riani ke salah satu Pelayan yang sudah akrab dengannya.
"Belum kayaknya Ri. cmCoba kamu tengok dulu sendiri deh" balas Mbak Surti.
"Ya sudah. Aku tengok dulu ya Mbak. Apa Bos sudah bangun atau belum?" jawab Riani gugup.
Sebetulnya Riani agak canggung dengan kejadian semalam,dia merasa malu sendiri. Bila ia mengingat kejadian semalam, setelah menetralkan jantungnya Riani beranjak ke kamar Gibran.
*T*okk tokk tokk.
"Pak bangun" ujar Riani
tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Apa dia belom bangun ya?" pikir Riani.
Karena sudah beberapa kali dia memanggil, tapi belum juga ada jawaban dari dalam kamar.
Akhirnya Riani memutuskan untuk masuk, apalagi pintunya tidak di kunci, sesampainya di dalam kamar, Riani malah melihat sang Bos masih terlelap di alam mimpi.
"Oh masih tidur toh? Pantesan tidak ada yang bersuara" ucap Riani.
"Bos bangun" ucap Riani sambil menggoyang-goyangkan tubuh atletis si Bos dengan agak keras,bukan malah bangun si Bos
makin terlelap.
Kemudian Riani menggoyangkan tubuhnya Gibran beberapa kali.
"Emmmhhmm" begitulah responnya.
Riani terus menggoyang-goyangkan tubuh Gibran sampai Gibran mau bangun, tapi bukan malah bangun Gibran,
__ADS_1
segera menarik tubuh Riani ke dalam pelukannya.
"Bangun dong Bos jangan kayak begini" ucap Riani terkejut.
Bukannya bangunGibran malah mengeratkan pelukannya.
"Bos bangun jangan kayak begini" ucap Riani lagi sambil melepaskan diri dari pelukannya Gibran.
"Sebentar saja Ri plis"mohon Gibran.
Sudah sepuluh menit berlalu Gibran belum juga mau bangun.
"Bos bangun,kita nanti telat ke kantor" ucap Riani lagi sambil melonggarkan pelukannya.
*C*up
"Mornig kiss sayang" kekeh Gibran sambil bangun kemudian berlalu ke kamar mandi.
"Hah" Riani baru sadar dari keterkejutannya, setelah mendengar air menyala di kamar mandi.
"Dasar Bos sinting sialan, seenaknya saja nyosor-nyosor ke bibir orang" teriak Riani dengan keras, namun yang di teriakin malah terkekeh geli di kamar mandi.
Riani segera keluar dari kamarnya Gibran, dia takut di sosor lagi sama Bebek yang lagi kasmaran hehehe.
Beberapa menit kemudian Gibran sudah selesai bersiap-siap,dengan kemeja warna putih di padukan dengan jas warna biru laut. Terlihat sangat pas ditubuhnya yang atletis, dan dasi dengan warna senada dengan jasnya. Menambahkan aura kegantengan yang di milikinya, dan jangan lupa juga dengan wajah berseri-seri yang di tunjukkannya, khas orang yang lagi kasmaran, bukan seperti biasa ia selalu memasang wajah sanggar serta dinginnya.
tanpa di minta Riani segera menyedokkan nasi beserta lauk kepiring Gibran seperti istri melayani suaminya hehe,(mungkin Riani lagi belajar thor buat jadi istri.)
"Kamu tidak makan?" tanya Gibran.
"Sebentar lagi Pak" jawab Riani.
"Duduk di sini makan bareng saya,dan mulai hari ini kamu harus temani saya makan" ujar Gibran.
Yang tentunya bukan sekedar ucapan,tapi tepatnya perintah yang harus di patuhi kalau di langgar di kasih sanksi kayak semalam hehehe,( awas Riani disosor lagi nantinya.)
"I-ya Pak" jawab riani gugup sambil duduk.
Akhirnya mereka menyantap makanan yang sudah ada diatas meja makan, dengan lahapnya tanpa ada seorang pun yang bersuara, hanya detingan sendok dan garpu saja, yang saling bersahutan.
Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai dengan sarapan pagi.
"Oh ya satu lagi,mulai sekarang kamu harus mengubah cara panggil kamu terhadap saya, jangan panggil saya Bapak, saya bukan Bapak-Bapak" ujar Gibran.
"Terus saya harus panggil apa dong Pak?"Tanya Riani polos.
__ADS_1
"Terserah kamu" tegas Gibran.
"Kalau terserah saya sih, nanti Bapak tidak suka."
"Sudah saya bilang jangan panggil saya Bapak."
"Terus saya harus bagaimana dong..?"
"Itu urusan kamu,mau panggil saya apa."
"Bagaimana kalau saya panggil Mas" tanya Riani.
"Emm boleh juga,tapi bagaimana kalau sayang saja..? Kan keliatan lebih romantis begitu" kekeh Gibran.
"Apaan sih Pak" balas Riani.
Cup
"Ini hukuman untuk kamu karna melanggar aturan saya" kekeh Gibran sambil mencium bibir Riani singkat.
"Is apaan sih Pak dikit-dikit cium" balas Riani sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Terus saya harus bagaimana? Habisnya bibir kamu manis, saya jadi ketagihan" jawab Gibran santai.
"Makanan kali Pak yang bisa ketagihan" ucap Riani.
Sambil bangun dari duduknya, dia takut di hukum lagi oleh Bosnya, dan dengan segera dia membereskan meja makan.
"Hehehe ia kamu bagaikan makanan bagi saya" kekeh Gibran. Sambil bangun dari duduknya, dia juga bersiap-siap untuk ke kantor.
Riani membereskan semua piring yang ada dimeja makan, dan tentunya juga dibantu oleh para Pelayan. Pelayan di situ sudah menganggap Riani seperti majikannya sendiri, apalagi mereka yakin bahwa Tuan mudanya menyimpan rasa untuk Riani.
Mereka juga sangat mendukung dengan perasaan Tuan mudanya, karena menurut mereka, Riani sangatlah cocok dengan Tuan muda mereka.
Riani dan Gibran sama-sama ganteng,dan cantik, apalagi Riani memiliki sifat penyayang dan baik hati, serta ramah kepada siapapun,baik yang dia kenal,maupun yang tidak dia kenal.
Riani juga memperlakukan para Pelayan seperti keluarganya sendiri, walaupun Gibran sangat perhatian kepada Riani ,tidak membuat Riani sombong dan angkuh,serta tidak suka memerintah pelayan, bagi Riani semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini, semuanya sama di mata Allah, kecuali iman dan takwa yang membedakannya.
Dan buat apa juga kita membedakan-bedakan ciptaan Tuhan, sedangkan yang menciptakan saja tidak pernah membeda-bedakannya, karena manusia tiada yang sempurna,pasti ada kekurangan kita masing-masing,baik dari segi materi,fisik,bahkan ilmu yang dimiliki,kita pasti ada kekurangannya.
Begitu juga dengan Riani,mungkin dia punya kelebihan dari segi wajahnya,yang bisa memikat seluruh kaum Adam, tetapi tidak dengan materi,dia kekurangan materi,dan harus membanting tulang dengan keras, tetapi walaupun begitu dia juga sangat bersyukur.
Karena dengan kita bersyukur semua akan terasa indah.
🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌻🌻🌻
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan nya....
love you...