
🌹🌻🌹🌻🌹🌻💖🌹💖🌻🌹💖💖🌻🌹🌻
Jika kamu mencintai seseorang karena pesona ketampanannya, bila suatu saat ketampanan itu memudar, akan kah cintamu ikut memudar juga terhadap dirinya?
Jika kamu mencintai seseorang karena ada banyak harta pada dirinya, Sesungguhnya harta itu cuma titipan sementara. Jika tiba-tiba itu semua menghilang, akankah cinta bertahan?
Jika kamu mencintai seseorang hanya karena kepopulerannya, bila seiring waktu kepopulerannya itu memudar. Akankah cinta mu itu memudar bahkan hilang tak berbekas?
Andai itu terjadi..? Apa yang akan kamu lakukan?
Bagaimana dengan orang lain?
Pasti tentu nya akan ada banyak hati yang terluka.
Maka dari itu cintailah seseorang apa ada nya, bukan karena ada apanya. Karena sesungguhnya cinta sejati itu, tidak memandang harta, tahta dan rupa.
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌹🌻🌹
Masih di rumah Astrid.
"Dasar Riani sialan gara-gara dia Ibu dan Bapak ku sampai bertengkar, awas kamu Riani aku akan membalasnya" batin Astrid, hatinya sudah dipenuhi oleh kebencian terhadap Riani.
Hebat banget Astrid ya reader, dia berpura-pura jadi mangsa padahal dia sendiri pelakunya, benar-benar tidak tahu diri.
Setelah ibunya pergi, Astrid pura-pura seolah dia sedih dengan kelakuan ibunya.
"Pak coba lihat ibu, beliau lebih membela orang lain daripada anak nya sendiri" ngadu Astrid kepada Ayahnya.
"Biarkan saja Ndok. Ibumu memang begitu, kan masih ada Bapak yang selalu membela kamu" ujar sang Ayah menenangkan Astrid.
"Ia memang Bapak yang terbaik" puji Astrid.
"Ya sudah. Nanti habis magrib kamu siap-siap ya, kita akan pergi ke rumah Pak Fadli"
"Baik Pak"
__ADS_1
Astrid berlalu ke kamarnya,sambil tersenyum senang karena rencananya akan segera tercapai, sedangkan sang Ayah juga ke kamarnya.
Sementara di rumahnya Riani, Riani sedang membereskan rumah. Setelah semuanya selesai, kemudian ia pergi ke dapur untuk memasak makan malam apalagi hari sudah mulai petang. Selang beberapa menit kemudian, Gibran serta Paman sudah pulang dari kebun.
"Lagi apa sayang?"manja Gibran sambil merangkul Riani.
"Lagi menyiapkan makan malam Mas, Mas baru pulang? Bersih-bersih dulu sana gih"
"Ia sayang. Mas capek banget, bentar lagi ya, Mas masih kangen sama kamu" manja Gibran sambil memeluk Riani dari belakang dan menyeder dagunya di bahu Riani.
"Ulu-ulu kasihan banget sih Mas ku harus capek-capek, capek memperjuangankan cinta ya Mas?" canda Riani.
"Ia sayang, demi kamu sayang" ujar Gibran sambil mencolek pipinya Riani singkat.
Tanpa mereka sadari Paman sudah ada di belakang mereka, rencananya mau membersihkan diri, tapi tertunda karena melihat dua sejoli itu yang sedang bermesraan.
"Hmmm. Kalian belum nikah, lebih baik jauh-jauh dulu" ujar Paman dengan suara sedikit dingin.
Membuat Gibran dan Riani merasa sangat terkejut, dan mereka kalang kabut bukan main. Dengan segera Gibran melepaskan pelukannya lalu ia pergi membersihkan diri, sementara Riani melanjutkan memasak sambil menunduk kepala nya. Dia tak berani bersuara sedikit takut dengan Paman, apalagi sudah ketahuan bermesraan.
Beliau segera berlalu dari tempat tersebut, dan segera membersihkan diri, apalagi sebentar lagi sudah memasuki waktu magrib.
Tanpa terasa waktu magrib telah tiba, dengan segera seisi rumah melaksanakan shalat dengan khusyuk seperti biasa. Setelah shalat mereka segera menuju keruang makan untuk makan malam, selesai makan malam mereka berkumpul di ruang tamu hanya sekedar untuk bercengkrama dan bercanda ria seperti biasanya. Apalagi ada yang ingin Riani bahas dengan Paman nya.
"Pak ada yang ingin Riani bahas dengan Bapak"ujar sang istri membuka suara.
"Ada apa toh Buk?" tanya sang suami.
"Ndok kamu bicara sendiri sama Paman mu" Bibi menyuruh Riani yang bicara sendiri.
"Ini loh Paman. Tadi Astrid ada datang ke sini?" Riani berhenti sebentar, dia sedang berpikir bagaimana cara mengungkapkan nya.
"Astrid anak Pak Sabri, Ngapain toh dia kesini?" tanya Paman merasa tidak suka dengan Astrid, apalagi beliau sudah tahu sifat gadis itu.
"Gini Paman. Dia meminta Riani untuk mendekatkan nya dengan Mas Gibran, karena dia pikir Mas Gibran sepupunya Riani. Riani merasa takut Paman dengan kehadiran nya Astrid nanti akan membuat hubungan kami berantakan, jadi Riani mau minta pendapat Paman, bagaimana kalau kita bilang saja sama warga bahwa Mas calon suaminya Riani. Biar orang-orang tidak salah paham lagi, apalagi gadis-gadis di desa ini. Bagaimana menurut Paman?" tanya Riani, setelah ia mengeluarkan semua uneg-uneg nya yang sudah dari tadi bersarang setelah kedatangan Astrid pagi tadi.
__ADS_1
"Sebelumnya Paman minta maaf terlebih dulu, terutama kepada Nak Gibran, kalau boleh Paman usulkan di biarkan saja dulu, kita lihat sejauh mana dia akan bertindak. Itu Paman bilang juga untuk menguji hubungan kalian, sebesar mana kalian akan bertahan. Walaupun ada orang lain yang mengacaukan hubungan kalian, ya toh buk?" jelas Paman.
"Menurut Bibi yang Pamanmu usulkan ada benarnya juga Ndok, kita akan melihat sejauh mana dia akan bertindak. Apalagi dia juga mengancam kamu toh Ndok?"
"Ia juga sih kata Paman dan Bibi mungkin ini ujian untuk cinta kami, siapa tahu dengan ujian ini membuat hubungan kami akan lebih kuat. Semoga saja kita bisa melalui nya, kalau nanti memang tidak bisa kita pertahankan lagi. Kita anggap saja kita tidak berjodoh, iya kan Mas? Mas setuju kan dengan pendapat kami?" tanya Riani kepada Gibran yang dari tadi cuma diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ia Mas setuju, yang penting yang tebaik untuk semuanya" ujar Gibran.
Sebenarnya Gibran sedikit kecewa dengan keputusan mereka, tapi apa boleh buat. Itu sudah menjadi keputusan Paman, jadi tidak bisa digugat lagi. Mungkin ada benar dengan pendapat Riani dan Paman, mungkin itu ujian untuk hubungan mereka. Mungkin itu juga dia yang akan jadi sasaran ujian tersebut, karena dia yang ditaksir oleh yang dia tidak tau siapa orangnya.
"Apakah Nak Gibran yakin tidak akan tergoda dengan perempuan seperti Astrid?" tanya Paman kemudian.
"Insyaallah saya yakin Paman."
"Bagus kalau begitu, tapi kalau sempat Nak Gibran tergoda, siap-siap Nak Gibran akan kehilangan Riani" perkataan Paman barusan membuat Gibran tidak bisa berkutik, dia sangat takut kehilangan Riani. Karena dia sangat mencintai Riani sepenuh hatinya.
"Maaf Nak bukan kami tidak percaya kepada Nak Gibran, kami takut Riani kecewa untuk kedua kalinya" ucap Paman kemudian dengan nada sendu.
"Maksudnya Paman?" tanya Gibran penasaran.
Belum sempat Paman menjawab nya tiba-tiba ada yang memberi salam dari luar, buru-buru Riani segera membuka nya.
"Assalamualaikum" ucap Pak Sabri.
"Waalaikum salam, Pak Sabri , Astrid, buk Latifah. Silahkan masuk" ucap Riani mempersilahkan tamunya untuk masuk. Ternyata yang bertamu adalah keluarga Astrid.
"Terima kasih Ndok" Ucap buk Latifah kepada Riani, sedangkan Astrid dan Bapak nya segera masuk tanpa mempedulikan Riani.
"Oh Pak Sabri berserta keluarga toh, silahkan duduk" ucap Pak Fadli.
"Baik Pak"
Mereka sekeluarga segera duduk.
Bersambung...
__ADS_1