
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻
Cinta suatu anugerah yang maha kuasa,
yang diperebutkan oleh manusia.
Cinta,wanita,harta dan tahta yang membuat manusia buta.
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻
Masih dijalan tempat Arman menghadang Gibran.
"Kenapa? Ada apa ini?" tanya Pak Kades.
"Ini Pak. Cowok ini menganggu pacar saya." jawab Arman.
"Memang siapa pacar kamu?"
"Astrid Pak."
"Astrid anaknya Pak Sabri?"
"Ia Pak."
"Arman kamu salah paham."
"Ndak Pak. Saya ndak salah paham memang betul dia menganggu pacar saya"
"Mas Gibran ini sudah punya calon istri, mereka sebentar lagi mau menikah"
"Apo? Jadi dia akan segera menikah dengan Astrid? Kurang ajar" teriak Arman dia masih salah paham dengan perkataan Pak Kades.
Sedangkan Gibran cuma diam saja dari tadi ,tanpa menjawab sepatah katapun.
"Pelankan suara mu, kamu tidak tahu lagi berurusan dengan siapa?" bisik Pak Kades kepada Arman.
"Maksud Bapak?" Arman jadi bingung.
"Memang dia siapa?"
"Dia itu Gibran Prasetya Wijaya"
"Hah Apo?" teriak Arman dia hampir gemetar, setelah tahu siapa Gibran.
"Dia tidak mungkin menganggu Astrid, karena dia sebentar lagi sudah mau menikah."
"Dia Gibran yang pengusaha muda itu ya Pak? Anaknya penguasa Kota A?" tanya Arman yang hampir kehilangan suara nya.
Para teman-teman Arman yang tadi ikut menghadang Gibran, merasa heran dengan tingkah Arman, yang tiba-tiba jadi ciut. Mereka tidak tahu apa yang di bilang sama Pak Kades, karena beliau cuma berbisik.
"Terus aku harus bagaimana ini Pak?" tanya Arman gemetar.
"Kamu harus minta maaf." usul Pak Kades.
__ADS_1
Beliau merasa takut bila menyinggung Gibran, apalagi Gibran sering membantu kelangsungan Desa mereka.
"Iyo Pak."
"Tuan saya minta maaf"ucap Arman tiba-tiba.
"Aku harus segera minta maaf sebelum hidup aku hancur secara berkeping-keping, kenapa aku bodoh sekali sih? Kenapa aku tidak mengenali wajah Gibran Prasetya Wijaya? Ini kan bisa gawat kalau sempat dia tidak memaafkan aku" batin Arman.
"Apa yang dilakukan Arman? Siapa sebetulnya pemuda Kota tersebut? Sehingga membuat Arman dan Pak Kades seperti ketakutan begitu?" batin teman-temannya Arman.
"Ya saya maafkan. Tapi jangan di ulangi lagi. Kalau begitu saya permisi Pak Kades" tanpa menunggu jawaban dari orang yang ada disitu, Gibran segera berlalu. Apalagi jam hampir menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Ya Nak Gibran hati-hati"teriak Pak Kades
"Ingat itu Arman jangan pernah menyinggung Nak Gibran. Kalau kamu tidak mau Desa kita kenak imbasnya" nasihat Pak Kades kepada Arman.
"Ia Pak. Saya minta maaf Pak" jawab Arman lemas.
"Ya sudah lebih baik kalian bubar." Pak Kades juga berlalu dari situ. Dia ingin meminta maaf secara pribadi kepada Gibran, atas kekeliruan yang dilakukan oleh salah satu warganya.
Setelah Pak Kades berlalu, para teman-temannya Arman segera menuntaskan rasa penasarannya terhadap kelakuan Arman yang tiba-tiba berubah kepada Gibran. Setelah Pak Kades membisikkan sesuatu kepada Arman. Mereka segera mengintrogasi Arman.
"Arman siapa sebenarnya cowok Kota tersebut?" tanya Faisal mewakilkan rasa penasaran rekan-rekannya.
"Itu loh pengusaha terkenal itu" jawab Arman dengan lemas.
"Pengusaha yang mana?" tanya rekan lain.
"Itu pengusaha nomor satu di Kota A" jawab Arman semakin lemas. Dia kehabisan kata-kata mengingat kebodohan yang di lakukannya terhadap Gibran, dia sadar apa yang dilakukan adalah kebodohan besar dalam hidupnya. Bagaimana mungkin? Seorang Gibran Prasetya Wijaya, menganggu ceweknya. Apalagi Gibran tidak mungkin kekurangan wanita dengan status sosial yang di milikinya, dengan wajah yang tampan bagai dewa Yunani. Pasti banyak wanita-wanita yang rela melemparkan diri ke arahnya, begitu pula dengan Astrid. Pasti Astrid yang sudah menggodanya, karena dia juga tahu betul siapa Astrid. Cewek mata keranjang yang gila penampilan dan harta, walaupun begitu Arman sangat tergila-gila padanya. Kadang cinta membuat kita bodoh.
"Ia. Kenapa kita sampai bodoh begini? Apalagi aku dengar-dengar isu Gibran itu tidak pernah mengampuni orang yang menyinggungnya begitu saja" ucap rekan mereka yang lain.
"Ya betul. Aku juga pernah mendengarnya, dia itu sangat kejam di dunia bisnis maupun tentang asmara."
"Terus kenapa kamu menyinggung nya kalau kamu pernah dengar?" tanya Faisal.
"Karena aku tidak tahu itu Gibran. Lagipula mana mungkin Gibran bisa datang Ke Desa terpencil seperti ini."
"Kalau tidak mungkin. Terus tadi siapa, bodoh sekali sih kamu."
"Ya ya deh aku memang bodoh"
"Ia kamu memang bodoh. Dibodohi karena cinta mu itu terhadap Astrid terlalu buta."
"Jangan salahkan Astrid ini salahku"bela Arman,dia tidak mau rekan-rekannya menyalahkan wanita yang di cintainya.
"Terus kamu bela cewek seperti itu. Buka mata kamu Arman,dari dulu Astrid cuma memanfaatkan kamu" nasihat Faisal.
Dia memang tidak suka dengan Astrid, dia juga tahu bagaimana kelakuan Astrid.
"Kamu jangan begitu. Astrid wanita baik-baik."
"Baik palamu."
__ADS_1
"Jangan bertengkar lagi, sekarang kita harus cari cara bagaimana membuat Gibran tidak marah dengan kelakuan kita tadi" usul salah satu rekan mereka yang bernama Adam.
"Ia betul itu kata Adam."
Mereka terus membahas bagaimana caranya supaya Gibran tidak membalaskan kejadian tadi.
Sementara di rumah Paman, Riani merasa panik karena hampir jam sepuluh Gibran belum juga pulang. Biasanya jam delapan Gibran sudah pulang. Riani sekarang sedang mondar-mandir didepan rumah, sambil ngomel-ngomel tidak jelas sendiri.
"Kemana sih Mas Gibran? Sampai jam segini belum pulang? Apa dia tersesat ya? Enggak mungkin lah dia tersesat. Kan Andi bersama nya" Riani terus bertanya pada diri sendiri.
"Kamu kenapa Ndok kok mondar-mandir begitu?" ternyata kelakuan Riani di sadari oleh Paman yang sedang mengasah cangkul.
"Ia ini Ndok. Kenapa toh kamu, kayak gelisah begitu?" Bibi juga menyadari gelagat Riani.
"Ini loh Paman, Bibi, Mas Gibran jam segini kenapa belum pulang ya?"
"Ia ya? Paman jadi lupa kemana dia? Apalagi tadi sudah Paman bilang suruh temani Paman hari ini ke kebun" ujar Paman.
"Apa mungkin dia tersesat?" tanya Riani.
"Tidak mungkin lah Ndok kan Andi bersama nya"jawab Bibi.
"Ya Ndok betul kata Bibimu"
"Terus kemana dia?"
"Mungkin dia melihat-lihat pemandangan di sekitar sini Ndok, kamu tidak usah khawatir" nasihat Bibi.
"Ia Bik. Kalau begitu Riani masuk dulu ya" izin Riani.
"Assalamualaikum Paman, Bibi" tiba-tiba suara Gibran dari arah depan seketika menghentikan langkahnya Riani.
"Waalaikum salam" jawab mereka bersamaan.
"Mas dari mana sih?" Riani segera mengajukan pertanyaan setelah melihat Gibran.
"Mas tadi lari pagi. Pas tiba di ujung lorong sana di hadang oleh beberapa pemuda kampung sini"
"Apa? Siapa yang mehadang Mas? Mas tidak di apa-apain kan?" tanya Riani dengan Panik.
"Tidak kok sayang"
"Memangnya apa sih mau mereka? Kenapa mereka mehadang Mas?"tanya Riani penasaran.
"Mas juga gak tau sayang" jawab Gibran.
"Kan mereka ada bilang Alasan nya dong Mas"
"Mereka tidak bilang apa-apa" Gibran sengaja tidak cerita hal yang sebenarnya kepada Riani. Takut Riani akan salah paham, dia harus mencari tahu terlebih dahulu siapa cewek yang di maksud pemuda tadi.
"Ya sudah Nak Gibran sarapan dulu. kita akan ke Kebun" Paman segera menyuruh Gibran sarapan guna mencegah Riani untuk mengintrogasi Gibran lebih lanjut. Seperti nya Paman mengetahui sesuatu.
"Baik Paman."
__ADS_1
Bersambung....