
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌹
Satu pilihan yang kita miliki dalam hidup ini.
Mencintai atau di cintai.
Tapi kalau bisa aku ingin memiliki kedua pilihan tersebut, aku ingin dicintai dan mencintai.
Biarkanlah orang mengatakan kalau aku ini serakah, tapi dalam cinta itu tidak berlaku.
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌻🌻🌹🌻🌹
Masih ditempat Astrid dan teman-temannya berkumpul.
"Yang betul kamu?"
"Iya betul. Coba kamu nengok ini"ucap Intan sambil menunjuk foto-foto Gibran yang sedang booming di internet.
"Ia yah. Bahkan berita-berita tentang dia sering wira-wiri di infotainment bisnis." jelas Intan.
"Beruntung banget ya yang jadi istrinya" ujar Marni tanpa sadar sambil membayangkan.
"Ia betul apa yang di bilang Marni. Sudah tampan,tenar, bertanggung jawab,kaya melintir lagi" Devi ikut-ikutan memuji Gibran.
Sedangkan Astrid sudah senyum-senyum sendiri seperti orang kesurupan, dan sambil berpikir.
"Beruntung sekali aku kalau jadi istrinya, bagaimana pun ceritanya aku harus dapatkan itu cowok."
"Eh Astrid kenapa kamu? Kok senyum-senyum sendiri? Kesurupan ya?" tanya Marni baru menyadari kelakuan nya Astrid.
"Ia. Dia kesurupan syetan cinta hahah" ujar Devi sambil tertawa.
"Apaan sih kamu. Oh ya kalian punya ide tidak?" tanya Astrid kemudian.
"Ide apaan sih Trid?"ujar Marni balik bertanya ke Astrid.
"Ide supaya aku bisa ngedekatin Mas Gibran?"
"Kayaknya kalau yang satu ini kami tidak bisa bantu deh Trid" ujar Intan karena dia tau kali ini harus berurusan dengan siapa.
"Jangan nekat kamu Trid. Apalagi Mas Gibran itu sudah punya calon istri" Marni ikut menimpali.
"Ia Trid. Apalagi itu pengusaha muda Trid, kamu memang tidak dengar bagaimana kejam nya dia, apabila ada yang menggangu nya?" Devi ikut menasehati.
"Kalau kalian tidak mau bantu gak apa-apa, biar aku cari cara sendiri. Dan kamu Devi jangan nakut-nakutin aku, aku tidak takut" bentak Astrid mulai marah karena teman-temannya tidak mau membantu nya untuk mendapatkan Gibran.
__ADS_1
"Terserah kamu deh Trid yang penting kami sebagai teman mu sudah mengingatkan" Intan mengalah.
"Ya sudah. Percuma ngomong sama kalian, yang ada buang-buang waktu aku saja" ujar Astrid kemudian, dia segera pulang ke rumahnya.
Sedangkan teman-temannya masih duduk di situ, mereka kesal dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Astrid. Terasa bagi mereka seolah-olah tak berguna di mata Astrid, mereka semua sangat marah apalagi Marni. Dia memang tidak menyukai Astrid.
Tak membutuh waktu lama Astrid sudah sampai di rumahnya, dia segera mencari ayahnya dan berencana meminta bantuan sang ayah untuk mendapatkan Gibran. Apalagi dia tahu bahwa ayahnya penyuplai kerupuk terbanyak, di cabang restoran milik Gibran yang ada di kota ini. Yang tentunya sang ayah pasti bisa membantu nya untuk mendapatkan Gibran, lagipula selama ini apa yang dia minta selalu dipenuhi oleh sang ayah. Makanya dia tumbuh menjadi gadis sombong, angkuh serta manja.
Beruntung saat dia pulang ayahnya sedang santai di ruang tamu, jadi lebih mudah untuknya melancarkan rencana yang dia susun sejak kemarin.
"Bapak sedang apa?" tanyanya sambil memijat tengkuk sang ayah.
"Sedang duduk Ndok. Ada apa?" tanya sang ayah. Beliau sudah tahu sifat sang anak, bila anaknya manja begitu pasti ada maunya.
"Hmmm. Bapak paling tau kemauanku." manja Astrid.
"Ia lah kamu kan Anak Bapak"
"Coba kamu bilang sama Bapak. Ada apa?" tanya sang Ayah.
"Ini lho Pak. Bapak kenal tidak dengan keponakan nya Pak Fadli?"
"Yang mana Ndok?"
"Yang dari Kota itu lho Pak"
"Ia. Bapak kenal?"
"Ya kenal dong Ndok, Bapak pernah ketemu kemarin, kasep pisan ya orangnya"
"Ya lah Gibran Prasetya Wijaya gitu lho Pak. Apa gak ganteng."
"Sia..pa kamu bilang tadi Ndok?" gagap sang ayah karena terkejut mendengar penuturan sang Anak.
"Gibran Prasetya Wijaya Pak. Memang Bapak tidak tahu?"
"Tidak. Bapak tidak tahu, pantesan sepertinya tidak asing lagi dengan wajahnya."
"Kalau dia menjadi menantu ku, betapa beruntungnya aku, pasti pabrik kerupuk ku semakin maju. Pasti aku juga semakin terkenal, apalagi punya menantu pewaris tunggal sang penguasa Kota A sekaligus pengusaha muda tersukses di negeri ini" batin Pak Sabri sambil senyum-senyum.
"Ngomong-ngomong kenapa Ndok kamu tanya tentang dia?" tanya sang ayah penasaran, soalnya belum pernah anak nya bicara mengenai pria didepan nya.
"Ini lho Pak. Astrid suka sama dia" jawab Astrid malu-malu.
"Oh itu. Terus Bapak harus bagaimana?"
__ADS_1
"Gini lho Pak. Bisa tidak Bapak minta Pak Fadli untuk menjodohkan ponakan dengan Astrid?" pinta Astrid dengan nada memohon, membuat sang ayah tidak tega untuk menolaknya. Apalagi beliau mempunyai keinginan yang sama dengan sang anak, sama-sama menginginkan Gibran untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Tentu Ndok. Pasti Bapak akan ngomong ke Pak Fadli, apalagi dari dulu Bapak ingin punya menantu kaya. Semoga kali ini kesampaian, iya toh Ma?" tanya Pak Sabri kepada sang istri yang dari tadi cuma diam saja mendengar ayah dan anak berbicara. Sang istri tidak terlalu menyukai cara suaminya memperlakukan sang anak, bagi nya sang suami terlalu memanjakan anak mereka jadi Astrid bersifat angkuh begitu.
"Terserah Bapak saja, yang penting Bapak senang toh" jawab istri nya cuek.
"Kalau begitu Pak. Bagaimana kalau nanti malam kita kerumahnya Pak Fadli?"usul Astrid. Dia sudah tidak sabar ingin memiliki Gibran secepatnya mungkin.
"Bagus itu Ndok. Makin cepat makin baik"
"Tapi Astrid ragu Pak."
"Ragu kenapa lagi Ndok"
"Takut Mas Gibran nya tidak suka dengan Astrid"
"Tidak mungkin dia tidak suka."
"Bagaimana Bapak yakin?"
"Karena tidak ada yang bisa menolak kecantikan serta pesona anak gadis Bapak yang satu ini" puji sang Ayah disertai kekehan di ujung kata.
"Ah Bapak bisa saja."
"Oh ya Pak. Tapi Astrid dengar Mas Gibran itu sudah punya calon istri"
"Siapa yang bilang?"
"Riani Pak"
"Riani ponakannya istri Pak Fadli itu?"
"Ia Pak."
"Jangan didengarkan dia pasti bohong. Kan kamu tau sendiri dia tidak pernah menyukai kamu" Ucap Pak Sabri menjelek-jelekkan Riani di depan Astrid, padahal kebalikan nya Astrid lah yang selalu tidak menyukai Riani.
"Bapak jangan begitu. Belum tentu Riani begitu, siapa tau betul apa yang dibilang Riani." Sahut sang istri. Dia tidak menyukai suaminya menjelekkan Riani, baginya Riani adalah gadis yang baik,jujur serta murah hati.
"Apaan sih Ma. Mama kan belum tahu sifatnya, dia itu selalu cari gara-gara dengan anak kita Astrid"bela sang ayah.
"Astrid kan yang bilang begitu? Mungkin dia yang cari gara-gara dengan Riani" gumam sang istri karena dia tidak menyukai sifat sang anak.
"Mama kenapa bilang begitu sih? Yang Anak Mama Astri apa Riani?" bentak Astrid.
"Ia Mama. Kenapa selalu belain Riani? Jadi kasihan Astrid nya?"
__ADS_1
"Terserah Papa deh. Itu memang salah Papa yang selalu manjain Astrid makanya dia begitu, semakin kurang ajar" sentak istri sambil berlalu ke kamar nya.
"Awas saja kamu Riani, gara-gara kamu Bapak sama Ibu aku berantem. Kamu akan tau akibat nya, aku akan membalas kamu" batin Astrid.