Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Hampir ketahuan.


__ADS_3

🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹


Hati tak ada seorang pun yang mengerti.


Kasih sayang tak seorang pun yang dapat memahami.


Begitu pun dengan cinta tak sembarang orang yang dapat memiliki.


🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻


Happy Reading reader ku tercinta...


Tengah asyik-asyiknya Gibran dan Riani bermesraan, tanpa mereka sadari ada Bibi di belakang mereka.


"Bibi mengerti kok Ndok, tapi kalian tidak boleh begitu. Belum muhrim Ndok, dosa" ujar Bibi yang membuat Riani dan Gibran terkejut.


Gibran segera melepaskan diri dari Riani, dan dia segera keluar dari belakang.


"Malu banget aku, sudah dua kali begini. Ahhh pasti Paman dan Bibi menganggap aku Mesum, lagian kenapa sih aku tidak bisa menahan hasrat ku saat berada di dekat Riani, brengsek" upat Gibran memaki dirinya sendiri.


Sedangkan Riani setelah Gibran keluar, Riani tidak berani bersuara. Dia cuma membuang muka, dia sangat malu dengan perlakuan Gibran, apalagi tertangkap basah oleh Bibi.


Mau di tarok di mana mukanya? Pasti Bibi berpikiran macam-macam, mungkin juga Paman juga sudah cerita perihal kemarin dia juga tertangkap basah oleh Paman.


"Sudah selesai Ndok buat minum nya, para tamu sudah keselek dengan ludah tuh. Saking lama sekali menunggu kamu membuat minum, eh ternyata bukan membuat minum tapi sedang asyik-asyiknya kalian mesra-mesraan disini" sindir sang Bibi, membuat Riani ingin menenggelamkan diri ke laut saat ini juga, karena saking malunya.


"Sudah bik. Tinggal Riani bawa sekarang ke depan bik" jawab Riani dengan menundukkan wajahnya.


"Ya sudah bawa ke depan sana gih."


"Baik bik"


"Oh ya. Habis itu panggil Nak Gibran ya, suruh ke ruang tamu, ada yang perlu dibicarakan oleh Pamanmu. Tapi awas jangan lama-lama ke buru tamunya jamuran nanti" sindir bibi lagi.


"Ia Bibi" Riani segera menuju ke ruang tamu. Dan menyajikan minuman untuk para tamu.


"Silahkan Pak, buk, Astrid di minum airnya" ujar Riani sopan


"Terima kasih Ndok" ujar buk Latifah.


"Nak Gibran mana Ndok?" tanya Paman.


"Mas Gibran di kolam belakang Paman"


"Coba kamu panggil ada yang mau Paman bicarakan."


"Baik Paman." Riani segera berlalu memanggil Gibran yang berada di kolam.

__ADS_1


Sesampainya di sana Riani celingak-celinguk mencari Gibran, tapi orang yang dia cari tidak nampak batang hidungnya.


"Kemana ya Mas Gibran? Perasaan tadi keluar kesini" pikir Riani merasa heran sendiri.


"Mas..Mas..Mas" beberapa kali Riani panggil tapi tidak jawaban dari Gibran.


Tiba-tiba...


"Aaaaaaa" teriak Riani dengan terkejut rupanya Gibran sudah ada dibelakang nya sengaja membuat dia kaget, sebetulnya Gibran sudah melihat Riani dari pertama kali Riani keluar tapi dia sengaja bersembunyi, dia ingin membuat Riani kaget.


"Mas. Buat kaget saja, kalau aku jantungan bagaimana?"


"Mas obatin dengan cinta nanti" jawab Gibran sembarangan.


"Mas maksud aku bukan sakit tapi jantungan" teriak Riani karena jawaban Gibran tidak nyambung.


"Ia ia Mas tahu. kamu ngapain di sini sayang? Kangen ya?" goda Gibran.


"Siapa juga yang kangen" jawab Riani mukanya sudah merona.


"Kamu. Terus ngapain kesini?"


"Oh ya hampir lupa" Riani menumpuk dahinya sendiri.


"Mas dipanggil sama Paman tuh, di suruh keruang tamu"


"Au ah" Riani berlalu dengan kesal dan Gibran segera menyusul di belakang.


Sesampainya di ruang tamu, Gibran segera masuk dan duduk tepat di samping Paman.


"Oh ini sudah datang orangnya? Kemana saja toh Nak sudah capek ditunggu?" tanya Paman.


"Cari angin Paman. Di sini terlalu pengap" ujar Gibran sengaja menyindir.


"Ada apa ya Paman? Paman memanggil saya kesini?" tanya Gibran tanpa basa-basi.


"Gini lho Ndok. Maksud kedatangan Pak Sabri beserta keluarga, ingin menjodohkan kamu dengan anaknya, Nak Astrid"


"Ia Nak. Bapak rasa kalian sangat cocok,yang satu cantik dan ya satu lagi tampan. Bukan begitu Pak Fadli" ujar Pak Sabri memuji anak nya sendiri.


Paman cuma mengangguk saja pertanda dia tidak membenarkan atau pun tidak menyela.


Sedangkan Riani hampir menyemburkan tawanya sambil mengejek ke arah Gibran.


"Cocok banget Mas" gumam Riani dengan suara sangat kecil yang bisa didengar oleh Gibran.


"Mas Gibran kan calon suaminya Mbak Riani, kenapa mau dijodohkan dengan Mbak Astrid" ujar Andi tiba-tiba. Entah dari mana dia muncul padahal tadi dia sudah masuk ke kamarnya, untuk tidur.

__ADS_1


Flashback.


Habis sholat insya Andi berencana untuk tidur, tetapi karena dia kebelet pipis. Dia hendak pergi ke sumur tetapi terhalang,karena mendengar pembicaraan orang tuanya dengan tamu yang ada di ruang tamu.


Dia jadi heran dengan pembicaraan ayah nya karena yang dia tahu, Gibran adalah calon suaminya Riani. Tapi kenapa ini mau dijodohkan dengan Astrid, pasti ada yang tidak beres ini. Tidak bisa dibiarkan,aku harus ngelakuin sesuatu pikirannya.


Flash on.


"Ini kenapa begini? Kalian mau menipu seluruh warga ya? Pura-pura bilang kalau Nak Gibran ini keponakannya Bapak. Padahal calon suami nya Riani" teriak Pak Sabri sangat murka.


"Bapak salah paham bukan seperti itu, Andi masih anak kecil dia tidak tahu apa-apa" bela Pak Fadli.


"Saya tahu kok, memang waktu Mas Gibran pertama kesini mau ngelamar Mbak Riani" ujar Andi dengan polosnya.


"Andi kamu lebih baik masuk kamar tidur sana " ujar Bibi.


"Baik buk" ujar Andi kemudian berlalu ke kamarnya dia masih bingung sebetulnya ada apa.


"Jadi ini sebetulnya bagaimana?"tanya Pak Sabri kemudian.


"Ia sebetulnya emang salah paham. Andi cuma asal ngomong saja" ujar Pak Fadli menutupi rasa gugupnya.


"Ia betul Pak. Kata-kata Andi jangan dimasukkan ke hati, dia masih kecil" Bibi ikut bersuara.


"Jadi keputusan bagaimana ini Pak?" tanya Astrid kemudian.


"Masalah keputusan, kami serahkan kepada Nak Gibran. Bagaimana Nak Gibran?"


"Begini Pak. Sebelumnya saya minta maaf, saya sudah punya calon sendiri" ujar Gibran.


"Bukan Riani kan calonnya?" tanya Astrid masih curiga dengan gelagat Riani dan Gibran.


"Bukan" jawab Gibran agak ragu, sebetulnya ia ingin menjawab ia. Tapi ketika dia melihat ke arah Riani, Riani tidak setuju jadi terpaksa dia berbohong. Walau hatinya sangat berat.


"Kalau begitu, memang tidak berjodoh" ujar Pak Sabri sangat kecewa.


"Astrid tidak terima Pak, Bagaimana pun caranya Astrid akan mendapatkan Mas Gibran" ujar Astrid sangat berambisi.


"Jangan begitu Ndok, hargai keputusan Nak Gibran" nasihat sang Ibu.


"Mama kenapa tidak pernah mendukung Astrid sih, Astrid sangat mencintai Mas Gibran" ucap Astrid.


"Ndok jangan begitu gak enak masih dirumah orang" ujar Pak Sabri. Beliau menyadari mereka masih di rumah orang, jadi dia menasihati Astrid biar tidak seenaknya.


Sedangkan para Tuan rumah, salut dengan keberanian Astrid. Mereka tidak habis pikir Astrid sangat berambisi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2