Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Rencana nya Astrid


__ADS_3

🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻


Berjuanglah saat kamu masih mampu melakukannya, perjuangankan apa yang kamu nilai itu pantas untuk kamu perjuangan kan.


🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹


Setelah melakukan lari pagi, Gibran dan anak Paman segera masuk untuk membersihkan badan terlebih dahulu,lalu ikut bergabung ke meja makan untuk sarapan.


Setelah membaca doa yang di pimpin oleh Gibran, mereka segera menyantap sarapan paginya,tanpa ada yang bersuara sedikit pun,hanya sendok dan garpu yang saling bersahutan.


Setelah selesai sarapan pagi, Riani dan Bibi, membersihkan ruang makan,dan mencuci piring-piring yang kotor. Sementara Paman dan Gibran segera berangkat ke Sawah untuk membajak Sawah. Butuh waktu sedikit lama untuk menuju ke Sawah, karena mereka harus menempuh jalan setapak, apalagi mereka cuma berjalan kaki, karena tidak mungkin membawa kereta.


Di tengah-tengah perjalanan mereka menuju ke Sawah, mereka bertemu dengan Pak Sabri orang terkaya di desa tersebut, dia juga ayahnya dari Astrid.


"Eh Pak Fadli,mau ke Sawah toh?."


"Iya ini Pak.!"


"Dengan siapa ini toh? kasep pisan."


"Oh ini nak Gibran, keponakan saya dari Kota."


Sengaja Pamannya Riani tidak memberi tahu kepada orang-orang desa,bahwa Gibran calon suaminya Riani kecuali kepada Pak Kades.


"Oh keponakannya Pak Fadli toh?."


"Iya Pak,kalau begitu kami permisi mau ke Sawah dulu."


"Monggo Pak."


Gibran dan Pamannya Riani pun berlalu, sedangkan Pak Sabri masih di situ menatap kepergian dua orang tersebut.


"Ini kayaknya Pemuda yang bikin warga desa heboh, sepertinya dia bukan orang biasa,dari postur tubuh beserta wajah, sepertinya dia orang kaya. Saya harus berhasil merayu Pak Fadli,agar mau menjodohkan ponakannya dengan anak saya Astrid" gumamnya pada diri sendiri, kemudian berlalu dari tempat tersebut.


Sementara Paman dan Gibran sudah sampai di Sawah, dan langsung turun untuk membajak Sawah dengan Kerbau, karena sudah menjadi tradisi di desa tersebut, membajak Sawah harus menggunakan Kerbau. Gibran agak kesusahan dalam membajak Sawah,apalagi saat mengendalikan Kerbau.


Tapi Gibran tidak menyerah dengan begitu saja, dengan tekad serta semangat yang kuat, perlahan-lahan dia belajar, alhasil dia hampir berhasil walaupun ada sedikit hambatan.


Seperti Kerbau melawan,atau kadang-kadang ada binatang kecil yang membuat Gibran takut, sedangkan Paman merasa bangga dengan tekad serta semangat yang di miliki oleh Gibran.


Walaupun dia tidak bisa tetapi dia terus berjuang, dan Paman sekarang merasa lebih yakin lagi bahwa Gibran pilihan terbaik untuk Riani. Tetapi walaupun begitu, Paman tidak menunjukkan kepada Gibran bahwa dia sangat puas, dengan tekad dan semangatnya Gibran. Paman akan melihat seberapa mampu, Gibran memperjuangkan keponakan kesayangannya, apakah Gibran akan mundur, atau akan maju terus?.


Sementara di rumah Paman dan Bibi, Riani sedang menyiapkan makan siang untuk dia antarkan ke Sawah, sebagai makan siang Gibran dan Paman. Setelah ia masukkan semuanya makanan nya ke rantang Riani segera berangkat, dengan mengunakan sepeda.


Di pertengahan jalan menuju ke Sawah, Riani di hadang oleh Astrid dan kawan-kawanya.


"Hai Riani." Sapa Astrid dengan ramah.

__ADS_1


"Hai juga."


"Tumben dia ramah pasti ada maunya ni" batin Riani


"Oh ya kamu mau kemana?."


"Mau antar nasi ke Sawah. Kenapa?."


"Enggak kenapa-kenapa?.Oh ya boleh gak kalau aku main-main ke rumah kamu?."


"Untuk apa?,tumben kamu mau main ke rumah orang miskin kayak aku"


"Tidak kenapa-kenapa,cuma ingin main-main saja,ah kamu jangan ngomong gitu kita semua teman"


"Aku merasa heran saja, karena kamu dulunya tidak mau berteman dengan aku."


"Mana ada,kamu salah paham."


"Ya sudah kalau begitu,aku antar nasi dulu ya."


"Oke sampai ketemu nanti."


"Ya."Riani segera berlalu dari sana.


Dia merasa heran dengan perubahan sikap Astrid terhadap dirinya,pasti ada Udang di balik batu ini pikir Riani.


"Tumben kamu Astrid ingin bermain ke rumah Riani,ada apa ini sebenarnya?" tanya Intan mewakili rasa penasaran para sahabatnya.


"Iya. Biasanya kamu kan benci sekali dengan Riani"Sambung Marni.


"Diam kalian. Kalian tidak tahu apa-apa."


"Dengan aku deketin Riani, otomatis sepupunya yang ganteng itu pasti akan menjadi milikku" batin Astrid tersenyum.


"Jangan bilang kamu mau ngedeketin sepupunya, yang katanya orang Kota itu" tuduh Devi.


"Berisik sekali sih kamu, mendingan kalian diam saja deh."


"Terserah kamu saja deh" ucap mereka berbarengan,lalu pergi meninggalkan Astrid sendiri.


"Woi tungguin aku" teriak Astrid, setelah melihat kawan-kawannya pergi.


"Ada lagi sih Astrid?" tanya Intan yang sudah kesal dengan sifat seenaknya Astrid.


"Ia deh. Aku cerita sama kalian,tapi kita cari pondok dulu ya" ajak Astrid.


"Iya."

__ADS_1


Akhirnya mereka pergi mencari pondok yang dekat dengan mereka,dan tak jauh dari situ ada pondok yang tertata dengan sangat rapi.


Dan mereka memutuskan untuk duduk di situ, Astrid menceritakan kenapa ia mendekati Riani.


"Ya. Kalian benar aku mendekati Riani,untuk membuat cowok Kota itu suka kepadaku."


"Oh makanya kamu ingin ke rumahnya Riani ya?"tanya Marni.


"Iya. Karena tidak ada cara lain, terpaksa aku harus pura-pura baik dengan Riani,kalau tidak mana mau aku berteman dengan cewek miskin macam dia."


"Jahat sekali sih kamu Astrid."


"Itu bukan urusan kalian, yang penting tujuan aku tercapai."


"Emang kamu yakin cowok itu akan mau dengan kamu?"


"Ya. Aku yakinlah, belum ada yang bisa menolak pesonanya Astrid."


"Pede sekali kamu,belum tentu juga dia mau,kalau dia sudah tahu sifat asli kamu" ungkap Marni.


"Diam kamu. Sekali lagi kamu ngomong,aku sumpalin mulutmu dengan sandal ini" gertak Astrid sambil mengambil sandal miliknya.


"Aku bilang kan kenyataan."


"Bisa diam enggak kamu?, sebelum aku hajar mulutmu itu" ujar Astrid sudah mulai marah.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi"


Devi ikut menengahi.


"Tuh kawan kamu mulutnya ember."


"Memang aku ngomong kenyataan."


"Diam kenapa sih? jangan ribut"


Intan angkat bicara, karena dia sudah merasa risih dengan pertengkaran Marni dan Astrid.


"Ia deh aku ngalah" Marni mengalah dia malas juga berantem dengan Astrid,ya tentunya pasti tidak akan mengalah.


"Ya sudah mendingan kita pulang sekarang sudah waktunya makan siang" Devi menimpali.


"Ayo kita pulang" ucap Marni.


Akhirnya mereka pulang ke rumah mereka masing-masing, dan Astrid mempersiapkan rencananya untuk mendekati Gibran.


Tanpa dia tahu Gibran adalah calon suaminya Riani, karena menurut kabar yang beredar, Gibran adalah keponakan Pak Fadli, Pamannya Riani.

__ADS_1


🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌹🌻🌹


__ADS_2