Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Bertemu dengan calon mertua 2


__ADS_3

🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌻🌹🌻🌻🌹


Kebahagiaan itu tidak sulit untuk diraih dan tidak muda pula..


kebahagiaan suatu yang kita ciptakan sendiri..


🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌹🌻🌹


Masih di massion besar keluarga Wijaya,


setelah perdebatan dengan sang anak akhirnya nyonya Angelina pun menyerah, ia bermaksud untuk mengakrabkan diri dengan sang calon menantunya.


"Sini sayang duduk di samping mama" ujar nyonya Wijaya menyuruh agar Riani duduk di sampingnya.


Ternyata walaupun mereka orang terkaya di kota itu, dalam hal jodoh anak mereka tidak pilih memilih yang penting si anak senang dengan pilihannya.


"Oh ya sayang siapa nama mu..?" ujar nyonya Wijaya kemudian setelah Riani duduk di dekatnya


"Riani tante" jawab Riani sopan


"jangan panggil tante dong, panggil mama saja seperti Gibran" ujarnya lembut


"tapi tante" jawab Riani


"tidak ada tapi-tapian, saya tidak menerima bantahan" ujar nyonya Angelina


"baik tante, eh mama maksud saya" ucap Riani gugup


"ternyata sifat keras kepalanya Gibran turun dari mamanya" batin Riani tersenyum geli


"oh ya sayang kamu udah lama kenal dengan anak mama yang nakal ini..,?"tanya nyonya Wijaya


"belom terlalu lama ma" jawab Riani jujur


"betul kalau kamu calon istrinya anak saya..?" tanya nyonya Wijaya lagi pasalnya dia masih belum percaya dengan omongannya Gibran


"emmm betol kok ma" jawab Riani agak gugup


"kalian tidak lagi sekongkolkan untuk bohongin mama..,?" tanya nyonya Wijaya


sedangkan Riani sangat gugup karena dia sekarang ini seperti terdakwa yang lagi di interogasi oleh polisi.

__ADS_1


"Ma mama apaan sih, bikin Riani takut saja, kami pasangan sungguhan kok ma, bukan bohongan, benarkan sayang..?" ujar Gibran sambil menarik pinggang Riani lalu memeluknya dengan erat


"mas lepas malu ah didepan orang tuanya mas" ujar Riani berbisik sambil memukul-mukul tangannya Gibran


"ngapain harus malu sih sayang..? orang tuanya mas pernah muda juga kok, kalau tidak enggak mungkinkan..? ada mas sampai sebesar ini" balas Gibran sambil berbisik juga.


Sedangkan orang tua Gibran sudah senyam-senyum melihat ke mesraannya Gibran,dan Riani mereka juga merasa bahagia kalau anaknya bahagia.


"Pa senang ya kalau kita lihat Gibran tersenyum seperti itu, tidak memasang wajah dingin lagi" bisik mamanya Gibran


"iya ma,papa juga senang sekali" balas papanya Gibran juga berbisik


"jadi kalian kapan nikah...? tanya mama dan papa Gibran bersamaan


"haaahh ...?" jawab Riani dan Gibran bersamaan sambil mulut terbuka lebar saking tidak percayanya dengan pertanyaan kedua orang tuanya Gibran, sedangkan jantung Riani sudah tidak tenang sudah dag dig dug.. hehehe


"dengan segera ma" jawab Gibran saking senangnya dan setelah menetralkan keterkejutannya atas pertanyaan sang orang tua.


"Bagus, mama dan papa akan segera mengurusnya k, karena papa dan mama pengen cepat-cepat nimbang cucu" ujar mama Gibran tersenyum senang


"oh ya ma, masalah perjodohan Gibran dengan anaknya Om Budianto bagaimana..?tanya Gibran tiba-tiba


"oh ya mama jadi lupa saking senangnya mau punya mantu" ujar mamanya Gibran


"oh ya sayang kamu kerja di mana..?" tanya nyonya Wijaya ke pada Riani sekedar basa-basi


"di kantor mas Gibran ma tapi hanya sebagai OB" ujar Riani ragu karena takut setelah keluarga Gibran mengetahui tentang pekerjaannya yang sebenarnya, takut mereka berubah pikiran


"oh sebagai OB, enggak apa-apa loh sayang yang penting halal dan berkah" ujar mamanya Gibran sambil tersenyum lembut sementara Riani merasa terharu dengan kebaikan hati orang tuanya Gibran.


"oh ya orang tua kamu masih ada sayang..?" tanyanya kemudian


"orang tua Riani sudah meninggal semenjak Riani masih kecil ma" jawab Riani dengan pandangan sendu mengingat almarhum kedua orang tuanya


"maaf ya sayang mama tidak tau, maaf kalau pertanyaan mama membuat kamu sedih, mulai sekarang kami adalah penganti orang tua kamu, anggaplah kami orang tua kamu ya sayang"ujar nyonya wijaya sambil memeluk erat tubuh Riani.


Sedangkan Riani juga membalas pelukan sang calon mertua,sambil meneteskan air mata karena bahagia dengan kasih sayang orang tuanya Gibran


"iya sayang anggap kami berdua orang tua kamu" ujar papanya Gibran kemudian


"jangan nangis dong sayang, nanti cantiknya hilang" ujar nyonya Wijaya bercanda

__ADS_1


"makasih ma, pa karena kalian sudah menerima Riani dengan segala kekurangannya Riani, Riani sangat bahagia" ujar Riani dengan wajah yang sangat bahagia senyumpun tak pernah lepas dibibir cantiknya


"iya sayang kami tak pernah memilih-milih jodoh untuk anak kami yang penting dia bahagia, bagi kami itu sudah cukup, kami tidak mau egois, apalagi bukan kami yang akan menjalani pernikahan ini tapi dia sendiri" ujar nyonya Wijaya dengan perkataan yang sangat bijak


"makasih ma,pa,Gibran juga sangat bahagia, jadi papa dan mama merestuikan hubungan kami..?" tanya Gibran was-was pasalnya walaupun kedua orang tuanya terlihat sangat menyayangi Riani, tapi mereka belum mengatakan bahwa mereka merestui hubungannya Gibran dengan Riani


"kami tidak...." ujar papanya Gibran tiba-tiba terpotong dengan suaranya Gibran


" tida apa pa, jangan-jangan papa tidak merestui hubungan kami ya..,?" jawab Gibran kecewa dengan suaranya yang lemah


"belum habis papa ngomong sudah main potong saja, sangat terlihat jelas buru-buru pengen kawin ini" canda papa Gibran


"is apaan sih papa, sepertinya papa tidak pernah muda saja" kekeh Gibran


"terus cepat dong papa jawab " ujar Gibran lagi.


"Kami tidak...." ujarnya tapi kembali diam


sementara Riani dan Gibran, sudah dag dig dug menunggu jawaban dari sang tuan Wijaya, jantung mereka berpacu dengan hebatnya seakan-akan mereka baru selesai berlari mengelilingi kompleks perumahan elit itu hehe


"kami tidak akan menolaknya, apalagi dapat calon menantu cantik begini"kali ini sang nyonya Wijaya ikut bersuara karena dia juga sudah kesal dengan jawaban sang suami yang selalu setengah-tengah.


Padahal sang suami sengaja mengerjai sang anak.


"Iya kami akan merestui hubungan kalian dan kalian bisa menikah dengan segera mungkin" ujar tuan Wijaya dengan bijaksana


"makasih pa ma" ujar Gibran sambil memeluk kedua orang tuanya secara bergantian, dia sangat bahagia karena orang tuanya merestui hubungannya dengan sang pujaan hati,


saking bahagianya Gibran tiba-tiba dia bangun dan menggendong Riani, sambil berputar-putar di ruangan tamu membuat Riani hampir pingsan karena saking kagetnya, sedangkan kedua orang tuanya Gibran juga tak kalah kagetnya,dengan kelakuan sang anak tapi kemudian tersenyum bahagia sambil ngeleng-ngeleng kepala


"sayang akhirnya kita bisa menikah" teriaknya terus berputar sambil mengendong Riani


"mas turunin, aku pening mas, hampir pingsan" ujar Riani karena memang hampir pingsan dengan kelakuan Gibran.


Akhirnya karena mendengar Riani hampir pingsan Gibran pun tersadar lalu menurunkan tubuh Riani


"maaf ya sayang mas bahagia sekali" ujar Gibran di sertai kekehannya kecil.


🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻


mohon like and koment nya ya

__ADS_1


terima kasih atas dukungan nya...


__ADS_2