
🌻🌹🌻🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌹
*Cinta itu adalah sebuah obyek seperti obsesi, setiap orang menginginkan nya, setiap orang mencari nya, tapi sedikit orang yang mendapatkan nya, orang yang pernah melakukan nya akan selalu menghargai cinta
tersesat di dalam nya dan tidak akan melupakan nya.
Love it is an object like an obsesion everyone wants , everyone is looking for it, but few people who get it, thoese who never do so Will always cherish the love, get lost in it and do no forget
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻
Jika seseorang yang kita cintai terluka
hati dan jiwa kita juga ikut terluka*..
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻
Sesudah sampai di massion Gibran segera membopong tubuh Riani memasuki ke kamar yang biasa di tiduri oleh Riani sebelum ia ditahan di massion keluarga Gibran,
Gibran segera menyuruh bik Surti untuk mengantikan pakaian dan membersihkan tubuh Riani dari bau air comberan.
Sedangkan dirinya segera menelpon dokter pribadi keluarga Wijaya untuk segera datang ke massionnya agar memeriksa keadaan Riani, dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Riani karena sampai saat ini ia belum juga sadar dari pingsannya.
Gibran mondar-mandir di luar kamar sambil menunggu dokter datang, sedangkan bik Surti sudah selesai mengantikan pakaiannya Riani, dia segera ke dapur membuat bubur untuk Riani, untuk dimakan oleh Riani jika nanti dia siuman.
Satu jam sudah berlalu dokter belum juga datang,membuat Gibran semakin panik, sedangkan Riani belum juga bangun, sudah berbagai cara dia lakukan untuk membangunkan Riani, dari menggosok-gosokan minyak kayu putih ke hidungnya sampai memberi napas buatan,Riani juga belum siuman.
Akhirnya Gibran memutuskan untuk membawa Riani ke rumah sakit, tetapi tidak keburu karena dokter sudah datang, dengan napas ngos-ngosan dokter itu segera masuk, dia sangat takut menghadapi kemarahan sang tuan muda.
Apalagi sebelum ia kesini Gibran sudah mengancamnya, kalau dia tidak cepat segera ke massionnya Gibran dalam waktu lima menit,jangan harap ia dapat bernapas lagi besok pagi( serem amat sih babang Gibran thor lima menit nyawa taruhannya horang kaya mah bebas).
Tanpa banyak bicara lagi sang dokter segera berinisiatif memeriksa keadaan Riani, apalagi dia sempat melirik kearah muka Gibran yang sudah tidak enak lagi untuk di pandang, mungkin beberapa detik lagi dia akan segera meledak seperti bom atom.
Setelah dokter memeriksa Riani
"kenapa dengan calon istri saya dok..?" Gibran segera memberondong dokter dengan pertanyaan.
"Tidak apa-apa cuma dia butuh istirahat"
"yang betul saja dok kalau dia hanya butuh istirahat, kenapa sampai sekarang dia belum bangun juga" Gibran mulai emosi
"dia cuma syok tuan" dokter merasa serba salah dengan sikap Gibran dia tidak tahu harus berbicara apalagi
"kalau begitu saya permisi, oh ya setelah dia bangun tolong kasih obat ini, ini obat nyeri pada bagian kepalanya yang kena benturan, dan ini salep untuk dioles di bagian yang memar" ucap sang dokter sambil memberikan beberapa obat dan salep untuk Riani.
"Iya dok terima kasih, biar di antar sama pelayan saya sampai pintu"
kemudian Gibran menyuruh Surti untuk mengantarkan dokter
"sama-sama tuan muda, saya pamit"ucap dokter hampir terkejut karena baru kali ini mendengar seorang Gibran mengucapkan kata terima kasih, sungguh cinta bisa merubah segalanya
"hmmmm" Gibran berdehem.
Kemudian Gibran duduk kembali di dekat Riani,dengan pandangan tak lepas dari memandang kearah Riani sambil membelai kulit muka Riani,bekas kena tamparan.
__ADS_1
"Maaf ya sayang ,kamu pasti kesakitan"
sesekali dia mengompres bekas luka tersebut dengan es yang ada di dekat tempat tidur yang sudah disediakan oleh bik Surti.
Selang beberapa jam akhirnya Riani membuka matanya, perlahan-lahan tapi pasti, Riani mengerjap-mengerjap matanya, sambil mengumpulkan nyawanya perlahan-lahan.
Dimana aku..?? siapa aku..??
Riani ingin bangun tapi di urungkan karena kepalanya terasa sangat berat, pergerakan Riani rupanya mampu membangunkan Gibran yang sudah tertidur sambil terduduk di samping tempat tidur, karena lelah apalagi dia sudah beberapa jam menunggu Riani untuk bangun.
"Ada apa sayang biar mas bantu"
"aku di mana ini mas..?" ucap Riani dengan nada lemas, karena tenaganya sudah habis
"kamu di kamar kamu sayang"
"aku kenapa mas..?"
"tadi kamu pingsan sayang"
"sudah berapa lama aku pingsan mas..?"
"ada sekitar tiga jam sayang"
"bagaimana mama dan papa..? sudah mas kasih tahu bahwa aku di sini kasihan mereka nanti khawatir" tanya Riani takut kedua orang tua Gibran mengkhawatirkannya.
Benaran saja seperti yang di pikirkan Riani, sang nyonya Wijaya sudah berputar-putar mengelilingi massion sambil sesekali melirik kearah pintu masuk, untuk menunggu Riani pulang.
Gibran langsung menelpon mamanya untuk memberi kabar bahwa Riani pulang ke massionnya, karena dia lagi kurang enak badan sengaja Gibran tidak menceritakan hal yang sebenarnya takut kedua orang tuanya akan panik, apalagi kalau sampai mereka mengetahui kalau ada yang menganiaya calon menantu kesayangan mereka.
Walaupun di bilang Riani cuma tidak enak badan, tetap saja membuat sang calon mertua panik, dan dengan segera meminta sopir untuk mengantarnya menuju ke massion Gibran.
Selang beberapa menit kemudian orang tua Gibran sudah sampai di massionnya Gibran,
mereka langsung menuju ke kamar yang ditempati oleh Riani, setelah mereka menanyakan kepada pelayan dimana Riani
"sayang kamu kenapa..?" ujar nyonya Wijaya dengan raut wajah yang sangat khawatir
"tidak kenapa-kenapa kok ma" Riani terkejut tiba-tiba sang calon mertua sudah ada di depan mereka
"apa tidak kenapa-kenapa muka kamu kok bisa memar begitu..?" ucap nyonya Wijaya karena melihat memar di wajahnya Riani
"enggak kok ma ini cuma jatuh tadi"bohong Riani
"jangan bohongi mama ,wong jatuh saja kok sampek segitunya, coba bilang siapa yang telah lakuin ini sama kamu, biar mama kasih pelajaran"ujar nyonya Wijaya memberondong Riani dengan pertanyaan.
"Enggak kenapa-kenapa kok ma, mama jangan khawatir"
"siapa yang tidak khawatir melihat calon menantunya kayak begini" lanjutnya lagi sambil mengelus-elus pipi Riani pelan
"sakit sayang..?" tanyanya kemudian
"enggak kok ma sudah di olesin salep sama mas Gibran tadi"Riani mencoba untuk menghilangkan rasa khawatir calon mertuanya dan memang benar yang di katakan Riani sebelum mereka datang Gibran sudah mengoleskan salep,dan dia juga sudah makan bubur dan minum obat.
__ADS_1
"Eh rupanya anak nakal ini juga disini" ucap mamanya Gibran baru menyadari, kalau Gibran juga ada di sana karena saking khawatirnya terhadap Riani,anak sendiri sampai di lupakan ( miris banget sih nasib kamu babang Gibran).
"Emang dari tadi Gibran di sini ma" jawab Gibran sewot karena dari tadi dia di kacangin sama mamanya sendiri.
"Terus kenapa jadi sampai seperti ini, kenapa kamu sangat lengah sehingga calon menantu mama sampai kayak begini..?" cerocos nyonya Wijaya tanpa henti
"Gibran juga enggak tahu kenapa sampai ke jadian seperti ini ma" Ujar Gibran lesu
"terus siapa yang celakain calon menantu mama..? jangan kamu bilang dia jatuh seperti kata Riani tadi, mama tidak akan percaya"
"dia dicelakain oleh karyawannya Gibran ma"
akhirnya Gibran mengatakan yang sebenarnya karena sudah kepalang tanggung, apalagi mamanya bukan orang yang mudah untuk dibohongi, nanti ujung-ujungnya pasti ketahuan sendiri.
"Apa ..?? siapa yang sudah berani celakain calon menantu mama hah..?" teriak nyonya Wijaya dengan sangat keras mukanya sudah marah padam menahan emosi.
"Terus para pengawal yang kamu sewa itu kemana, kenapa sampai mereka bisa celekain Riani??"terusnya lagi.
"Itu salah Gibran mama sudah karena tidak becus menjaga Riani,pokoknya mama tidak usah khawatir, mereka sudah mendapatkan akan mendapatkan ganjaran kok atas perbuatan mereka"
"memang kamu tidak bisa di harapkan" ujar nyonya Wijaya ketus membuat Gibran terkejut bukan main, karena baru kali ini mamanya bicara seperti itu kepadanya dengan nada serius lagi, walaupun sedikit merasa kesal di hatinya tapi dia juga bahagia karena sang mama perhatian kepada sang kekasih.
"Mama jangan nyalahin mas Gibran, Riani sendiri yang salah tidak hati-hati" akhirnya Riani buka suara setelah sekian lama berdian diri mendengar perdebatan calon mertua dan calon suaminya.
"Kamu jangan nyalahin diri kamu sayang " ucap Gibran lembut
"iya sayang, enggak ada yang salah di antara kalian, cuma karyawannya Gibran saja yang cari masalah, mulai sekarang mendingan kamu tidak usah kerja lagi" ujar nyonya Wijaya mutlak
"maaf ma Riani tidak bisa" ucap Riani sendu, dia berpikir bagaimana ia bisa mengirim uang untuk bibinya di kampung kalau dia berhenti kerja.
Nyonya Wijaya sepertinya mengerti apa yang dipikirkan Riani.
"Terserah kamu sayang, tetapi kamu harus jaga diri baik-baik, dan semoga saja kejadian ini jadi pelajaran buat kita semua agar-agar lebih hati-hati, terutama kamu anak nakal, kamu harus menjaga calon menantu mama baik-baik, paham kamu..?" perintah nyonya Wijaya
"Iya ma Gibran akan ngejaga Riani dengan segenap jiwa Gibran" balas Gibran agak lebay.
"Ya sudah mama dan papa tidur di sini malam ini, besok kami akan pulang sekalian Riani juga ikut pulang"
'"terserah mama saja" sebenarnya Gibran tidak rela kalau Riani harus pulang lagi ke rumah orang tuanya tapi apa boleh buat keputusan nyonya besar mutlak tidak dapat di ganggu gugat lagi.
Gibran kemudian menyuruh bik Surti untuk mempersiapkan kamar tamu lain untuk kedua orang tuanya, setelah selesai mereka semua pun istirahat karena hari sudah menjelang malam.
🌹🌹🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻
Hy readers aku kembali lagi..
bagaimana ceritanya suka gak..
kalau suka tinggal kan like dan komen nya ya..
jangan lupa vote nya juga..
terima kasih...
__ADS_1