Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Rencana pembatalan perjodohan 3


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Saat kamu patah hati, cobalah kamu menghayati segala peristiwa yang kamu alami dan renungkan lah bahwa itu semua rekayasa Allah untuk menguji hamba nya, yang sesungguh nya memiliki hikmah dibalik semua kejadian itu yang akan membuatmu menjadi lebih baik dari sebelum nya".


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Keesokan harinya seperti janjinya Nyonya Budianto,sudah menunggu Nyonya Wijaya di cafe xx jalan mawar dia datang bersama anaknya Reva. Sedangkan di massion keluarga Wijaya,Nyonya Wijaya selaku Nyonya rumah sedang bersiap-siap. Dia mengajak sang Suami untuk menemaninya, ke cafe xx di jalan mawar tempat janjian dengan Nyonya Budianto. Karena semalam dia juga sudah mengajak anak semata wayangnya, tetapi sang anak tidak mau menemaninya karena malas bertemu dengan Reva si Kucing garong menurut nya hehe( manusia dia kali Gibran bukan kucing garong babang Gibran ada-ada aja). Kebetulan sekali Suaminya tidak masuk kantor,jadi bisa ia minta untuk menemaninya.


Setelah bersiap-siap Nyonya Wijaya beserta Tuan Wijaya,segera menuju ke cafe xx di jalan mawar dengan di antar oleh sopir pribadi mereka. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di sana, apalagi jalan begitu lenggang tidak seperti biasanya padat dengan kendaraan.


Sesampainya di sana Nyonya Wijaya tidak perlu bersusah payah, untuk mencari di mana Nyonya Budianto duduk. Apalagi sudah ada seorang pelayan yang di tugaskan untuk menyambut,dan mempersilahkan ia dan Suaminya ke meja yang sudah di pesan oleh Nyonya Budianto, di situ juga sudah ada Nyonya Budianto serta Reva.


"Hai jeng, sudah pada datang ya..??" sapa Nyonya Budianto dengan sikap sok ramahnya.


Sambil cipika-cipiki dengan Nyonya Wijaya,dan juga di balas oleh Nyonya Wijaya walaupun dengan perasaan tidak suka.


Reva juga ikut-ikutan cipika-cipiki dengan Nyonya Wijaya,tapi dengan segera di hindari oleh Nyonya Wijaya karena ia sudah memang tidak suka.


Walaupun dengan sedikit kecewa atas sikap Nyonya Wijaya yang sudah terang-terangan di perlihatkan kepadanya, Reva tidak mau mundur untuk mendapatkan Gibran.Ia juga akan membuat agar Nyonya Wijaya ada di pihaknya kembali.


Nyonya Wijaya beserta Suaminya segera duduk di bangku yang sudah di sediakan.


"Ada apa ya jeng mengajak kami bertemu di sini?"anya Nyonya Wijaya tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Gimana kalau kita pesan makanan dulu..?" tanya Nyonya Budianto mencoba basa-basi.


"Tidak usah jeng kami sudah makan, langsung aja kita bahas apa yang ingin jeng sampaikan" ujar Nyonya Wijaya agak sedikit dingin. Sebetulnya ia ingin bersikap seperti biasanya, tetapi karena sifatnya Reva kemarin itu membuatnya kesal.


"Emmhh ini jeng. Bagaimana tentang perjodohan anak-anak kita tetap akan di lanjutkan kan?" tanya Nyonya Budianto tanpa malu-malu.


"Memangnya belum di beritahu oleh anak jeng?" tanya Nyonya Wijaya dengan tatapan sinis menarah ke arah Reva.


"Maksudnya jeng apa?" tanya Nyonya Budianto pura-pura seolah-olah dia tidak tahu menahu.


"Saya ingin membatalkan perjodohan anak-anak kita"ucap Nyonya Wijaya tanpa berbasa-basi.


"Ini tidak mungkin. Jeng cuma bercanda kan?" tanya Nyonya Budianto. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kenapa dengan tiba-tiba begini jeng? pasti ada salah paham kayaknya" ucap Nyonya Budianto.


"Tidak ada salah paham. Cuma saya merasa anak jeng tidak cocok dengan anak saya" ujar Nyonya Wijaya dengan nada cuek.


"Siapa bilang tidak cocok. Saya rasa mereka cocok kok, yang satu ganteng yang satu lagi cantik. Apalagi kita selevel ya kan jeng?" ujar Nyonya Budianto dengan kata membanding-bandingkan status sosial mereka.


"Itu menurut jeng. Tetapi menurut saya mereka tidak cocok, karena menurut saya kecocokan itu tidak bisa di ukur dengan hanya cantik serta ganteng. Bahkan tidak dengan tingkat kelevelnya, karena kebahagiaan seseorang tidak bisa di ukur dengan materi. Sebelum semuanya berantakan lebih baik kita akhiri, dengan secepatnya bukan begitu jeng?" Tanya Nyonya Wijaya dengan penuh penekanan.


"Jangan begitu dong jeng, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan, mungkin kita bisa mencobanya siapa tahu mereka bahagia" Nyonya Budianto merasa sangat kecewa dengan keputusan Nyonya Wijaya. Tetapi dengan susah payah dia mencoba menutupi,dan mencoba membujuk agar Nyonya Wijaya tidak jadi membatalkan perjodohan anak mereka. Apalagi ia tidak sabar lagi ingin menjadi besan orang terpandang di kota itu, dia juga sudah memamerkan kepada kawan-kawannya sesama sosialita. Bahwa sebentar lagi ia akan menjadi besan sang penguasa kota, yang membuat semua orang pada iri dengan keberuntungannya. Makanya dia harus berhasil membujuk Nyonya Wijaya agar tidak membatalkan perjodohan tersebut, mau di tarok dimana mukanya(buang ke laut aja mukanya nyonya, kalau tidak tahu mau di tarok dimana), kalau sampai tidak jadi. Pasti kawan-kawan sosialitanya akan menertawakannya, apalagi saat ia memamerkannya, dia begitu angkuh seakan-akan dunia punya dia.

__ADS_1


"Maaf keputusan kami sudah bulat kami tetap akan membatalkan perjodohan ini" ujar Nyonya Wijaya.


Jedarrrrt...


Seperti di sambar petir tatkala Nyonya Wijaya mengucapkan kata-kata tersebut.


"Ini tidak bisa di biarkan, kami tidak bisa menerima keputusan kalian dengan sebelah pihak begini"teriak Nyonya Budianto. Akhirnya Nyonya Budianto tidak bisa menyembunyikan sifat aslinya lagi.


"Ini pasti karena ****** yang ada di rumah tante itu kan?" tanya Reva. Dengan nada suara mengejek Riani,karena dia tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Oh berarti karena wanita lain, makanya perjodohan ini mau di batalkan, tidak bisa begitulah jeng, kami tidak akan menerimanya" tegas Nyonya Budianto dengan suara marah menahan emosi.


"Terserah kalian kalau tidak mau menerimanya, tapi keputusan kami sudah bulat dan perlu kalian tahu ini bukan salah siapa-siapa, ini salah anak jeng sendiri. Beruntung kami cepat menyadari sifatnya anak jeng, jadi kami tidak perlu pusing nanti setelah mereka menikah dia akan membuat ulah.Jadi saya tekankan kepada kamu, jangan pernah kamu menyebut calon menantu saya dengan sebutan ******, dia wanita baik-baik , dan sifatnya tidak pernah kurang ajar. Saya rasa tidak ada yang perlu saya bahas lagi, lebih baik kami permisi" jelas Nyonya Wijaya penuh penekanan. Kemudian dia dan Suaminya berlalu dari tempat tersebut, dia begitu marah karena Reva karena menyebut Riani dengan kata ******, sebetulnya Nyonya Wijaya tidak mau berkata kasar tapi karena melihat sikap ibu dan anak itu membuatnya jadi emosi apalagi dengan sikap Reva.


Setelah Nyonya Wijaya dan suaminya pergi, disitu tinggallah Nyonya Budianto dan Reva, mereka menatap marah dengan kepergian Nyonya Wijaya beserta suaminya, mereka tidak akan menerima begitu saja keputusan mereka.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hai reader ku tersayang aku kembali lagi ni..


mohon like serta komentar nya y..


jangan lupa juga vote nya..

__ADS_1


terimakasih..


__ADS_2