
π»π»π»π»π»π»πΉπΉπΉπΉπ»π»π»π»π»
Cinta susah ditebak...
padahal dia cintai tapi ngensi untuk mengungkapkan nya..
padahal dia sayang tapi malu untuk memperlihatkannya..
padahal dia rindu tapi malu untuk dia tunjukkan..
jangan biarkan rasa malu,dan ngensi mengalahkan rasa cinta..
π»π»π»π»π»π»π»πΉπΉπΉπΉπΉπ»π»π»π»
Setelah selesai menonton Ardi bermaksud untuk mengantarkan Riani pulang, tapi di tolak oleh Riani secara halus,walaupun akhirnya dia tidak bisa menolak lagi karena di paksa oleh Ardi.
"Biar mas antar kamu ya..?" tawar Ardi.
"Maaf Mas tidak usah. Biar saya naik taksi saja,lagian Mas kelihatannya sudah capek sekali"tolak Riani secara halus.
"Tidak baik gadis secantik kamu naik taksi malam-malam, biar Mas antar. Mas tidak merasa capek kok" ujar Ardi lagi.
"Tapi Mas. Pasti nanti ngerepotin Mas" balas Riani.
"Gimana ini? Tidak mungkinkan? Gue suruh antarin ke rumah Bos sinting? Pasti Mas Ardi akan salah paham nanti. Pasti nanti dipikir sama Mas Ardi, gue jadi simpanan Om-om lagi. Masak OB tinggal dikawasan elit, apa lagi kalau di lihat sama Bos sinting bisa berabe urusannya. Ketahuan dong kalau gue bohong, aduh bagaimana ini?Riani mikir-mikir dong, bagaimana caranya..?" gumam Riani dalam hati sambil berdebat dengan dirinya sendiri.
"Ri Ri" panggil Ardi karena dari tadi Riani melamun.
"Mmm. Ia Mas" gagap Riani.
"Mas antar ya?" tawarnya lagi.
"Ya sudah deh Mas. Tapi Mas antarnya ke rumah majikan saya ya" balas Riani.
Dia menyerah juga,dia akhirnya jujur, walaupun belum sepenuhnya ia jujur, iya pikir betul juga rumah majikannya, karena antara dia Gibran tidak ada hubungan apa-apa.
"Memang kamu ada kerja di tempat lain juga ya Ri?" tanya Ardi penasaran.
"Ia Mas, kerja sampingan hehe " balasnya.
"Padahal kerja dengan terpaksa karena di ancam" kekeh Riani dalam hati.
"Terus kerja apa Ri...?"tanya Ardi penasaran.
__ADS_1
"Jadi Pelayan Mas di kawasan elit" balas Riani polos.
Tanpa malu-malu dia mengungkapkan tentang pekerjaannya, bagi Riani apapun pekerjaannya yang penting halal.
"Wah hebat kamu ya" bangga Ardi.
"Ah Mas bisa saja"gumam Riani malu-malu.
"Widih cewek ini, selain cantik, mandiri, pekerjaan kerja keras lagi,makin kagum aku" batin Ardi.
Sementara di masionnya Gibran sudah mondar-mandir tidak jelas, seperti pesawat yang tidak tau di mana landasan dia harus turun. Begitulah keadaan Gibran sekarang, berputar-putar sambil menggerutu sendiri karena menunggu Riani yang belum juga kunjung pulang.
"Kemana sih dia? Sedang apa dia dengan cowok itu? Apakah mereka sudah jadian..?Awas saja kalau dia sampai sini, gue kasih pelajaran dia, biar tau dia berurusan dengan siapa" gerutu Gibran kesal dan berbagai macam pertanyaan terlintas di pikirannya.
Tak terasa Riani dan Ardi sudah tiba di masionnya Gibran.
"Mas sudah sampai kita" ujar Riani saat mobil yang di kendarai oleh Ardi memasuki kawasan elit tempat tinggal Gibran. Bagaimana Ardi bisa tau tentang tempat elit itu? Karena setelah perdebatannya dengan Riani,Ardi bertanya di mana Riani bekerja.
"Daerah sini rumahnya majikan kamu ya Ri..?" tanya Ardi sambil memarkirkan mobilnya.
"Ia Mas. Terma kasih ya sudah mau mengantarkan saya" balas Riani sopan.
"Ia sama-sama. Makasih juga sudah nemain Mas nonton, ya sudah kamu masuk gih" balas Ardi.
"Ia sampai jumpa besok ya" balas Ardi.
Dia segera menghidupkan mesin mobil untuk segera pulang ke rumahnya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata, memandang tajam ke arah mereka siapa lagi kalau bukan sang CEO.
"Kalau sama cowok lain manis sekali dia, hati-hati ya Mas" ejek Gibran.
Setelah Ardi berlalu Riani segera masuk ke dalam masion,karena jam sudah menujukan jam sembilan malam keadaan masion sudah sepi. Karena para penghuninya sudah terlelap, berada di alam mimpi mereka masing-masing.
"Kayaknya sudah pada tidur deh, syukur sekali untung tidak dilihat oleh Bos sinting gue di antar Mas Ardi" gumam Riani. Sambil mengendap-endap seperti maling, tanpa dia sadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya sambil memasang muka sanggar,seolah-olah seperti Singa kelaparan siap-siap untuk menerkam mangsanya.
"Dari mana kamu..?" tiba-tiba suara Gibran dengan penuh penekanan berbisik di telinga Riani.
"Mmm Bapak "Riani kaget.
"Habis nonton sama kawan Pak" balas Riani gugup.
"Mmm kawan?" balas Gibran sambil memojokkan Riani ke dinding.
__ADS_1
"I- iya Pak" gagap Riani.
"Yang tadi kamu bilang kawan? Mana ada laki-laki dan perempuan berkawan" bentak Gibran.
Riani cuma diam tak membantah sepatah katapun.
"Berani ya kamu bohongin saya? Berani juga kamu jalan sama cowok lain? Mulai saat ini kamu harus tanam dalam pikiran dan hati kamu, kamu itu milikku. Hanya milik GIBRAN PRASETYA WIJAYA, camkan itu. Jadi saya tidak mau membagi milik saya dengan orang lain paham kamu?" ujar Gibran penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Maksud Bapak..?" gagap Riani.
Cup
Tiba-tiba Gibran mencium bibir Riani singkat membuat Riani melongo tak percaya.
"Manis, ini hukuman buat kamu karena sudah bohongin saya" seringainya.
*C*up
"Mmmmmm" akhirnya Gibran ******* bibir Riani. Hampir membuat Riani kehabisan napas, lalu melepaskan pangutan bibir mereka.
"Ingat kamu milikku,hanya milikku" tegas Gibran di telinga Riani sambil berlalu ke kamarnya,dengan senyum-senyum sendiri. Sementara Riani, masih mematung belum mengerti dengan situasi yang terjadi.
Beberapa menit kemudian Riani baru tersadar dari situasi yang terjadi.
"Hah apa yang di bilang sama Bos sinting tadi? Apa aku mimpi ya? Tapi sepertinya sangat nyata," gumam Riani sambil mencubit pipinya sendiri.
"Ahhh sakit,rupanya aku tidak mimpi, apa benar yang Bos sinting bilang tadi,sejak kapan, kok bisa..?" ujar Riani sendiri masih asyik menebak-nebak apa yang terjadi.
"Ahh dia mencium aku tadi, ciuman pertamaku ,di ambil oleh Bos sinting, Riani kok elo bodoh sekali sih..? bukannya menghindari malah menikmati,ah malu sekali gue" lanjut Riani semburat merah muncul di pipinya yang mulus, karena mengingat kejadian tadi.
Dan dia segera berlari ke kamar untuk menetralkan jantungnya, yang sedang berpacu seperti orang yang habis lari maraton hehehe.
Sementara Gibran sedang senyum-senyum sendiri di kamarnya,memikirkan apa yang telah di lakukannya kepada Riani.
"Begini ya rasanya jatuh cinta? Terasa begitu indah, dan membuat hatiku berbunga-bunga, kenapa tidak dari dulu ya..? Aku ngerasa perasaan seperti ini"ujarnya sendiri agak lebay sih,sambil membayangkan wajah Riani.
"Dan apa tadi yang kulakukan,mencium nya.? Tapi bibirnya manis juga" ujarnya lagi sambil memegang bibirnya sendiri, karena Gibran memang baru pertama merasakan yang namanya cinta, dan baru pertama pula dia mencium anak gadis orang.
Akhirnya ia tertidur dengan senyum bahagia tersungging di bibir manisnya.
π»π»π»π»π»π»πΉπΉπΉπΉπΉπΉπ»π»π»π»
Terima kasih atas dukungan nya
__ADS_1
love you readersππππ ku