
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹
Cinta datang dan pergi tiada yang tahu...
cinta tak harus memiliki itu salah.. karena semua orang pengen memiliki bahkan merasa harus memiliki orang yang di cintainya..
🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹
Pagi-pagi Gibran sudah berangkat ke perusahaannya,karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu Riani sang pujaan hati, sedangkan orang yang di rindui olehnya masih berkutat dengan dapur menyiapkan sarapan pagi untuk sang calon mertua, walaupun banyak pelayan di situ, tak membuat Riani bermalas-malasan karena sudah kebiasaannya bangun pagi-pagi dan menyiapkan sarapan, apalagi semenjak ia tinggal di massionnya Gibran,hampir tiap pagi dia harus menyiapkan sarapan pagi untuk bosnya yang sudah naik pangkat jadi kekasihnya.
Setelah memasak sarapan pagi Riani di bantu oleh beberapa pelayan menyiapkan semuanya di meja makan, setelah ia menata dengan sangat rapi, ia bermaksud untuk mandi dulu, baru kemudian ia ikut sarapan dengan kedua calon mertuanya.
Setelah Riani masuk kamar baru kedua orang tuanya Gibran keluar menuju ke meja makan, mereka sangat takjub dengan beberapa makanan yang sudah tertata rapi di atas meja, dan semua makanan sangat mengunggah selera siapa saja yang melihatnya, sang nyonya rumahpun sangat penasaran dengan siapa gerangan yang memasak, karena biasanya pelayan di massion itu tidak pernah memasak makanan yang sedang tertata di meja makan.
"Bik siapa yang memasak ini semua..?" tanya nyonya Angelina kepada salah satu pelayan karena ia sangat penasaran,dan yang ingin segera menyantap makanan yang tersedia di meja makan,
"nona Riani nyonya yang memasak ini semua" jawab pelayan
"oh calon menantuku yang memasak ini semua, sekarang dia kemana bik..?"
"nona katanya ingin membersihkan badannya dulu terlebih dahulu nyonya" jawab pelayan tersebut.
Karena memang sebelum Riani masuk ke kamar untuk mandi,dia sempat berpesan kepada salah satu pelayan, kalau sang mertua menanyainya, dia lagi membersihkan dirinya sebentar.
"Oh, ya sudah kalian boleh kembali ke dapur"
" baik nyonya"
" pa kita tunggu Riani keluar dulu ya baru kita makan bersama-sama" ujar nyonya Wijaya kepada sang suami
"ya ma" jawab sang suami sambil duduk di bangku yang ada di meja makan.
Beberapa menit kemudian Riani keluar sudah lengkap dengan baju kerja serta tas kecil di tangannya.
"Pagi pa, ma" sapa Riani kepada kedua calon mertuanya sambil mencium pipi kedua orang itu
"pagi juga sayang" jawab mereka serempak
"mau berangkat kerja sayang" tanya nyonya Wijaya
"iya ma" jawab Riani
__ADS_1
"kita sarapan dulu ada yang pengen mama kasih ke kamu setelah sarapan" ujar nyonya Wijaya
"baik ma" jawab Riani.
Kemudian mereka menyantap sarapan yang sudah ada di meja makan tanpa ada yang bersuara sedikit pun, kecuali garpu dan sendok yang saling bersahutan.
Setelah mereka sarapan seperti janjinya nyonya Wijaya akan memberi sesuatu untuk Riani, Nyonya Wijaya masuk ke dalam kamarnya sedangkan Riani,sibuk membereskan meja makan yang di bantu oleh pelayan, Riani tidak membantu para pelayan untuk mencuci semua piring kotor, karena hari sudah menunjukkan jam setengah tujuh, waktunya dia berangkat untuk bekerja,tetapi karena permintaan sang calon mertua untuk menunggu sebentar makanya Riani tidak langsung berangkat.
Selang beberapa menit nyonya Wijaya keluar dengan membawa sebuah kotak bentuk persegi di tangannya,kemudian ia menyerahkan kepada Riani
"apa ini ma..?" tanya Riani karena penasaran dengan isi kotak tersebut
"buka saja sayang"
Riani pun membukanya dia sangat kaget dengan isi dari kotak tersebut,
disitu sudah tertata rapi sebuah cincin berlian yang sangat megah dengan permata merah delima sebagai mahkotanya, sungguh cantik dan elegan.
"Ini apa ma..?" tanya Riani merasa terharu
"ini cincin turun temurun dari keluarga ayahnya Gibran, dulu almarhumah neneknya Gibran menyerahkan cincin ini kepada mama, waktu neneknya Gibran melamar mama, sekarang mama serahkan cincin ini kepada kamu" jelas nyonya Wijaya dengan mata berkaca-kaca mengenang tentang masa mudanya dulu.
"pantas tidak pantasnya hanya kami yang tahu, mama rasa kamu sangat pantas mamakainya, apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi istrinya Gibran" ujar nyonya Wijaya menyakinkan Riani karena ia sempat melihat keraguan di mata Riani
"tapi ma..." ucap Riani masih sedikit ragu
" mama tidak suka di bantah" ucap nyonya Wijay dengan sangat tegas
"baik ma" akhirnya Riani mengalah Karena dia tahu bahwa keputusan sang calon mertua tidak dapat di ganggu gugat lagi.
"Sini biar mama pakaikan, mama rasa sangat cocok bila cincin ini di pakai di jari manismu" ujar sang calon mertua sambil mengambil cincin lalu memakai di jari manis Riani,
"tuh kan sangat bagus" ujarnya lagi
sedangkan Riani sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saking terharunya ia sempat meneteskan air mata dan langsung memeluk sang calon mertua.
"Terima kasih ma, mama sangat baik kepada Riani, Riani sangat bahagia, mempunyai mama di sisi Riani" ucapnya setelah melepaskan pelukannya dari sang calon mertua sambil menghapus air matanya
"mama kan sudah bilang kamu anak mama, apapun akan mama lakukan demi kebahagiaan kamu dan Gibran," balasnya dengan tulus
"iya kan papa??" tanyanya kepada sang suami
__ADS_1
" iya betul kata mamamu sayang apapun akan kami lakukan demi kebahagiaan kalian" ujar sang papa membetulkan perkataan sang istri
"ya sudah jangan nangis lagi dong sayang, kan tidak lucu loh nanti kalau Gibran lihat kamu dengan mata bengkak, di sangkanya kami jahatin kamu lagi" ujar nyonya Wijaya di sertai kekehan dari mulutnya.
"Apaan sih ma" ujar Riani sambil tertawa
kemudian mereka tertawa bahagia, tanpa terasa Riani hampir telat pergi bekerja,
"ma pa Riani pamit dulu ya mau bekerja , sudah mau telat nih, nanti kena hukum sama bos lagi" ujar Riani tersenyum dan berencana pamit sambil mencium kedua tangan orang tua tersebut,
"gimana kalau kamu enggak usah masuk saja sayang..?" ujar nyonya Wijaya
"tapi ma, Riani takut di marahin sama bos Riani" ujar Riani merasa enggak enak bukan takut sih sebenarnya
"memang bos kamu siapa sih sayang..?" ledek nyonya Wijaya
"mas Gibran ma" ujar Riani polos, tanpa dia sadari sudah di kerjai sama calon mertuanya
"kalau anak nakal itu bos kamu, mendingan kamu enggak usah masuk deh sayang"
"tapi ma nanti mas Gibran marah"
"jangan takut kalau dia marahin kamu biar mama marahin balik nanti"
"tapi tetap enggak enak ma sama karyawan lain"
"nanti biar mama nelpon, mending kamu ganti baju, temani mama ke mall, mama mau belanja" ujar nyonya Wijaya dengan tegas tidak dapat dibantah lagi
"baik ma" akhirnya Riani mengalah.
kira-kira seperti ini lah cincin nya...
maaf kalau ada typo
mohon like and koment
terima kasih atas dukungan nya...
love you para readersku...
__ADS_1