Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Kedatangan Keluarga Astrid.


__ADS_3

🌹🌻🌹🌻🌹💖🌹💖🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻💖


Jangan percaya pada sesuatu hal sebelum kamu tahu sendiri kebenarannya, karena belum tentu apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar adalah kenyataan yang sebenarnya. Karena sesungguhnya kecerdasan yang di miliki sebetulnya digunakan untuk hal-hal baik, bisa berguna untuk orang lain. Bukan untuk keuntungan diri sendiri.


💖🌹 🌹🌻💖🌹🌻💖🌹🌹🌹🌹🌻💖🌹🌻


Belum sempat Paman menjawab pertanyaan nya Gibran, tiba-tiba ada tamu di depan.


Dan Riani segera membuka kan pintu.


"Eh Pak Sabri, buk Latifah, dan Astrid silahkan masuk"


"Terima kasih Ndok" ucap Buk Latifah.


Sedangkan Pak Sabri dan Astrid tanpa mempedulikan Riani, segera masuk.


"Eh ada Pak Sabri, dan keluarga. Silahkan duduk semuanya"ucap Pak Fadli selaku Tuan rumah.


"Baik Pak. Terima kasih Pak"


Akhirnya mereka segera duduk, setelah dipersilahkan oleh Tuan rumah.


"Ndok tolong buatkan minum untuk para tamu" ujar Bibi menyuruh Riani untuk membuatkan minum.


"Baik Bik"


Riani berlalu ke dapur untuk membuat kan minum, sementara Gibran juga ikut dibelakang Riani tanpa Riani sadari.


Lagipula Gibran malas berada di antara tamu-tamu tersebut karena perasaannya terasa tidak enak,apalagi salah satu dari tamu tersebut memandangnya dengan tatapan memuja.


Dan dia sangat yakin bahwa itu Astrid wanita yang di bicarakan oleh pemuda yang bernama Arman tempo hari, dan barusan juga mereka membahas nya.


Apalagi Astrid datang dengan keluarga nya Gibran, merasa ada niat terselubung yang dimainkan oleh keluarga itu dan dia yang akan jadi sasarannya.


Lagipula tadi Gibran juga melihat Pak Sabri tersenyum-senyum melihat dirinya, dan itu pula yang membuat Gibran ingin segera kabur.


Setelah sampai di dapur.


"Ngapain Mas kesini"ujar Riani terkejut, tiba-tiba Gibran sudah ada di belakangnya.


"ke sana gih temanin tamu dulu" Riani sambil mendorong tubuh Gibran pelan.


"Gak ah sayang. Mas males, mendingan Mas nemanin kamu di sini" ujar Gibran masih tetap kekueh.


"Riani gak perlu ditemani Mas, mending Mas ke dalam aja deh" usir Riani.


"Udah Mas bilang, Mas males sayang. Lagian itu siapa sih?" tanya Gibran pura-pura tidak tahu.


"Itu Astrid Mas. Cewek yang barusan kita bahas"


"Oh"

__ADS_1


"Cantik kan?"tanya Riani menggoda Gibran.


"Cantikkan kamu lagi sayang"


"Ah gombal banget sih sayang"


"Enggak gombal kok sayang, Mas serius sayang"


"Tetap aja gombal. Kalau dia godain Mas, Mas tergoda gak?"


"Gak bakalan sayang"


"Yang betul?"


"Betul dong sayang"


"Awas saja kalau sampai Mas tergoda,aku sunat sekali lagi" Ancam Riani, sambil mengambil pisau dapur, hihi kejam banget sih dedek.


"Habis dong sayang, jangan begitu lah sayang ini masa depan kamu juga sayang"


"Tergantung, kalau Mas keganjenan dengan cewek lain, gak janji gak bakalan aku sunat" ancam Riani sekali lagi, dengan mimik wajah yang lebih serius.


"Ia sayang. Gak bakalan Mas tergoda apalagi kayak dedemit begitu cewek nya. Lagian kamu jangan serem gitu dong, main sunat-sunat aja. Nanti kalau Mas gak kuat lagi bagaimana?" ucap Gibran dengan mengerling nakal, mulai deh kumat mesumnya.


"Apaan sih Mas. Aku bercanda pun, Mas ambil gelas bentar" Riani sengaja mengalihkan pembicaraan daripada omongan Gibran makin ngelantur kan berabe.


"Dimana gelas nya sayang?"


Sementara di ruang tamu, Astrid merasa gelisah karena orang yang ingin dia lihat sejak tadi sudah kabur entah kemana.


Yah Astrid lagi bingung sendiri, karena semenjak dia datang Gibran langsung kabur kebelakang mengikuti Riani yang membuat minum. Prasangka buruknya terhadap Riani kian bertambah.


"Dasar Riani sialan pasti dia sudah menjelek-jelekkan aku di depan sepupunya itu, kalau tidak mana mungkin dia kabur. Apalagi aku udah dandan cantik begini, tapi sama sekali tidak di lirik oleh Mas Gibran, ah sebel aku" umpat Astrid dalam hati dia merasa kesal terhadap Riani.


Sedangkan Pak Fadli selaku tuan rumah segera membuka suara, menanyakan ada perlu apa sampai-sampai Pak Sabri yang belum pernah menginjakkan kakinya di rumah gubuk milik Pak Fadli. Kini dengan susah payah datang ke rumah mereka.


"Ada apa gerangan ini Pak? Sampai Bapak repot-repot datang kesini" ujar Pak Fadli membuka suara.


"Kami hanya sekedar bertamu Pak, sekalian bersilaturahim" ujar Pak Sabri beralasan sengaja menutupi maksud kedatangan ia yang sebenarnya.


"Oh begitu toh. Tumben sekali Bapak mau mampir ke gubuk reyot kami, apalagi Nak Astrid, nanti kulit nya alergi toh Nak" ujar Bibi sengaja menyindir.


"Enggak bik mana mungkin saya alergi"jawab Astrid bermanis-manis.


"Dasar nenek tua reyot, memang betul aku alergi dengan gubuk tuamu ini. Kalau bukan demi Mas Gibran mana mau susah-susah aku harus kesini, buang-buang waktu saja" batin Astrid mengumpat sendiri.


"Ia buk mana mungkin Astrid alergi. Lagian sebentar lagi kita akan jadi keluarga" ujar Pak Fadli dengan sengaja memberi sinyal.


"Maksudnya Pak Sabri apa ya Pak?" tanya Pak Fadli pura-pura tidak mengerti.


"Gini Pak. Saya berencana menjodohkan Astrid anak saya dengan Nak Gibran. Bagaimana mana pendapat Bapak?" Akhirnya Pak Sabri memberi tahu keinginannya, yang sebetulnya sudah dapat dibaca oleh Pak Fadli dan keluarga semenjak mereka masuk kerumahnya. Apalagi dengan gaya Astrid yang terus senyam-senyum ke arah Gibran di tambah lagi dengan Pak Sabri yang dari tadi juga memandang Gibran, sampai Gibran menghilang ke dapur.

__ADS_1


"Oh begitu? Kalau saya sih boleh-boleh saja, tapi tergantung Nak Gibran nya" ujar Pak Fadli sengaja memancing di air keruh, apalagi dia tidak enak juga menolaknya. Biar Gibran sendiri yang memutuskan.


"Jadi Nak Gibran nya mana?" tanya Pak Sabri karena Gibran belum keluar-keluar juga dari dapur.


"Buk coba panggilkan Gibran dan Riani.


Dan kenapa lama sekali mereka membuat minumnya"


"Baik Pak. Sebentar ya" ujar sang istri segera ke dapur untuk memanggilkan Gibran dan Riani.


Sedangkan di dapur.


"Mas sudah dong jangan peluk terus" ujar Riani.


"Bentar lagi sayang" manja Gibran.


Flashback.


Setelah Gibran mengambil gelas di lemari, Gibran segera meminta imbalan atas apa yang dilakukan nya.


"Sayang imbalannya mana?"


"Imbalan apa sih Mas?" tanya Riani heran dan dia tidak mengerti dengan maksud Gibran.


"Imbalan tadi Mas ambil gelas" jawab Gibran enteng.


"Hah? Itu aja harus pakai imbalan Mas? Enak banget sih jadi Mas"


"Kan Mas enggak mau rugi"


"Rugi apa emang Mas?"


"Rugi karena capek."


"Capek kenapa sih Mas?"


"Capek memperjuangkan cinta kamu sayang" ujar Gibran sambil memeluk Riani dari belakang.


Flash on.


"Lepaskan dong Mas"


"Bentar lagi ya sayang plis" manja Gibran memohon.


"Malu Mas hai di lihat orang, apalagi kita lagi buat minum"


"Gak ada orang kok. Lagian mereka juga akan mengerti, mereka kan pernah muda juga.


"Ehm bibi mengerti kok, tapi kalian tidak boleh begitu. Belum muhrim, dosa Ndok."


Tanpa mereka sadari bibi sudah ada di belakang mereka, sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


__ADS_2