
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Bagi ku move on itu tidak harus melupakan tetapi lebih ke mengiklaskan...
termasuk mengiklaskan dia dengan yang lain..
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Bahagia itu sederhana....
bahagia itu saat kamu memiliki orang yang peduli padamu, mencintaimu lebih dari kamu mempedulikan diri kamu sendiri...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hari menjelang Sore matahari sudah siap menuju ke ufuk barat untuk beristirahat menyinari bumi, dan memulihkan tenaganya untuk menyinari bumi keesokan harinya, kini giliran tugas bulan untuk menyinari malam yang suram.
Sementara di perusahaan GIBRAN GROUP, Gibran sedang berkutat dengan perkejaannya yang sudah menumpuk. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya, agar segera pulang. Gibran sangat mengkhawatirkan sang pujaan hati, apalagi sang pujaan lagi sakit.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia buru-buru keluar dari ruangannya. Menuju ke parkiran mobil, di situ sudah ada Pak Sopir, yang sudah siap siaga mengantar dan menjemput kemanapun iya pergi.
"Ke massion besar Pak" ucap Gibran. Setelah ia duduk dengan manis, di jok belakang Sopir dengan laptop di pangkuannya. Sang sopir mengangguk dengan artinya dia tahu maksud dari majikannya, sang sopir segera menuju ke massion besar keluarga Wijaya.
Sesampai di massion keluarganya Gibran langsung masuk mencari Mamanya,dan sang pujaan hati yang dari pagi ia rindukan. Kebetulan mereka lagi ada di ruang makan siap-siap untuk makan malam.
"Malam Ma, malam Pa, malam sayang" sapanya kepada mereka semua yang ada di meja makan.
"Malam juga sayang" ujar mereka serempak.
"Sudah makan sayang? Mari kita makan dulu" tawar sang Mama.
"Kebetulan sekali Gibran belum makan Ma, apalagi Gibran sangat kangen dengan masakan Mama," ujar Gibran sambil menarik bangku yang ada di dekat Riani, terus dia duduk di sana.
"Ia sayang. Mama juga sudah masak makanan kesukaan kamu, karena Mama tahu kamu pasti pulang kesini, karena Riani ada di sini" ujar sang Mama sambil melirik sedikit ke arah Riani.
"Oh makasih ya Ma, ya tentu dong Gibran pulang kesini apalagi Riani lagi kurang sehat" ujar Gibran juga melirik ke arah Riani,
sedangkan yang di lirik sudah malu-malu kucing.
__ADS_1
"Nanti di lanjutkan ngobrolnya, Papa sudah lapar sekali ini" ujar sang Papa. Menghentikan omongan ibu dan anak,yang tidak akan ada ujungnya bila tidak di hentikan.
"Ayo makan. Mama juga sudah lapar" kekeh Nyonya Wijaya.
Akhirnya mereka makan seperti biasa, tanpa ada yang bicara di meja makan, kecuali garpu dan sendok yang saling berperang hehe.
Setelah mereka siap makan malam mereka menuju ke ruang tamu, karena ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan tentang pembatalan perjodohan antara Gibran dan Reva.
"Oh ya sayang. Bagaimana kalau besok malam kita rumah Om Budianto? Untuk membicarakan rencana pembatalan perjodohan kamu dengan Reva..?" tanya sang Mama kepada sang anak.
"Gibran malas Ma, apalagi harus bertemu dengan cewek Kucing garong itu, Mama pergi sama Papa saja" tolak Gibran karena dia malas sekali bila bertemu dengan Reva.
"Ya sudah kalau begitu, Mama pergi dengan Papa saja. Rasanya Mama cepat-cepat ingin membatalkan perjodohan kalian, Mama sudah kesal dengan sifat Reva. Apalagi Mama sudah tidak sabar menimang cucu dari kamu dan Riani" ujar nyonya Wijaya.
"Memang Mama tahu dari mana sifat Reva, padahal dia baru dua kali ke rumah" ujar sang suami.
"Begini Pa ceritanya. Tadi Reva kesini, dia bikin onar, dia juga menghina Riani" jelas nyonya Wijaya.
"Betul itu sayang? Kamu tidak di apa-apain kan..?"tanya Gibran kepada Riani. Dia merasa sangat khawatir setelah mendengar cerita Mamanya.
"Tidak kenapa-kenapa kok Mas, Mama selalu ngelindungi aku" ujar Riani,dia tau Gibran merasa sangat khawatir.
"Betul kok Mas. Aku tidak di apa-apain"
"Bukan alasan kamu kan?"
"Untuk apa aku buat alasan segala Mas?" tanya Riani heran dengan sikap Gibran.
"Karena kamu tidak ingin membuat Mas cemas" ujar Gibran lirih.
"Betul kok sayang. Riani tidak di apa-apain tepatnya belum sempat" ujar nyonya Wijaya yang hampir membuat Gibran naik darah.
"Maksudnya Mama? Dia mau apa-apain Riani?"
"Ia Mas. Dia mau nampar Riani, Untung ada Mama menahan tangannya"akhirnya Riani berkata jujur, karena Gibran sudah mulai curiga dengan perkataan Mamanya tadi.
"Kurang ajar sekali dia, berani-beraninya dia macam-macam dengan calon istri aku, aku harus kasih pelajaran ke cewek Kucing garong itu" ujar Gibran penuh emosi.
__ADS_1
Dia bermaksud untuk bangun dari duduknya ingin mencari Reva,ia ingin segera memberi pelajaran kepada Reva. Tapi buru-buru di tahan oleh Riani, karena menurut Riani ini hanyalah masalah kecil, jadi tidak usah di perpanjangkan lagi.
"Betul sayang seperti perkataannya Riani, ngapain masalah kecil di perpanjang? Apalagi sebentar lagi kita akan segera membatalkan perjodohan kamu dengan Reva" ujar Papanya Gibran.
"Ia sayang. Mama juga sangat menyesal, karena pernah ingin menjodohkan kamu dengan Reva. Salah kamu sendiri sih, dari dulu kenapa tidak pernah bawa cewek satu pun ke rumah Mama" ucap Nyonya Wijaya dengan suara lesu.
Dia sangat menyesal karena pernah bermaksud, ingin menjodohkan anaknya dengan Reva tanpa mencari tahu dulu bagaimana sifatnya Reva. Ternyata penyesalannya belum terlambat, karena mereka belum terlanjur jauh, jadi masih bisa di perbaiki lagi,untung Riani cepat hadir di antara mereka.
Jadi dengan kehadirannya Riani,Gibran tidak jadi nikah dengan Reva.
"Mama tidak perlu menyesal, kan
Gibran tidak jadi nikah sama Reva" ujar Gibran menenangkan hati Mamanya.
"Ia Mama. Betul kata Gibran, yang penting Gibran tidak jadi menikahi Reva" ujar Papanya Gibran.
Sedang asyik-asyiknya mereka ngobrol, tiba-tiba Nyonya Budianto menelpon Nyonya Wijaya.
Kring... kring..kring..
Bunyi handphone Nyonya Wijaya, pertanda ada panggilan masuk. Setelah Nyonya Wijaya melihat siapa pemanggilnya, dia langsung menekan tombol hijau untuk menjawabnya. Sebenarnya ia merasa malas untuk mengangkat, dia juga memiliki dugaan bahwa Nyonya Budianto,menelponnya untuk membahas rencana pembatalan perjodohan anak mereka. Karena dia yakin bahwa Reva, pasti sudah mengadu ke orang tuanya tentang kejadian di rumah nya tadi siang.
"Hallo jeng" ujar Nyonya Wijaya dengan agak malas.
"Halo juga jeng, bisa kita bertemu sebentar besok? Ada hal yang ingin saya katakan" ujar Nyonya Budianto tanpa basa basi.
"Boleh jeng, kita bertemu di mana?" tanya Nyonya Wijaya.
"Kalau bisa di cafe xx, jalan Mawar ya, jam dua siang" ujar Nyonya Budianto lagi.
"Ia jeng, sudah dulu ya saya ada kerjaan" ujar Nyonya Wijaya sengaja mencari alasan, karena dia sudah malas berbicara banyak dengan Nyonya Budianto.
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹
Hy reader ku sayang..
aku kembali..
__ADS_1
terima kasih atas dukungan nya..