
🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌻🌹🌻🌹
Lebih mudah memaafkan sakit yang diberikan oleh orang yang tidak menyukai mu, daripada memaafkan luka orang yang diberikan oleh orang yang mencintaimu..
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌹🌻🌹
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore,dan kini sudah memasuki waktunya shalat magrib. Seperti biasa di kediaman Paman dan Bibi, mereka melaksanakan shalat magrib berjamaah. Kali ini Paman meminta Gibran untuk menjadi imam,tanpa ada bantahan Gibran segera menurutinya walau ada sedikit rasa canggung, apalagi Gibran belum pernah menjadi imam saat Shalat.
Setelah mereka shalat berjamaah,tibanya saatnya makan malam, dengan lauk ikan yang diambil tadi sore dan sayur asam manis,khas Jawa membuat makan malam terasa lebih nikmat. Mereka menyantap makan malam tanpa bersuara, setelah paman menyuruh anaknya yang paling besar membaca doa. Untuk mengucapkan terima kasih mereka, kepada sang Khaliq karena sudah memberikan mereka kemudahan rezeki,walau hanya makanan sederhana tetap merasa harus mensyukurinya.
Setelah makan malam selesai, Gibran segera menghubungi kedua orang tuanya. Gibran menceritakan apa yang menjadi keinginan Paman dan kedua almarhum Orang tuanya Riani. Termasuk tentang syarat yang diberikan oleh Pamannya Riani, Gibran menceritakan semua, tanpa ada ia tutupi sedikit pun. Setelah mendengar cerita Gibran,kedua orang tua Gibran merasa sedikit ragu,akan syarat yang diajukan oleh Pamannya Riani. Apakah anak mereka mampu menyelesaikannya..? bagaimana kalau Gibran gagal..? tidak jadi dong mereka punya menantu. Pasalnya mereka sangat mengenal Gibran, apalagi membajak sawah,sawah pun belum pernah dia lihat. Mereka memberi semangat kepada Gibran, mereka juga berdoa semoga Gibran mampu menjalaninya,mungkin cinta bisa mengubah segalanya.
Kedua orang tuanya Gibran juga tidak marah dengan syarat yang diajukan oleh Paman Riani, karena mereka paham dengan keinginannya Paman Riani. Beliau pasti menginginkan yang terbaik untuk keponakan kesayangannya, begitu pula dengan kedua orang tuanya Gibran. Mereka juga menginginkan hal yang terbaik untuk anak semata wayang mereka, orang tua mana yang tidak menginginkan anak-anaknya bahagia, semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak mereka.
Setelah Gibran mematikan telepon untuk orang tuanya, Gibran lalu menelpon Aldo,menyuruh Aldo untuk menghandle semua pekerjaannya untuk seminggu ke depan. Karena dia ada keperluan keluarga di luar kota,dia juga menyuruh Aldo untuk memberitahu kepada kepala bagian OB, bahwa Riani juga cuti selama seminggu. Karena Riani ikut menemaninya diluar kota, walaupun Gibran CEO di perusahaan tempat Riani berkerja,tetap saja Riani harus melaporkan dulu kebagian OB kalau dia cuti. Karena mereka harus bersikap profesional, tidak mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadi, apalagi hubungan antara Gibran dan Riani belum di ketahui publik.
Malam semakin larut, waktunya seisi rumah untuk mengistirahatkan tubuh mereka, begitu juga dengan Gibran dan Riani. Mereka kini telah tidur dikamar masing-masing,Gibran tidur dikamar anak Paman dan Bibi,maklum karena rumah Bibi cuma mempunyai tiga kamar. Jadi Gibran harus rela berbagi kamar dengan orang lain, sedangkan Riani tidur di kamarnya,kamar yang ia tepati sebelum ia pergi ke kota A.
Walaupun sebenarnya Gibran susah untuk memejamkan matanya, karena cuacanya juga sangat panas, maklum karena rumah Paman tidak memiliki AC seperti di masion miliknya. Apalagi Gibran harus berbagi kamar dengan orang lain, tetapi walau bagaimanapun terpaksa dia harus berusaha untuk memenjamkan matanya,karena dia harus mengumpulkan tenaga untuk membajak tanah persawahan esok hari,dan tanpa ia sadari kini ia sudah memasuki alam mimpi.
Tampa terasa malam menjelang pagi,para ayam-ayam sudah sibuk mengais rezeki, sedangkan ayam jantan sudah sibuk berkokok sejak subuh,sambil memamerkan suara merdunya. Begitupun dengan ayam-ayam milik tetangga, mereka juga sibuk mengadukan suara merdu mereka. Dan juga sudah waktunya seisi rumah Paman untuk bangun,dan menjalankan shalat subuh seperti biasa. Walaupun ada juga yang masih linglung dengan keadaan sekitar,ya bisa di tebak kan..? siapa orangnya..?.
__ADS_1
Setelah mereka melakukan shalat subuh berjamaah, mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing. Para ibu-ibu bertugas di dapur untuk membuat sarapan, sedangkan para Bapak-Bapak sedang merenggangkan ototnya. Yaitu denga lari pagi mengelilingi kampung, Gibran beserta anak Pamannya Riani sedang mengelilingi desa. Membuat para gadis yang melihat mereka lewat, histeris karena mendapat tontonan gratis opa-opa Korea secara live, apalagi pagi-pagi lumayankan ..?buat cuci mata.
Sedang asyik-asyiknya Gibran berlari,tanpa ia sadari ia melewati sekelompok gadis desa seumuran dengan Riani. Para gadis-gadis tersebut memandang dengan mata kelaparan ke atas dirinya,dan mereka juga sangat kagum dengan ketampanannya Gibran. Di antara mereka juga ada seorang gadis, sangat ingin memiliki Gibran.Gadis itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama,dan bertekad ingin memiliki Gibran sepenuhnya, walaupun dia tidak mengetahui asal usulnya Gibran.
Di kumpulan para gadis desa tersebut,di situ ada Marni, Devi, Intan,serta Astrid, Astrid merupakan anak orang terkaya di desa tersebut. Dia pula yang sangat tertarik dengan Gibran,dia juga merupakan saingan Riani sejak dulu,dari berbagai macam bidang. Dari segi ilmu pengetahuan,dari segi percintaan,dia merasa Riani selalu menjadi saingannya, apalagi Riani memiliki wajah lebih cantik dari dirinya.
"Eh kalian lihat cowok tampan yang ada di sana?" tunjuk Astrid ke arah Gibran.
"Iya kami melihatnya,memang kenapa dengan dia?"tanya kawannya.
"Dia itu katanya saudaranya pak Fadli dari kota, ganteng pisan kan?"ujar Astrid.
"Iyo. Memangnya ada Pak Fadli lain di desa sini?" ujar Astrid lagi.
"Oh kok aku baru tahu yo?, kalau Pak Fadli punya saudara seganteng itu?"tanya Devi lebay.
"Ya elah kita juga baru tau keles"jawab Intan.
"Terus hubungannya dengan kita apo toh?" tanya Marni dia merasa agak sedikit aneh.
"Yo tidak ada hubungan apo-apo,loh Marni"jawab Devi tidak habis pikir dengan sifat lugunya Marni.
__ADS_1
"Terus kenapa kita bahas dia?" tanya Marni lagi.
"Ia. Karena aku suka sama dia Marni"teriak Astrid.
"Jadi kamu suka sama pria itu Astrid..?" tanya Intan.
"Ia. Aku harus dapatkan dia,kayaknya dia juga tertarik dengan aku"ujar Astrid dengan percaya diri.
Karena kebetulan waktu Gibran lewat didepan mereka tadi Gibran sempat ada sedikit tersenyum, karena dia sadar,dia lagi berada di desa orang jadi dia harus bersikap ramah dengan penduduknya.
"Kenapa kamu tahu kalau dia juga tertarik dengan kamu..?"tanya Marni dengan polosnya.
"Memang kamu tidak melihat waktu dia lewat tadi,dia terus menatap kearah aku..?" jawab Astrid terlalu percaya diri.
"Perasaan dia melihat ke arah kita semua deh"jawab Marni lagi dengan bodohnya.
"Eh kamu. Siapa juga yang menatap ke atas kalian semua,dia hanya menatap ke arah diriku"teriak Astrid. Astrid memang terkenal dengan sifat sombong, angkuh,serta memiliki kepercayaan diri berlebihan. Dia tidak pernah akur dengan para gadis desa lainnya, apalagi dia memiliki sifat suka memamerkan.
"Ya sudah kalau memang dia memandang ke arah kamu, jangan berantem begitu"ujar Intan sengaja berkata begitu untuk menengahi, sebenarnya dia juga tidak suka dengan sifatnya Astrid, tetapi dia juga tidak mau ada perkelahian.
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹
__ADS_1