
🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻
Jangan pernah berhenti memperjuangkan orang yang kamu cintai, kalau memang dia pantas untuk kamu perjuangkan.
Jangan takut gagal dalam cinta, karena kegagalan awal dari kesuksesan.
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌷🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹
Waktu menunjukkan jam 6:00 sudah waktunya Gibran dan Paman pulang dari sawah, setelah Riani sholat dia segera menyiapkan makan malam.
Paman dan Gibran sudah sampai di rumah, mereka segera membersihkan diri mereka masing-masing.
Setelah itu mereka beristirahat sambil menunggu azan Magrib berkumandang, tak perlu menunggu waktu lama suara azan sudah mengalun dengan merdu.
Dengan segera seluruh penghuni rumah tersebut mengambil wudhu, untuk melaksanakan shalat berjamaah, seperti yang sering mereka lakukan. Setelah shalat mereka segera makan malam bersama, kemudian duduk di ruang tamu guna sekedar bercengkrama dan bercanda tawa.
Apalagi saat ini Riani sangat ingin menggoda Gibran.
"Paman. Bagaimana Mas Gibran? Bisa tidak membajak sawahnya?"
"Bisa Ndok"
"Yang betul, tidak di rusak kan? Biasa nya dia cuma bisa marah-marah."Riani bermaksud menggoda Gibran.
"Sedikit Ndok. Memang siapa yang Nak Gibran marah Ndok?"tanya Paman.
"Riani Paman" ujar Riani dengan muka memelas.
"Rasain kamu Mas. Biasanya kamu selalu menindas aku, kini giliran kamu" batin Riani.
Sambil sesekali dia melirik ke atas Gibran, juga menjulurkan lidahnya.
"Apa yang kamu lakukan sayang? ****** deh. Pasti Mas kenak marah sama Pamanmu yang garang itu" batin Gibran geram dengan sikap Riani.
"Apa? Nak Gibran marahin kamu Ndok?" tanya Paman dengan suara terdengar seperti orang marah. Tetapi sebenarnya Paman tahu dari gerak-gerik Riani, dia ingin mengerjai Gibran.
"Ia Paman. Mas Gibran jahat sekali kalau di kantornya, selalu nyuruh ini, nyuruh itu ke pada Riani" ngadu Riani lagi.
"Tidak seperti itu kok Paman."bela Gibran.
"Kamu jangan begitu dong sayang. Nanti Paman pikir benaran lagi" sambung Gibran lagi dengan nada memelas ke arah Riani.
"Emang Riani pikirin gitu. Bleww" ujar Riani sambil menjulurkan lidahnya ke arah Gibran.
"Awas kamu ya" ujar Gibran sambil berdiri mau mengejar Riani.
"Siapa takut"Riani juga mau kabur dari Gibran.
Tapi aksi mereka tertahan setelah mendengar suara Bibi.
"Sudah dong Ndok. Jangan kamu jahilin Nak Gibran lagi, kasihan dia."
"Betul kata Bibimu. Kan Nak Gibran sudah dapat hukuman dari Paman."
"Gak cukup itu Paman. Dia kan belum bisa membajak sawah."
__ADS_1
"Kan pelan-pelan juga Ndok."
"Maklum lah Sayang, Mas kan lagi belajar, betulkan Paman?" Gibran ikut menimpali.
"Ia Nak."
"Oa Ndok. Sebelumnya Paman minta maaf ya?"
"Kenapa Paman harus minta maaf?"tanya Riani penasaran. Kenapa tiba-tiba Pamannya meminta maaf kepadanya.
"Gini loh Ndok. Paman bilang ke warga sekitar kalau Nak Gibran keponakan, Paman dari Kota. Karena Paman tidak mau menimbulkan gosip nantinya, apalagi kalian belum menikah"
"Tak apa-apa Paman. Riani mengerti kok"
"Ya sudah kita shalat isya dulu yuk, sudah azan."
"Ayo."
Mereka semua segera mengambil wudhu,lalu melaksanakan shalat isya berjamaah seperti biasa.
Setelah shalat isya usai, mereka segera ke kamar masing-masing, untuk mengistirahatkan tubuhnya, agar besok bisa beraktivitas kembali.
Di kamar Gibran merasa agak sulit untuk memejamkan matanya, apalagi sekujur tubuhnya merasa agak sakit.
Mungkin karena dia belum terbiasa bekerja terlalu keras, apalagi dia kan CEO dari perusahaan terkenal.
Setelah membolak-balikkan tubuhnya kesana dan kemari,Gibran akhirnya terlelap.
Jam menunjukkan pukul 4:00 pagi, Riani sudah membuka matanya. Dia segera bangun dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, di sana juga sudah ada Bibi.
"Sudah bangun kamu Ndok?"
"Iyo Bik. Kan Riani mau bantu Bibi."
"Oh ya Ndok. Kamu nanak nasi dulu Yo."
"Baik Bik"
Riani segera menanak nasi mengunakan tungku, karena Bibi masih mengunakan alat tradisional,beda dengan orang Kota.
Yang rata-rata sudah menggunakan kosmos.
Riani menanak nasi sedangkan Bibi membuat lauk, setelah mereka mempersiapkan semuanya.
Segera di susun di ruang makan dengan rapi, sekarang tinggal membangunkan penghuni rumah lainnya.
Apalagi azan sudah berkumandang,jadi sekalian mereka shalat subuh.
Setelah shalat subuh mereka segera sarapan bersama-sama seperti biasa, kemudian mereka melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Gibran seperti biasa lari pagi, mengelilingi kampung tersebut, hanya sekedar melihat-lihat pemandangan kampung.
Sedang asyik-asyiknya Gibran berlari-lari, tiba-tiba ia dihadang oleh beberapa anak muda di desa tersebut.
"Eh kau berhenti." Ucap Arman selaku ketua kelompok.
__ADS_1
Gibran terus berlari tanpa menghiraukan ucapan Arman, baginya orang seperti itu sudah sering ia temui.
"Eh orang Kota berhenti kamu." Teriak Arman dengan sangat keras.
Kemudian Gibran berhenti, segera kelompok Arman menghampiri Gibran.
"Eh kamu toh. cowok yang sudah merebut Astrid dari saya?" tanya Arman.
Sedangkan Gibran sudah bingung,dia tidak mengerti dengan perkataannya Arman.
"Hah. Maksudnya Apa?" tanya Gibran.
"Jangan pura-pura bodoh maneh." Ucap Faisal. Dia juga merupakan kawan Arman
"Kamu kan? Yang sudah merayu Astrid. Hingga dia berpaling dari saya"
"Maaf bung. Saya tidak mengenal Astrid"
"Jangan pura-pura tidak mengenalnya kamu"
"Buktinya dia memutuskan saya gara-gara kamu."
"Saya tidak mengerti maksud dari Anda-anda semua. Kalau tidak ada yang berkepentingan lagi saya permisi." ucap Gibran. Dia kemudian berlalu dari sana.
Tetapi langkah Gibran dihalangi oleh mereka.
"Dasar pria sombong sialan."
Arman ingin melayangkan tinjunya ke atas Gibran, tetapi dengan gesit Gibran menghalaunya.
"Jangan main hakim sendiri bung sebelum masalahnya jelas" nasihat Gibran.
"Jangan menasehati saya. Masalah ini sudah jelas. Kamu sudah menganggu hubungan saya dengan Astrid." Bentak Arman.
"Sudah saya bilang saya tidak kenal"
"Jangan pura-pura tidak kenal kamu brengsek" teriak Arman lagi semakin keras.
Sementara tidak jauh dari mereka,ada beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas mereka. Mereka mendengar teriakan seorang yang begitu keras, kemudian mereka melihat apa yang terjadi. Dan salah satu dari mereka segera pergi memberitahu kan hal itu ke Pak Kades.
Selang beberapa waktu Pak Kades, sudah sampai di sana beliau segera melerai pertengkaran tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bikin keributan di sini?"
"Ini Pak. Lelaki Kota ini sudah merebut cewek saya" Ngadu Arman ke Pak Kades.
"Eh Mas Gibran rupanya?" Ucap Pak Kades setelah melihat siapa orang yang di maksud oleh Arman, dia juga mengetahui siapa Gibran sebenarnya, jauh sebelum Gibran datang ke kampung mereka.
Karena berita tentang Gibran sering kali muncul di berbagai media,bahkan fotonya sering wira-wiri di majalah-majalah bisnis.
Apalagi Gibran merupakan pebisnis nomor satu dari kota A, dengan kesuksesan yang kian hari kian melambung banyak media yang selalu membicarakannya.
Bersambung...
🌹🌻🌹🌻🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌻🌹🌻🌹🌻
__ADS_1