
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻
Jika cinta datang hasrat ingin memiliki juga datang, jika cinta pergi hasrat membenci juga akan datang...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Akhirnya tampa pamit terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya,Gibran keluar masion utama untuk menuju kemasionnya tidak perlu membutuhkan waktu banyak Gibran sudah sampai di masionnya sendiri.
"Bibi, Bibi" panggil Gibran kesalah satu pelayan.
"Ia Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?" jawab si pelayan.
"Riani sudah datang bik?" tanya Gibran.
"Belum Tuan. Nona Riani belum datang."
"Oh ya. Tolong bereskan kamar tamu ya Bik. Kalau dia sudah datang suruh langsung kekamar tamu ya bik" perintah Gibran.
"Baik Tuan" jawab si pelayan. Gibran segera berlalu ke kamarnya.
Dengan sigap sang pelayan membereskan kamar tamu,seperti yang diperintahkan oleh Tuan Mudanya. Hingga terlihat rapi,dan layak untuk dihuni, walaupun memang sering dibersihkan, tapi pasti juga ada debu, karena tidak ada yang tepati.
Sementara di lain sisi Riani sedang menuju ke masion Bos sintingnya,
tidak membutuhkan waktu terlalu lama Riani sudah sampai di depan masion. Tanpa pikir panjang Riani segera membunyikan bel masion.
Tring...tring..tring..
Kemudian pintu di buka oleh Pelayan.
"Eh Mbak Riani sudah datang rupanya" sapa si Pelayan ramah.
"Ia bik. Apa Bos Gibran ada di rumah..?" tanya Riani.
"Ada Mbak. Tuan Muda ada di kamarnya baru saja pulang" jawab si Pelayan.
"Oh " jawab Riani hanya ber oh ria.
"Oa Mbak. Kata Tuan Muda, Mbak bisa langsung ke kamar tamu" ujar Pelayan.
"Ia bik. Terima kasih ya. Oh ya bik jangan panggil saya Mbak. Panggil saja Riani" balas Riani sopan.
"Tapi Mbak"sela Pelayan.
"Tidak ada tapi- tapi bik. Sepertinya umur kita tidak jauh beda deh" jawab Riani.
"Ia deh Mbak. Eh Riani maksud saya" gagap Pelayan itu.
"Kalau begitu saya ke kamar dulu ya bik" ucap Riani sambil berlalu ke kamar tamu.
"Andai Mbak Riani itu jadi istri Tuan Muda ,pasti rumah ini akan damai" batin Pelayan itu dalam hati sambil berdoa, agar Riani jadi istri Tuan Mudanya.
Di kamar tamu Riani terkagum-kagum dengan interior kamar.
"Waah bagus sekali kamarnya" gumam Riani senang,sambil berjalan kekasur king size yang lumayan besar yang ada dikamar itu.
__ADS_1
"Wiiihh nyaman sekali" ucapnya lagi dengan gaya norak,sambil merebahkan tubuhnya ke kasur dan berlari kesana-kemari saking senangnya.
Tok tokk tokk.
"Riani waktunya makan malam" ucap Pelayan di luar kamar.
" Ia bik sebentar ya" jawab Riani.
Riani segera keluar kamar untuk menuju meja makan.
"Oya bik Bos Gibran mana?"tanya Riani.
"Di kamarnya Ri" jawab Pelayan itu.
"Oya aku panggil dulu ya bik" ucap Riani sambil berlalu ke kamar Bosnya.
Sedangkan Gibran di dalam kamarnya, baru selesai mengantikan pakaiannya karena sehabis mandi.
tokk tokk tokk
Gibran segera membuka pintu kamar.
"Ada apa kamu kesini..?"tanya Gibran.
"Pak makan dulu,makanannya sudah di siapkan" ujar Riani.
"Emmmm" gumam sibos.
Gibran berencana memang akan keluar untuk makan, karena belum makan malam. Apalagi ia tidak sempat makan dirumah orang tuanya tadi, karena jengkel dengan kehadiran orang lain di antara mereka. Apalagi orang tuanya bermaksud menjodohkannya, jadi Gibran buru-buru pulang sekaligus menghindari.
"Bukan jawab malah emm saja,susah bangat sih ngejawabnya, apa suaranya harus dibeli dulu apa..?dasar Bos sinting" gumam Riani pelan tapi masih bisa didengar oleh Gibran.
"Oopss Pak saya keceplosan,ya sudah saya tunggu diruang makan ya" balas Riani.
"Iya" jawab Gibran cuek.
Riani berlalu meninggalkan Bos sintingnya
dia menuju ke meja makan,
Gibran juga keluar dari kamarnya.
"Mmm kamu sudah makan?" basa-basinya kepada Riani karena dari tadi dia melihat Riani cuma bengong saja sambil berdiri,
kemudian Gibran menarik kursi untuk duduk.
"Be-belom pmPak" jawab Riani gugup.
"Sini temani saya makan dan kamu juga makan"perintah Gibran.
"Ta-tapi Pak"Riani bermaksud untuk membantah.
"Tidak ada tapi-tapian"ucap Gibran.
Sambil menunjuk kursi di depannya untuk Riani duduk, tanpa banyak ngomong lagi Riani segera duduk dan menyedok makanan kepiring lalu memakannya.
__ADS_1
Selesai mereka makan,Gibran berencana untuk memberitahu kepada Pelayan tentang Riani, di masion ini.
"Bibi. Mulai besok urusan masak memasak biar Riani saja yang urus ya,mulai hari ini dia akan kerja di sini" ucap Gibran.
"Baik Tuan" ujar Pelayan.
Pelayan berlalu.
"Bagaimana kamu sudah siap untuk kerja di sini?"tanya Gibran kepada Riani.
"Sudah Pak. Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya di kantor?" tanya Riani.
"Masalah pekerjaan kamu dikantor seperti biasa, kamu di sini cuma memasak dan menyiapkan makanan untuk saya, selebihnya urusan Pelayan" jelas Gibran.
"Baik Pak kalau begitu" ucap Riani
"Ya sudah. Saya mau keruangan kerja dulu" balas Gibran sambil berlalu.
Sementara didalam hati para Pelayan.
"Yang benar saja sih Tuan Muda. masak orang kerja di sini tidurnya dikamar tamu,heran deh saya sama Tuan" batin para Pelayan.
"Alah itu urusan mereka,mungkin ini cara Tuan Muda PDKT sama Riani, so sweet banget sih Tuan Muda hihi" kikiknya lagi sambil berlalu kedapur.
Setelah Gibran keruang baca, Riani dibantu para Pelayan membereskan meja,dan mencuci piring kotor.
"Biar saya saja Riani. Yang cuci piring kamu istirahat gih" ujar Pelayan itu.
"Tidak apa-apa bik, lagian Bibi sudah dengarkan kata Bos tadi, mulai hari ini saya kerja disini" jelas Riani.
"Jadi Bibi tidak usah sungkan kita sama Bik."
"Ya sudah biar saya bantu ya" ujar Pelayan.
"Oh ya bik. Nama Bibi siapa sih? tidak enakkan saya panggil Bibi terus" tanya Riani.
"Oh ya lupa ya, kita kenalan hehe, nama saya Surti Ri" jawab sang Pelayan.
"Boleh dong kalau saya panggil Mbak Surti saja?" tanya Riani.
"Terserah kamu deh Ri" ucap Surti.
Mereka sudah selesai mencuci piring dan membereskan semuanya, dan mereka berencana untuk menonton disalah satu ruang, yang di khususkan untuk para Pelayan menonton.
Malam semakin larut waktunya seisi masion, kekamar mereka masing-masing begitu juga dengan Riani sudah tidak sabar ingin tidur dikamar barunya.
Dengan langkah yang sangat ceria Riani memasuki kamar barunya, dengan segera ia tidur di kasur king size yang sudah tersedia di kamar itu, akhirnya Riani terlelap dalam tidurnya.
Mengarungi mimpi indahnya,
sementara Gibran masih berkutat dengan laptopnya sambil memeriksa beberapa email-email yang sudah dikirim oleh Aldo.
Walaupun matanya sudah mengantuk tetapi terpaksa Gibran menyelesaikannya, karena besok ada miting yang sangat penting,jadi harus segera ia selesaikan, karena meting tersebut bernilai puluhan juta, bahkan mungkin milyaran.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌻
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan nya.
love you