
πΉπππ»πΉππ»πΉππ»πΉππ»πΉππ»
Berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, mantan sudah ke penghulu aku masih sendirian.
πΉπ»π»πΉπ»π»πΉπΉπΉππ»ππΉπΉπΉπΉ
Happy reading reader ku tercinta.
Setelah berdebat dengan Riani, akhirnya Gibran pergi ke perkebunan untuk mengantarkan makan siang.
Tidak membutuhkan waktu lama, Gibran sudah sampai di perkebunan.
Gibran langsung memberi bekal makan siang nya kepada Bibi yang sudah duduk di pondok persinggahan untuk menunggu di antarnya makan siang.
"Eh Nak Gibran sudah datang, Riani mana Nak? tanya Bibi.
"Riani di rumah Bik"
"Kenapa dia tidak ikut kesini nak"
"Males dia Bik, kata nya ada kutu kupret di sini" ujar Gibran sengaja menyindir Anggara.
"Elu itu yang kutu kupret" tangkas Anggara tidak terima.
"idih ngerasa elu ya? Padahal gue tadi enggak ngomongin elu"
"Gue tau, elu sengaja nyindir gue" ujar Anggara kesal, saking kesalnya dia menggunakan kata elu gue di depan Gibran. Yang biasa nya ia gunakan di depan teman-temannya.
"Enggak kok, gue enggak nyindir elu, elu aja yang ngerasa"
"Dasar kampret elu"
"Elu yang kampret"
mereka terus bertengkar tanpa mempedulikan orang sekitarnya.
"Kalian biasa diam tidak? Kenapa kalian terus berdebat hah? Bisa budeg kuping kami dengarkan kalian bertengkar terus" bentak Paman karena beliau sudah kesal mendengar celotehan Gibran dan Anggara yang tanpa henti.
Mereka selalu begitu setiap kali mereka berada di tempat yang sama seperti kucing dan anjing saja hehe.
Akhirnya setelah mendengar bentakan Paman,Gibran dan Anggara diam sebentar.
__ADS_1
Kemudian mereka melanjutkan dengan saling melemparkan tanah, yang hampir membuat kebun berantakan.
Sedangkan Paman dan Bibi melanjutkan makan siang karena mereka sudah lapar.
Sementara di rumah keluarga besar Wijaya, semua orang sudah berkumpul untuk membicarakan pernikahan nya Gibran yang tinggal hitung hari.
"Saya tidak setuju kalau Gibran menikah dengan orang yang tidak selevel dengan kita" ujar Revi.
Revi merupakan adiknya Tuan Wijaya yang paling bungsu, dia juga terkenal dengan sifat sombongnya.
"Ia saya juga tidak setuju, mending dengan anaknya Pak Budianto. Sudah cantik, pandai, kaya lagi" ujar Rima adik nomor tiga Tuan Wijaya. Dia juga sama seperti Revi sangat sombong dan congkak. Dia merupakan pelanggan tetap di Butiknya Reva makanya dia mengetahui tentang perjodohan Reva dan Gibran.
"Ia Mbak. Saya setuju dengan Mbak Rima lagian kenapa sih Mbak, Gibran lebih memilih cewek kampung itu daripada Reva yang cantik bak model" tanya Revi kepada Nyonya Angelina.
Sedangkan keluarga yang lain cuma diam dan mendengarkan saja celotehan Rima dan Revi.
Ada yang menyetujui dengan perkataan mereka, ada juga yang tidak menanggapi karena mereka memang begitu.
"Mbak tidak mau ikut campur urusan Gibran, yang penting Gibran bahagia itu sudah cukup" jawab Mamanya Gibran singkat.
"Tidak boleh begitu dong Mbak, Mbak kan Mamanya. Mbak kan harus memilih menantu Mbak, bebet bobot harus jelas. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja dong Mbak" ujar Rima.
βTidak bisa begitu dong Mbak, ini menyangkut nama baik keluarga Wijaya" tangkas Revi tidak terima.
"Emang yang jalani ini Gibran apa keluarga?" tanya Yona karena dia sudah kesal.
"Ya Gibran lah Mbak" jawab Revi masih
tidak paham.
"Jadi kenapa nama keluarga dibawa-bawa" kesal Yona.
"Ia kan menyangkut nama baik keluarga" ujar Revi masih bersikeras.
"Penting mana nama baik keluarga atau kebahagiannya Gibran?" tanya Yona yang semakin kesal.
"Kebahagiaan Gibran lah Mbak" jawab Revi dan Rima bersamaan.
"Jadi ini kenapa dipersoalkan dengan siapa Gibran akan menikah?" tanya Yona.
"Terserah kalian lah, tetapi asal kalian tahu kami tidak akan pernah setuju kalau Gibran menikah cewek kampung itu,dia tidak selevel dengan kita. Apalagi dia cuma OB di perusahaan nya Gibran,bikin kita malu saja" ujar Revi dengan sangat sombong.
__ADS_1
"Ia saya sangat setuju dengan pendapat Revi, masak keluarga terhormat seperti keluarga kita punya menantu seorang OB" ujar Rima penuh penghinaan.
"Apa yang kalian ributkan? soal pernikahan Gibran biar Gibran yang jalani, kalian jangan ribut sekali" ujar Tuan Wijaya yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah perdebatan mereka.
"Tapi Mas? Kami tidak setuju kalau Gibran menikah dengan cewek kampung OB itu" ujar Revi.
"Kenapa kalian tidak setuju?" tanya Tuan Wijaya merasa heran dengan tingkah adek bungsunya.
"Karena dia tidak selevel dengan kita"ujar Rima enteng.
"Oh masalah status toh, kalian seperti orang tidak mengerti agama saja" ujar Tuan Wijaya serius.
"Maksud Mas apa kami tidak mengerti" tanya Revi yang kurang paham tentang ucapan Tuan Wijaya.
"Maksud saya status dan kedudukan manusia sesungguhnya di mata Tuhan semua sama, hanya iman dan taqwa yang membedakan nya. Jadi kalian jangan sesekali membandingkan status kita, sang pencipta saja tidak pernah memandang rendah status hambanya, apalagi kita hanya seutas debu" ujar Tuan Wijaya panjang lebar.
Setelah mendengar itu semua membuat Revi dan Rima terdiam karena malu, tetapi karena ego dan gengsi yang di miliki oleh mereka, mereka terus saja tidak terima dan membantah apa yang di katakan Tuan Wijaya.
"Tapi Mas" bantah Revi.
"Tidak ada tapi-tapian bagi kami sebagai orang tuanya Gibran, sudah menerima Riani sepenuhnya. Walaupun dia cuma seorang OB, dan bagi kami dia sangat cocok menjadi istrinya Gibran. Dan menantu keluarga Wijaya , karena dengan sifatnya yang lemah lembut serta sopan itu sudah cukup bagi kami,t tidak seperti Reva gadis yang kalian banggakan. Belum jadi menantu saja sudah berani membentak Mbakmu,apalagi kalau sudah jadi menantu apa yang akan terjadi dengan Mbakmu pasti dia akan menendang kaki berdua keluar dari rumah ini. Sekarang keputusan kami sudah bulat, jadi kalian hargai keputusan kami" nasihat Tuan Wijaya.
Mereka tidak menjawab cuma diam saja, tapi mereka tetap tidak akan menerima nya.
Sedangkan Yona sangat puas dengan jawaban Tuan Wijaya, dia sangat setuju dengan pendapat Tuan Wijaya. Karena menurut dia kebahagiaan keponakan nya lebih penting di bandingkan status sosial.
Dia juga sangat marah setelah mendengar Mas nya membicarakan banyak tentang perilaku Reva kakak ipar nya.
"Kenapa bisa begitu Mas? Padahal bebet dan bobotnya sangat jelas, dari keluarga terhormat lagi. Tapi kelakuannya seperti berandal begitu, untung saja ya Mas Gibran tidak jadi menikah dengan Reva" ujar Yona dia merasa sangat kesal.
"Alhamdulillah Yon, untung Riani cepat hadir di kehidupan Gibran. Jadi kami bisa sadar siapa Reva sebenarnya" ujar Nyonya Angelina.
"Itu sudah jodoh Mbak, kita doakan saja semoga Riani dan Gibran berjodoh" ujar Yona ikut bahagia dengan kebahagiaan keluarga Masnya.
"Amin Yon terima kasih ya"
"Ia Mbak sama-sama."
Sedangkan Revi dan Rima cuma diam tanpa menanggapi ucapan Mbak-mbak nya.
Bersambung.
__ADS_1