
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Berdoalah agar dijadikan pandai bersyukur setiap saat, karena dengan bersyukur mampu membuatmu bahagia di setiap saat dan keadaan...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻❤❤❤❤🌻🌻🌻🌻🌻
Akhirnya Riani sedang bergelut dengan masakannya,yah dia membuat sarapan untuk si Bos sinting biar tidak ngamuk lagi. Riani pagi ini membuat nasi goreng seafood, yang di bantu oleh beberapa pelayan di masion tersebut, terbesit ide jahat di hati Riani untuk mengerjai si Bos sintingnya.
"Gimana ya kalau aku tambah bubuk cabe kenasi gorengnya? pasti seru deh,nengok si Bos sinting kepedasan" kikik Riani sendiri.
Akhirnya sambil celingak-celinguk melihat sekelilingnya kayak maling jemuran,Riani langsung menambahkan satu sachet bubuk bon cabe kedalam nasi goreng yang sedang di masaknya. Setelah menunggu beberapa saat, sarapan pun sudah siap di masak, tinggal di siapkan diatas meja makan oleh Riani dan dengan dibantu oleh pelayan.
"Akhirnya siap juga "gumam Riani lega.
Gibran yang sudah siap- siap dengan penampilannya,siapa saja yang melihat akan terpesona, dengan setelan jas kantornya yang mewah dan megah, menambahkan aura ketampanannya dan dia sekarang sudah berdiri didekat meja makan. Gibran ingin mencicipi masakan yang di masak oleh Riani, dan baru kali ini pula ada cewek yang memasak untuk nya, itupun dengan paksaan.
"Mmm kayaknya enak nih, masakan cewek abal-abal ini" batin Gibran dalam hati sambil menarik bangku yang ada dimeja makan dengan segera mendudukinya.
Dan Riani pun langsung menyedokkan nasi kedalam piring,yang sudah tersedia dimeja makan untuk dia kasih ke Bos sintingnya.
"Ini Pak di cobain masakan saya,siapa tau Bapak suka" gumam Riani pelan.
"Dan siapa tau bapak akan merasakan kepedasan yang tiada tara" sambungnya lagi sambil tersenyum, tapi tentunya cuma dalam hatinya saja. Tanpa curiga sedikit pun, Gibran langsung menyedok satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.
"Waah pedas sekali,kayaknya aku dikerjain deh sama cewek ini, untung aku suka pedas,berani juga dia"batin Gibran dalam hati sambil tersenyum miring,dan melihat sekilas ke arah Riani lalu meneruskan makannya.
Sementara Riani sudah tersenyum-senyum sendiri.
"Rasain elo Bos sinting,memang enak aku kerjain"kikik Riani dalam hati,sambil melihat ke atas Gibran dan menunggu bagaimana reaksi Gibran,setelah memakan nasi goreng bikinannya yang super pedas.
"Eeh tunggu dulu kenapa si Bos sinting gak kenapa-napa ya?,aduh gagal deh aku kerjain si Bos sinting kali ini"batin Riani lagi,setelah menengok tidak ada efek apa-apa dengan makanan yang dimakan oleh Bos sintingnya, dengan kesel Riani membereskan semua yang ada di meja setelah Gibran selesai makan.
Sedangkan Gibran sudah tertawa sendiri, sambil mengingat-ngingat keberanian Riani yang dengan berani mengerjainya.
"Rupanya cewek abal-abal itu memang sangat berani ya,dan dengan sengaja pula kayaknya dia ngerjain aku" pikir Gibran.
__ADS_1
Akhirnya waktupun berlalu Gibran dan Riani sudah siap -siap untuk berangkat kekantor,
Gibran dengan angkuhnya keluar dari masion menuju kemobilnya yang sudah terparkir di luar masionnya. Tampa terlihat didalam mobil,sudah ada seorang sopir lengkap dengan pakaiannya yang serba hitam,khas seragam bodyguard sudah menunggunya dan tanpa menunggu lama lagi Gibran bergegas masuk ke dalam mobil tersebut.
Sedangkan Riani yang melihat Bosnya sudah naik ke mobil, buru-buru dia keluar juga dari masion mencari taksi, Gibran yang melihat Riani terburu-buru langsung menegurnya.
"Eh cewek abal-abal mau ke mana kamu?" tanya Gibran.
"Ya mau kekantorlah Pak"jawab Riani kesal.
"Sudah tau nanya lagi" sambungnya lagi.
"Terus ngapain masih di situ hah?" bentak Gibran.
"Mau tidur disini Pak" ejek Riani
"Ngapain kamu tidur di jalan"tanya Gibran dengan heran.
"Ya cari taksilah Pak,Bapak itu bodoh banget sih" jawab Riani polos
"Kamu berani katain saya bodoh hah?"geram Gibran.
"Ya sudah jangan berdebat lagi, naik gak ada taksi disini" balas Gibran, memang betul tidak ada taksi yang lewat, karena di situ kawasan elit jadi taksi tidak diperbolehkan beroperasi di sekitar itu.
"Tapi Pak."
"Gak ada tapi-tapian, naik tapi kalau kamu gak mau naik gak apa-apa juga,palingan kamu sampe kantor jam 12:00 siang nanti"balas Gibran lagi.
"Gimana ya? kalau gak naik takut telat,kalau naik takut sama Bos sinting"pikir Riani bimbang antara naik atau gak.
Akhirnya setelah menimbang,memikirkan dan memutuskan Riani pun segera naik kedalam mobil mewah Bosnya. Setelah Riani naik mobil pun melaju,membelah jalan kota yang sedang ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Maklum hari masih pagi banyak orang-orang yang melakukan aktivitas karena memang bukan hari libur.
Di dalam mobil terasa sangat canggung, karena tidak ada yang memulai pembicaraan,Riani masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang di pikirkannya hanya Tuhan dan dia yang tau, sedangkan Gibran sedang asyik,menarikan sepuluh jarinya di atas keyboard laptop, yang ada di atas pangkuannya, sambil memeriksa beberapa email yang di kirim oleh sekretarisnya. Sesekali Gibran juga melirik ke arah Riani, yang ada di sampingnya, dan beberapa menit kemudian tampa terasa mereka hampir sampai keperusahaan.
"Stop pak saya turun disini saja" tiba-tiba Riani berteriak meminta di turunkan dihalte dekat perusahaan, mendengar teriakannya Riani sang Sopir melihat ke atas majikannya, meminta isyarat boleh atau tidak begitulah isyaratnya.
__ADS_1
Tapi Gibran malah memberikan isyarat kepada sang Sopir,agar terus melajukan mobilnya tampa harus menghiraukan kicaun Riani yang seperti burung Beo minta di turunkan.
Sesampainya di gedung pencakar langit sang Sopir langsung,memarkirkan mobil mewah Majikannya diparkiran khusus petinggi perusahaan. Tanpa di bukakan pintu
Gibran segera turun dengan elegannya, memang sudah kebiasaannya Gibran,dia tidak membolehkan orang lain melayaninya, sampai ketahap harus membukakan pintu begitu. Begitulah sifat Gibran walaupun terlihat angkuh dan arogan tapi masih dia sangat menjunjung tinggi adab dan kesopanan.
" Kenapa gak turun,mau tidur didalam mobil?" gumam Gibran karena melihat Riani tak beranjak dari mobilnya.
"Kalau di bolehkan" ujar Riani cuek.
"Turun"teriak Gibran.
"Tapi pak,saya malu" balasnya.
"Oh ternyata kamu masih punya rasa malu juga ya?"balas Gibran dengan senyum miring mengejek Riani.
"Eh Bos sinting,Bapak pikir saya ini gadis apaan? yang gak punya rasa malu,dasar Bos sinting sialan,angkuh,gila"cerca Riani karena emosi, dia menyebut apa saja yang terlintas di pikirannya setelah mendengar ejekan Bosnya.
"Makin berani kamu ya sama saya?,bukan malah terima kasih sudah di kasih tumpangan ini malah ngumpatin orang, kualat nanti baru tahu kamu"ucap Gibran merasa aneh dengan keberanian Riani.
"Salah Bapak sendiri,kenapa ngejek saya,lagian saya mau berhenti di halte tadi, kenapa juga Bapak bawa saya kesini,emang Bapak rada-rada sinting deh"cerocos Riani panjang lebar.
"Eh itu mulut,apa petasan sih? selalu saja ngejawab,ya sudah gak usah banyak ngomong lagi turun" teriak Gibran dengan emosi karena di katain sinting sama karyawan OB nya.
"Gak mau"ucap Riani tanpa mempedulikan teriakan Gibran.
"Terus mau saya gendong hah" ancam Gibran sudah mulai kesal.
"Ya sudah deh saya turun" jawab Riani karena takut dengan ancaman Gibran.
"Begitu dong,sekarang kamu minta maaf ke saya karena sudah berani katain saya tadi"ucap Gibran dengan senyum mengejek.
"Mmm saya minta maaf zpak saya gak sengaja tadi"imbuh Riani dengan terpaksa sambil turun dari mobil.
"Saya pikir-pikir dulu ya,apakah saya berkenan mau memaafkan kamu atau gak?"ujar Gibran tersenyum miring ke arah Riani sambil berlalu.
__ADS_1
Sedangkan Riani sudah naik darah,untung dia masih sadar dengan tidak mengambil barang apa saja yang ada di dekatnya untuk di lemparkan ke arah Gibran.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻