
🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌹🌹🌻🌹🌹🌻🌻
Cinta itu butuh usaha serta pengorbanan,kadang juga dengan adanya cinta kita dapat menciptakan perubahan dalam hidup kita maupun sikap kita terhadap orang disekitar kita.
🌻🌹🌹🌹🌻🌹🌹🌹🌻🌹🌹🌹🌻🌹🌹🌻
Seperti biasa Riani dan Gibran pergi ke kantor, tapi hari ini beda Gibran tidak mau menurunkan Riani di halte dekat perusahaannya. Tetapipi Riani harus ikut bersamanya ke perusahaan,karna mulai tadi malam Riani sudah di clam milik Gibran. Jadi di mana ada Gibran, di situ juga harus ada Riani itulah titah Gibran.
Karena bagi Gibran apa yang dia inginkan harus dia dapatkan, tidak boleh ada yang menganggu miliknya.
Sesampainya di parkiran khusus CEO, Gibran segera turun dari mobilnya, dan menarik tangan Riani untuk turun juga bersama.
"Ayo turun sayang dulu" ujar Gibran lembut.
"Iya tapi Bos" balas Riani.
Cup
Gibran segera mencium bibir Riani singkat.
"Sudah di bilang kalau kita lagi berdua harus panggil apa..?"tanya Gibran penuh dengan kelembutan. Mulai hari ini sikapnya yang biasa dingin jadi seratus persen lembut bagaikan sutra, maklum orang lagi kasmaran. Mungkin saja sebentar lagi, Gibran akan jadi bucin maksimal hehe.
"Ia sayang" ejek Riani kepada si bucin.
"Ayo" ajak Gibran sambil menggandeng mesra tangan Riani.
"Mas jangan kayak gitu tidak enak, di lihat sama orang malu nanti"ujar Riani sambil melepaskan genggaman tangan Gibran, tapi bukan di lepas,Gibran malah makin mengeratkan genggaman tangannya Riani.
"Kenapa harus malu hmm? Biar mereka semua tau kalau kamu milikku" jawab Gibran dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Tapi Mas. Ini kantor nanti ada yang bergosib loh" ujar Riani lagi.
"Siapa yang akan ngelarang..? ini kan kantor saya, siapa yang berani bergosip..? saya akan memecat mereka semua" ujarnya penuh ketegasan sambil memasang wajah dinginnya.
"Ya sudah deh sayang, tidak usah memasang wajah dingin begitu juga"ucap Riani. Dia merasa masih kaku dengan ucapan kata sayang yang di lontarkannya untuk Gibran.
Sesampainya di depan kantor para karyawan sudah banyak yang berdatangan, dan mereka juga merasa kaget melihat sang Bos senyum-senyum sendiri. Sambil memegang erat tangan karyawan OB nya,banyak karyawan yang terpesona dengan pemandangan itu. Ada yang bedecak kagum ada juga yang iri, terutama para kaum Hawa merasa iri dengan keberuntungan Riani dan ada juga yang bisik- bisik.
"Lihat tuh sikaryawan OB berkhayal jadi ratu" bisik salah satu karyawan.
"Ia tidak tau malu banget, sok kecakapan itu cewek" imbuh yang lain.
"Eeh sudah-sudah tidak usah bergosip lagi" imbuh yang lain lagi, yang merasa malas medengerkan rekannya bergosip, apalagi gosipin CEO sendiri.
"Kalian tidak ada kerjaan lain selain bergosip hah..? saya bayar kalian mahal-mahal bukan untuk bergosib, apalagi kalian sudah berani menggosipkan CEO kalian sendiri, sudah bosan kerja di sini ya?" bentak Gibran sambil menunjuk ke arah para karyawan yang sedang bergosip, rupanya Gibran menyadari gelagat karyawan yang bergosip tadi.
"Bubar" teriaknya sambil mengebrak mejanya.
Riani juga kaget dengan kemarahan Gibran.
"Mas jangan marah yang sabar ya" ujar Riani takut.
"Emm ia sayang" ucapnya saambil menggenggam erat tangan Riani.
"Mas lepasin malu tau" ujar Riani minta di lepasin lagi tangannya.
"Ia sayang, bawa kopi keruangan Mas ya" ucap Gibran sambil berlalu keruangannya.
Riani juga segera berlalu ke pantri, namun belum sampai di pantri Riani sudah di hadang oleh beberapa karyawan lain yang merasa iri dengan keberuntungannya Riani.
__ADS_1
"Ooohhh ini rupanya ******, yang sudah berani godain Bos kita" imbuh Dewi si biang onar.
Ia siapa lagi yang ngehadang Riani kalau bukan Dewi dan beberapa orang cecunguknya.
"Berani juga elo godain Bos ya, apa peringatan gue kemarin kurang mempan buat elo hah..?" bentaknya lagi.
Riani masih diam tampa menjawab satu patah katapun,dia hanya berdiri sambil memasamg muka acuh tak acuh.
"Kenapa diam ******? Kemana sikap percaya diri elo kemarin itu? Apa karena takut? Kemarin kan ada teman-teman elo sesama gembel itu" hardiknya lagi sambil melayangkan tangan kanannya ingin menampar Riani, tapi dengan sigap Riani menghalangi tangannya, kemudian menghempaskan ke bawah.
"Dengar ya ibu Dewi yang terhormat, saya diam bukan karena saya takut. Tapi saya malas meladeni orang gila seperti ibu Dewi, nanti di kirain saya ikutan gila lagi" balas Riani menohok hati siapa saja yang mendengarnya.
"Dan satu lagi saya tidak pernah mengoda CEO dia sendiri yang mengoda saya, karena saya wanita normal otomatis saya tergodalah. Satu lagi jangan pernah saya dengar lagi anda menyebutkan saya dengan kata ******, dengan mulut kotor anda itu. Karena saya tidak pernah melakukan hal kotor semacam itu, dan saya camkan pada anda, mulut anda lebih kotor dari pada gembel" tegas Riani panjang lebar. Dia segera berlalu dari hadapan Dewi,
Dewi yang merasa geram dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya Riani, hendak menjambak rambut Riani. Tetapi di tahan oleh beberapa rekan-rekan yang bersama dengannya, karena mereka juga tidak mau hal itu semakin tak terkendali. Apalagi sampai CEO mengetahui bisa-bisa mereka kenak pecat, apalagi tadi pagi mereka sempat mendengar CEO mengancam karyawan yang mengosipkan Riani. Apalagi ini mereka berencana melukai Riani, entah apa yang akan di lakukan CEO kepada mereka jika hal itu sempat terjadi.
"Sudah Bu, biarin saja, nanti dia juga sadar sendiri di mana tempatnya" imbuh rekannya menenangkan Dewi.
"Awas saja ****** itu aku akan beri pelajaran ke dia" balas Dewi berapi-api.
Sambil berlalu dari tempat mereka menghadang Riani tadi, kemudian mereka segera mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Dewi masih sangat kesal dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Riani, dia bertekad akan membalas Riani pada suatu hari nanti, apapun akan dia lakukan untuk membalas Riani.
Apalagi dia sakit hati dengan kedekatannya Riani bersama Bos mereka, karena dia sudah bertahun-tahun berharap bisa ada di posisi Riani seperti saat ini. Sudah bertahun-tahun pula dia menyukai Bosnya, entah fisik yang dia sukai, atau harta, ataupun kesuksesan yang di miliki oleh sang Bos dalam bisnisnya. Kita tidak tahu apa yang ada dalam hati orang,hanya dirinya dan Allah saja yang tahu,apa yang dalam hatinya. Karena seperti kata pepatah, dalam-dalam lautan bisa di ukur tapi dalam-dalam hati seseorang tidak ada yang bisa mengukurnya. Bahkan kita tidak bisa memprediksi apa yang ada dalam pikiran orang tersebut, begitu juga dengan hati Dewi terhadap Bosnya.
Mungkin cinta yang terpendam terhadap sang Bos.
Sering kali Dewi menunjukkan perhatian terhadap Bosnya, tapi sang Bos tidak pernah menanggapinya. Malah dia mendapatkan perlakuan dingin dari sang Bos,itulah yang membuat Dewi ingin menyingkirkan Riani dalam kehidupan Bosnya.
__ADS_1
🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌻🌻🌹🌻🌹
Terima kasih atas dukungannya readerku tersayang