Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Manja


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌻🌹🌹🌹🌻🌻🌻🌹🌹


Kesetiaan adalah momen dari cinta, tanpa kesetiaan cinta terasa tidak berarti, kecemburuan adalah bumbu dari cinta, tanpa ada kecemburuan cinta akan terasa hambar...


🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹


Sementara di ruangan utama pemilik perusahaan,sang CEO tengah berkutat dengan banyaknya berkas-berkas yang sudah menumpuk.


Dengan begitu elegan sang CEO duduk di kursi kebesaran di ruang itu,dengan seksama pula ia meneliti sekaligus menanda tangani berkas-berkas tersebut.


Tokk tokk tokk suara pintu di ketuk menandakan bahwa ada orang di luar ruangan tersebut.


"Masuk"


"Pak ini kopi yang Bapak minta tadi" ujar Riani.


"Mmm iya tarok di sana"


"Dan kamu ke sini" tunjuk Gibran kepada Riani.


Dengan pelan Riani mendekat ke arah Gibran.


Tanpa ba-bi-bu Gibran segera menarik Riani ke pangkuannya, kemudian kedua tangannya melingkar di pinggang Riani.


"Pak jangan begini. Nanti ada yang masuk" ucap Riani merasa risih dengan kelakuan Gibran.


"Bentar saja. Saya mau mengambil energi saya buat kerja" balasnya dengan manja. Seperti seekor anak Kucing yang minta di belai oleh sang ibu,mungkin Gibran jablay.


Jarang di belai hehe.


"Tapi Pak. Ini kan kantor?" balas Riani.


"Terus kenapa? memangnya ada yang larang?"tanya Gibran dengan nada cuek.


Cup.


Gibran mencium singkat bibir Riani.


"Kok main nyosor aja sih Pak?"ucap Riani kesel, tiba-tiba Gibran mencium bibirnya.


"Ini hukuman buat kamu, sudah aku bilang kalau kita berdua begini. Jangan panggil aku Bapak, aku bukan Bapak-bapak" ucap Gibran sambil mencubit hidung Riani pelan.


"Ia deh. Sakit sayang"ejek Riani sambil memonyongkan bibirnya.


"Bibir kenapa begitu? Minta di cium lagi ya?" gumam Gibran sambil mendekatkan wajahnya ke arah Riani.

__ADS_1


"Enggak sayang. Jangan macam-macam" balas Riani sambil memundurkan wajahnya, takut di sosor lagi sama sibebek ganteng hehe( ada-ada aja sih athour masak bebek ganteng,orang kali yang ganteng hehe).


Sementara di lobi perusahaan di hebohkan, dengan ke datangan Revalina orang yang di jodohkan dengan Gibran.


"Ada yang bisa di bantu Mbak" sapa resepsionis dengan ramah.


"Mbak. Mbak. kau pikir aku Mbak mu apa?" tanya Reva judes.


"Pangil saya Nyonya" sambungnya.


"Ia baik Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" gagap resepsionis itu.


"Siapa sih kucing garong ini? Darimana datangnya? Kok securty kasih masuk begitu saja sih? Ini gayanya sombong banget lagi" gumam sang resepsionis dalam hati, sambil melihat ke arah securty sementara securty cuma bengong saja.


"Itu baru bagus, Gibran ada?" tanyanya dengan sombong.


"Sudah buat janji Nyonya?" tanya si resepsionis.


"Janji? Buat apa? saya harus buat janji segala? Kamu belum tau siapa saya hah?" bentak Reva.


"Maaf Nyonya. Tapi kalau Nyonya belum buat janji, anda tidak bisa masuk" ujar si resepsionis.


"Kamu? Mau di pecat ya? Berani sekali kamu ngelarang saya masuk, saya ini calon Nyonya Gibran tau tidak kamu?" ucap Reva dengan angkuhnya.


"Maaf Nyonya saya tidak tahu, silahkan kalau begitu, ruangan CEO ada di lantai 9 " ujar resepsionis gemetaran takut dengan ancaman Reva.


Selepas Reva pergi banyak karyawan- karyawan yang bergosip.


"Siapa sih itu?" tanya karyawan A.


"Gak tau. Katanya sih calonnya Pak Gibran" jawab si karyawan B.


"Oh calon Nyonya CEO toh" balas karyawan C.


"Kok baru jadi calon aja udah sok begitu, angkuh pula lagi" bisik-bisik tetangga.


"Ia sih, cantik. Tapi dandanannya kayak Kucing garong" ujar yang lainnya lagi sambil tertawa.


Sedangkan di dalam hati Resepsionis berbeda dengan perkataan para karyawan lain.


"Apa-apaan ini..? baru tadi pagi CEO mengandeng mesra tangan karyawan yang bernama Riani, ini kok sudah datang pula calon istrinya, ribet sekali urusan orang kaya".


Sesampainya di ruangan sang CEO tanpa mengetok pintu terlebih dahulu, dengan PD nya Reva langsung menyelonong masuk. Seakan-akan ruangan itu punya Nenek moyangnya hehe.


"Maaf Pak. Saya sudah melarang Ibu ini untuk masuk, tapi dia tidak mau mendengarnya" ucap Sekretaris.

__ADS_1


"Ibu pala mu. Cantik begini akunya di bilang Ibu, apa mata mu buta hah?"bentak Reva dengan kesal.


"Tidak apa-apa kamu keruang kamu saja" ucap Gibran. Sambil melambaikan tangannya menyuruh sang Sekretaris keluar.


"Baik Pak saya permisi" ucap sekretaris sopan.


Sementara Riani masih ada di pangkuan Gibran,dia mencoba melepaskan diri tapi di tahan oleh Gibran.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Gibran tanpa menengok ke atas Reva.


"Aku kangen sama kamu" ujarnya dengan suara di buat semanja mungkin.


"Maaf saya sibuk, kalau tidak ada kepentingan lagi, kamu boleh keluar" ujarnya dingin. Mencoba mengusir Reva secara halus.


"Sibuk apaan? Sibuk mesra-mesraan sama karyawan OB ini?"tanya Reva sambil menunjuk ke arah Riani.


"Lagian siapa sih cewek gatel ini? Aku ini calon istri kamu" teriak Reva lagi dengan menahan emosi, karena di acuhkan oleh Gibran.


"Bukan urusan kamu, dan jangan pernah mengatakan Wanitaku dengan sebutan wanita gatel, yang pantas meyandang dengan nama itu adalah kamu" bentak Gibran.


"Kamu harus ingat baik- baik,saya tidak pernah menerima kamu jadi calon istri saya, jadi kamu jangan mimpi" tambah Gibran lagi dengan suara lebih menusuk.


"Kenapa? pasti gara-gara cewek gatel ini kan?" tanya Reva dengan emosi.


"Bukan urusan kamu, lebih baik kamu keluar" ujar Gibran menghektakan meja karena sangat jengkel.


"Atau mau saya panggil keamanan? Buat mengusir kamu dari sini?"tanya Gibran lagi.


"Lagian keamanan kenapa bisa lengah begini? Orang yang tidak berkepentingan di kasih masuk kesini, sepertinya mereka mau saya pecat semua" tambah Gibran lagi menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun.


Sedangkan Reva sudah gemetar di tempatnya berdiri, melihat tatapan seram Gibran, baginya sangat menakutkan. Tetapi demi status yang akan dia sandang kelak, dia harus berjuang melawan rasa takutnya.


"Awas elo cewek gatel, gara- gara elo gue di usir oleh Gibran,tunggu saja gue akan balas elo" ancam Reva kepada Riani.


Dengan menahan emosi dan gengsi, Reva keluar dari ruangan Gibran sambil menghentak-hentakkan kakinya kelantai. Karena dia kesal ,tumm suara pintu di tutup dengan keras, membuat orang yang ada dalam ruangan hampir jantungan.


Sementara di ruangan Gibran, Riani masih diam dengan seribu bahasa menahan ngeri di hatinya. Setelah mendengar pengakuan Reva bahwa dia adalah calon istrinya Gibran, tidak terasa setetes air bening keluar dari mata Riani, karena dia tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang ada di hatinya tiba-tiba.


"Pak saya kerja dulu ya" ucap Riani dengan suara dingin karena sakit hati dengan kedatangan Reva,apalagi Reva mengatainya dengan sebutan cewek gatel.


"Ia maaf ya sayang" ucap Gibran lembut sambil mengecup kening Riani pelan.


Gibran menyadari perubahan wajahnya Riani, tapi Gibran tidak mencoba untuk menjelaskannya. Dia bukan tidak memikirkan perasaannya Riani, tapi Gibran punya caranya sendiri untuk menghadapi Riani nantinya.


Riani segera berlalu tanpa menjawab sepatah kata pun perkataannya Gibran.

__ADS_1


🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻


Terima kasih readerku tersayang...


__ADS_2