Hidup Ini Indah Bila Bersamamu

Hidup Ini Indah Bila Bersamamu
Kehangatan keluarga


__ADS_3

🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌻


Keluarga adalah yang utama bagi kita..


karena berkat keluarga kita bisa seperti ini , keluarga juga yang selalu mendukung kita,baik senang maupun susah..


i love my family...


🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹


Flashback.


Setelah membereskan semua piring-piring kotor Riani bermaksud,untuk mencari di mana keberadaan Gibran dan kedua orang tuanya, dia sudah mencari kemana-mana belum juga ia temukan, ke taman, ke kolam renang bahkan ke ruang olahraga juga sudah ia cari ,tapi orang yang dia cari belum ia temukan, setelah memutar-mutar ke sekeliling massion tersebut akhirnya Riani memutuskan untuk menanyakan di mana sang kekasih dan kedua calon mertuanya berda kepada sang pelayan


"permisi bik, numpang nanya..?," ujar Riani


"iya ada apa nona..?"jawab si pelayan sopan


"bibik tau tidak di mana mas Gibran dan kedua orang tuanya berada sekarang..?" tanya Riani


"oh tuan muda dan tuan besar ada di ruang baca nona" jawab sang pelayan


"kalau mama di mana bik..?" tanya Riani lagi karena penasaran di mana sang calon mama mertuanya


"kayaknya di ruang baca juga nona" ujar sang pelayan lagi.


Tiba-tiba datang sang pelayan lain


"nona tadi nyonya berpesan, kalau nona sudah selesai dengan apa yang nona lakukan, di suruh ke ruang baca sama nyonya, di sana juga ada tuan muda dan tuan besar" ujar sang pelayan lain


"oh begitu ya, terima kasih ya bik" ujar Riani


"kalau begitu saya permisi dulu, mau mencari mereka" tambahnya lagi


"baik nona" jawab si pelayan.


Riani pun berlalu, setelah Riani pergi beberapa pelayan di situ menatap kagum kepada Riani karena sikap sopan, lemah lembutnya di tambah lagi kecantikan wajahnya.


"Subhanallah beruntung sekali tuan muda dapat calon istri seperti nona Riani" ujar salah satu dari mereka

__ADS_1


"iya nyonya dan tuan juga sangat beruntung mempunyai calon menantu seperti itu, sudah baik, sopan, lemah lembut, apalagi sangat cantik"yang lain ikut menimpali


"iya yah tidak seperti yang mau di jodohkan dengan tuan muda kemarin, sudah angkuh,tidak sopan lagi, cantik-cantik sih tapi dandanan kelewatan modis gitu, enggak enak di lihatnya" jawab yang lainnya lagi, sambil mengingat saat Reva berkunjung ke rumah majikan mereka tempo hari.


Riani akhirnya tiba di ruang baca, setelah ia tiba di sana, dia mendengar keluarga itu tengah berbincang-bincang dengan sangat bahagia, dan di situ juga mereka membahas tentang rencana pernikahan Riani dan Gibran, dan mereka terlihat saling berpelukan dengan sangat bahagia, Riani pun merasa terharu dan merasa sangat beruntung karena di pertemukan dengan keluarga yang sangat baik, yang mau menerimanya apa adanya, tanpa terasa setetes air mata mengalir di pipi mulusnya, dan Riani berencana untuk tidak menganggu reuni anak dan orang tua itu, tapi dia terlambat karena mereka sudah menyadari ke hadirannya.


Flash on.


"Kenapa cuma berdiri di situ sih sayang..?" ujar nyonya Wijaya


"eh iya ma" ujar Riani gugup karena ketahuan dari tadi melamun, buru-buru Riani menghapus air matanya agar tidak membuat sang calon mertua dan kekasihnya khawatir


"sini dong sayang, kita lagi berbincang-bincang" ujar nyonya Wijaya sambil melepaskan pelukan dari Gibran dan sang suami


"iya sayang kesini" ujar Gibran sambil menepuk tempat duduk di sampingnya.


Akhirnya Riani bergegas kesitu dan duduk samping Gibran yang telah di tunjukkan tadi olehnya.


"Sudah lama kamu berdiri disitu sayang..?" tanya Gibran sambil menunjukkan tempat tadi Riani berdiri


"lumayan mas" jawab Riani


"Riani enggak mau menganggu ma" jawab Riani polos


"mana menganggu kamu kan juga termasuk keluarga kami, apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi istrinya Gibran" ujar nyonya Wijaya lagi sedangkan Gibran dan sang tuan Wijaya cuma mengangguk untuk mengiyakan perkataan sang istri


"terima kasih ma, pa sudah mau menerima Riani" ucap Riani berkaca-kaca


"iya sayang sama-sama , sudah beberapa kali sih mama bilang kalau mulai saat ini kamu adalah keluarga kami, dan kami adalah keluarga kamu, kamu paham sayang" ucap nyonya Wijaya dengan penuh kasih sayang,


Riani tidak mampu lagi untuk menjawab, dia merasa kata-katanya habis,akhirnya dia hanya mengangguk tanda paham akan ucapan sang calon mertua, kemudian Riani langsung menghambur kepelukan sang calon mertua, dia menumpahkan segala kerinduan yang bersarang di hatinya terhadap kedua orang tuanya, saat dia memeluk nyonya Wijaya dia dapat merasakan kehangatan keluarga yang selama ini ia rindukan,karena sudah lama iya merindukan kasih sayang orang tuanya yang sudah lama tidak ia rasakan.


Sedangkan nyonya Wijaya dengan pelan-pelan,membelai punggung Riani dengan lembut,dia juga bisa merasakan apa yang di rasakan Riani sekarang ini, dia juga ikut meneteskan air mata mengingat penderitaan yang di alami Riani selama ini,dan dia juga berjanji pada diri sendiri, mulai sekarang ia akan menyayangi Riani seperti ia menyayangi Gibran dia juga tidak akan menghalangi hubungan mereka apapun yang terjadi di kemudian hari.


Karena kita manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Sedangkan Gibran dan tuan Wijaya merasa sangat bangga dengan ketulusan hati sang istri dan sang mama bagi Gibran.


setelah aksi pelukan hangat mereka pun mulai berbincang-bincang dan bercanda tawa.

__ADS_1


Hari pun semakin sore Gibran dan Riani berencana untuk pamit, mereka harus pulang ke masionnya Gibran, karena besok mereka harus kembali bekerja.


"Oh ya ma,pa,kami pamit dulu ya" ujar Gibran kepada mama, papanya


"kok buru-buru sih sayang, enggak makan malam dulu..,?" tanya nyonya Wijaya


"enggak apa-apa ma, nanti kami makan di massionnya Gibran" jawab Gibran


"oh emangnya Riani tinggal di mana..?" tanya nyonya Wijaya pasalnya dari tadi ia belum tahu Riani tinggal di mana, diapun lupa menanyakannya karena saking senangnya dapat calon mantu


"di massionnya Gibran ma" ujar Gibran polos


"apa..?? ini tidak bisa di biarkan" teriak Nyonya Wijaya tiba-tiba


"kenapa emangnya ma..,?" tanya Gibran belum paham dan dia juga terkejut dengan teriakan sang mama dengan tiba-tiba


"iya ini tidak bisa di biarkan bisa-bisa nanti mama punya cucu sebelum kalian resmi menikah" ujar nyonya Wijaya berapi-api


"apa maksud mama..?, Gibran tidak mengerti, lagian Riani di sana sebagai pelayannya Gibran" jelas Gibran polos,pasalnya dia belum paham dengan maksud sang mama


"jangan pura-pura enggak paham kamu anak nakal, jadi selama ini kamu jadikan calon menantu mama pelayan kamu hah" bentak nyonya Wijaya sambil menjewer telinga sang anak


"ampun ma, dia sendiri yang mau kok ,iyakan sayang..?" ujar Gibran sambil meminta pertolongannya Riani dari amukan sang mama


"iya ma, Riani sendiri yang mau kok" jawab Riani berbohong membantu sang kekasih karena kasihan melihat sang kekasih merasa kesakitan.


"Kamu jangan membela anak nakal ini, mulai sekarang kamu akan tinggal di sini bersama kami" ujar nyonya Wijaya tidak dapat di nganggu gugat lagi


"tapi ma" ujar Gibran sambil memohon ke mamanya


"tidak ada tapi-tapian keputusan mama sudah mutlak, ayo sayang" ujar sang mama sambil menarik tangan Riani dan membawa masuk Riani lagi ke dalam massion.


Sedangkan Gibran tidak bisa berbuat apa-apa lagi,karena dia tahu kalau keputusan sang mama sudah mutlak tidak bisa di bantah dan dirubah lagi.


Akhirnya dengan langkah gontai Gibran keluar dari massion orang tuanya menuju untuk pulang ke massionnya sendiri.


Terima kasih guys atas dukungannya.


🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌻🌹

__ADS_1


__ADS_2