
🌻💖💖🌹🌻💖🌻🌹🌻🌹🌻🌹🌻💖💖💖
Cintai lah aku tanpa meminta melupakan masa lalu, karena aku juga akan mencintaimu tanpa pernah peduli bagaimana masa silammu.
💖💖🌹🌻💖🌹💖🌹🌻💖🌻🌹💖💖🌻🌹
Happy reading readerku tercinta..
Setelah mendapat alamat Dewi, Reva segera mencari dimana tempat Dewi tinggal. Tidak membutuhkan waktu lama Reva sudah sampai di tempat tujuan. Karena baginya walau seterpencil apapun tempantnya, tidak masalah baginya karena dia sering pergi ke tempat-tempat begitu.
Setelah mencari dan mencari alamatnya Dewi, akhirnya Reva menemukan apartemen nya Dewi.
Tanpa pikir panjang Reva segera membunyikan belnya.
Ting tong ting tong.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Dewi membuka kan pintu.
"Eh Buk Reva silahkan masuk"
"Emm baik" jawab Reva segera masuk ke dalam apartemen nya Dewi.
"Silahkan duduk buk"
"Iya"
"Ada perlu apa ya buk?"
"Langsung saja ya, kamu kenal dengan Riani?"
"Riani yang mana ya buk?"
"Riani OB di kantornya Gibran"
"Riani si ****** itu?" tanya Dewi mulai emosi.
"Ada perlu apa ya Buk, ibu dengan dia?" tanya Dewi lagi.
"Sebelumnya saya tegaskan jangan panggil saya ibu, panggil saya Nyonya. Apalagi saya calon istri Bos kalian" tegas Reva dengan sombongnya.
"Baik Nyonya" jawab Dewi sebetulnya dia agak malas, tetapi dia kemudian berpikir saat Reva menyebut nama Riani. Pasti Reva mempunyai tujuan yang sama dengannya, yaitu menghancurkan Riani. Jadi lebih baik untuk sementara ini, dia harus menjilat Reva agar tujuannya tercapai.
__ADS_1
"Begini Riani itu telah merayu calon suami saya, yaitu Gibran. Sehingga Gibran hampir membatalkan perjodohan kami" ucap Reva berbohong.
"Apa yang bisa saya bantu ya Nyonya?"
"Kamu bantu saya untuk menggagalkan pernikahan Riani dan Gibran"
"Hah apa? Mereka akan menikah?" tanya Dewi sangat terkejut. Ini tidak bisa dibiarkan, Pak Gibran hanya milikku batin Dewi.
"Kenapa kamu harus tegang begitu? Kayak suami kamu saja yang akan menikah. Jangan-jangan kamu suka juga sama Gibran, jangan macam-macam Gibran hanya milikku" ancam Reva.
"Bukan begitu Nyonya, saya hanya terkejut. Bukan kah si ****** Riani akan menikah dengan anak ibu-ibu di mall itu ya?" tanya Dewi penasaran.
"Ibu-ibu yang kamu maksud itu, Tante Angelina mamanya Gibran"
"Hah apa? Jadi itu ibunya Bos" kaget Dewi dia sangat terkejut.
"****** aku, kenapa aku bodoh sekali orang sepenting itu tidak ku kenali. Padahal berita tentang keluarga Wijaya sering muncul di berbagai infotainment, tapi aku malah ***** sekali. aaaaaaaa" batin Dewi dia hampir berteriak sendiri memikirkan kebodohannya sendiri.
"Beruntung sekali si ****** Riani itu, sudah Bos Gibran ganteng dapat calon mertua baik sekali, tajir melintir lagi" batin Dewi lagi.
Dia semakin iri dengan keberuntungan nya Riani.
"Pantesan aku langsung di mutasi setelah aku labrak dia kemarin itu, aku harus lakuin sesuatu biar pernikahan nya gagal. Pas banget dengan ajakan nenek sihir ini, jadi aku punya sekutu"monolog Dewi dalam hati.
"Kenapa muka kamu terkejut seperti itu? Kayak kamu dengar suami kamu selingkuh dengan pelakor?" ujar Reva penuh curiga.
"Tidak kok Nyonya, saya cuma terkejut saja. Saya pikir ibu-ibu kemarin itu ibunya selingkuhan ****** Riani itu" ujar Dewi tergagap.
"Gak usah bohong kamu, bilang saja kalau kamu ada affair sama Gibran. Tapi asal kamu tahu sebelum kamu berencana medapatkan Gibran, sudah aku depak kamu jauh-jauh" tuding Reva.
"Tidak kok Nyonya, saya mana berani"gagap Dewi.
"Dasar nenek sihir sialan, dia pikir gue akan diam saja saat dia bilang begitu. Dia pikir gue tidak berani sama dia, tetapi gue cuma menunggu waktu yang tepat buat nyingkirin elo nenek sihir. Setelah kita singkirin Riani, habis itu giliran elo. Elo pikir gue akan mengalah begitu saja, gue sudah sangat lama mencintai Bos Gibran. Tetapi elo yang akan dapatkan dia, jangan harap gue biarkan begitu saja" monolog Dewi dalam hati.
Bahaya sekali ya reader orang seperti Dewi ini, inilah umpamanya ular berbisa berkepala dua.
"Jadi apa yang harus saya lakukan Nyonya?" tanya Dewi kemudian.
"Kamu harus bantu saya menjauhi si ****** Riani dengan Gibran terlebih dahulu, habis itu saya akan membuat Gibran mabuk" ucap Reva sambil tersenyum devil.
"Setelah itu apa lagi Nyonya?" tanya Dewi semakin penasaran.
__ADS_1
"Saya tau sendiri apa yang akan saya lakukan, kamu tidak perlu tahu. Kamu jalankan saja perintah saya, tenang saja kamu akan saya kasih imbalan nya kok" ucap Reva dengan nada sombong.
"Baik Nyonya"
"Pokoknya kita sudah deal kan? Kalau begitu saya pulang dulu" pamit Reva dan tanpa menunggu jawaban dari Dewi, Reva segera berlalu dari situ.
Setelah Reva berlalu Dewi segera mengunci pintu apartemen nya kembali, kemudian berpikir resiko yang akan mereka tanggung jika rencana mereka gagal. So pasti mereka akan di tendang dari kota ini, mungkin jeruji besi akan menunggu mereka. Akan tetapi tekadnya untuk membantu Reva sudah bulat, apapun resikonya akan dia tanggung yang penting hatinya puas.
Flash on.
Kembali kediaman Riani sekarang.
Setelah kesepakatan antara Gibran dan Anggara tempo hari, mereka segera menjalankan misi mereka masing-masing untuk mendapatkan hati Riani.
Berbagi macam cara mereka lakukan, hingga membuat Riani dan seisi rumahnya pusing bukan main.
Mulai dari membantu Paman membajak sawah, walaupun bukan selesai pekerjaan Paman malah menambah. Karena saat mereka membajak sawah mereka sering bertengkar, dengan cara melempar lumpur ke arah lawan. Seperti anak SD yang mendapatkan mainan baru, alhasil lemparan mereka mengenai kerbau, hingga membuat kerbau berlarian ke seluruh sawah. Akibat ulah mereka Paman harus membajak kembali sawahnya, dan karena hal itu membuat Paman harus mengomel dan memperingatkan mereka berdua.
"Ya Allah apa yang kalian lakukan? Kalian bisa kerja tidak? Kalau tidak bisa lebih baik jangan mengacau" ujar Paman hampir hilang kata-kata.
Dan membuat Gibran dan Anggara menghentikan sejenak lempar-melempar yang sedang mereka lakukan.
"Dia yang salah Paman" ujar Anggara membela diri sendiri.
"Dia duluan Paman yang melempari saya" ujar Gibran juga ikut membela diri.
"Elu yang salah"ucap Anggara sambil melempari Gibran dengan lumpur.
"Elu yang salah" ucap Gibran juga ikut melempari Anggara.
Bisa kalian bayangkan sendiri kan reader? Bagaimana wajah tampan-tampan mereka, sudah seperti anak kerbau yang sedang berkubangan lumpur hehehehe.
"Diam" bentak Paman.
Membuat Gibran dan Anggara kembali diam dan menghentikan kegiatan mereka.
"Lebih baik kalian melakukan hal yang berguna, jangan merugikan saya" ujar Paman.
"Maafkan kami Paman" ujar mereka serempak.
Tetapi selang beberapa menit mereka kembali berulah, kali ini mereka memperebutkan cangkul.
__ADS_1
Alhasil membuat lumpur terlempar ke arah muka Paman, dan bisa dibayangkan kan? Betapa marahnya Paman dengan kelakuan mereka berdua pasti Paman akan menendang keluar mereka berdua. hu
Bersambung..