
“Ayo,” ucap Given ketika baru keluar dari kamarnya.
“Kau sudah makan pagi?” tanya Kenzo sembari berjalan menuju pintu depan.
“Belum. Kau perhatian sekali padaku,” sahut Given.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tak membuatku repot dengan pingsan di tengah meeting berlangsung,” jawab Kenzo.
Lalu Given berhenti malangkah dan menghadap ke arah Kenzo yang ada di belakangnya.
“Apakah kau memang tak bisa berkata manis? Aku penasaran siapa yang akan menikahimu nanti hingga bisa menghadapi kelakuanmu yang selalu menyebalkan itu,” kata Given.
“Aku tak akan menikah karena itu merepotkan. Kau sudah tak penasaran lagi?” sahut Kenzo.
Given melangkah maju hingga jika dia maju sedikit saja, maka dadanya akan menyentuh dada Kenzo.
“Kau tahu? Aku semakin ingin mempermainkanmu karena sikap menyebalkanmu ini,” kata Given menatap tajam mata Kenzo.
Kenzo maju dan membuat dada mereka bersentuhan dengan pakaian mereka yang menjadi pembatasnya.
Given tak mundur dan masih menatap intens mata tajam Kenzo yang menantangnya.
“Kita bisa lanjutkan nanti karena kita harus segera datang ke perusahaan,” bisik Kenzo di telinga Given.
Lalu Given mundur dan kembali berjalan menuju pintu. Kenzo mengikuti Given di belakangnya.
*
__ADS_1
*
Ketika turun ke lobby, Given kembali dikejutkan dengan kedatangan Lillia.
Tapi kali ini Lillia datang sendirian dan tak bersama Steven.
“Ada apa, Lillia?” tanya Given.
“Apakah kita bisa bicara sebentar?” tanya Lillia.
“Tak bisa karena kami sangat sibuk.” Kenzo menyela.
“Maaf, Lillia, kami akan pergi ke kantor dan ada meeting yang sudah menunggu kami. Kau bisa meneleponku saja nanti,” jawab Given.
“Aku bahkan tak tahu berapa nomer ponselmu,” sahut Lillia.
“Ini nomerku,” kata Given setelah menuliskan nomer ponselnya pada kertas itu dan memberikannya pada Lillia.
Lillia menerima kertas itu dan melihat ke arah Given.
“Thank you, Given. Nanti aku akan menghubungimu,” jawab Lillia tersenyum.
“Ya, hati hati lah di jalan,” sahut Given yang tangannya langsung ditarik oleh Kenzo.
“Kita tak ada waktu untuk beramah tamah,” kata Kenzo.
“Kau ini sama sekali tak sabaran,” sahut Given kesal karena Kenzo menariknya.
__ADS_1
Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Kenzo tak membuang waktunya kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju perusahaannya.
“Dasar pemarah,” gumam Given pelan.
Kenzo hanya diam saja dan tak menjawab apa pun. Dia hanya fokus menyetir dan hanya dalam beberapa menit saja, mereka sudah sampai di perusahaan.
“Cepatlah dan lain kali kau harus datang tepat waktu. Jadilah pegawai yang profesional,” ucap Kenzo.
“Hanya karena perusahaan membutuhkanmu lalu kau bisa seenaknya sendiri?” lanjut Kenzo dengan sedikit kesal.
Given hanya diam dan tak menjawab apa pun karen apa yang dikatakan Kenzo ada benarnya.
Lalu mereka berdua turun dan mobil bersama dan kedatangan mereka kembali menjadi perhatian para pegawai yang lain.
Gosip yang sebelumnya menyebar malah menjadi semakin ramai dengan dibumbui aneka macam gosip yang lain lagi.
*
*
Meeting berjalan lancar seperti biasanya. Dan Given kembali ke ruangannya setelah mengikuti meeting selama 2 jam lamanya.
“Given, kau dipanggil bos tampan kita,” ucap Siera — salah satu staf.
“Oooohhh … Aku benar benar pusing dibuatnya,” sahut Given dengan wajah mengeluh.
“Seandainya bisa menggantikan posisimu, maka aku akan menggantikannya sekalipun harus membayarmu,” kata teman Given yang duduk di sampingnya.
__ADS_1