
Lesca Thor 38
"Halo, Aunty," ucap Lesca ketika Natasha meneleponnya.
"Apakah kau jadi pulang hari ini, Sayang?" tanya Natasha.
"Seminarnya sudah selesai tapi bisa pulang sore ini. Maaf jika selalu merepotkan aunty," jawab Lesca.
"Itu tak masalah bagi aunty. Kau sudah tahu di mana penempatanmu, Sayang?" tanya Natasha.
"Di sebuah desa di Irlandia dan aku akan langsung ke sana. Jika aku sudah menemukan tempat tinggal yang nyaman, aku akan menghubungi aunty dan menjemput kalian," jawab Lesca.
"Baiklah, jaga makanmu, Sayang. Jangan sampai telat makan, oke?" ucap Natasha.
"Baiklah, thank you, Aunty," sahut Lesca.
Lalu Lesca menutup sambungan teleponnya.
"Lesca!!" panggil seorang pria di belakang Lesca yang tak lain adalah teman sejawatnya di kuliah kedokteran dulu.
"Ya, Duncan?" sahut Lesca.
"Kau langsung ke Dingle?" tanya Duncan.
"Ya, aku sudah memesan tiket pesawat ke Dublin lalu naik mobil ke Dingle," jawab Lesca.
"Kau tak ingin mengajukan penempatan di kota saja?" tanya Duncan.
__ADS_1
"Tidak, karena di sana sangat indah dan cocok untuk keluargaku," jawab Lesca tersenyum.
"Karirmu tak akan berkembang di sana, Lesca. Di sana hanya desa kecil saja," kata Duncan.
"Aku menjadi dokter bukan karena hal itu," sahut Lesca.
Duncan tersenyum dan mengangguk saja.
"Kita makan siang bersama?" tanya Duncan.
"Maaf, aku tak bisa dan harus langsung menyiapkan semuanya sebelum kepergianku ke Irlandia. Aku bahkan membawa roti untuk bekalku di jalan nanti," jawab Lesca.
"Jangan lupa kirim alamatmu nanti di sana. Aku boleh mampir ke sana jika ada waktu, bukan?" tanya Duncan.
"Ya. Baiklah, aku pergi dulu," jawab Lesca dan beranjak dari kursinya.
Duncan melihat kepergian Lesca -- wanita yang disukainya sejak mereka ada di bangku kuliah.
*
Lesca selama ini bekerja di rumah sakit yang ada di Birmingham.
Pendidikan dokternya baru saja diselesaikan dengan cepat setelah mengikuti lebih dari lima tahun berkuliah di Oxford.
Lesca begitu fokus pada pendidikan dokternya karena dia ingin lulus cepat dan bisa segera menjadi seorang dokter sesuai cita - citanya dan ibunya.
*
__ADS_1
*
Lesca membereskan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
Lima belas menit kemudian, Lesca akan pergi ke bandara dan dia akan menunggu di bandara sampai waktunya check in tiba.
Lesca membalas pesan- pesan yang masuk di ponselnya termasuk dari Natasha.
Senyumnya mengembang ketika melihat sebuah foto dan mengusap foto itu.
Lesca bersyukur kedua orang tuanya selalu melindungi dan selalu ada di sampingnya dalam keadaan suka dan duka.
Natasha sudah tak bekerja lagi sedangkan Franklin bekerja sebagai konsultan keuangan suatu perusahaan dan bekerja secara freelance.
"I love you," gumamnya berbisik.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Lesca melakukan check ini dan kemudian boarding.
Setelah melakukan boarding dia kembali menunggu selama satu jam sampai jadwal pesawatnya terbang.
Lesca menuju ke sebuah cafe dan minum kopi di sana. Suasana cafe cukup ramai dan Lesca bersyukur mendapatkan tempat duduk.
Lesca melihat ke arah luar cafe di mana banyak orang berlalu lalang.
"Maaf, bolehkah aku duduk di sini?" tanya seorang wanita cantik yang memakai coat warna coklat.
"Silahkan," sahut Lesca tersenyum.
__ADS_1
Wanita itu pun tersenyum.
"Terima kasih," sahut wanita itu.