
Lesca Thor 43
"Helikoter-nya sedang bermasalah. Jadi kurasa kita naik mobil saja," kata Rex.
"Aku menunggu helikopternya diperbaiki. Jadi aku akan tinggal di Dublin untuk sementara. Aku benar- benar malas untuk naik mobil selama empat jam perjalanan," jawab Thor.
"Ck, kau manja sekali," sahut Rex.
"Atau kau bisa mencarikanku sepeda motor yang bisa kupakai ke sana. Sudah lama aku tak naik motor. Pilihkan ducati hitam yang terbaru," ucap Thor.
"Oh God ... Kau benar- benar menyebalkan, Thor," jawab Rex.
"Turuti saja mauku. Aku akan tidur dulu," ucap Thor pada Rex.
Thor masuk ke kamar hotel yang sudah mereka booking.
Thor hanya membawa koper kecil saja karena dia tak suka membawa barang terlalu banyak ketika bepergian karena itu akan membuatnya semakin repot.
Dia membuka bajunya begitu tiba di kamar dan langsung naik ke atas ranjangnya.
Thor begitu lelah setelah perjalanan panjang dari New York ke Dublin yang menempuh jarak waktu selama tujuh jam lamanya.
Apalagi dia langsung berangkat ke bandara langsung dari perusahaannya setelah pulang bekerja.
Dia melakukan hal ini sebagai bentuk dukungannya pada sang adik yang sangat disayanginya itu.
Thor dan Rex sangat dekat sejak kecil meskipun sering berdebat tak penting. Tapi itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka.
*
__ADS_1
*
Malam menjelang, Rex bersiap untuk pergi ke Dingle -- rumah nenek Lemony.
"Thor, aku pergi dulu. Kau menyusullah besok pagi. Aku sudah menyiapkan sepeda motormu di depan lobby hotel. Ini kuncinya," ucap Rex pada Thor yang kini sedang melihat pemandangan kota Dublin melalui balkon kamarnya.
Thor menoleh dan Rex melempar kunci itu padanya dan Thor menangkapnya.
"Kau tak berangkat besok pagi saja? Ini sudah malam," kata Thor.
"Aku sudah sangat merindukannya. Dua minggu lebih kami tak bertemu," sahut Rex.
"Aku sudah mengirim peta rumahnya ke ponselmu," ucap Rex.
"Oke. Hati - hatilah," jawab Thor.
Kemudian Rex keluar dari kamar hotel dan pergi dari sana.
*
*
Terdengar bunyi ketukan pintu di paviliun yang ditempati Lesca dan keluarganya.
Lesca terbangun dan melihat jam masih menunjukkan pukul sebelas malam.
Lesca beranjak dari ranjangnya dengan sangat perlahan lalu berjalan keluar kamar.
CEKLEK ...
__ADS_1
"Lemon? Ada apa?" tanya Lesca sembari mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Nenek terlihat sakit sejak makan malam tadi. Apakah kau bisa memeriksanya?" tanya Lemony.
"Baiklah, tunggu aku ambil tas ku," jawab Lesca yang kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil tasnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Natasha yang baru keluar dari kamarnya.
"Nenek sakit, Aunty," sahut Lemony.
"Oh God, aku ikut melihatnya," ucap Natasha.
Lemony mengangguk dan setelah itu Lesca keluar dari kamarnya.
"Aunty ikut?" tanya Lesca melihat Natasha memakai jaketnya.
"Ya, ada Franklin yang menjaga di sini," sahut Natasha.
Lesca mengangguk dan mereka bertiga pergi ke rumah utama.
Lesca segera memerikan Leny secara keseluruhan.
Leny terlihat sangat lemah dan Leny mengeluhkan dada serta lengannya sedikit sakit.
"Nenekmu tak memiliki riwayat jantung, bukan?" tanya Lesca.
"Tidak, nenek tak punya riwayat penyakit jantung," jawab Lemony memegang tangan Leny.
"Kolesterol nenek sepertinya tinggi. Lebih baik kita bawa ke rumah sakit agar pengobatannya lebih maksimal karena bisa saja menyerang jantung karena dada nenek terasa sakit," kata Lesca.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan panggil paman Peter untuk mengangkat nenek ke mobil," jawab Lemony dengan cepat dan langsung keluar dari kamar.