
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pagi hari yang cerah. Tapi tidak secerah hati Levin. Tadi malam, ia sama sekali tidak terpejam. Levin menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur dengan menahan sejuta amarah. Ia kembali melihat video yang dikirimkan seseorang dengan nomor baru ke handphonenya. Video Monika dengan seorang lelaki. Mereka tampak begitu dekat.
"Siapa lelaki ini?" Batinnya. "Apakah Monika benar-benar bermain di belakangnya?" Levin lagi-lagi mengusap wajahnya dengan kasar.
Sepersekian detik, Levin tertawa seakan mengejek dirinya sendiri. Cinta yang selama ini dijaganya tapi dibalas dengan sebuah pengkhianatan. Luka pengkhianatannya ini terlalu menyakitkan. Ia sulit percaya. Dalam hati, dia masih bertanya-tanya, apa benar wanita yang telah dipercayanya begitu tega berkhianat? Kalau benar, kenapa? Apakah dia melakukan kesalahan hingga Monika tega melakukan itu?
Levin membuang kasar ponselnya ke atas kasur. Ia menatap keluar, menguatkan hatinya, namun ia semakin tidak mampu, rasa luka itu semakin menggores hatinya yang paling dalam dan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Levin hanya merasa sesak dan tak berdaya. Rasa sakit, perih, pedih bagai disayat-sayat sembilu semakin membuat luka di hatinya menganga.
"Apakah Monika benar-benar mencintainya. Atau benar seperti yang dikatakan Liliana bahwa Monika hanyalah menginginkan uangnya saja?"
"Dan video ini, siapa yang mengirimnya?"Levin bertanya-tanya. "Apakah Liliana? ah tidak mungkin."
Rasa sakit itu datang kembali. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya begitu marah. Tapi Levin menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu. Levin tidak sanggup untuk membendung rasa perih di dada.
Levin mencoba menarik napas dengan mulut terbuka. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengerti dengan semua ini. Untuk bertanya langsung ia tidak siap. Takut jika Monika salah paham dan memilih untuk berpisah lagi.
Levin mengusap wajahnya dengan pelan. Ia menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Sebelumnya Levin telah melacak nomor ponsel Monika lewat Google. Ia mencari nama Monika dalam kontak untuk mengetahui posisi Monika. Dan benar saja, posisi Monika benar-benar berada di kawasan cafe value. Levin menarik napasnya lagi.
Apakah ia memilih percaya, atau tidak. Saat ini pikirannya berkecamuk. Levin hanya ingin melihat, apakah Monika sungguh-sungguh mencintainya. Dia ingin membuktikan itu.
Tok tok tok !!
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar kamarnya. Ia tahu siapa yang datang. Levin hanya berjalan dan duduk di kursi sofa. Ia sama sekali tak menghiraukan suara ketukan itu.
Desmond membuka kenop pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar tuannya. Nampak bosnya masih menggunakan kemeja yang dikenakannya kemarin. Hanya saja, kini dalam keadaan berantakan dan kusut.
"Selamat pagi tuan," sapa Desmond menunduk hormat.
Levin tidak menjawabnya. Ia hanya diam menunjukkan wajah datar. Seolah-olah tidak ada Desmon di sana.
"Satu jam lagi jadwal pemeriksaan anda, tuan." ucap Desmond dengan nada pelan dan hati-hati.
Levin membuang napas sambil menutup matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Levin mencengkram kepalanya sambil menunduk. Pikirannya kacau dan terus memikirkan video itu.
"Maaf tuan, apakah anda sakit?"
"Apa terlihat seperti itu?"
"Anda tak bersemangat seperti biasanya tuan. Apa anda sakit?" Desmond menunjukkan rasa khawatirnya.
__ADS_1
Levin tersenyum kecil sambil memalingkan wajahnya sebentar. "Hatiku yang sakit, Desmond." Lalu menatap Desmond yang berdiri tidak jauh darinya. "Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Levin mengalihkan.
"Ini masalah jadwal pemeriksaan anda tuan. Saya sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk mengosongkan waktunya untuk anda." ucap Desmond lagi seperti memberitahu.
"Baiklah. Kau bisa pergi."
"Heuh? maksudnya tuan?" Tanya Desmond tak mengerti.
Levin mengembuskan napas singkat. Menatap tak suka ke arah Desmond. "Soal ke rumah sakit, kau tak perlu mengantarku. Tugasmu sekarang, pergi ke kantor dan lanjutkan sisa pekerjaanmu. Secepatnya kirim melalui email laporan lengkap mengenai detail masalah hubungan kerjasama dengan perusahaan asing. Saya tidak ingin menunggu lama. Kau mengerti?" Ucap Levin tegas, tanpa basa-basi.
Mengerti maksud dari bosnya itu. Desmond dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Baik tuan."
"Sekarang, kau boleh keluar!"
Desmond menganggukkan kepalanya. Lalu meninggalkan kamar itu.
Levin kembali mengembuskan napas panjang. Setelah menenangkan diri beberapa menit, Levin akhirnya membersihkan tubuhnya. Ia sudah menggunakan setelan jas berwarna hitam dan celana yang berbahan yang sama dengan setelan jasnya. Dengan potongan belakang Vent membuat jas yang digunakan Levin pas dan nyaman dipakai. Ia menggunakan sepatu Oxford yang mengkilap. Levin terlihat smart dan profesional, bagi siapa saja yang melihat pasti mengaguminya, sungguh Levin memiliki wajah yang sama seperti ayahnya.
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kesehatannya. Jadwal rutin setiap bulan masih tetap dilakukannya. Karena dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu untuk mendeteksi suatu penyakit secara dini, sehingga penyakit tersebut dapat dicegah dan proses penyembuhannya berpeluang lebih cepat juga.
Levin melangkah menuju garasi. Saat garasi terbuka otomatis, dari luar pagar terdengar klakson panjang dan sengaja di ulang-ulang dan ditekan sedikit dalam, membuat Levin terkejut. Levin mengerutkan keningnya, mobil itu sangat ia kenali, siapa lagi kalau bukan Monika.
" Tiiinnnnn...Tiiiiinn...Tiiiiinnnnnnnnnnnnn!"
Klakson mobil itu kembali berbunyi dan lagi-lagi sengaja di ulang-ulang agar Levin menyadari bahwa Monika ada di luar pagar.
"Rasakan ini!" Geram Monika sambil menekan-nekan klakson mobilnya.
Levin hanya bisa menarik napas sebanyak-banyaknya dari mulut dan hidungnya, ia mengumpulkannya di paru-paru lalu menghempaskan napasnya sekaligus. Mereka memang butuh bicara. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
Levin lalu mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Desmond.
"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Desmond dengan ramah.
"Atur kembali jadwal pemeriksaanku."
"Maksudnya ditunda, tuan?"
"Undur satu jam saja. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Baik tuan. Saya akan segera menghubungi pihak rumah sakit,"
Levin memijit pelipisnya. "Terima kasih. Jangan lupa selesaikan tugasmu hari ini." ucap Levin mematikan handphonenya dengan sepihak. Ia membuang asal benda pipih itu di samping kursi mobilnya.
Dengan terburu-buru Monika keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras. Monika melangkah mendekati mobil Levin.
"Keluar, Levin!" Ucap Monika mengetuk pintu kaca mobil Levin berulang-ulang. "Aku ingin kau menjelaskan sesuatu! Ayo keluar!" kata Monika di sana, ia tak perduli jika semua orang sedang memerhatikan mereka.
Levin bergeming, matanya memandang lurus tidak melihat kepada Monika yang berteriak di sana. Ia hanya mencengkeram setir mobilnya dengan kuat.
__ADS_1
"Levin, kau dengar tidak, jika kau tidak keluar, aku akan teriak dan mempermalukanmu." Ancam Monika tak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Semua mata memperhatikan mereka.
Levin mendengus kasar, ia berusaha bersikap tenang menghadapi Monika. Ia keluar dari mobil dan melihat Monika dengan posisi berkacak pinggang dan terlihat sorot matanya menunjukkan kilatan marah dan kebencian.
"Apa yang ingin kau bicarakan Monika? Apa kau sengaja ingin membuat keributan di sini?" Levin nampak geram. Ia tidak bisa lagi mengatur kata-katanya untuk berbicara lembut kepada Monika, Levin terlalu kesal dengan sikap Monika. Monika terlalu semaunya. Apakah ia harus bertahan dengan hubungan ini, Levin juga tak tahu.
"Kenapa kau yang marah? harusnya yang marah itu adalah aku!" protes Monika dengan tatapan tidak sukanya. Suaranya terdengar begitu nyaring. Sehingga semua orang terlihat berbisik-bisik di sana.
"Jangan mempermalukan aku Monika, jika kau ingin bicara, sekarang ikut aku!" titah Levin.
"Tidak! aku tidak mau! Aku ingin kita bicara disini!" Monika menatap Levin dengan tatapan tajam.
"Aku tidak ingin semua melihat kita karena kekacauan yang kau buat, Monika." keluh Levin mulai terang-terangan menunjukkan sikap tak suka kepada Monika.
"Kekacauan? bukankah kau yang memulai duluan" Kata Monika tidak mau di salahkan. "Kau sengaja mengalihkan semua panggilanku! Apa salahku?" ucap Monika dengan wajah garang.
"Bukankah kau yang tak pernah menjawab teleponku?"
"Aku sibuk Levin, pasien di rumah sakit itu banyak, aku tidak ada waktu untuk menjawab teleponmu."
"Aku juga sibuk dan tak ada waktu untuk menjawab teleponmu."
"Kau membalasku?" Mata Monika melotot tak suka.
"Aku tak pernah membalasmu. Sekarang pulanglah, aku tak ingin melihatmu."
"Tak ingin melihatku, apa maksudmu?" Monika tak suka jika Levin mengatakan hal yang melukai harga dirinya.
"Jika kau ingin bicara baik-baik, ikut aku! jika tidak, lebih baik kau pulang dan jangan membuat keributan dan mempermalukan aku di sini!" geram Levin mulai jengah dengan watak Monika yang selalu menang sendiri.
Levin melangkah memasuki pekarangan rumahnya dan meninggalkan Monika yang terdiam terpaku di sana. Monika pasrah dan mengikuti langkah Levin.
"Pak Arnold, tolong mobilnya di parkir di luar saja." Ucap Levin saat melihat pak Arnold kebetulan ada di sana. Mungkin Arnold datang saat Monika membuat keributan di sana. Levin melempar kunci mobil kepada Arnold. Dengan cepat Arnold menangkapnya.
"Siap pak!" Dengan cepat tangannya memberi hormat kepada Levin, Arnold langsung berjalan menuju mobil untuk memarkirnya diluar pagar.
Levin kembali melangkah menuju taman belakang. Ia membiarkan Monika mengikutinya tanpa bicara sepatah kata pun.
Monika nampak kesal ia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Ia hanya bisa menatap punggung Levin.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1