
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Terdengar suara langkah kaki memasuki gudang itu.
TAP TAP TAP TAP
Suara bunyi sepatu pantofel itu menggema di dalam ruangan. Kedua lelaki suruhan itu melangkah tegap mengikuti langkah Levin. Mereka tersenyum menyeringai dan puas saat melihat keadaan pria itu sangat berantakan. Salah satu dari mereka langsung memberikan kursi kepada Levin dan mempersilakannya duduk di sana.
"Silakan duduk, tuan."
"Apa Desmond belum datang?" tanya Levin sembari mengeluarkan handphonenya dari kantong celananya.
"Sepertinya beliau masih di jalan tuan." Jawab salah satu pria itu stand bye berdiri di belakang Levin.
"Heemmm." Levin melihat handphonenya tidak ada panggilan dari Desmond. Ia memasukkan kembali handphonenya ke dalam kantong celananya.
Levin kemudian menarik napas dalam-dalam, lalu menatap pria yang terus menunduk itu. Ia bersedekap sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.
"Aku tidak ingin membuang waktuku dengan sia-sia. Apakah kamu orang yang menabrak Elana di depan sekolah St Maria?"
Pria itu tak menggubris, ia terus menunduk bahkan enggan menatap Levin.
Levin kembali menarik napas, menatap pria itu dengan tajam. "Apa kau mendengarku?"
Pria itu hanya mengeluarkan suara decakan, memberikan respon atas pertanyaan Levin. Tapi kepalanya masih tetap menunduk. Kakinya bergoyang bentuk protes atas ketidaknyamanannya.
Salah satu anak buahnya maju dan memberi peringatan kepada pria itu. "Berani-beraninya kau tak menjawab pertanyaan bos kami."
Levin dengan cepat mengangkat tangannya memberikan gestur kepada salah satu pria itu agar tidak bertindak gegabah. Ia semakin mengerutkan keningnya bingung. "Aku bertanya, apakah kau orang yang menabrak keponakanku, Elana?" Tanya Levin Kembali.
Karena tidak ada sahutan dari pria itu, Levin memberi kode kepada pria gondrong yang berdiri di sampingnya. Mengerti maksud Levin, mereka mengambil air, lalu....
Byuuuuurrrrr
Pria itu di siram dengan air tepat mengenai wajahnya, Ia mengerjap beberapa kali karena terkejut. Tubuhnya sudah basah, Ia berusaha mengatur napasnya. Posisinya masih tetap duduk di kursi dan tangannya terikat ke belakang.
Pria itu tersenyum sinis, tatapannya mengunci ke arah Levin. "Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Jadi jangan buang waktumu yang berharga itu." Hal itu semakin membuatnya berani menatap ke arah Levin. Sorot matanya semakin menantang.
Levin mengerutkan keningnya. "Kenapa kau tidak ingin mengatakan apa-apa? Apa kau sengaja dibayar seseorang hingga kau takut untuk mengatakannya?"
"Hahahaha." Pria itu tertawa, bahkan tawanya mengundang sejuta makna. Antara mengejek atau hanya menutupi kekalutan hatinya. Kita tidak tahu. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Menatap tajam ke arah Levin. "Ya. Aku dibayar untuk melakukan itu."
__ADS_1
"Untuk apa? Bahkan kau tidak mengenalku."
"Siapa bilang aku tidak mengenalmu. Aku tahu siapa kau. Kau adalah lelaki penerus perusahaan Horald company. Aku melihatmu di setiap majalah bisnis. Saat aku dibayar untuk mencelakai keponakanmu yang cantik itu. Aku bisa melihat jelas kesuksesanmu lewat foto yang diberikan kepadaku. Dan kau adalah sasaran selanjutnya."
DEG!
Jantung Levin terpukul kencang saat mendengar itu. "Kau tidak takut melakukan itu?"
"Takut? hahahaha..." Pria itu tertawa hambar. "Aku tidak takut sama sekali. Ini adalah tugasku. Aku siap dibayar berapa pun untuk melakukan tugas ini." Ia menarik salah satu sudut bibirnya dengan tatapan sarkastik.
Levin mencondongkan tubuhnya membungkuk dengan siku yang terpangku di atas lutut. Ia mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. "Siapa yang memerintahkanmu melakukan itu?" Tanya Levin berusaha bersikap sabar.
"Aku tidak akan mengatakan apapun." Matanya bahkan mendelik tajam. "Jadi pergilah! Kau tidak akan mendapatkan informasi dariku."
Alis Levin menukik tajam. "Mungkin dengan memberimu pelajaran. Kau akan membuka suara." Kata Levin dengan tegas. Kali ini ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Awalnya Levin ingin bersikap baik dan meminta lelaki itu mengakui semuanya. Namun, kenyataan itu tidak semudah yang dibayangkan.
Levin berdiri dan memerintahkan lelaki itu untuk menghajarnya. Pria itu bahkan sama sekali tidak takut. Walau posisi kaki dan tangannya terikat.
BRUKKK!
Lelaki bertato itu menendang kursi sampai kursi pria itu terjatuh ke belakang. Salah satu temannya mengembalikan posisi kursi itu kembali.
"Kau masih berani tutup mulut? Kau benar-benar tidak takut mati ya? Katakan siapa yang memerintahkanmu melakukan itu?" desak pria bertato itu dengan mata merah menyala. Ia begitu marah karena lelaki itu tetap diam dan tidak mau mengaku. Jempol kaki si pelaku penabrak Elana berada di bawah salah satu kaki kursi yang diduduki pria gondrong melintang itu.
Tak cukup hanya itu, sebuah bogem mentah mendarat di ulu hatinya, sehingga ia harus membungkus merasakan ada sesuatu yang pecah di dalam tubuhnya. Teriaknya serupa lolongan, keras dan menghentak menandai rasa sakit yang tak terkira-kira.
"Apa kau diancam?" Levin berucap pelan, tapi penuh penekanan dan intimidasi. Sorot matanya menyalang tajam.
"Aku sudah katakan, ini adalah pekerjaanku." Dengan tegas pria itu mengatakannya lagi.
"Aaahhhhh...." Jeritan pria itu menggema di dalam ruangan itu. Tubuhnya sampai bergetar merasakan luka perih dari cambukan. Matanya mendelik tajam. Lalu menjatuhkan kepalanya. Tertunduk dan tidak berdaya.
"Katakan siapa yang memerintahkanmu untuk menabrak anak kecil tak berdaya itu? Jangan melawan atau kau semakin menderita." Levin berucap tegas dan matanya menyala. Ada amarah di dalam sana. Tak ada jawaban, Levin kembali memerintahkan untuk memberi pelajaran sampai pria itu membuka suara.
Satu cambukan mendarat lagi di tubuhnya. Kali ini suaranya begitu menyayat hati. Tubuhnya bergetar hebat.
"Ayooo, katakan....siapa yang memerintahkanmu!" lelaki bertato menekan perkataannya dan mencambuknya kembali.
"Aaahhhhh..." Pria itu mengaduh kesakitan. Napasnya tersengal pendek-pendek.
"Kau tidak mau bicara?"
Pria itu mengangguk samar. "Aku akan mengatakannya." Ia semakin tidak kuat. "Aku akan mengatakan semuanya." kata Pria itu akhirnya.
"Berikan dia minum." Perintah Levin kembali duduk dengan tangan melipat di depan dada.
"Baik tuan." Ucapnya menunduk sopan. Ia dengan cepat mengambilkan minuman dan memberikan kepada pria itu.
Setelah cukup tenang. Levin menarik napasnya dalam-dalam, mengunci pandangan kepada lelaki yang nampak begitu tenang tanpa ada beban itu. Ia pun kembali memberikan pertanyaan.
"Jadi siapa yang membayarmu?"
__ADS_1
"Setelah aku mengatakan ini, tolong bebaskan aku."
"Jika dari awal kau mengakui semuanya. Kau tidak akan mengalami penyiksaan seperti ini. Sekarang katakan siapa yang membayarmu?" Levin menekan ucapannya.
"Jordan Mark." Ucapnya pelan, tapi Levin bisa mendengarnya dengan jelas.
DEG
DEG
DEG
Jantung Levin terpukul kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. ia terdiam dan terus menatap lelaki itu. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Apa kau tidak salah?" Ucapnya mencoba bersikap tenang, walau debaran jantungnya masih terpukul kencang. Mata Levin bahkan tak mengedip.
"Ya, Jordan membayarku untuk membunuh keponakanmu dan setelah aku berhasil, kau adalah sasaran selanjutnya."
Heeeeeee Levin membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Tiba-tiba terbayang dalam pikirannya wajah Alessa. Untuk kali ini ia berharap Alessa tidak terlibat dalam hal ini.
"Aku dibayar tiga kali lipat jika anak itu mati. Setelah aku mendapatkan informasi ternyata anak itu hanya patah kaki. Jordan tampak marah dan menyuruhku bersembunyi."
"Selain Jordan, apakah ada orang lain juga?" ucap Levin dengan suara terendahnya.
"Ya. Dia datang bersama wanita. Mereka berdua berharap semua rencana ini berjalan dengan baik." Ucapnya meringis, menahan sakit pada bagian tubuhnya.
Saat mendengar itu, tubuh Levin seperti tidak bertenaga. Ada rasa sakit yang tak bisa ia gambarkan saat ini.
"Apa maksudmu wanita itu adalah Alessa?" Kata Levin dengan tatapan nanar.
"Saya tidak tahu namanya, yang jelas mereka sungguh dekat."
Levin mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasanya begitu marah. Tapi Levin menahannya. Ia hanya mampu menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu. Ia bangun dari duduknya. Ia tidak sanggup untuk membendung rasa perih di dada. Wanita yang selama ini dicintainya, ternyata tega melakukan itu kepada Elana. Untuk apa dia melakukan itu? Untuk apa dia merawat Elana?
"Tuan? apa anda baik-baik saja?" Ucap pria itu saat melihat perubahan wajah Levin.
Levin tak menjawab. Ia segera membalikkan badannya dan keluar dari ruangan itu. Levin berusaha menguasai perasaannya. Ia menghembuskan napasnya terbata-bata. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan.
Levin berjalan keluar, ia ingin menenangkan perasaannya. Ia kembali menarik napas dalam sambil memegang dada. Mulutnya terbuka, menggeleng pelan. Ia tertawa sambil mengusap wajahnya cukup kasar.
Tak juga mengurangi rasa sesaknya, Levin membungkuk dan memegang lututnya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Namun rasa sesak itu masih menghimpit dadanya. Menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi di dalam hatinya. Ia begitu frustasi, mencoba memahami. Tapi ini terlalu nyata. Rahangnya mengencang kuat. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Wajah Alessa terus terlintas dibenaknya.
"Kenapa kau tega melakukan ini Alessa?" Levin tertunduk. Hatinya remuk, terkoyak bahkan hancur.
Energi di tubuhnya seakan hilang entah kemana, kini yang tertinggal hanya rasa pilu dan tidak berdaya. Rasa sakit ini menggerogoti jiwanya. Untuk saat ini Levin kehabisan kata-kata.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^