
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SATU JAM SEBELUMNYA.
Monika mengeluarkan semua gaun yang ada di dalam lemari. Ia ingin memilih gaun terbaik untuk acara malam ini.
"Ini jelek, ini kurang bagus, ini norak, ini terlalu elegan, ini terlalu... Aahhhhhh..." Monika mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya dengan posisi berkacak pinggang.
"Semua gaun ini kenapa nampak jelek semua? rasanya tidak cukup seperti ini. Apa aku harus beli gaun lagi?" Ujar Monika sambil menggigit kukunya. Lama ia berdiri di sana. Ia kembali membuka lemari lainnya. Memilih beberapa gaun yang sudah lama tak dipakainya.
"Apa ini, atau yang ini?" Monika lagi-lagi mengangkat gaun itu satu per satu. Ia melihat secara bergantian dan mencocokkannya di depan cermin. "Ah... Semuanya nampak jelek." Monika membuangnya dengan kasar. Acara ini begitu penting untuknya. Acara perayaan ulang tahun Kakek Christian. Selama yang dia tahu Kakek Christian begitu menyukainya. Tentu saja ia tidak ingin mengecewakan beliau. Dan ia juga berharap bertemu seseorang malam ini di acara itu.
Tak ingin membuang waktunya dengan sia-sia, Monika akhirnya menghubungi sahabatnya untuk membawakan satu gaun untuknya. Tiga puluh menit kemudian. Gaun itu juga sudah ada di tangannya. Monika tersenyum puas, karena sahabatnya selalu mengerti fashion yang Ia inginkan.
Monika menatap penampilannya untuk kesekian kalinya di depan cermin besar yang ada dihadapannya. Monika memperhatikan semua penampilannya saat ini, dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Wajah? sudah oke!
Dress? juga sudah.
Penampilan??? hmmm, soal itu jangan diragukan lagi.
Monika terkekeh, ia kembali memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Oke, semuanya sudah sempurna."
Monika bergumam sendiri di hadapan cermin sembari menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhnya dengan aroma yang begitu menggoda.
Rambut panjang dengan warna rambut cokelat klasik yang terurai dengan mulus di bahu kanannya dan gaun merah di tubuhnya ini sangat serasi dengan warna kulitnya, membuat kulitnya terlihat lebih putih dan seksi. Gaun ini menggunakan desain bahu miring.
Posturnya yang tinggi dan ramping. Fitur wajahnya sangat indah, matanya yang cerdas dan jernih itu. Monika memiliki sifat sisi acuh tak acuh. Hingga semua pria termaksud Levin sangat menggilainya. Bisa saja karena temperamennya yang dingin itu, sebaliknya telah membuat banyak pria menyukainya, sejak kecil hingga dewasa, tidak sedikit pria yang mengungkapkan cintanya kepada Monika. Alessa sendiri tak bisa mengalahkan kecantikannya.
Monika melangkah elegan menuju garasi mobil. Sebelah tangannya memegang tas dan hadiah sudah ia masuk sebelumnya ke dalam mobil. Tak ingin terlambat, Monika membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa puluh menit kemudian akhirnya Monika tiba di rumah mewah dengan konsep desain Mediterania. Terlihat dari ukiran pada eksterior dinding serta patung-patung berukuran kecil. Deretan mobil-mobil mewah sudah memenuhi parkiran yang telah disediakan. Berbagai karangan bunga ucapan selamat ulang tahun berjejer di sepanjang area pesta. Beberapa orang security terlihat sibuk mengatur parkir mobil-mobil berharga selangit itu.
Acara ulang tahun, di jaga ketat oleh security. Para undangan wajib menunjukkan kartu undangan agar bisa masuk. Setelah Monika memberikan kartu undangnya, mobil mereka dibiarkan masuk. Di bagian pintu masuk dihiasi dengan nuansa bunga yang dibentuk seindah mungkin.
Pada saat yang sama, sebuah mobil mewah versi panjang berhenti di belakang Monika. Penjaga keamanan yang bertanggung jawab untuk mengawal mobil tersebut, segera berlari ke depan dan membukakan pintu untuk pemilik mobil tersebut.
__ADS_1
Mungkin tokoh penting yang duduk di dalam mobil itu adalah kakek Christian. Tokoh utama yang menyebabkan banyak mata orang melihat ke arah itu.
Bahkan Monika juga tanpa sadar menjadi penasaran. Pria yang turun dari mobil dengan melangkah besar dan dengan ekspresi dingin itu, ternyata Jordan Mark.
"Jordan?" Monika gagap saat menyebut nama itu. Alisnya mengerut serius.
"Benarkah itu kamu Jordan?" Ia berulang kali menenangkan dirinya sambil menarik dan mengembuskan napas beberapa kali.
Monika kembali mengembalikan pikirannya, Ia perlahan memajukan langkahnya satu per satu. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan. Lelaki yang menghilang bak ditelan bumi.
Napas Monika keluar tidak stabil. Ia tidak tahan lagi dengan segala gejolak yang muncul di dadanya. Setidaknya ia ingin memastikan apakah benar itu Jordan. Ia memajukan langkahnya, berusaha menerobos dari kerumunan orang-orang yang ada di sana. Ia mencoba menenangkan jantungnya yang memicu begitu cepat. Monika sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dirinya bisa bertemu dengan Jordan di acara penting ini. Bahkan Jordan yang dikenal sebagai lelaki keras kepala itu enggan untuk pulang dan kali ini dia pulang?
Langkahnya terhalang, Monika kehilangan jejak Jordan.
"Astaga, kemana dia?" Monika mengembuskan napas frustasi. Ia terus mencari keberadaan Jordan. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu. Monika akui, Levin hanyalah tempat pelampiasannya saja. Ia menerimanya cinta Levin, karena saat itu ia begitu frustasi. Mungkin dengan menerima Levin, ia bisa melupakan lelaki itu. Tapi nyatanya, setelah Jordan kembali. Perasannya masih tetap sama.
"Silakan ikut saya, nona." Tiba-tiba seorang pelayan berdiri di hadapan Monika.
Monika tersentak saat seorang lelaki tiba-tiba muncul di depannya.
"Maaf, membuat anda terkejut. Acaranya di taman bekang, nona."
Monika hanya mengangguk. Pelayan itu mengarahkan Monika langsung ke taman belakang. Monika hanya mengikuti pelayan itu menuju tempat acara perayaan ulang tahun Kakek Christian.
Hingga Ia sampai di taman yang begitu luas dengan dipenuhi dekorasi yang sangat cantik. Dekorasi glamor di setiap sudut taman benar-benar indah sekali. Ada tambahan lampu dan lilin sebagai penerangan untuk menambah suasana menjadi tetap kesan hangat. Lilin ditambahkan sebagai hiasan pada meja makan, sedangkan lampu di gantungkan pada pohon. Rangkaian bunga yang tersebar di setiap sudut ruangan dan halaman rumah menjadi lebih cantik. Sementara pada meja dan kursi di hias dengan pita dan kain berwarna senada dengan tema garden.
Huffff.... Monika mengembuskan napas panjang. Ia frustasi karena tidak bisa menemukan Jordan. Monika akhirnya memutuskan bertemu Kakek Christian.
"Permisi, saya ingin bertemu kakek Christian." Ucap Monika dengan sopan. "Saya ingin mengucapkan selamat kepada beliau dan memberikan ini." Ia menunjukkan sebuah kado berukuran besar yang ada di tangannya.
"Baiklah. Silakan ikut saya!"
Monika hanya mengangguk dan mengikuti langkah Pria itu. Pengurus rumah tangga Christian mendorong pintu masuk ke ruang kerja dan berkata, "Tuan, ada seseorang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa?"
"Selamat malam kakek, ini Monika." Monika mengintip dibalik pintu.
"Monika?" Pria tua itu terkejut saat mendengar nama itu. "Benarkah itu kamu Monika?" tanya Kakek Cristian bangun dari duduknya, lalu berjalan menemui Monika. Ia menyambutnya dengan senyum antusias.
CEKLEK!
Monika menutup pintu itu kembali. Ia pun membalas senyuman kakek Christian.
"Selamat malam kakek." Sapa Monika Kembali. Ia tersenyum sopan saat melihat kakek itu datang mendekat ke arahnya.
"Astaga...ini benar-benar Monika," Kakek Christian menangkup ke dua pipi Monika, menatapnya dengan senyum haru.
__ADS_1
"Benar kakek, saya Monika." Jawab Monika tersenyum.
"Dari mana kau mendapatkan undangan ini?"
"Dari Daddy. Daddy memintaku untuk menghadiri acara ulang tahun Kakek."
"Kau tidak berubah. Kamu mirip seperti ibumu." ucap kakek Christian tersenyum. Ia tidak bisa menutupi ekspresi bahagianya. Perasannya saat ini seperti bertemu dengan artis idola. Monika hanya tersenyum saat mendengar itu.
"Kakek terlalu memujiku."
"Tidak Monika, ini kenyataan." Kakek Cristian mengambil tangan Monika, lalu mengusapnya dengan lembut, ia tersenyum menatap ke arah Monika lagi. "Mari kita duduk! Kakek begitu bahagia bisa bertemu denganmu."
"Apa kabar kakek?" Tanya Monika kemudian.
"Seperti yang kamu lihat, saya sehat dan masih gagah!"
"Saya tahu anda suka mengoleksi, secara khusus saya membawakan ini untuk Kakek. Lukisan pemandangan ini saya dapatkan dari rumah pelelangan. Saya mendoakan Anda seperti pemandangan ini, terus menerus mengalir deras dan awet muda selamanya."
Mendengar itu kakek Christian tertawa. "Terima kasih gadis cantik. Kau memang bisa diandalkannya." Ucap pria berusia 70 tahun itu dengan semangat.
"Bagaimana, kau sudah bertemu Jordan?"
"Apa Jordan ada?" Monika pura-pura tidak tahu.
"Hmm. Jordan baru saja menemui kakek."
"Aku pikir, Jordan tidak akan pernah kembali lagi."
"Hahahaha...Itu tidak mungkin. Jordan berubah setelah aku mengancamnya."
"Apakah dia masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Monika.
"Jordan tak pernah menceritakan kepadaku. Aku harap dia tidak berhubungan dengan wanita itu lagi."
Monika hanya diam tak berekspresi apa-apa. Kakek Christian bisa menangkap ekspresi itu. "Apa kau masih berharap kepada Jordan?"
Monika lagi-lagi diam. Ia hanya menundukkan kepalanya.
"Aku tahu perjuanganmu selama dua tahun mengejar Jordan ke London. Dan aku tahu juga Jordan berusaha menghindari kamu."
Monika tersenyum hambar, Ia meremas kedua tangannya. "Apakah aku harus mengatakannya?"
"Kenapa? Kau tidak cukup kuat untuk menyimpan rahasia itu lagi. Selama ini semuanya baik-baik saja. Kau berjanji untuk tetap menyimpan rahasia itu."
Monika mengangguk lemah. Dia sadar akan itu. Kini ia tak perlu memikirkan lelaki itu lagi. Dan dia sudah berjanji untuk tidak mengungkit masalah itu.
"Kakek mengerti apa yang kamu rasakan. Nanti kakek akan coba bicara dengan Jordan."
__ADS_1
Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.