
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Alarm pagi dari handphone Alessa melantunkan nada yang memancing hormon kortisolnya berproduksi lebih banyak agar terbangun. Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku untuk pagi ini. Alessa sudah terbangun sejak tadi dan terduduk di tepi kasur. Tepatnya ia hanya tertidur beberapa jam saja dan tidak bisa kembali tidur. Kelopak bawah matanya cekung karena kurang tidur. Bahkan ada bayangan hitam yang menghiasi mata itu.
Alessa menatap sejenak handphonenya dan mematikan bunyi alarm yang sejak tadi berbunyi itu dengan tidak semangat. Masih pagi dan Alessa sudah m*ndesah. Ia bahkan tidak tahu harus memulai dari mana paginya ini. Alessa tersenyum sambil membuang napasnya. Senyuman miris yang terlihat pilu. Sepilu hatinya yang terus memikirkan kenapa masalah ini selalu datang bertubi-tubi kepadanya.
Dadanya sesak dan kembali menangis saat mengingat pemecatannya dari rumah sakit tempatnya bekerja. Kemarahan pak direktur terlihat jelas pada saat itu.
FLASH BACK ON.
Setelah melihat kedatangan pak direktur. Alessa pun segera melangkah menemui direktur rumah sakit.
Tok tok tok!
"Permisi, pak." Alessa mengintip dari ujung pintu. Hal yang bisa ia lakukan. Dia tidak pernah menjaga jarak dengan pemimpin rumah sakit ini. Alessa menganggapnya sudah seperti ayah sendiri.
"Selamat pagi pak, bapak memanggilku?"
Tidak ada jawaban.
Alessa memilih masuk. Ia melihat pak direktur tengah duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan posisi mata terpejam.
Alessa melangkah pelan mendekati pak direktur. Langkah kaki dan bunyi sepatunya terdengar oleh lelaki itu. Alessa sudah berdiri dengan jarak dua meter di depan pak direktur. Namun pria paruh baya itu tidak juga mengubah posisinya.
"Pak?" Panggil Alessa dengan lembut.
Pak direktur masih terdiam dengan kepalan tangan yang kuat.
"Maaf pak sebelumnya, apa ini mengenai Elana? Maksud saya apa ini mengenai keponakan...."
Belum juga Alessa menyelesaikan kalimatnya. Pak direktur sudah mengangkat tangannya, gestur yang dipahami Alessa. Mengisyaratkan Alessa tetap diam dan tidak melanjutkan kalimatnya.
Glek!
Alessa menelan salivanya begitu susah. Ia meremas tangannya dan diam di posisinya dengan satu tarikan napas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Alessa menerka-nerka dalam hati. Perasaannya tidak enak. Ia hanya bisa menunggu sampai pak direktur meresponnya.
__ADS_1
Ruangan itu kembali hening, bahkan suara jantungnya sampai terdengar oleh Alessa sendiri. Ia benar-benar tidak nyaman dengan suasana ini. Pak direktur masih tetap diam dengan posisi mata terpejam.
SEPULUH MENIT BERLALU.
Pria itu menarik napasnya dalam-dalam dan langsung menegakkan badannya. Menatap Alessa dengan tajam.
Alessa tersenyum samar saat pak direktur sudah mengubah posisi duduknya. Alessa menelan salivanya berulang kali. Ia menyatukan ke dua tangannya di depan dan menunggu sampai pak direktur bicara.
"Aku ingin kau menjelaskan dari awal sampai akhir kenapa tuan Horald sampai menarik semua sahamnya dan memindahkan keponakannya dari rumah sakit ini? Bahkan beliau berkata tidak ingin berurusan dengan rumah sakit Mitra?" Tatapan tajamnya saat ini siap menghunus jantung Alessa.
"Apa pak?" Ucap Alessa sedikit tergagap. Ia tidak mengerti kenapa pak direktur bisa menanyakan alasan kenapa tuan Horald mencabut semua sahamnya. Tentu saja Alessa tidak tahu masalah itu.
"Jawab sekarang!" pria itu mengangkat alisnya menatap Alessa.
"Apa yang mau saya jawab pak, saya juga tidak tahu apa alasan tuan Horald melakukan itu." Jawab Alessa.
"Kau tidak tahu?" Tanya pria itu dengan tatapan intimidasinya.
"Benar pak, saya tidak tahu apa-apa."
Pria itu tersenyum samar. Tangannya di lipat di atas meja. Ia terlihat tenang. "Bukankah kau terlibat dalam kecelakaan keponakan tuan Horald? Apakah karena itu kau sengaja mengambil cuti dan berpura-pura membuat alasan mau menikah, begitu?"
DEG!
Jantung Alessa berdetak begitu kuat. Wajahnya menegang, matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. "Apa maksud bapak? Saya terlibat dalam kecelakaan Elana?" Alessa begitu terkejut.
Pria itu tersenyum tipis, tatapan matanya turun ke bawah. Berusaha tetap tenang untuk meredam emosinya. "Kenapa kau balik bertanya, dokter Alessa?" Rahang pria itu mengencang.
"Jujur saja dokter Alessa. Kau tidak perlu mengelak lagi. Kau sengaja merencanakan ini semua agar dekat dengan beliau, kan?"
Deg...
Lagi-lagi hati Alessa bagaikan tertancap pisau saat mendengar itu. Ia menghembuskan napasnya meski kini keluar terbata-bata. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa ia dituduh. Sementara Alessa tidak tahu apa-apa. Napasnya tersendat. Mencoba menyalurkan segala rasa sedih yang meluap begitu perih.
"Pak, aku...aku... sungguh..." Lagi-lagi Alessa tidak bisa melanjutkan ucapannya. Hatinya begitu sesak saat ini.
"Baik, jika kau tidak ingin menjelaskannya. Tidak apa-apa dokter Alessa. Sekarang buat surat pengunduran dirimu. Hari ini kau di pecat dari rumah sakit ini."
Alessa terus menggeleng dan menatap pak direktur dengan pandangan nanar. Seketika matanya berkaca-kaca. "Kenapa saya dipecat pak? Saya tidak melakukan kesalahan apapun dan tolong tunjukkan bukti saya melakukan itu."
"Kau masih berani mengatakan itu?" Pria itu menggebrak meja sampai membuat Alessa mengerjap kaget.
"Saya sungguh-sungguh tidak melakukan itu."
Pria itu diam dengan tatapan tanpa ekspresi. Ia mengeraskan rahangnya sambil meremas tangannya dengan kuat. Dan lebih-lebih ia malah menguatkan hatinya agar keyakinannya tidak goyah. Ia hanya membuang napasnya, berdecak tidak suka atas tindakan dokter yang baru tiga bulan bekerja di rumah sakit Mitra. Pria itu menarik napas dalam-dalam. Ia meremas tangannya erat-erat. Ia sudah terlalu kesal karena tuan Horald sudah menarik semua sahamnya. Itu tentu kerugian terbesar bagi rumah sakit Mitra.
"Saya lebih percaya tuan Horald. Dia tidak mungkin semarah ini jika kau tidak terlibat dalam kecelakaan itu. Jadi semua sudah jelas, kau tidak bisa bekerja di rumah sakit ini lagi?"
"Saya tidak akan membuat surat pengunduran diri, karena saya tidak pernah melakukan itu." Alessa membela diri. Ia tidak terima pemecatannya. Tuduhan ini terlalu menyakiti hatinya. Air matanya tergelincir membasahi pipinya. Dengan cepat Alessa mengusapnya.
__ADS_1
"Saya tidak mau tahu. Silakan buat surat pengunduran dirimu. Saya tunggu satu jam."
Seketika badan Alessa lemas, seperti tak bertulang. Ia lunglai dan langsung terduduk di lantai. Bahu Alessa bergetar dan menangis. "Bagaimana mungkin saya dituduh melakukan itu tanpa ada bukti pak. Saya tidak bisa terima itu." Suara Alessa bergetar menahan tangisannya.
"Saya tidak butuh alasan lagi. Sekarang, kau bisa keluar!" ucap pria itu dingin.
Alessa terdiam sesaat. Ia menarik napasnya sejenak. Rasanya sangat sakit. Alessa bangun dan berdiri dihadapan pak direktur.
"Baik. Saya akan membuat surat pengunduran diri. Tapi percayalah, saya tidak pernah terlibat dalam kecelakaan Elana. Saya menyayangi Elena dengan tulus tanpa ada tujuan apapun seperti yang bapak katakan tadi."
Pria itu tak menjawab, ia kembali sibuk memeriksa dokumen yang ada di atas mejanya.
Alessa menarik napas panjang. Ia menegakkan punggung. Merapatkan kakinya, Alessa menunduk 45 derajat untuk memberi hormat untuk terakhir kali. "Kalau begitu saya permisi, pak." Alessa tetap menahan kepalanya sambil mencengkram erat tangannya yang mengepal. Ia kembali menegakkan punggung dan kembali melihat ke arah pak direktur yang tak memandangnya sama sekali.
Alessa pun meninggalkan ruangan pak direktur. Alessa menangis sambil memegang dada. Ia mendongak berusaha untuk bernapas untuk mengurangi rasa sesaknya.
"Jangan cengeng Alessa. Kau tidak melakukan apapun." kata Alessa menguatkan hati. Dengan cepat ia mengusap air matanya yang terus terjatuh membahasi pipinya.
Satu jam telah berlalu. Ia hanya tetap diam dan tidak membuat surat pengunduran dirinya. Samantha tidak tahu bahwa mulai hari ini, dia tidak bekerja di rumah sakit ini lagi. Hari ini Samantha lepas dinas. Sahabatnya itu pasti terkejut mendengar kabar pemecatannya.
Tiba-tiba seorang security datang menemuinya. Ini membuktikan bahwa ia secara tidak langsung di usir dari rumah sakit ini.
"Permisi dokter Alessa, pak direktur meminta anda untuk segera meninggalkan tempat ini."
Alessa menarik napas berat, ia menatap security itu dengan tatapan sendu. "Kasih aku waktu satu jam. Aku akan membuat surat pengunduran diriku dengan cepat."
"Baik, saya akan tunggu di sini."
"Tidak pak, tolong beri aku waktu. Aku akan pergi dalam waktu satu jam. Tolong tinggalkan aku sendiri, pak." ucap Alessa dengan tegas.
"Tapi ini perintah pak direktur."
"Aku mohon pak," Ucap Alessa lagi.
"Baiklah. Saya tunggu Dokter Alessa di depan pos security."
"Terima kasih atas pengertiannya pak." Kata Alessa menundukkan kepalanya lagi.
Alessa menarik napas dalam-dalam. Ia mengambil box ukuran sedang dan memasukkan semua barang-barangnya. Ia membawanya tanpa tersisa. Setelah selesai dengan barang yang ada di sana. Alessa membuat surat pengunduran dirinya. Satu tetesan air mata terjatuh begitu saja. Mewakili perasaannya yang begitu sakit karena dituduh terlibat dalam kecelakaan Elana. Alessa melepaskan lagi semua yang dirasakannya. Lalu menahan napas. Setelah selesai membuat surat pengunduran dirinya. Alessa memberikan tanda tangannya di atas kertas itu. Ia lalu meletakkannya di atas mejanya.
Alessa bangun dari duduknya, ia mengedarkan pandangannya. Tanpa sadar, air mata Alessa menitik lagi ke pipi. Ia langsung menghapusnya dengan tangan. Ia lalu melangkah meninggalkan ruangannya. Alessa terus berjalan dengan pandangan kosong.
Melihat Alessa membawa kotak box ukuran sedang, sontak membuat rumah sakit heboh. Ada beberapa dari mereka ikut-ikutan membuat analisis. Awalnya sekadar bisik-bisik. Namun, lama-lama menjadi seperti seminar meskipun tanpa makalah. Mereka menganggap dokter Alessa memang benar-benar terlibat dalam masalah dengan pemimpin perusahaan Horald. Meskipun 90 persen orang yang bekerja di rumah sakit ini berstatus sarjana, analisis itu justru begitu mudah menyebar dan diterima. Tak mau ketinggalan, mereka ikut-ikutan menyaksikan kepergian dokter Alessa itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^