
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Levin membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya jauh melayang saat mengingat kejadian di kantor tadi. Ia juga galau dan cemas handphone Alessa sampai saat ini tidak bisa dihubungi. Tapi Levin lebih memilih berpikir positif. Mungkin saja Alessa tidak ingin diganggu.
Setelah perjalanan tiga puluh menit di tempuhnya. Akhirnya Levin tiba di perumahan Flower. Ia memarkir mobilnya dengan baik. Levin keluar dari mobilnya sambil membenarkan jasnya.
Saat melihat kedatangan mobil Levin Horald, Alberto segera berlari menemui lelaki yang sudah satu bulan ini tidak pernah kembali ke perumahan Flower.
"Selamat siang tuan," Sapa Alberto dengan senyuman ramah.
Mendengar suara tak asing di telinganya. Levin segera membalikkan badannya dan membalas senyuman itu. "Selamat siang pak Alberto,"
"Bagaimana keadaan Elana, tuan?" Tanya Alberto ragu. Ia tahu betul alasan Levin kembali ke kediaman Horald, karena Elana harus mendapatkan perawatan yang intesive di rumah sakit ternama di kota A.
Levin tersenyum. "Elana jauh lebih baik. Dia anak yang paling rajin kontrol ke fisioterapi. Semangatnya, mempercepat proses penyembuhannya. Sudah banyak perubahan pada kakinya. Setelah operasi kedua dilakukan dalam waktu terdekat ini, dokter mengatakan kakinya akan kembali bisa diajak berjalan dalam satu bulan lagi."
Alberto tersenyum bahagia. "Syukurlah tuan, saya ikut bahagia mendengarnya. Elana anak periang dan ramah. Saya yakin kepada Elana, proses penyembuhannya cepat, berkat semangat hidupnya."
Levin tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih atas perhatiannya pak,"
"Sama-sama pak," Alberto tersenyum sedikit menunduk.
"Kalau begitu saya permisi pak Alberto."
"Silakan pak," Tangan Alberto mengulur dan mempersilakan Levin pergi. Namun, tiba-tiba ia teringat pesan Alessa.
"Tuan," Panggil Alberto lagi.
Levin berbalik. Matanya memicing melihat ke arah Alberto. "Iya, pak."
"Ada pesan dari nona Alessa."
"Heuh? Pesan dari Alessa?" Levin mengangkat Alisnya antusias mendengar nama wanita yang ingin ditemuinya itu.
"Iya tuan." Alberto menahan senyum saat melihat ekspresi Levin.
"Apa pesannya?"
"Nona Alessa tak pernah melihat anda di perumahan flower. Jadi sebelum dia pergi, dia menyampaikan salamnya kepada anda."
"Pergi? Maksudnya bagaimana pak?" tanya Levin semakin tidak mengerti, ia seperti orang bodoh di sana.
Alberto nampak bingung. Ia mengernyitkan keningnya, menatap Levin lekat-lekat. Bagaimana bisa tuan Levin tidak tahu nona Alessa meninggalkan perumahan flower? melihat kedekatan mereka selama ini. Walaupun tidak pernah bertemu, setidaknya mereka pasti berkomunikasi.
"Jawab saya pak, kemana Alessa pergi?"
"Heuh?" Alberto mengerjap. "Apa anda benar-benar tidak tahu tuan?"
"Apa maksudmu? kalau saya tahu, saya tidak mungkin menanyakan kepada bapak. Kemana Alessa pergi?" Tanya Levin tidak sabaran.
Menyadari perubahan wajah Levin, Alberto segera menunduk. "Maaf tuan, nona Alessa sudah meninggalkan perumahan flower tadi pagi."
"Apa?"
"Beliau kembali ke kota A dan tidak tinggal di sini lagi." lanjut Alberto.
__ADS_1
Levin tertegun, napasnya seakan memburu, ia tersentak tak bisa berkata apa-apa lagi. Saat ini ia seperti orang kebingungan, mencoba mengerti dengan situasi saat ini.
"Alessa pergi?" Gumam Levin masih tak percaya.
"Benar tuan. Saya juga tidak tahu kenapa nona Alessa pergi? Bukankah dia baru bekerja di rumah sakit Mitra? Apakah jangan-jangan berita pernikahan itu benar-benar ada, tuan? Saya pernah mendengar kabar, nona Alessa akan menikah."
Levin mengembuskan napas frustasi. Ia menatap Alberto lagi. "Apa Alessa tidak kembali lagi?"
"Saya kurang tahu tuan, yang jelas semua barang-barangnya besok sudah di kirim."
Levin memejamkan matanya, berusaha menekan segala perasaannya. Apakah karena perkataannya? apakah Alessa pulang karena pemecatannya? Levin tersenyum miris, bahkan ia menggelengkan kepalanya, tidak percaya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya. Tiba-tiba terbayang dalam pikirannya. Apa yang telah di ucapkannya kepada Alessa. Levin membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Ia begitu frustasi saat ini.
"Tuan, anda tidak apa apa? wajah anda pucat. Apa saya mau ambilkan minuman?"
"Tidak, saya tidak apa-apa." Kata Levin menjawab cepat, wajahnya sudah berubah sendu.
"Pak kalau anda ingin meminta informasi mengenai nona Alessa. Besok temannya datang ke sini untuk membawa sisa barang-barangnya." Kata Alberto memberitahu.
Tidak ada sahutan dari Levin, ia hanya berjalan meninggalkan Alberto yang nampak kebingungan.
"Apa yang terjadi? Kenapa beliau terlihat sedih? Apa jangan-jangan tuan Levin memang tidak tahu kepergian nona Alessa?" Ucap Alberto menatap punggung Levin.
Dengan langkah gontai Levin melangkah menuju rumah Alessa. Dengan rasa sesak, ia pun memasuki pagar rumah itu. Levin berjalan memasuki taman mini dan jalan setapak yang melewati bagian tengah taman kecil untuk masuk ke rumah itu. Taman yang memiliki rumput luas yang besar, ditutupi dengan jalan batu yang melengkung. Levin menarik napasnya yang terasa berat.
Levin kini berdiri di depan pintu rumah Alessa. Ia pernah melihat Alessa membuka pintu rumah itu. Levin mencoba menekan tombol-tombol yang ada di sana. Dan berhasil, pintu itu terbuka. Ternyata Alessa belum mengganti pin rumahnya.
Levin melangkah masuk. Perasannya campur aduk saat ini. Ia mengedarkan pandangannya, melihat setiap sudut ruangan. Sofa berwarna krem berbentuk letter L dengan meja kecil masih ada di ruangan itu. Kamar dengan kasur ukuran king size tertata rapi. Lemari-lemari ekslusif dengan design cermin elegan, ditampilkan dengan beberapa bilik dan menggunakan sekat. Tidak ada foto lagi yang di pajang di dinding. Kini menyadari Alessa memang sudah pergi. Dengan tatapan kosong, ia termangu dengan posisi berdiri dan menundukkan kepalanya.
Levin merasakan sesak yang tak bisa ia artikan. Apakah sesak karena Alessa pergi? apakah sesak telah menyakiti hatinya? Levin tidak tahu. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah merenungi semuanya.
Levin kembali menarik napasnya dalam-dalam.
"Setidaknya kau bertahan Alessa. Aku terlalu dikuasai emosi. Tanpa mencari tahu kebenaran. Aku terlalu sakit, mengingat pernikahanmu tinggal di depan mata. Dan kenapa aku begitu yakin jika wanita yang berkerjasama dengan Jordan itu adalah kau. Aku memang bodoh. Bisakah aku tarik kembali perkataanku itu? tapi sekarang kau sudah menganggapku lelaki yang tidak punya hat. Lelaki yang telah menyakiti perasaanmu. Kini kau pergi...pergi dan tidak akan kembali lagi. Apa yang harus aku lakukan?" Lagi-lagi Levin tersenyum miris.
Levin meratapi kebodohannya. Ia menyadari, saat ini yang ia butuhkan adalah “ bicara ”, tapi harus bagaimana, Alessa tidak ada lagi. Hanya ada memori, memori yang membuatnya pilu.
Levin menarik dan menghembuskan napasnya dengan cepat. Energi di tubuhnya seakan hilang entah kemana, kini yang tertinggal hanya rasa lesu dan tidak berdaya. Penyesalan itu menggerogoti jiwanya. Sesak, hampa, seperti ada lubang besar dan dalam yang tiba-tiba menyayat hatinya.
Levin tiba-tiba mengingat perjodohan konyol yang diatur Daddynya. Ia segera melangkah meninggalkan rumah Alessa.
⭐⭐⭐⭐⭐
Levin memutuskan kembali ke kediaman Horald. Dia ingin menolak perjodohan itu. Ia berulang kali mengatur napasnya.
Elisabeth yang baru rasa kembali dari rumah sakit, terkejut saat melihat Levin sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Sayang, bukankah hari ini kamu bertemu klien?" Elisabeth memeluk putranya dan duduk disampingnya.
"Aku tidak ingin pergi." Levin menjawab tanpa ekspresi.
Elisabeth mengerutkan keningnya, menatap Levin dengan penuh tanda tanya. "Kenapa sayang, bukankah pertemuan ini begitu penting?"
"Penting? Bukankah pertemuan ini bagian rencana kalian untuk menjodohkan aku, mom?" Levin menatap mommy-nya dengan serius.
"Perjodohan?" Elisabeth terkejut. "Perjodohan apa maksudmu sayang?"
"Bukankah mommy tahu masalah perjodohan ini?"
Elisabeth menggeleng, "Mommy tidak tahu apa-apa. Daddymu tidak pernah mengatakan masalah itu." Tegas Elisabeth.
Levin menarik napasnya. "Aku tidak mau dijodohkan. Aku berhak memilih sendiri pendamping hidupku dan aku sudah memilikinya."
Elisabeth mengerutkan keningnya. "Maksudmu Monika? Bukankah hubungan kalian sudah berakhir?"
"Dia bukan Monika mom,"
__ADS_1
"Terus siapa?"
"Nanti aku akan membawanya ke sini."
Elisabeth mengembuskan napas singkat. "Baiklah. Nanti mommy sampaikan kepada daddy. Jangan pikirkan masalah itu lagi.
Levin hanya mengangguk dan langsung beranjak meninggalkan Elisabeth di sana.
"Sayang, kamu tidak ke kantor lagi?"
"Tidak mom, aku ingin istirahat." Sahut Levin memilih masuk ke dalam kamarnya. Menenangkan pikiran adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Sementara Elisabeth langsung menghubungi suaminya.
"Hmmm, ada apa sayang?"
"Kamu menjodohkan Levin ya?" Tanya Elisabeth tanpa basa-basi.
"Dari mana kamu tahu?" Leonardo balik bertanya.
"Dari Levin. Dia datang ke sini dan menolak perjodohan itu."
"Jadi Levin di rumah?"
"Hmm. Dia tidak ingin bertemu dengan wanita itu. Lagian buat apa kamu menjodohkan Levin? Bukankah kamu menentang keras soal perjodohan?" bentak Elisabeth.
Leonardo menghela napas panjang. "Aku bukan bermaksud untuk menjodohkan Levin."
"Jadi buat apa kamu merencanakan perjodohan ini?"
"Sayang....dengarkan aku dulu. Aku tidak pernah melihat Levin serius menjalin hubungan dengan seorang wanita. Kamu sudah lihat sendiri dengan Monika. Dia tidak pernah menunjukkan keseriusannya."
"Memiliki pasangan hidup tidak seperti memilih buah jeruk di pasar. Jadi, jangan pernah memikirkan perjodohan itu lagi. Karena Levin sudah memiliki wanita yang dicintainya."
"Maksudmu dia balikan lagi dengan Monika?"
"Tidak sayang. Dia bukan Monika."
Leonardo tersenyum. "Baiklah. Kita tunggu saja kabar baik darinya."
"Hmmm. Ingat, jangan pernah memikirkan perjodohan itu lagi." ancam Elisabeth.
Leonardo terkekeh. "Iya sayang."
"Soal pertemuan klien bagaimana? Levin sepertinya tidak mau pergi."
"Soal pertemuan klien biar saya yang menghadirinya."
"Baiklah. Semoga kerjasamanya berjalan dengan baik." Elisabeth menyemangati.
"Hmmm."
Tit!
Panggilan telepon pun terputus. Elisabeth mengembuskan napas lega. Ternyata perjodohan itu yang akal-akalan suaminya saja. Elisabeth tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1