
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Mobil yang mengantar Alessa akhirnya tiba di bandara.
Ting.... ning...ning...ning.
Bunyi nada pembuka pengumuman yang sering bergema di bandar udara kini terdengar di telinganya.
"Aku turun di sini pak,"
Mobil taksi yang di tumpanginya berhenti. Supir taksi langsung mengeluarkan koper dan menariknya berada di dekat Alessa.
"Terima kasih pak." Alessa tersenyum sambil memberikan uang taksinya dan memegang ujung koper miliknya.
Kembali bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara. Alessa berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan. Ia mendorong kopernya. Langkah Alessa begitu pelan, sampai di depan pintu gerbang. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat sekitarnya. Alessa menguatkan hatinya, Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya.
"Apa yang aku pikirkan? Jangan berharap Levin akan datang mengejarmu, Alessa. Itu tidak mungkin!" Ucapnya dalam hati.
Alessa menghembuskan napasnya lewat mulut. Lalu ia memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in dan menunggu di gerbang keberangkatan. Alessa melangkah dengan senyum hampa.
Alessa memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Setelah melalui tahap itu, ia kembali melangkahkan kakinya masuk menuju pesawat. Ia duduk di kelas bisnis. Alessa langsung menggunakan sabuk pengaman tanpa menunggu instruksi dari pramugari. Setelah semuanya aman, Alessa menarik napasnya dalam-dalam. Melayangkan tatapannya ke arah luar. Sepertinya hujan gerimis akan menemani perjalanannya hari ini.
Tepat pukul sepuluh. Pesawat mulai bergerak, dan beberapa menit kemudian benda baja itu sudah terangkat dan berada di atas jalur. Saat pesawat sudah terbang ke udara. Alessa memejamkan matanya memilih tidur.
⭐⭐⭐⭐⭐
Saat polisi membawa Jordan keluar dari ruangannya, Levin langsung melepaskan napas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengambil handphonenya untuk menghubungi Alessa. Mungkin bertemu dan meminta maaf adalah pilihan tepat untuk saat ini. Levin mengerutkan dahinya saat handphone Alessa tidak aktif.
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA DI LUAR JANGKAUAN. COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI.
Levin menarik napasnya dan mencoba menghubungi Alessa kembali. Namun hasilnya masih tetap sama.
THE NUMBER YOU ARE CALLING IS NOT ACTIVE OR OUT OF COVERAGE...
Tit! Levin langsung mematikan handphonenya. Pandangannya sayu saat menurunkan ponselnya. Bayangan Alessa tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Levin menarik napasnya cepat. Berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Kenangan singkat bersama Alessa terlintas dibenaknya. Satu bulan lebih menghindari Alessa, menjadikan rasa rindunya semakin terasa sakit dan menusuk-nusuk hingga ke lubuk sanubari. Selama ini, Levin mencoba menepis perasannya. Namun, tak pernah bisa. Ia semakin merindukan wanita itu. Hari-harinya ia habiskan melakukan kehampaan. Hatinya benar-benar remuk. Seremuk kaca yang terhempas dan hancur berkeping-keping. Levin menyadari betapa ia merindukan wanita yang tak bisa diraihnya itu. Kini ia tidak akan melepaskan Alessa lagi. Levin bersumpah dalam hati.
"Maafkan aku Alessa, maafkan aku atas kesalahan pahaman ini." Ucap Levin sambil mengusap wajahnya.
Ia menarik napasnya dalam-dalam, hatinya bergetar mengingat bagaimana pertemuannya nanti dengan Alessa. Ia kembali merasakan debaran-debaran yang tercipta dari jantungnya. Tanpa sadar, Levin tersenyum.
Sepersekian detik, Levin tersadar menyadari Desmond belum datang ke kantor. Ia pun mencoba menghubungi Desmond.
TUT
Baru bunyi nada tunggu yang pertama, seorang pria dari seberang langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Iya tuan?" ucap Desmond dari ujung telepon.
Suaranya tidak jelas, terputus-putus karena pengaruh sinyal. Levin mencoba mengeraskan suaranya. "Hallo, Desmond...Kamu dimana?"
"Maaf tuan...saya tidak bisa mendengarnya."
"Kamu dimana Desmond?" Tanya Levin mengulang pertanyaan yang sama.
Dengan cepat Desmond menjawabnya. "Maaf tuan. Saya sedang berada di cafe di depan perkantoran Horald." Kata Desmond sedikit ragu.
"Apa? kamu di cafe? kamu sengaja membiarkan aku menunggumu?" Ucap Levin dengan kesal.
"Maaf tuan, saya sedang bertemu saudara." ucap Desmond berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan bertemu dengan wanita yang baru ditemuinya di rumah sakit. Bisa-bisa bos-nya itu akan memakinya.
Levin menarik napasnya dengan tenang, "Kamu tahu, saya paling tidak suka menunggu. Apa tugas yang aku berikan sudah kamu selesaikan?"
"Sudah tuan. Saya sudah menyelesaikan sesuai yang anda minta." Jawab Desmond dengan cepat.
Levin menarik napasnya lagi. "Baiklah. Saya Uda urusan sebentar. Mungkin sampai jam makan siang. Jadi saya tidak bisa bertemu dengan klien yang baru datang dari Singapura."
"Heuh? Maksudnya tuan?"
"Kau tidak mengerti maksudku?" Levin mulai tampak kesal mendengar pertanyaan Desmond.
Tidak ingin bosnya marah, akhirnya Desmond menjawab. "Baik tuan."
"Tolong hubungi mereka dan sampaikan permohonan maaf kita karena telah membatalkan makan siang ini. Jadi, jangan buat kesalahan. Atur kembali jadwal pertemuan kita dengan mereka. Katakan saja pak direktur tiba-tiba ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Jangan lupa kirimkan hadiah dan kirimkan langsung ke hotelnya. Kamu mengerti Desmond?"
"Baik tuan, akan saya laksanakan secepatnya."
"Saya tunggu kamu dalam 5 menit."
Tit!
Belum lagi Desmond menyelesaikan kalimatnya. Panggilan langsung diputuskan Levin sepihak. Ia menarik napasnya lagi sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.15 wib. Levin tak perduli jika hari ini jadwal pekerjaannya begitu padat, ia harus menemui Alessa. Ia sudah tidak ingin menunggu lagi. Levin mengembuskan napasnya berulang kali. Ia memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan hatinya. Setelah cukup tenang, Levin melangkah meninggalkan ruangannya.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Desmond terlihat berlari memasuki perkantoran Horald company. Ia begitu gugup saat melihat Levin sudah berdiri di depan pintu utama.
"Maaf tuan, Anda harus menunggu lama."
"Mana kuncinya?" ucap Levin to the point.
"Apa anda tetap akan pergi tuan, mengingat klien kita ini sudah datang jauh-jauh dan beliau ingin bertemu dengan anda."
Levin mengernyitkan dahinya saat pertanyaan itu keluar dari mulut Desmond. "Apa kau sedang mengaturku, Desmond?"
Desmond dengan cepat menundukkan kepalanya. "Maaf tuan, maksud saya bukan seperti itu. Saya hanya..." Ia menangguhkan kalimatnya.
"Takut klien dari Singapura membatalkan kerjasama ini, begitukah maksudmu?" Levin melanjutkan kalimat yang tak selesai diucapkan Desmond.
"Maaf tuan, saya bukan bermaksud seperti itu."
"Terus, apa yang kau takutkan?" alis Levin menukik tajam.
__ADS_1
Desmond menunduk lagi, menghindari tatapan Levin yang penuh penghakiman. "Saya hanya takut klien akan menilai kita tidak konsisten dengan janji."
Levin tertawa kecil. "Urusan ini lebih penting dari klien. Jika mereka membatalkan kerjasama ini. Tidak jadi masalah. Perusahaan tidak akan bangkrut. Jadi berikan kuncinya!" Tangan Levin mengulur.
Desmond masih ragu memberikan kuncinya. "Tapi tuan?" Bagaimana ia harus mengatakan kepada bosnya jika pertemuan ini harus berjalan dengan baik sesuai perintah tuan Horald.
"Desmond, apa yang kau tunggu? Berikan kuncinya!" ucap Levin mengulang pertanyaan yang sama. Ia masih tetap sabar hingga Desmond memberikan kunci itu.
Desmond menarik napas sambil memejamkan matanya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini? Tentu saja ia lebih takut dengan tuan Horald." Batinnya berbicara. Walau ekspresi bingung dan resah tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Levin mengernyitkan dahi. "Kau tidak perlu mencemaskan kerjasama ini. Jadi berikan kuncinya!" Levin mulai tak sabaran.
Desmond semakin tak sanggup untuk mengatakannya. "Sebelumnya saya minta maaf, tuan. Sebenarnya...." Desmond mendesah lesu sambil membuang wajahnya.
Levin semakin mengerutkan keningnya, saat melihat ekspresi wajah Desmond. Ia mencengkram kerah baju Desmond. "Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"Maafkan saya tuan."
Levin mengeraskan rahangnya dan semakin mencengkram kuat baju Desmond "Sekarang katakan?"
Desmond sangat gugup melihat kemarahan Levin. "Sa-saya...."
"Katakan Desmond!" bentak Levin sambil menarik kembali kerah baju asistennya itu. Kali ini lebih tegas lagi.
"Tuan Horald sepertinya merencanakan pertunangan anda dengan putri dari tuan Leonel, yang tidak lain tamu kita hari ini."
"Apa?" Jantung Levin langsung terpukul kencang. Ujung-ujung tangannya berubah dingin. Walau sesungguhnya Levin paham maksud perkataan Desmond. Tapi ia ingin memastikannya lagi. "Apa maksudmu?"
"Maafkan saya tuan. Saat tuan Horald mengetahui hubungan anda sudah berakhir dengan Monika. Bekiu diam-diam merencanakan perjodohan anda dengan putri Lionel. Jadi beliau tidak ingin pertemuan ini gagal." Ucap Desmond akhirnya. Biar bagaimana pun bosnya itu memang harus tahu kebenaran ini.
Reflek tangan Levin terlepas dari baju Desmond saat mendengar itu, Levin benar-benar tidak percaya bahwa Daddy-nya merencanakan perjodohan konyol ini. Ia memejamkan matanya begitu erat. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Kupingnya terasa panas saat mendengar itu.
Levin tersenyum tapi tidak mengeluarkan suara. "Perjodohan? Apa daddy sudah gila. Bagaimana ia merencanakan perjodohan ini tanpa membicarakan kepadaku?" Levin belum bisa terima. Tatapannya mengunci ke arah Desmond, begitu dingin hingga bisa membekukan hati asistennya itu.
Desmond tidak berani menjawabnya, ia hanya diam bergeming di sana.
"Apa daddy mengatakan langsung kepadamu?"
"Ya tuan. Saya minta maaf karena baru mengatakannya."
"Maaf lagi dan maaf lagi, apa hanya kalimat itu yang harus aku dengar." Levin menggeram sambil mengembuskan napas frustasi.
"Tuan?"
Levin memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain.
"Tuan Horald juga datang dalam pertemuan ini."
Tangan Levin mengepal kuat. Ia memilih tak menjawabnya dan melangkah meninggalkan Desmond. Levin masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Desmond. Ia tidak perduli, yang jelas saat ini Levin hanya ingin bertemu dengan Alessa.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^