
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Jordan memasangkan sabuk pengaman untuk Alessa. Ia tersenyum hangat sambil mengusap pipi Alessa dengan lembut.
"Bagaimana kejutanku tadi sayang? apa kau suka?" tanya Jordan menatap lekat ke arah Alessa.
Alessa tersenyum singkat sambil mengangguk pelan. "Aku menyukainya."
"Syukurlah, aku ikut bahagia. Sekarang kita pulang ya."
"Kenapa kau tiba-tiba melamarku di tempat acara ulang tahun Horald company?" tanya Alessa tak bisa menutupi rasa penasarannya. Masih banyak tempat, kenapa Jordan harus memilih di acara seperti itu. Wajah Alessa begitu was-was. Entah mengapa kejutan ini membuatnya tidak enak kepada Levin.
Sudut bibir Jordan seketika melengkung ke atas. "Apa ada yang salah? Aku melamar wanita yang aku cintai. Ada apa denganmu sayang, kau seperti takut. Apa kau sedang menjaga perasaan seseorang?"
"Aku hanya merasa aneh melihat tingkahmu akhir-akhir ini. Kau terkadang tidak bisa ditebak. Dan ini tidak lucu, kau melamarku di acara ulang tahun Horald company. Apa kau tidak bisa memilih tempat yang lain?"
Jordan mengembuskan napas sambil memejamkan mata. Ia kemudian tersenyum lembut kepada Alessa. "Aku tidak ingin membahas itu lagi. Sekarang kejutan itu berjalan dengan baik. Kau senang dan aku ikut bahagia." Jordan kembali menatap ke depan menyadarkan punggung ke sandaran kursi. Ia memutar kunci di dalam kontak dan menghidupkan mesin mobilnya. menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Membelah keheningan malam.
Hening menyeruak di antara keduanya, tidak ada yang bersuara. Mereka memandangi jalan dalam kebisuan. Jordan menghidupkan audio mobilnya untuk memecahkan keheningan mereka. Sementara Alessa larut dalam pikirannya sendiri. Tatapannya kalut, seperti memikirkan sesuatu dan hanya terdiam sepanjang jalan.
Tidak ingin terperangkap dalam suasana hening, Jordan pun mulai berbicara.
"Alessa," Panggil Jordan pelan.
Alessa tidak menoleh, ia hanya merespon dengan lirikan mata saja.
"Mommy ingin bertemu denganmu. Besok bersiap-siaplah, kita akan bertemu mommy." ucap Jordan tidak ingin larut dalam kebisuan.
Alessa memandang sekilas ke samping. "Hmm." ucapnya dengan gumaman singkat.
"Aku akan memperkenalkanmu kepada seluruh keluargaku. Aku yakin mommy senang melihatmu. Dia sangat merindukanmu." ucap Jordan dengan tatapan sendu. Ia mengambil tangan Alessa dan menciumnya. Alessa hanya tersenyum tipis, sambil menundukkan kepalanya. Ia memandang tangan Jordan di pangkuannya. Tangan itu menggenggam erat. Alessa hanya bisa menarik napas berat, entah mengapa pikirannya campur aduk saat ini.
Ban mobil terus berputar, mereka melaju menyusuri jalan. Beberapa puluh menit akhirnya mereka tiba rumah Alessa. Jordan menghentikan mobilnya tepat di depan pagar kokoh itu. Alessa sudah melepaskan sabuk pengamannya dan mereka turun bersamaan.
"Jordan, kamu tidak mampir dulu?" tanya Alessa berdiri di depan pagarnya.
"Aku langsung pulang sayang. Besok kita bertemu lagi."
"Baiklah, masuklah!" kata Alessa lagi.
"Tidak, aku akan mengantarkanmu sampai ke depan pintu."
"Oke kita masuk," ucapnya dengan tarikan napas singkat.
__ADS_1
Alessa menyapa lelaki paruh baya yang berjaga di pos security.
"Selamat malam pak," Sapa Alessa dengan senyuman ramah.
"Selamat malam nona Alessa, tadi baru saja tuan Levin pulang."
Mendengar nama Levin, seketika wajah Alessa berubah. Ia menatap sekilas ke arah Jordan dan kemudian tersenyum lagi kepada pak Alberto.
"Saya permisi dulu pak,"
"Baik nona, silakan!" balas Alberto menundukkan kepalanya.
Jordan hanya diam menatap lurus ke depan. Mereka melangkah pelan menuju halaman rumahnya. Semua keheningan yang tiba-tiba itu, membuat Alessa hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Tak ada yang terucap dari mulut mereka. Suasana terasa menegangkan.
"Perasaan apa ini?" batin Alessa saat mereka melewati rumah Levin. Jantungnya berdegup kencang, terpukul menimbulkan rasa aneh yang datang dari dalam dadanya. Perasaan aneh itu bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara Levin tengah duduk di atas balkon. Matanya memicing ketika melihat mobil berwarna putih berhenti di depan pagar perumahan Flower. Levin hanya bisa menarik napasnya yang terasa berat saat melihat Alessa berjalan bersama Jordan.
"Perasaan ini, apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini? aku tidak bisa mengatakan jika aku mencintaimu. Aku memang benar-benar tidak merencanakan untuk jatuh cinta padamu. Semua terjadi begitu saja, Alessa?" Ucap Levin tersenyum getir.
Mereka tiba di depan pintu utama rumah Alessa. Alessa mengeluarkan kunci dan membuka pintu itu.
Jordan tersenyum. "Masuklah sayang!"
Alessa mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Hmmm, hati-hati di jalan." ucapnya pelan.
Jordan memandang Alessa dengan tatapan sayu. Alessa tersenyum dan segera membalikkan badannya untuk masuk.
"Alessa" panggil Jordan.
"Kau punya utang cerita denganku." bisik Jordan sambil memegang dagu Alessa.
Alessa mengerutkan keningnya. "Utang cerita?"
"Sekarang masuklah!" Ucap Jordan mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum dan mengusap puncak kepala Alessa.
"Hmmm. Bye," Alessa melambaikan tangannya dan pintu pun tertutup.
Begitu pintu tertutup, Alessa langsung bersandar ke daun pintu. Ia memegang dadanya. "Ada apa denganku?" Alessa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dari mulut. Ia menutup rapat matanya. Bayangan Levin terus menari-nari di otaknya.
⭐⭐⭐⭐⭐
SEMENTARA DALAM PERJALANAN PULANG.
Pikiran Jordan berkecamuk. Sebelumnya ia mendapatkan panggilan dari anak buahnya mengatakan bahwa mereka menemukan keberadaan kakek Christian. Setelah keputusan mantap. Akhirnya Jordan menemui langsung kakek Christian. Ia menatap dengan penuh keyakinan, mencari tahu kejadian dua puluh tahun yang lalu.
Hatinya diliputi perasaan panik dan resah. Jordan kembali menyandarkan punggungnya dengan wajah gelisah. Ia mengusap wajahnya dengan tangannya yang satu. Ia kembali fokus menyetir. Melajukan mobilnya membelah keheningan malam. Jordan tiba di villa milik keluarga besar Luthfi.
Tanpa perduli jika ada dua security yang berjaga di sana, Jordan langsung menerobos masuk. Dua orang security langsung mengejar Jordan. Jordan melangkah panjang sampai tidak perduli dengan teriakan dua orang security itu.
"Tuan Jordan, apa yang anda lakukan? Kakek Christian tidak bisa diganggu, beliau sedang beristirahat." Teriak security dengan lantang. Walau mereka tahu Jordan adalah cucu dari pemilik rumah ini. Namun, ada peraturan yang tidak bisa dilanggar. Jika sudah malam, waktu istirahat kakek Christian tidak bisa diganggu.
__ADS_1
Jordan tidak perduli. Ia langsung masuk begitu saja dan membanting pintu itu satu per satu. Tidak ada di sana. Jordan menaiki anak tangga dengan langkah panjangnya. Akhirnya Jordan menemukan ruangan tempat Kakek Christian sering menghabiskan waktunya.
Dengan langkah cepat dalam keadaan kesal Jordan melangkah mendekati pintu itu. Seorang pelayan yang baru saja keluar dari kamar itu mencoba menghalanginya. Lagi-lagi Jordan tidak perduli.
BRAAAAKKKKK!!!!!
"Tuan, maaf anda tidak bisa masuk karena Kakek Christian sedang istirahat." cegah seorang wanita yang ikut masuk ke kamar kakek Christian.
Kakek Christian langsung mendongak dan melihat siapa yang datang. Ia tanpa ekspresi.
Jordan akhirnya bisa bertemu dengan kakeknya itu. Ia menatapnya dengan penuh tekadnya. Dua orang security langsung menerobos ikut masuk.
"Maaf tuan, kami tidak bisa mencegahnya. Dia tidak bisa dihentikan dan langsung menerobos masuk." Kata security menyadari kesalahannya.
Merasa dianggap seperti orang lain, Jordan mengepalkan tangannya begitu erat. Hatinya panas mendengar kalimat itu.
"Aku bahkan tidak mengundangmu datang. Angin apa membawamu datang ke sini, Jordan?" Ucap Kakek Christian dingin.
Mendengar itu, wajah Jordan diam membeku. Rahangnya mengencang kuat dan tangannya mengepal erat. "Aku ingin kita bicara Kakek."
"Bicara? Kau tidak lihat, ini sudah malam Jordan. Sekarang pulanglah, kau bisa kembali besok."
"Tidak, aku ingin kita bicara sekarang, Kakek."
Kakek Christian tersenyum smrik. "Apakah itu masalah rumah sakit lagi?"
"Ini adalah masalah daddy."
"Kenapa kau mengungkit orang sudah meninggal, Jordan?" kata Christian tanpa ekspresi.
"Dua puluh tahun yang lalu, kakek Christian memerintahkan seorang dokter menyuntik mati daddy. Apa kakek ingat kejadian itu?"
Christian tersenyum sinis, "Aku tidak pernah memerintahkan siapapun untuk membunuh ayahmu. Sekarang kau keluar!" Christian sudah tampak kesal. Tangannya mengepal kuat.
"Dokter Dev sudah mengakui semuanya, jadi Kakek tidak bisa mengelak lagi."
"Jangan membuatku marah Jordan, kau tidak tahu apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.” Mata Christian menyorot tajam.
"Apa yang membuat kakek begitu marah? apakah ayah membuat kesalahan?"
Cristian tertawa. "Tanyakan sendiri kepada ibumu." ucap Christian dengan tatapan tajam dan penuh penghakiman.
Suasana saat ini tiba-tiba berubah tegang. Christian menatap Jordan dengan penuh emosi, ia terus mendekat sambil menggertakkan giginya. "Jika kau ingin tahu kejadian dua puluh tahun yang lalu, tanyakan sendiri kepada ibumu."
"Kenapa kakek tidak mengatakannya langsung." Kejar Jordan penuh selidik.
Christian membuang napas tidak suka. Ia menatap security dan pelayannya. "Kalian bisa keluar."
Security dan pelayan itu membungkukkan badannya seraya memberi hormat. "Baik tuan, Kalau begitu kami permisi dulu." Kata mereka pamit undur diri dan meninggalkan kamar itu bersama dua orang security.
Christian kembali duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ia membiarkan Jordan berdiri seperti orang asing. Suasana masih hening. Jordan menelan salivanya berulang kali Lalu membuang napasnya setengah-setengah melalui mulut. Matanya terus menatap ke arah Kakek Christian yang memiliki kekuasaan itu.
__ADS_1
Melihat Jordan diam, ia tersenyum miring. "Aku dengan ayahmu tidak ada hubungan keluarga lagi."
DEG!