Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
TETAP SALING PERCAYA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


VISUAL DOKTER JORDAN.



Alessa membuka pintu rumahnya dan menutupnya kembali.


"Dari mana saja kamu, Alessa?"


"Hk."


Suara Jordan membuatnya terdiam kaku. Matanya membulat, jantungnya memicu. Berdebar kencang. Napasnya juga ikut tertahan. Alessa melihat Jordan tengah duduk santai di sofa. Jordan bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Alessa.


"Aku menunggumu lebih dari dua jam di sini, dari mana saja kamu?" Jordan berucap tegas tanpa melepaskan tatapannya intimidasinya. Ia bosan menunggu Alessa sedari tadi. Saat pintu pagar terbuka, Jordan langsung bangun ingin membukakan pintu. Namun Jordan urung melakukannya, karena ia melihat Alessa sedang bersama seseorang yang dikenalnya. Api cemburu menguasainya. Tangannya mengepal kuat menahan amarah.


Alessa belum berani memandang ke arah Jordan. Ia hanya sanggup memejamkan matanya dengan rapat, mengatupkan bibirnya lalu menunduk.


"Kau tidak bisa bicara?" Jordan memiringkan kepalanya. Menatap Alessa dengan wajah penuh penghakiman. Alisnya terangkat sebelah.


Alessa hanya bisa tersenyum, melangkah melewati Jordan sambil melepaskan tas sling bag yang dikenakannya. "Kau datang dan tidak mengabariku, kau tidak bekerja?"


Jordan berdecak. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Yang aku tanya dari mana saja kau, Alessa?" Ia mencoba bersikap sabar.


"Oooohhhh...tadi aku keluar mencari angin segar." Alessa terpaksa berbohong untuk menghindari kemarahan Jordan.


"Mencari angin segar?" Alis Jordan menukik tajam. "Maksudmu mencari angin segar dengan Levin?"


DEG!


"Apa dia melihatnya?"


"Dua jam aku menunggumu di sini, itu artinya selama dua jam kau mencari angin segar bersama dia, begitu?"


Mendengar itu, Alessa membuang napasnya dengan mata terpejam. Ia masih memunggungi Jordan dan tak juga berbalik.


"Jawab aku Alessa! Apa yang kau lakukan dengan lelaki itu? apa kau selingkuh?"


Alessa menarik napas sambil tersenyum tipis. Ia berusaha bersikap tenang, menatap Jordan dengan perjuangan batin yang cukup berat. "Siapa yang selingkuh sayang? Aku hanya berpapasan dengan pak Levin dan kami berbicara, hanya sebatas itu saja. Kenapa kau mencurigaiku seperti ini?" Kata Alessa mencoba menjelaskan dengan baik agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka. Ia bisa melihat reaksi Jordan di sana.


"Apa dia tinggal di sini?" tangan Jordan mengepal kuat.


"Hmmm." Alessa menjawab dengan gumaman.


Jordan tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Jordan seperti tertipu di sini. "Saat bertemu di rumah sakit. Kenapa kau seolah-olah tidak mengenalnya?"


"Ya, karena aku tidak tahu dia tinggal di sini. Ada apa denganmu? kenapa kau begitu marah?"

__ADS_1


Jordan terdiam. Ia membalikkan badannya tak ingin melihat Alessa. Jordan menarik napas sesaat. Menutup mata dan mendesah lewat mulut hingga bahunya ikut turun. "Mulai besok, kau pindah dari sini." ucap Jordan kemudian. Ia tidak mau Alessa berhubungan dengan lelaki itu lagi.


DEG!


Alessa mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Jordan menyuruhnya pindah dari rumah ini. Alessa menarik napasnya dalam-dalam. "Kenapa aku harus pindah?"


Jordan membalikan badannya, "Semuanya sudah jelas, aku hanya tidak ingin, kau tinggal di sini. Itu saja!" kata Jordan meninggikan suaranya. Sorot matanya begitu tajam.


Tentu saja Alessa tak bisa terima. Bagaimana Jordan bisa menyuruhnya pindah begitu saja tanpa alasan yang jelas. "Aku tak bisa."


Heh... Jordan melepaskan napas singkat. Ia melarikan tatapan kesalnya. Ia tidak menyangka jawaban Alessa akan seperti itu. Ia benar-benar tak terima. "Sekali aku katakan pindah dan kau harus pindah dari rumah ini. Jangan membantahku, Alessa!" ucap Jordan mempertegas kalimatnya.


"Aku tidak bisa melakukan itu. Dan aku sudah nyaman tinggal di sini. Kenapa kau jadi seperti ini?" Ucap Alessa tak kalah tegas. Volume suaranya naik satu oktaf melebihi suara Jordan.


Jordan kembali membalikkan badannya tak ingin melihat Alessa. "Kenapa kau tidak bisa melakukannya? Apa karena Lelaki itu?"


Alessa mencengkeram tangannya sendiri dan menghembuskan napasnya lewat mulut. Dia tahu Jordan saat ini sedang cemburu. Tapi cemburunya tidak masuk akal. Alessa saat ini kecewa, tapi ia berusaha meredam rasa kecewanya itu.


"Apa yang membuatmu marah sayang? bukankah aku sudah mengatakan aku hanya tak sengaja bertemu dengan dia dan kami berbicara, itu saja." Kata Alessa melembut dan mencoba mencairkan suasana.


Mendengar itu, Jordan membuang napasnya dengan kasar. Ia berbalik dan matanya tetap mengunci Alessa. Tak tertebak oleh Alessa.


"Aku hanya ingin kau mengerti apa yang aku katakan, Alessa. Aku tidak suka kau berada di dekat dia."


"Heuh?" Alessa semakin tak habis pikir. Apa salahnya dia bicara dengan Levin. Bukannya sudah jelas jika ia hanya mencintai Jordan dan seharusnya Jordan mempercayai itu.


"Apa kurang jelas Alessa? Aku tidak ingin kau bertemu dengan dia lagi. Jangan membuatku marah!"


Alessa tersenyum dan berusaha tetap bersikap tenang. Ia menatap Jordan dengan perjuangan batin yang cukup berat. "Maaf, tapi apa yang kau ragukan, Jordan? Apa sekarang kau kurang yakin dengan perasaanku?"


"Dari awal dia menatapmu. Aku yakin dia tertarik padamu. Kau hanya milikku, Alessa. Jadi aku tidak suka dia melihatmu seperti itu. Kau mengerti? Jangan buat aku goyah untuk melakukan lebih dari ini. Aku mohon kau mengerti." Ucap Jordan tegas.


"Tapi aku dengan pak Levin tidak ada apa-apa, sayang. Apa yang kau takutkan?" Alessa mencoba memberi pengertian, Ia tersenyum walau saat ini senyumnya terlihat dipaksakan.


"Lakukan saja perintahku, Alessa! Aku tidak mau mendengar alasan apa pun itu." Jordan kesal karena Alessa terlalu berbelit-belit.


Alessa semakin mengerutkan keningnya. "Aku semakin tidak mengerti denganmu, Jordan."


"Aku juga semakin tidak mengerti denganmu Alessa. Apa susahnya menjawab Ia."


"Aku tidak bisa, karena alasanmu tak masuk akal." Wajah Alessa berubah. Selama ini mereka hanya berhubungan lewat komunikasi saja. Apakah ini sisi lain yang tidak diketahui Alessa. Jordan terlalu mengatur hidupnya. Alessa saja marah, jika ayahnya mengatur hidupnya. Alessa menarik napas dalam-dalam, ia menatap ke arah Jordan yang terlihat marah. "Sekarang jawab aku, apa alasannya?"


"Karena aku cemburu, apa kau puas?!"


"Cemburu? Buat apa kamu cemburu sementara aku dengan pak Levin tidak ada hubungan apa-apa."


"Kau bisa pastikan itu? Kau bisa yakin Levin tidak menyukaimu?" Ia menatap tajam kepada Alessa.


"Itu hak dia, dia bebas menyukai siapa saja."


"Apa itu artinya kau memberikan peluang untuknya."


"Astaga, kenapa dia keras kepala sekali?" Alessa menggerutu di dalam hati.


"Selagi kita bisa menjaga hubungan ini, aku yakin hubungan kita akan baik-baik saja. Tetaplah mempercayaiku."

__ADS_1


Jordan berbalik tidak ingin melihat Alessa. Sungguh saat itu hatinya sakit. Ia berusaha untuk mempercayai Alessa. Namun melihat Levin tersenyum dan menatap Alessa begitu dalam, Jordan tidak bisa menahan rasa cemburunya.


Alessa berjalan pelan dan hanya bisa terdiam. Semakin mendekat dengan langkah-langkah kecilnya. Mungkin cara ini, bisa meluluhkan hatinya yang keras seperti batu itu. Alessa memasukkan tangannya dengan perlahan ke dalam lengan Jordan. Ia memeluk pinggang Jordan dengan lembut. Kepalanya disandarkan dengan nyaman di punggung lelaki bertubuh tegap itu, kemudian Alessa memejamkan matanya dan menikmati pelukan itu.


Sementara Jordan membuang napasnya melihat ke samping. Ia tidak bisa menolak. Rasa marahnya hilang bersama dekapan hangat Alessa.


"Tetaplah mempercayaiku, Jordan." Ucapnya pelan dan lembut.


"Aku harap kau bisa mengerti apa yang aku katakan itu."


Alessa memejamkan matanya sesaat. Ia tetap diam di sana tanpa berucap apa-apa.


"Kau tahu? yang aku butuh itu adalah kau. Aku mencintaimu Alessa. Aku sangat mencintaimu."


Alessa hanya memejamkan matanya. Mengeratkan pelukan dan menyandarkan kepalanya di punggung Jordan.


Jordan membalikkan tubuhnya, menatap mata indah itu. Ia tersenyum lembut sambil mengangkat dagu Alessa. Lalu mencium kening Alessa dengan lembut. Beralih ke mata, hidung dan pipi, lalu mendaratkan ciuman ke bibir Alessa, ciuman yang singkat tapi tidak ada napsu. Namun entah mengapa ciuman yang Alessa dapatkan seperti tak berarti untuknya. Alessa menganggap makin lama hubungannya dengan Jordan terasa hambar.


"Aku harap kau mengerti apa yang aku katakan tadi. Aku melakukan ini, karena aku mencintaimu. Aku takut kehilanganmu."


Alessa hanya mengangguk lemah. Ya mungkin hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini. Jordan kembali memeluk Alessa. Alessa membalas pelukan itu dengan ekspresi kaku.


"Aku berjanji, akan selalu mencintaimu sepenuh hati." Ucap Jordan membelai pipi Alessa dengan lembut.


"Hmm. Kau memang harus melakukan itu. Walau terkadang konflik bisa terjadi antara kita dan terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan arti. Aku mohon, lebih baik kita bicarakan dari hati ke hati. Aku ingin kita saling percaya. Itu saja."


Tiba-tiba, Kkkrrrrruuuuuuk, kkkkkruuuuk...


Mata Jordan terbelalak saat menyadari suara itu ternyata dari perutnya. Ia melepaskan pelukannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maafkan aku Alessa. Sepertinya perut ini harus diisi."


"Kamu belum makan?"


"Hmmm..." Jordan tersenyum. "Tapi aku membawakan makanan untuk kita. Kita bisa makan bersama-sama."


"Ha? Makan lagi?" Teriak Alessa dalam hati.


"Kenapa diam saja? kita makan yuk!" Jordan membawa tangan Alessa ke kursi sofa. Benar saja Jordan membawakan kotak makanan yang dipesannya dari restoran terkenal.


Alessa menaruh makanan ke piring. Wajahnya meringis saat Jordan memberikan makanan kesukaannya.


"Semua ini makanan kesukaanmu, kau harus habiskan ya."


"Apa? habiskan?" Alessa tak bisa menolak, karena Jordan terus memaksanya. Ini menurutnya penderitaan yang begitu nyata.


"Ahhh.... rasanya aku tak sanggup lagi karena terlalu kenyang." Alessa bersandar di sofa sambil memegang dan mengusap perutnya.


Jordan hanya tersenyum sambil memeriksa handphonenya dan kemudian dengan cepat memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam kantong celananya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2