Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
SISI GELAP JORDAN


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


"Ya...aku hanya tidak kuat saat kau memandangku seperti itu. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi lemah seperti ini. Peredaran darahku tidak stabil, aku bahkan kehilangan kendali. Matamu seperti menyimpan magnet dan membuatku gugup. Kau berhasil melumpuhkan perasaanku hanya karena tatapanmu itu. Aku sudah memiliki Jordan dan aku hanya mencintainya." Batin Alessa. Tapi entah mengapa saat mengatakan nama kekasihnya itu, hatinya hampa.


"Dokter Alessa?"


"Iya? Apa?" Spontan Alessa menjawab lantang, ia berusaha menutupi aksi mengkhayal yang tidak henti mengganggu imajinasi otaknya sejak tadi.


"Hahahaha." Levin tertawa renyah. "Baiklah, jika kau tidak ingin berenang bersama kami. Duduklah di situ. Tunggu sampai kami selesai. Habis ini kita akan pergi ke suatu tempat." Kata Levin bangun dan berjalan menuju kolam. Dan tiba-tiba terdengar suara cipratan air dari kolam.


"Apa? Kita?" Alessa masih tampak bingung. Ia terus memikirkan ucapan Levin yang berenang dengan gaya bebasnya. lagi-lagi ia tersenyum khayal membayangkan berada di dalam kolam itu. Alessa mengembalikan pikirannya. Tidak seharusnya ia membayangkan itu.


Tapi lagi-lagi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya saat melihat Levin berenang dengan gaya bebasnya. Seperti gerakan slow motion, Levin seperti perenang handal di sana. Alessa mengganti posisi duduk, ingin melihat jelas si perenang handal sedang beraksi. Kepakan kakinya membuat air menciprat ke atas dan ke samping. Menggunakan tangan dan lengan kekarnya untuk mendayung. Tidak butuh waktu lama Ia sudah sampai ke ujung kolam renang.


Huffft.. Wajahnya terasa panas. Saat melihat sosok Levin kembali menatapnya. Ia sedang tersenyum manis. Alessa seketika menahan napas saat Levin keluar dari kolam. Tatapannya terus mengunci ke arah Alessa, semakin dalam dan menghanyutkan. Ia terus berjalan ke arah Alessa.


GLEK! Alessa menelan salivanya, segera berpindah tatap, mengalihkan ke setiap lekuk tubuh yang membuatmu tak berdaya. Matanya mulai mengarah ke bawah, napasnya tertahan di dada dengan mulut yang terbuka. Jantungnya semakin terdengar tidak stabil. Alessa semakin gugup, reflek ia mengibas-ngibaskan pelan tangannya, mencoba mendapat angin segar ke wajahnya yang terasa panas.


Levin tersenyum miring dan langsung mengambil handuk piyama untuk menutupi tubuhnya. "Aku semakin menyukaimu, dokter Alessa. Kau sangat cantik disaat gugup seperti ini."


Levin menegakkan badannya, lalu meninggal Alessa di sana. Ia masuk ke ruang ganti dan langsung membersihkan tubuhnya. Sementara Alessa masih memegangi dadanya. Jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Tanpa pikir panjang, ia segera melangkah membantu Elana untuk membersihkan tubuhnya, sebelum Levin kembali menggodanya.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Monika melempar sesuatu ke arah anak buah daddy-nya.


"Sudah satu minggu, sampai sekarang kau tidak bisa menemukan anak itu?" Monika menggeram penuh kemarahan.


"Maafkan saya nona."


"Jangan menjawabku." Bentak monika. Kesabarannya sudah habis. Tak tahan lagi ia pun maju lalu mencengkeram baju pria itu. "Dasar tidak berguna, seharusnya kau sudah menemukan anak cacat itu." Monika menggertak, ia mendorong tubuh pria itu hingga terhuyung ke belakang. Pria itu hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Kau benar-benar berhasil memancing kemarahanku." geram Monika. Matanya menyalang tajam. Tatapannya menikam siap mengoyak jantung pria itu karena berani membantah perintahnya.


"Saya akan mencoba mencarinya melalui cctv yang ada di setiap jalan."


"Cih.. Dari kemarin kau selalu mengatakan itu. Semua yang kau kerjakan tidak jelas. Apa kau mau mati di tanganku?"


Pria itu menggeleng, "Berikan saya waktu tujuh hari, nona. Kali ini saya akan melakukannya dengan baik."


"Baik, kali ini kita buktikan, apa kau bisa pegang janjimu. Jika tidak, selesai hidupmu." Monika mundur beberapa langkah sambil melipat tangannya di depan dada. Ia menatap pria itu dengan tatapan tegas.


Sementara Pria itu hanya diam, membuang napas singkat dan terus menunduk.


"Apa kau mendengarku?" Ucap Monika dengan penuh penekanan. Ia kemudian mengambil minuman mineral dan meneguknya sampai habis.


"Baik, saya akan menjalankan tugas yang anda perintahkan dengan baik."

__ADS_1


Monika menghela napas kesal. "Sekarang kau keluar!" mengusirnya dengan tegas. Tangannya mengepal begitu kuat. Jantungnya bergemuruh cepat dan napasnya tertahan karena begitu marah. Monika tak habis pikir kemana perginya Joyce si anak cacat itu?


⭐⭐⭐⭐⭐


Empat orang yang mendengar deheman itu seketika kompak menahan napasnya. Kedua tangan yang menggenggam alat makan saat itu juga diletakan di atas meja persegi yang mereka kelilingi.


"Selamat malam Tuan Dev dan keluarga. Bagaimana kabar kalian? Mohon maaf di malam yang indah ini aku harus mengganggu waktu istirahat kalian." ucap Jordan tersenyum di sana.


Pria paruh baya yang duduk di ujung meja mencoba bangkit.


"Psstt." Suara desis itu terdengar bersamaan dengan pistol yang ditodong ke arah pria paruh baya, "Kau mau kemana Tuan dev? Mohon jangan buat aku tak enak hati. Silakan duduk dan sambutlah kedatangan kami ini." ucap salah satu anak buah Jordan.


"Siapa kalian, apa kalian ingin merampokku? Aku bisa memberikan semuanya." Pria paruh baya membuka mulut.


Anak buahnya masih mengacungkan pistol di bagian pelipisnya. Sementara Jordan duduk di salah satu kursi berhadapan dengan pria paruh baya itu, "Merampok? saya tak butuh uangmu. Apa perlu aku menjelaskan tujuan kami datang ke sini?" ucapnya dengan seringai iblis, ada sisi gelap yang tak diketahui mengenai Jordan. Ia dikenal ramah di rumah sakit, sebagai seorang dokter terbaik. Namun, Jordan ternyata menyimpan dendam selama dua puluh tahun yang bahkan tidak diketahui Alessa.


Hening.


Tulang rahang pria paruh baya semakin tegas terlihat.


"Kenapa kalian terus memandangiku? Cepat habiskan makanannya agar kalian dapat segera bermimpi indah malam ini," ucap salah satu anak buah Jordan yang masih mendongakkan pistol seraya menghadap ke kiri, ke arah dua anak remaja yang sedang duduk berdampingan.


"Lanjutkan makan kalian." Pria paruh baya menatap tajam ke depan.


"Lalu bagaimana denganmu, Nyonya Dev?"


"Jangan ganggu aku dan anak-anakku." Wanita paruh baya yang ada di sisi kanan meja menunduk, sebisa mungkin tak menampakan wajahnya.


Sejenak bibir Jordan menyungging, "Aku tak akan mengganggumu, Nyonya. Aku yakin kau tahu itu. Tapi bagaimana caranya aku tak mengganggumu, bila aku saja tak bisa memandang wajah cantikmu? Kemarilah, perlihatkan senyuman indah yang sangat terkenal itu."


"Apa maumu? Tinggalkan dia sendiri!!" Pria paruh baya menaikkan nada bicaranya, seolah tak peduli dengan ujung pistol yang terarah padanya.


Sejenak kemudian wanita paruh baya mengangkat kepalanya.


"Kau benar-benar cantik, Nyonya. Tapi sepertinya ada yang salah dengan mata indahmu. Apakah itu karena air yang memenuhi kelopak matamu? Jika iya, kau tak perlu khawatir. Aku bisa menjamin malam ini matamu akan kembali menunjukan keindahannya, karena ada banyak hal tak mengenakan yang akan menimpa dirimu malam ini." Kata Jordan tersenyum sinis.


"CUKUP!!!" pria paruh baya menggebrak meja.


DOR!!!


Pistol yang sejak tadi teracung ke arah jam dua belas, kini bergerak beberapa derajat ke kiri, tepat mengarah ke pelipis salah satu anak Dev yang kini sedang menyemburkan cairan merah.


Di hadapannya, wanita paruh baya tak sanggup berteriak. Bola matanya terbelalak dengan helaan napas yang terisak.


"Aku sudah mengingatkanmu, Tuan. Sebaiknya lain kali kau mendengarkanku."


Pria paruh baya tak memberi respon. Wajah keriputnya yang mulai memerah kini terus mengucurkan keringat. Wanita paruh baya juga tak merespon. Sejak tadi bola matanya terus terbelalak, memandangi salah satu anaknya yang tak bernyawa lagi. Tak jauh berbeda, seorang anak Dev yang masih tersisa di sisi kiri juga melakukan hal yang sama. Ia hanya terdiam dengan kelopak mata yang mengatup rapat, bahkan cairan merah yang menoda di sebagian wajahnya dibiarkan begitu saja.


"Kau sedang apa? Ayo segera habiskan makananmu."


Anak remaja itu tetap tak merespon.


"Ayolah, jangan tegang. Ini benar-benar tidak asyik." kata Jordan terkekeh sambil melipat tangannya di atas meja.


Saat itu juga, salah satu tangan pria paruh baya bergerak turun ke kolong meja.

__ADS_1


"Mau apa kau?" tanya anak buah Jordan menekan pistolnya ke arah pelipis pria itu, "Kau tak akan memegang senjata di dekat keluargamu, kan?"


Pria paruh baya tak memperdulikan perkataan itu, dan tetap menyembunyikan salah satu tangannya di kolong meja.


"Lantas sedang apa tanganmu berada di bawah sana, Tuan Dev?" kata Jordan.


Diam. Pria paruh baya tetap tak memberi respon kecuali dengan bola mata yang menatap tajam.


Lengang.


Selepas itu suara tawa Jordan menggema di ruangan besar ini, "Ohhhh ... Aku tahu!" seru Jordan seraya menahan tawanya, "Apakah tanganmu sedang menekan tombol merah yang sengaja dirancang untuk keadaan seperti ini?"


Dahi pria paruh baya berkerut.


"Kau bodoh, Tuan Dev. Benar-benar bodoh. Saking bodohnya hingga peluru itu ingin sekali masuk ke dalam kepalamu." Ucap Jordan tersenyum lebar, "Asal kau tahu, anak buahku sudah mengawasi rumah ini selama tiga bulan. Bahkan tombol merah itu sudah tak berfungsi sejak satu minggu yang lalu. Apa kau tak menyadarinnya?"


Jakun pria paruh baya sesekali bergerak naik-turun. Ia menelan salivanya begitu susah.


"Hidupmu terlalu nyaman, Tuan. Tapi kau tidak pernah memikirkan bagaimana aku menderita tanpa ayah. Setelah perusahaannya hancur. Ayahku sakit-sakitan."


"PENJAGA!!! Di mana kalian?!!" Pria paruh baya itu terus berteriak.


"Sudah, sudah, jangan berteriak! Simpan tenagamu untuk sesuatu yang lebih berguna. Semua anak buahmu telah menemui ajalnya."


"BRENGSEK KAU!!! Aku tak percaya pada omong kosongmu!! Cepat keluar dari rumahku!!!"


Hening.


Sepi.


Sunyi.


Pria paruh baya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, "Sebenarnya apa maumu?"


"Aku ingin membalas dendam atas nama ayahku."


Sepi.


Tak ada satu orang pun yang merespon.


"Dua puluh tahun yang lalu, Pukul sebelas malam. Seorang dokter menyuntik mati pasiennya. Apa kau ingat kejadian itu, Tuan?"


Pria paruh baya menelan ludah. Wajahnya menegang kaku. "Aku hanya diperintahkan melakukan pembunuhan itu." ucapnya gugup.


"Siapa yang memerintahkanmu?"


"Tu...tuan Christian?"


Seketika badan Jordan menegang kaku, Ia shock mendengarnya. "Apa? Kakek Christian?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2