
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Keesokan paginya, matahari mulai bersinar terang, dan sebagian cahaya hangatnya masuk melewati celah jendela kamarnya.
Levin mulai terbangun dan merasakan sesuatu yang perih di punggung tangannya saat ia menggerakkan tangan. Pandangannya masih buram, Ia masih beradaptasi dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela.
Perlahan-lahan akhirnya Levin berhasil membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat punggung tangannya sudah tertancap infus.
"Heuh? Aku diinfus?" Levin mengerutkan kening sambil mengangkat tangannya. Ia meringis kesakitan dan mencoba mengingat kejadian tadi malam.
Sepersekian detik Levin memandang ke samping. Ia sangat terkejut saat melihat Alessa sedang tertidur di kamarnya.
"Alessa?"
Jantungnya langsung terpicu cepat dan tiba-tiba merasa gugup. Wajahnya berubah merah.
"Apa jangan-jangan....?" Levin langsung teringat sesuatu. Ia yakin Elana yang menghubungi Dokter Alessa.
Saat ini posisi tidur Alessa menyamping, tidurnya begitu tenang, hembusan napasnya terdengar stabil. Levin menatap sejenak sambil merubah posisinya menjadi menyamping dan berhadapan dengan Alessa. Tanpa sadar ia tersenyum, saat melihat wajah Alessa yang tertidur seperti anak kecil itu. Begitu polos, seperti tidak ada beban.
Levin terus menatap wajah Alessa dengan lekat. Wajahnya begitu mulus. matanya yang indah, alisnya yang tertata rapi, bibirnya berwarna merah muda dan wangi tubuhnya yang begitu memikat. Ada rasa aneh yang terus menggelitik hatinya. Levin yakin debaran-debaran itu tercipta dari detak jantungnya.
Levin menghembuskan napasnya berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin berdetak begitu kencang.
Ia menarik tangannya kembali, ketika ia ingin menyentuh wajah Alessa. Levin takut membangunkannya. Tiba-tiba ada pergerakan dari Alessa, bersamaan itu Levin kembali memejamkan matanya.
Pikiran Alessa sudah terbangun. Namun, tiba-tiba ia mengerjap dan teringat sesuatu.
Ia menatap pria yang tertidur nyaman di sampingnya.
"Oh my God, tidakkkkkk !!!!" Alessa merubah posisinya menjadi duduk. Ia membelalakkan matanya karena begitu terkejut.
"Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku bisa tertidur di sini?" Alessa merutuki kebodohannya. Untung saja tuan Horald belum bangun.
"Apa yang dia pikirkan jika melihatku tidur di sini?"
Tanpa pikir panjang, Alessa melompat dari tempat tidur.
"Dimana Elana?"
Alessa tak perduli. "Aku harus meninggalkan tempat ini." ucapnya sambil membawa tasnya.
Namun tiba-tiba langkahnya berhenti, Alessa memutar tubuhnya kembali melihat ke arah Levin. Ia baru teringat infus masih tertancap di tangan Levin. Alessa segera membuka tasnya dan mengeluarkan termometer inframerah untuk mengukur temperatur tubuh Levin. Ia mengarahkan ke dahi Levin. Alessa seketika bernapas lega. Suhu tubuh Levin sudah kembali normal.
"Lebih baik aku buka infusnya dulu." Batinnya.
Alessa dengan telaten mengambil kapas yang bercampur alkohol. Ia mengoleskan pada tempat jarum infus di tangan Levin. Ia membuka jarum yang tertusuk secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan Levin. Alessa sangat berhati-hati. Ia menjepit bibirnya. Kemudian menempelkan plester pada tangan Levin.
Setelah melakukan itu, Alessa kembali memasukkan peralatannya. Tanpa pikir panjang, Alessa lalu keluar dari kamar itu. Bersamaan itu Levin membuka matanya, melihat punggung Alessa yang menghilang dibalik pintu. Levin hanya bisa menahan senyumnya.
__ADS_1
"Selamat pagi Aunty," Sapa Elena dengan wajah imutnya.
Langkah Alessa mendadak berhenti, saat mendengar sapaan merdu dari suara yang begitu dikenalinya. Ia melihat Elana tengah duduk santai di depan televisi.
"Selamat pagi, sayang. Kenapa Elana tidak membangunkan Aunty." Alessa mendekat ke kursi sofa dimana Elana sedang duduk.
"Maaf, aunty. Elana tidak berani membangunkan Aunty. Karena semalan aunty sudah repot mengurus Uncle."
Alessa tersenyum sambil membelai rambut Elana. "Tapi Uncle sudah sehat kok,"
"Benarkah?" wajah Elana berbinar bahagia.
"Hmm, Elana tidak perlu khawatir lagi."
"Terima kasih, Aunty." Elana memeluk Alessa. Alessa hanya bisa tersenyum.
"Sama-sama sayang. Sekarang Aunty pulang ya," Alessa melepaskan pelukannya dan kemudian mencium singkat pipi Elana.
Elana hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Alessa pun keluar dari rumah itu. Ia sempat berpapasan dengan Desmond.
"Bukankah dia dokter yang bekerja di rumah sakit Medika?" ucap Desmond dalam hati. Ia terus menatap Alessa yang terus berjalan meninggalkan rumah bosnya itu.
Desmond tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. "Kenapa aku harus memikirkannya?" ucapnya kemudian. Ia pun melanjutkan langkah-langkah kecilnya.
SEMENTARA DI DALAM RUANG TAMU.
Setelah menyapa Elana. Desmond berjalan menuju kamar bosnya itu.
"Selamat pagi, tuan. Saya sudah membawa berkas yang anda minta." Sapa Desmond, melihat Levin sedang berdiri di balkon.
"Terima kasih, Desmon. Letakkan saja di atas meja."
"Hari ini saya tidak masuk kantor." ucap Levin menatap sekilas ke arah Desmond.
Desmond mengernyitkan keningnya saat melihat ada plester di tangan bosnya itu. "Maaf sebelumnya tuan, kenapa tangan anda ada plester. Apakah anda sakit?" Tanya Desmond dengan nada hati-hati.
"Saya tidak apa-apa."
Desmond hanya diam dan terus menatap pak direktur.
"Jangan menatapku seperti itu, Desmond." Kata Levin menatap malas. Ia kembali duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Maaf tuan, bukan seperti itu maksud saya."
Desmond sedikit membungkukkan badannya.
"Bagaimana dengan hasil rekapan data yang saya minta?" Levin mengalihkan pembicaraan.
"Saya sudah kirim melalui email, tuan. Anda bisa langsung memeriksanya."
"Saya minta kamu urus sisa mengenai kerjasama kita dengan perusahaan A. Dan mengenai proyek baru, satu bulan ini, saya tidak mau tahu harus rampung secepatnya." ucap Levin dengan tegas di setiap perkataannya.
"Siap tuan, saya akan mengecek langsung, agar proyek itu secepatnya selesai." Kata Desmond.
"Oh ya, bagaimana permasalahan produksi di cabang B?"
"Kita hanya menunggu kabar terbaru dari pak James. Saya sudah menghubungi pihak terkait untuk membahasnya dan tinggal menunggu, kapan anda bisa membahasnya kembali." jelas Desmond.
__ADS_1
"Kumpulkan tim dari cabang B untuk melakukan rekapan ulang di sini. Saya tunggu kedatangan mereka minggu depan. Saya ingin lihat sampai dimana kemampuan kerja mereka. Jika mereka tidak bisa menyelesaikannya, saya minta mereka mengundurkan diri dengan suka rela."
Glek!
Desmond menelan salivanya begitu susah. Ia hanya menunduk tanda mengerti instruksi dari pak direktur. Jika sudah menyangkut pekerjaan ia tidak bisa main-main. Jika sudah seperti itu, Desmond harus melakukan yang terbaik.
"Kau bisa keluar!" Kata Levin pandangannya tetap lurus tidak melihat Desmond. Ia kembali merebahkan tubuhnya.
"Baik, tuan." Desmond pamit undur diri.
Namun sebelum Desmond meninggalkan kamar itu. Tiba-tiba Liliana masuk tanpa mengetuk pintu. Wajah Liliana mengerut karena menahan tangisnya. Ia langsung melangkah cepat berhambur memeluk Levin.
Desmond berpikir saat mendengar pintu di buka kasar, ada orang sengaja buat keributan. Ia sudah siap menjaga benteng pertahanan di sana. Namun saat melihat Liliana yang datang, bibir Desmond langsung mengulas senyum. Ia pun melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan.
"Kenapa kau menangis?" Levin menatap heran ke arah Liliana yang tiba-tiba menangis itu.
"Kau membuatku takut, Levin." Liliana memeluk erat tubuh Levin. Tangisannya seketika pecah. Levin tersenyum lembut membalas pelukan kakaknya itu.
"Aku tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Elana bilang kamu sakit parah. Apa aku harus menghubungi mommy saja?"
"Jangan, kau sengaja mau menambah pikiran mommy. Aku sudah bilang tidak apa-apa. Sakit keras?" Levin seketika tertawa. "Siapa yang sakit keras?"
Wajah Liliana sudah tampak kesal. "Astaga, kau masih bisa tertawa?"
"Tentu saja aku tertawa, bagaimana Elana bisa berpikir aku sakit keras."
"Kau terlalu bekerja keras. Sampai mengabaikan kesehatanmu."
Levin tersenyum. "Aku akan lebih memperhatikan kesehatanku." ucapnya kemudian.
"Hari ini aku membawa Elana pulang."
Levin hanya mengangguk sambil membawa berkas yang dibawa Desmond ke atas tempat tidur.
"Kau mau bekerja?" kata Liliana saat melihat Levin membolak-balikkan kertas yang ada di tangannya.
"Masih ada sisa pekerjaan yang harus aku tandatangani."
"Astaga Levin, kamu bawel banget sih, uda sakit begini masih memikirkan pekerjaan? Kamu sama saja dengan Daddy. Tidak seharusnya kau memaksakan diri seperti ini. Kau bisa melakukannya besok."
"Iya, aku tahu.Tapi????"
"Tidak ada tapi, tapi..." omel Liliana sambil menaikkan alisnya setengah.
Levin memilih pasrah. Dibalik itu ia merasa bersyukur dengan kebersamaan ini. Melihat senyuman Liliana membuatnya bertambah bahagia. Bahkan kebahagiaannya itu bisa ia ungkapkan dengan air mata. Levin menarik napas, Ia bersyukur telah diberikan saudara kakak yang baik. Walau ia tahu Liliana kadang terkesan cuek.
Levin menarik napasnya dalam-dalam. Ada satu hal yang baru disadarinya. Bahwa keluarga begitu mencintainya. Berjuta kasih sayang dari orang tua dan kakaknya yang ia dapatkan di kehidupannya bersama mereka. Levin sangat mencintai mereka. Karena menurutnya adalah keluarga adalah yang terbaik dan teristimewa sepanjang masa yang sekali pun tak akan pernah dua kali ia dapatkan.
Ya...mommy dan daddy juga selalu mengajarkannya arti sebuah kehidupan, kesabaran, keikhlasan, rasa bersyukur dan perjuangan hidup. Sudah berapa keringat dan tetesan air mata yang mereka keluarkan saat mereka berada di titik terendah. Besar atau kecilnya kesalahan Levin dulu selalu di maafkan dan menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman dan dorongan dari merekalah yang membuat Levin selalu semangat untuk menjadi kuat menghadapi tantangan hidup.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^