Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
KENAPA AKU GUGUP


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Pagi datang menyapa, Alessa merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tangannya di tarik ke atas melewati kepala. Sepersekian detik, ia reflek terduduk mengingat kejadian tadi malam. Alessa memijit pelipisnya, seakan berpikir keras. Bola matanya melirik ke kiri dan ke kanan.


Bagaimana Alessa tidak memikirkannya. Ia bahkan tidak tidur nyenyak memikirkan hal itu. Akhir-akhir ini tetangganya itu bersikap aneh kepadanya. Alessa mengembuskan napas frustasi. Menarik dan mengembuskannya lagi. Ia melakukan berulang-ulang.


"Ada apa denganku, kenapa aku terus memikirkannya?" Alessa terus berbisik dalam hatinya. Debaran aneh itu kembali datang, Ia seperti terjebak dengan kejadian malam itu.


Saat kembali ke rumah, Alessa bertemu lagi dengan Levin di supermarket. Levin mengikutinya selama berbelanja. Setiap mereka berbicara Levin melakukan kontak mata yang intens kepada Alessa. Ia begitu antusias dan bersemangat membantunya mendorong troli belanja. Levin bahkan memberikan perhatian lebih, membukakan minuman Soft drink untuknya bahkan tanpa Alessa minta. Levin juga mencuri-curi pandang saat Alessa sedang mencari bahan makanan yang diperlukannya. Dan ia bisa merasakan itu. Bahkan Levin tak segan-segan melakukan kontak fisik dengannya.


"Aaarghhh...." Alessa mengacak rambutnya dengan asal. Matanya memicing, menyorot dengan tajam.Terbersit pikiran nakal. "Apa jangan-jangan Levin menyuk....Ahhhhhh tidak mungkin." Alessa menggeleng cepat untuk mengembalikan pikirannya. "Bagaimana aku bisa berpikir seperti itu, dasar bodoh!"


Mata Alessa menyipit memandang ke arah luar. Ia menjatuhkan kakinya di lantai melangkah mendekat ke arah jendela. Alessa menatap ke arah rumah Levin yang tampak sepi.


"Apa dia masih tidur?" Alessa berucap pelan sambil terus memperhatikan keadaan rumah. Tidak ada pergerakan sama sekali.


"Jangan pikirkan yang macam-macam. Sekarang siapkan sarapan. Hari ini adalah hari liburmu. Pergunakan waktumu dengan baik Alessa." Ucapnya menatap jam dinding model ukiran yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Waktunya bersiap. Alessa berjalan ke arah kamar mandi. Mengambil odol dan sikat gigi, lalu menggigitnya pelan. Ia membuka mata sedikit lebih lebar dan memandang pantulan dirinya di kaca.


Setelah membersihkan wajah dan menyikat giginya. Ia keluar dan segera membersihkan kamarnya. Dengan cekatan Alessa merapikan sekaligus membersihkan seprai dan menutupi permukaan kasurnya. Ia lalu merapikan posisi bantal. Meja tempat biasa ia menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia bersihkan juga. Boneka yang selalu menemaninya, di susun dengan rapi dan Ia letakkan di sisi kanan paling ujung. Alessa tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Ia mengedarkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya tanda ia puas dengan hasil kerjanya.


"Sudah rapi, sekarang kita masak. Tapi menu apa ya hari ini?" Alessa mengetuk-ngetuk keningnya dengan gestur berpikir.


"Aha..." Tangan Alessa mengacung ke atas. "Sepertinya saya menyiapkan pancake saja. Menu sederhana, tapi bisa mengganjal perut sampai siang." ucapnya dengan semangat.


Alessa langsung menuju dapur. Menyiapkan pancake sebagai menu sarapan untuk pagi ini. Dan segelas susu hangat untuk mendampingi pancake. Alessa mengambil sepotong kecil mentega dan menaruhnya di atas pancake hangat. Ia mengambil seres coklat sebagai tambahan topping.


Pagi yang tenang. Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia lalu membersihkan rumah. Merapikan buku yang ada di atas meja.


Setiap Pagi selalu menawarkan cerita baru untuknya, baik kepada yang bangun di awal ataupun kepada yang bangun kesiangan. Ia tak pernah mengeluh soal pagi. Alessa selalu bersyukur karena masih bisa bertemu dengan pagi, Ia ingin menyambutnya dengan hati ikhlas. Ia yakin hari ini akan lebih baik lagi. Alessa menarik napasnya dalam-dalam, udara pagi begitu menenangkan pikirannya.


Dddrrrttt dddrrrttt...


Perhatiannya teralihkan saat mendapat panggilan dari handphonenya. Alessa tersenyum saat melihat kontak Samantha ada di display layar handphonenya. Ia sedang melakukan panggilan Video call.

__ADS_1


Alessa dengan cepat menggeser tombol jawab dari handphonenya. "Hallo, Samantha?"


"Hei...buk dokter," Alessa melambaikan tangannya. "Bagaimana kabarmu? Kau sibuk sekali dan tidak mau mengangkat panggilanku." Protes Samantha yang sudah beberapa hari cuti karena ada acara pernikahan saudaranya. Dan karena itulah, Alessa minta izin beberapa hari untuk memenuhi undangan Samantha. Namun, dokter Mark tidak mengizinkannya. Alessa begitu kesal. Ia hanya bisa memakinya dari diluar pintu saja. Tanpa diketahui Alessa, ternyata Levin melihat tindakan bodohnya itu.


"Dokter Alessa, apa kamu masih di sana?"


"Siapa yang sombong? Kau menghubungiku saat aku tidur. Aku juga malas menjawabnya." ucap Alessa akhirnya.


"Cih kamu jahat." Samantha mengerucut wajahnya.


Alessa terkekeh. "Pasti kamu repot sekali."


"Hmm, ini saja aku tidak bisa tidur karena mempersiapkan semuanya."


"Jadi kenapa kamu menghubungiku di saat kau masih sibuk. Apa kata keluargamu nanti."


"Tidak masalah, aku hanya ingin melihat wajahmu saja."


"Mulai..." Alessa membengkokkan bibirnya.


"Hahahaha. Bagaimana soal izinmu, apa dokter Mark memberikannya?"


Alessa mengembuskan napas berat. "Maafkan aku Samantha, Dokter Mark tidak memberiku izin." Nada suara Alessa begitu kesal.


"Dasar dokter bermuka dua, aku tahu dia itu sengaja melakukannya."


"Ya sudah tidak apa-apa. Mau gimana lagi, kalau dia sudah mengatakan tidak, tidak ada debat lagi."


Alessa tersenyum. "Maafkan aku ya, sampaikan kepada ayah dan ibu, aku tidak bisa datang."


"Hmm. Nanti aku sampaikan ke ibu. Aisss...Sudah ya. Pekerjaanku masih banyak, aku bisa di marah." Kata Samantha sambil melambaikan tangannya.


"Hmm. Baiklah." Alessa tersenyum sambil melambaikan tangannya di depan Samantha. "Oke....Aku tutup ya,"


"Bye, Alessa!" Samantha membalas senyuman itu dan ikut melambaikan tangannya juga.


TIT!


Alessa mengakhiri panggilan video mereka. Ia tersenyum sambil menarik napas singkat. Alessa kembali melakukan tugasnya, membersihkan rumah.


⭐⭐⭐⭐⭐


Alessa duduk santai di kursi malas sambil menyeruput teh jahe hangat. Setiap akhir pekan, Ia akan menghabiskan waktunya dengan baik. Dan mimpi apa ia tadi malam, tanpa diduga-duga Alessa bertemu Levin dan Elana di sini. Perumahan Flower ini memang memiliki kolam renang yang cukup besar. Siapa saja bebas datang ke sini tanpa dipungut biaya. Elana tengah asyik berenang di sana. Alessa tersenyum dan terus memperhatikan anak kecil itu.

__ADS_1


Tiba-tiba dahinya mengerut saat melihat Levin tidak ada bersama Elana. "Heuh, kemana Levin? Kenapa dia membiarkan Elana berenang sendiri?" Alessa mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki yang berhasil membuat pikirannya kacau.


"Ya aku tahu, Elana memang jago berenang. Tapi tidak seharusnya Elana di tinggal seperti itu?" Protes Alessa terus berbicara di kursinya.


"Aunty...." Panggil Elana tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Alessa membalasnya dengan lambaian tangan juga. "Hati-hati ya sayang,"


"Iya, Aunty....." Elana kembali memainkan air bersama teman-temannya.


"Kau tidak mau berenang?" Levin tiba-tiba muncul menggunakan celana renang pendek berbahan spandek yang ketat. Tatapannya saat ini benar-benar menggoda Alessa. Seringai nakal terlukis jelas di wajah Levin.


Wajah Alessa begitu terkejut saat melihat pemandangan itu. Seketika jantung Alessa berdetak kencang. Pasokan udara seketika terhambat masuk ke dalam paru-parunya. Wajahnya terasa panas, karena tidak nyaman. Alessa melarikan tatapannya ke bawah dan mencoba mengalihkan pandangannya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil bergumam.


"Apa dia sengaja membuatku terpukau dengan tubuhnya yang indah itu? Alessa, aku harap kamu jangan pingsan." batinnya terus berteriak, memberi peringatan keras pada otaknya.


Levin langsung tersenyum lebar, matanya memandang Alessa dengan penuh ketertarikan. Ia tahu Alessa saat ini sangat gugup. Levin menaikkan alis dan terus menatapnya dengan penuh arti. Wanita yang sekarang memenuhi pikirannya. Bahkan Levin tidak tahu kapan cinta itu datang memenuhi hatinya. Levin berjongkok menghadap Alessa.


"Kau terlihat gugup. Apa yang kau pikirkan, Alessa?" Tanya Levin tersenyum samar. Ia terus memandang wajah Alessa dengan lekat. Dan memperhatikan setiap garis wajah Alessa dari dekat.


"Heuh?" Alessa terkesiap, Levin seperti bisa membaca pikirannya. Sungguh memalukan, Alessa menggigit bibirnya dan mengedip cepat. Ia berusaha mencari alasan untuk memberikan jawaban yang tepat kepada pria yang berhasil memporak-porandakan hatinya tadi malam.


"Kau tidak bisa menjawabnya?" kata Levin kembali menggoda Alessa.


Spontan Alessa berucap. "Kenapa kau meninggalkan Elana. Apa kau sengaja datang untuk menggodaku? Aaah..." mata Alessa membulat kaget saat menyadari kalimat yang terlontar dari mulutnya. Wajahnya meringis seperti mau menangis. Ia menggeleng cepat. "Ah maksudku bukan seperti itu." Ucap Alessa dengan lantang sambil mengibaskan ke dua tangannya.


"Hahahaha." Levin tertawa lepas, sambil menunjukkan deretan giginya. "Aku tidak menggodamu. Bukankah kita hanya sebatas teman saja? Aku datang ke sini untuk mengajakmu berenang bersama Elana. Tidak ada yang salah kan?" ucap Levin tanpa melepaskan tatapannya kepada Alessa. Walau hatinya menolak untuk mengucapkan itu. Tapi sesungguhnya ia memang sengaja untuk menggoda Alessa.


Alessa tertunduk lesu sambil menghembuskan napas panjang, "Ya aku tahu kita hanya berteman. Tapi aku mohon jangan melihatku seperti itu." Ucap Alessa melirik sekilas ke arah Levin. Ia berulang kali menarik napasnya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Kenapa? apa kau tidak nyaman. Bukankah seorang teman bisa melakukan itu juga?" goda Levin lagi.


"Aku hanya tidak mau." kata Alessa dengan suara terendahnya.


"Ohhhh tidak mau ya?" Levin tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Ya...aku hanya tidak kuat saat kau memandangku seperti itu. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi lemah seperti ini. Peredaran darahku tidak stabil, aku bahkan kehilangan kendali. Matamu seperti menyimpan magnet dan membuatku gugup. Kau berhasil melumpuhkan perasaanku hanya karena tatapanmu itu. Aku sudah memiliki Jordan dan aku hanya mencintainya." Batin Alessa. Tapi entah mengapa saat mengatakan nama kekasihnya itu, hatinya hampa.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2