Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
PERSIAPAN PERNIKAHAN.


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


Seperti yang direncanakan, Alessa hanya mempersiapkan pernikahan mereka dalam satu bulan saja. Menurutnya, pernikahan ini terkesan terburu-buru. Hal ini yang membuat Alessa tertekan. Bukankah pernikahan merupakan hari paling spesial? Pernikahan harus dipersiapkan dengan matang tanpa tekanan.


Kenyataan harus memaksa Alessa mempersiapkannya dengan baik. Ia harus terjun langsung. Dengan persiapan yang rapi dan teratur, maka dipastikan pesta pernikahan pun akan berjalan dengan baik. Alessa mempercayakan pada semua tim wedding organizer. Sementara undangan mereka melakukan sendiri. Keluarga ikut serta membantu untuk persiapan pernikahan mereka.


Samantha juga selalu memberikan waktunya untuk membantu Alessa. Ternyata menyelesaikan semua ini tidak cukup waktu untuk satu minggu saja. Pantai terindah di kota ini menjadi pilihan mereka. Hotel ini sudah di booking keluarga Mark untuk 1000 tamu undangan. Mereka memberi fasilitas penginapan selama tiga hari. Ia meminta tim untuk mengecek kesiapan final dari masing-masing vendor dan dari wedding organizer yang mengurus pernikahan mereka.


Bukan hanya itu saja, pekerjaan di rumah sakit harus bisa diselesaikannya sebelum mengambil cuti panjang. Operasi Elana yang ke dua, ia serahkan kepada dokter bedah lainnya. Namun, untuk beberapa hari ini Alessa masih bisa memeriksa keadaan Elana.


Dan kini hari lelahnya itu membuat Alessa tertidur pulas di balik selimut. Ia masih berbaring nyaman di kasur empuknya. Malam ini terasa lebih lelah dari malam-malam sebelumnya. Banyak hal yang telah dilaluinya dan semua itu memberatkan. Sampai pagi ini, ia tidak menyadari matahari telah menerangi kamarnya. Alessa mengerjap dan menyipitkan matanya sebagai bentuk reflek saraf untuk melindungi retina dari cahaya yang tiba-tiba.


"Aahhhhh....sudah pagi?" Tangannya menyelusup ke atas. "Hmmm.. pagi yang cerah. Sepertinya masih bisa lanjut untuk tidur lagi." ucapnya dengan senyuman indah sambil memeluk bantal gulingnya. Ia mencari posisi yang nyaman.


Namun tiba-tiba, nada dering yang dinyanyikan oleh penyanyi andalannya, berbunyi memecahkan kesunyian pagi. Alessa sekilas memandang handphonenya yang terletak di atas nakas. Tidurnya terganggu, ia segera mengambil handphonenya. Ternyata ibunya yang melakukan panggilan video call pagi ini. Alessa tersenyum dan langsung mengangkatnya.


"Ibu.....!"


"Hai, sayang! apa kabar?" ucap Jenny tersenyum bahagia sambil melambaikan tangannya ke layar handphone.


"Sangat baik, ibu." Alessa tersenyum lembut menatap layar handphonenya dan ikut melambaikan tangannya.


"Apa aku mengganggumu? Sepertinya kau masih ada di tempat tidurmu?"


"Hmmm, ibu memang mengganggu tidurku." ucap Alessa tersenyum malas dan segera mengganti posisi tidurnya menjadi telentang.


"Maafkan ibu sayang. Ibu sangat merindukanmu. Jadi jangan salahkan ibu jika terus menghubungimu."


Alessa terkekeh. "Bukankah satu minggu kemarin kita baru bertemu? Ibu bisa saja." Kata Alessa tersenyum, walau ia tidak bisa menutupi betapa bahagianya dia saat seseorang mengakui telah merindukannya. Apalagi itu ibunya.


"Hmm tentu saja, sayang. Bagaimana persiapan pernikahanmu? apa kau butuh bantuan ibu? Jangan bilang kau bisa menyelesaikan semuanya."


Alessa tergelak. "Persiapannya baru lima puluh persen. Ibu tenang saja, aku bisa menyiapkan semuanya dengan baik. Ada Samantha yang selalu membantuku juga."


"Benarkah? Jangan lupa jaga kesehatan. Tetap konsumsi vitamin. Biar badanmu selalu fit. Dan satu lagi, jika kau butuh biaya, kau bisa tinggal bilang ke ibu."


"Hmmm. Tapi anakmu ini tidak terlalu miskin ibu." Alessa terkekeh sambil mengucek matanya.


"Kau selalu menolak bantuan ibu. Biaya pernikahan tidak sedikit sayang."


"Ibu, aku punya gaji sendiri dan aku bisa melakukan semuanya tanpa harus merepotkan keluarga. Sampai kapan aku selalu berlindung dibalik ibu. Tak perlu khawatir bu."

__ADS_1


Jenny tersenyum. Dia tahu seperti apa Alessa. Dia paling tidak suka merepotkan keluarga. Wanita itu kembali menarik napas panjang dan menatap Alessa penuh selidik. "Alessa..." Panggil Jenny.


"Ya bu."


"Apa kau hamil?"


Perkataan ibunya itu sontak membuat Alessa terkejut. Mulutnya menganga tak percaya. "Siapa yang hamil bu?"


"Kamu gak hamil?" tanya Jenny lagi.


"Maksud ibu aku hamil?" Alessa bukannya menjawab, ia balik bertanya.


"Ya, Sayang. Apa kamu hamil?"


"Astaga, pertanyaan apa itu bu? kenapa ibu bisa menilaiku seperti itu? Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu bu. Alessa tidak hamil." ucapnya dengan tegas.


"Maafkan ibu sayang. Tadi ibu sempat berpikir kamu hamil. Karena pertemuan dengan keluarga Mark terkesan terburu-buru. Kapan ibu telepon, kau gak pernah membahas masalah pernikahanmu dengan Jordan dan penentuan tanggal pernikahan juga membuat ibu semakin yakin bahwa kau hamil."


Alessa menarik napas berat, jelas saja ibunya menganggapnya seperti itu. Karena Jordan juga tidak pernah membahas tanggal pernikahan kepadanya. Dan begitu juga mengenai konsep pernikahan mereka nantinya. Ia sendiri bingung dengan sikap Jordan. Jordan semakin tak bisa ditebak.


"Sayang? Alessa?" Panggil Jenny saat menyadari Alessa tengah melamun.


"Eh..iya, bu?" Alessa mengerjap dan memindahkan tatapan ke arah layar handphone.


"Kau melamun sayang?"


Alessa mendesah lalu tersenyum lembut. "Aku sendiri heran dengan sikap Jordan bu. Ia menentukan tanggal pernikahan tanpa membicarakannya kepadaku. Acara lamaran juga seperti itu bu. Semuanya memang dilakukan terburu-buru. Tapi bukan berarti aku hamil."


Tak ingin membebani ibunya, Alessa merubah wajahnya untuk tetap tersenyum. "Aku siap bu. Aku mencintai Jordan. Bukankah tujuanku bekerja di rumah sakit ini, agar semakin dekat dengan Jordan."


"Iya, ibu juga bahagia jika melihatmu menikah dengan lelaki pilihanmu. Yang bisa ibu lakukan hanyalah mendoakanmu."


"Terima kasih bu," Ucap Alessa tersenyum bahagia. Benar kata ibunya Jordan adalah pilihannya. Dia adalah lelaki tujuannya, hingga Alessa bisa sampai ke kota ini.


"Alessa, sebenarnya ibu ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Kata Jenny sambil melihat ke kiri ke kanan. Ia melangkah meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamar.


"Membicarakan apa bu?" Kata Alessa bingung melihat perubahan wajah ibunya.


Setelah cukup aman, Jenny menarik napas panjang dan kemudian berbicara. "Ayahmu sepertinya mulai curiga sayang."


"Curiga apa bu?" tanya Alessa dengan kerutan dahi.


"Bukankah kau mengaku kepada ayahmu, hanya melanjutkan kuliah di kota A. Kemarin ayahmu menanyakan kembali kepada ibu."


Deg!


Jantung Alessa terpukul resah. Wajahnya berubah. "Jadi, ibu menjawab apa?"


"Ibu tetap mengatakan kau kuliah dan perkataan ibu tidak berubah."


Alessa bernapas lega. "Syukurlah bu, hingga waktunya tiba, aku akan mengatakan langsung kepada ayah."

__ADS_1


"Hmm, itu lebih baik sayang. Kau tahu sendiri, ayahmu paling tidak suka dibohongi."


"Baik bu."


"Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya. Jika kau butuh bantuan ibu, jangan sungkan menghubungi ibu. Kau mengerti?"


"Iya, bu." ucapnya tersenyum lagi.


"Baiklah sayang, ibu harus mengakhiri panggilan ini. Ayahmu sudah menunggu ibu. Ada acara keluarga yang harus kami hadiri. Kau tahu sendiri ayahmu paling tidak suka menunggu. Bisa-bisa ibu ditinggal dan dia pergi sendiri."


"Hahahaha.." Alessa tertawa, Ia sudah sangat kenal dengan ayahnya.


"Siapa bilang aku pergi sendiri dan kau ku tinggal? apa aku setega itu?" Tiba-tiba muncul Alexander dari belakang dan memotong pembicaraan Jenny dan Alessa.


"Memang benarkan?" Kata Jenny tak mau kalah


"Aku tidak seperti itu." protes Alexander.


"Lihat, ayahmu marah saat aku mengatakan seperti itu." Kata Jenny tertawa.


Melihat itu Alessa kembali tertawa sambil menutup mulutnya. Jelas-jelas perdebatan itu membuatnya terhibur.


Tanpa sadar, Jenny tersenyum saat melihat tawa bahagia putrinya. "Tetaplah tersenyum seperti itu sayang. Ibu sangat bahagia. Kau sudah melalui banyak hal sebelum ini dan ini adalah senyum terindahmu sayang."


Alessa tersenyum lembut membalas dengan senyuman teduh. "Terima kasih, ibu selalu yang terbaik."


"Sama-sama sayang, tetap jaga kesehatan ya."


"Iya, bu."


"Bye, Alessa!"


"Bye, ibu. Ayah aku mencintaimu." Teriak Alessa sebelum panggilan video berakhir.


TUT!


Panggilan video call pun berakhir. Alessa tersenyum dengan pandangan sayu. Hatinya menghangat. Alessa melangkah meninggalkan kamarnya menuju dapur. Ia langsung menyiapkan sarapannya. Alessa sengaja membuat sarapan yang mudah untuk pagi ini. Sarapan yang terbuat dari kentang saja. Ia mengolah kentang dalam berbagai bentuk.


Jadi hari ini Alessa membuat Stampot. Makanan ini yang paling disukainya. Stampot adalah kentang rebus yang dihancurkan, bisa juga dilumat dengan sayuran rebus lainnya. Ada sayuran direbus seperti brokoli dan wortel juga. Alessa sudah terbiasa dengan sarapan seperti itu.


Alessa tersenyum, saat sarapan itu sudah selesai ia sajikan. Ia menikmati sarapannya sambil menyeruput teh hangat. Pagi yang tenang. Alessa duduk sambil menatap jendela yang berembun. Tadi malam hujan turun dengan sangat deras. Pandangannya jauh menerawang, ia kembali teringat sosok Levin. Matanya langsung mengarah ke rumah Levin. Seperti biasa Levin tidak ada.


Matanya mengkristal, namun Alessa langsung segera memasukkan cairan bening itu lagi. Ia sudah berjanji tidak akan memikirkan Levin lagi. Alessa menutup mata dan menikmati setiap kebersamaannya dengan lelaki itu. Ia seperti kehilangan sosok sahabat yang selalu memberikan perhatian kepadanya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Rintik-rintik hujan telah diganti oleh sinar matahari pagi. Hari yang cerah. Ia kembali menyeruput teh buatannya sendiri.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2