
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
TIGA BULAN KEMUDIAN.
Pagi hari yang indah. Alessa berjalan memasuki rumah sakit.
"Selamat pagi ibu direktur." Ucap beberapa staf rumah sakit yang berjaga di bagian meja resepsionis ketika melihat Alessa berjalan memasuki lobby rumah sakit.
"Selamat pagi juga," Sapa Alessa tersenyum sambil mengangguk dan terus berjalan menuju ruangannya.
Seorang wanita cantik dengan lipstick merah elegan yang teroles rapi di bibirnya. Rambut curly panjang yang diurai dan sebagian sengaja di biarkan melewati bahu. Tinggi yang semampai, rok mini di bawah lutut menambah kesan seksi di tubuhnya yang indah. Alessa berjalan dengan propesional. Terlihat dari langkah dan postur tubuhnya yang tegap jika berjalan namun tetap elegan. Irama hells yang sengaja ditempokan indah membuat Samantha langsung bangkit dari duduknya. Ia menyambutnya dengan sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Ia mengagumi sosok wanita yang menjadi atasannya itu. Wanita yang energik dan proporsional. Ia dikenal sebagai wanita karir yang disiplin dalam menjalankan tugas yang menduduki jabatan tinggi itu. Alessa juga di kenal berhati baik dan berjiwa sosial yang tinggi.
Samantha tersenyum, menatap Alessa dari atas rambut sampai ke ujung kaki. "Selamat pagi dokter Alessa." Dengan lembut Samantha memberi sapaan akrab sebagai asisten kebanggaan.
"Selamat pagi, Samantha." Alessa balik menyapa dengan memberikannya senyuman ramah. "Siapkan minuman teh melati hangat, nanti langsung antar keruangan." Kata Alessa.
"Tumben sekali dok, biasanya dokter minum teh jahe hangat." Kata Samantha.
"Siapkan saja, jangan banyak tanya." Ucap Alessa dengan bibir mengerucut dan terus melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Samantha tidak menjawab, ia dengan cepat melangkah menuju pantry untuk menyiapkan minuman.
SETELAH ITU.
Di sana Alessa fokus memeriksa sebagian tugasnya. Menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang tertunda. Berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat yang tertinggal beberapa hari karena Alessa mengambil izin untuk pulang ke kota A dan melihat tempat peristirahatan Elana. Hingga waktu tidak terasa berputar begitu cepatnya. Hingga sore hari telah datang.
Tiba-tiba nada dering dari ponselnya berdering membuyarkan konsentrasinya. Alessa tersenyum dan dengan cepat mengangkatnya.
“Sudah sampai dimana, sayang?” tanya Levin dibalik telepon.
“Masih di rumah sakit.” jawabnya santai.
“Astaga, sayang. Kau masih di rumah sakit?"
"Ehmmm..."
"Apa aku saja yang menjemputmu?"
"Boleh. Dengan senang hati."
"Oke, tunggu di sana, aku akan datang secepatnya." jawab Levin.
"Nggak usah buru-buru.” Kata Alessa mengingatkan.
“Oke, sayang. Tunggu saja!” Jawab Levin tersenyum.
Panggilan terputus. Alessa meletakkan kembali handphonenya di atas meja.
Di tempat rumah sakit semua jelas terlihat dari lantai paling atas. Jalan dengan kemacetan jam pulang kerja, lalu lalang pejalan kaki sehabis turun dari stasiun. Sementara di langit, matahari melelehkan warna jingga. Alessa langsung melangkah keluar dari ruangannya setelah mendapatkan telepon dari Levin lagi. Alessa berlari keluar dari ruangannya. Ia bahkan tidak melihat ke arah Samantha yang berdiri menyambutnya. Alessa mempercepat langkahnya saat berada di koridor. Menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Begitu lift terbuka, langkahnya semakin di percepat. Ia melihat Levin di depan pintu utama. Posisi Levin sangat santai bersedekap sambil menyilangkan kaki. Alessa tersenyum bahagia saat melihat kekasihnya benar-benar datang menjemputnya.
"Sayang?" teriak Alessa begitu keluar dari pintu utama.
Mendengar suara Alessa, Levin membuka tangannya dan membiarkan Alessa berlari ke arahnya dan mereka bertemu. Alessa mendekap leher Levin begitu erat. Mereka melepaskan pelukannya. Tawa di wajah mereka begitu indah dan begitu bahagia.
"Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?" kata Alessa membuka pembicaraan.
"Hmm, tapi tidak di sini."
"Apa kau mendapatkan tender besar?"
__ADS_1
"Kalau menurutmu bagaimana?" Levin tersenyum simpul saat melihat ekspresi penasaran Alessa.
"Tidak tahu juga."
"Hahahaha." Levin tertawa. "Kalau begitu ikut aku."
"Kemana sayang?"
Dengan lembut Levin mencubit pipi Alessa. "Menatap senja bersamamu." kata Levin.
"Iya, tapi kemana?"
"Kau ikut saja. Aku ingin berjalan-jalan denganmu."
"Ke pantai?"
"Hmmm."
"Ahhhhh....aku suka pantai." Kata Alessa lagi.
Levin hanya tersenyum dan membawa tangan Alessa masuk ke dalam mobil. Mereka menikmati perjalanan menuju pantai. Mereka diam dan hanya mengukir senyum di wajahnya masing-masing. Angin sejuk berhembus sore hari. Langit sore ini memang indah. Ia terhampar anggun tanpa awan yang menggantung. Alessa memejamkan kedua mata. Merasakan belaian angin senja di sore hari. Damai. Alessa membuka kedua mata matanya lagi. Ia menatap lagi hamparan biru itu dari kaca mobil.
"Sayang?"
"Hmmm." Levin hanya menjawab dengan gumam singkat.
"Sepertinya mendung."
"Kenapa? Apa kau takut hujan?"
Alessa menggeleng. "Tidak aku menyukai hujan. Setiap hujan turun ada rasa bebas yang terpancar di sana. Damai yang ada. Sama seperti aku mencintai dirimu."
Levin tersenyum lembut, ia memasukkan jari-jarinya tangannya ke jari-jari tangan Alessa. Ia mencium tangan Alessa dengan lembut. Tak ada lagi pembicaraan setelah itu. Pemandangan di setiap jalan yang mereka lalui begitu menyejukkan mata. Seakan susana tempat itu menghipnotis mereka.
⭐⭐⭐⭐⭐
Terdengar suara deburan ombak yang berkejar kejaran ditepi pantai, membuat jiwa tenang dan pikiran bahagia, Alessa menikmati susana pantai yang membuatnya bersemangat. Mereka berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan tangan. Alessa dan Levin saling melempar senyum bahagia. Warna biru laut dan langit menginpirasi ketentraman dan ketenangan. Suara deburan ombak menenangkan hati.
Alessa menjepit bibirnya tersenyum malu, Ia merasakan seperti ada pelangi yang melintas dengan tujuh warna hanya karena mendengar kalimat itu. Akhir-akhir ini Levin memang sering memujinya. Tentu saja Alessa suka pujian itu. Ia begitu bahagia.
"Kenapa kau begitu mencintaiku?" Tanya Alessa menatap Levin secara lembut dan mendalam.
Levin tersenyum sambil memeluk pinggang Alessa agar semakin dekat dengannya. "Karena aku mencintaimu, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Dari semuanya tidak ada satu pun alasannya membuatku berhenti mencintaimu. Bahkan setiap detik aku bernapas aku tidak akan berhenti mencintaimu."
Suara Alessa parau dan serak sambil membalas memeluk pinggang Levin. "Kau benar-benar membuatku terharu sayang, itu manis sekali. Terima kasih atas cintamu yang sebesar ini."
"Hmmm...." Levin mengecup puncak kepala Alessa. "Oke sekarang kita lanjut jalan lagi, ya. Tapi sebelumnya, kau harus memakai penutup mata." Kata Levin.
"Heuh? Untuk apa, sayang?" tanya Alessa tak mengerti.
"Tutup saja ya." ujar Levin tersenyum dan memakaikan penutup mata warna merah dan Alessa hanya menurut saja. Ia menggigit bibir bawahnya karena benar-benar nervous.
"Jangan bilang kau ingin menculikku, sayang." candanya.
"Hmmm, malam ini aku ingin menculikmu." bisik Levin begitu sensual. Hingga membuat Alessa merinding mendengar itu. Mereka pun berjalan. Arahan Levin terus mendorong pelan tubuh Alessa untuk belok ke sana kemari. Ia menarik sedikit bahu Alessa, agar Alessa tidak melangkah lagi. Menyatakan mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Kita sudah sampai? apa aku sudah bisa membuka penutupnya?" Alessa benar-benar gila karena dibuat penasaran oleh Levin.
"Kau belum bisa buka penutupnya."
"Oh...belum bisa ya?"
"Sekarang buka sepatu," ucap Levin setengah berbisik.
"Bu-buka sepatu untuk apa sayang?" tanya Alessa dengan cepat dengan ekspresi bingung.
Alessa terlalu banyak protes. Levin segera berjongkok dan membuka sepatu Alessa. Lagi-lagi Alessa terkejut atas tindakan Levin. "Astaga, apa yang kau lakukan sayang?" Alessa sedikit panik.
"Aku ingin buka sepatumu, Alessa."
__ADS_1
"Iya, untuk apa? Bagaimana kalau orang melihat kita."
"Di sini tidak ada orang?"
Huffft Alessa hanya bisa menarik napas frustasi. Ia memilih diam dan menurut saja. Levin bangun lagi dan berdiri di belakang Alessa. Saat tubuhnya mendapatkan sentuhan lagi. Alessa mengerjap dan mendesah lewat mulut. Rasanya ingin berteriak karena tak nyaman dengan detak jantungnya yang semakin berdegup kencang.
"Sekarang kita jalan lagi ya." Levin menuntut langkah Alessa lagi. Suara ombak berkejar-kejaran menyapu pesisir pantai, menambah kesan romantis.
Hingga Levin berhenti yang diikuti oleh Alessa juga. Levin meminta Alessa untuk membuka penutup mata itu.
Alessa hanya menurut dan membuka penutup matanya. Ia dapat melihat berkas cahaya yang mulai masuk dan menyelusup ke dalam kelopak matanya. Alessa masih menyesuaikan matanya. Ia mengerjap saat melihat tempat itu penuh dengan bunga dengan bertuliskan 'Alessa i love u' dan 'Kau adalah hidupku, kebahagianku dan semangatku.'
Mata Alessa berkaca-kaca. Ia tidak bisa menjelaskan kebahagiaannya saat ini. Alessa masih kaget sampai ia menutup mulutnya karena begitu terpesona dengan keindahan pasir pantai yang disulap menjadi taman indah.
"Sayang?" panggil Alessa, lalu menatap Levin dengan haru.
"Kau menyukainya?" tanya Levin.
Alessa menganggukkan kepalanya dengan cepat. Levin tersenyum dan mendekat ke arah Alessa dan berlutut.
"Heuh? Apa yang kau lakukan sayang?" mata Alessa melotot tidak percaya.
"Menikahlah denganku, Alessa. Aku tak ingin menunggu lagi. Jika kau bersedia, kita melakukannya besok ataupun lusa. Apa kau bersedia?"
Levin mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari kantong jasnya. Dan membuka kotak itu dan menunjukkan kepada Alessa.
"Aku membawamu ke sini untuk melamarmu Alessa. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pernikahan yang sempurna adalah dua orang yang tidak sempurna yang saling melengkapi satu sama lain. Menikahlah denganku, aku ingin menjadi pendamping disisa hidupmu." Kata Levin kembali.
Alessa menutup mulutnya yang kini menganga. Ia begitu bahagia dan tidak menyangka akan mendapatkan kejutan di hari ini. Alessa menjepit bibirnya dan menatap Levin.
"Alessa?" Panggil Levin lagi.
Alessa mencoba menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan lagi lewat mulutnya. Setelah cukup tenang. Ia membalas menatap Levin. Meski dengan jantungnya yang berdebar-debar, Alessa mengangguk pelan dan mengatakan.
"Aku bersedia, Levin." Ucap Alessa dengan lantang. Mulutnya terbuka gemetar, napasnya keluar tidak stabil.
Levin pun tersenyum haru, Ia langsung bangun dari posisi berlutut dan memasangkan cincin itu ke jari manis Alessa. Ia langsung mengangkat tubuh Alessa ke atas.
"Hahahaha." Alessa tertawa saat Levin memutar-mutar tubuhnya. Mereka saling mengecup di udara.
"Aku mencintaimu, Levin. AKU MENCINTAIMU!" Ucap Alessa menatap ke atas langit sambil membuka ke dua tangannya saat Levin masih memutar tubuhnya.
"Aku juga sangat mencintaimu Alessa." balas Levin dengan teriakan juga.
Hujan gerimis juga ikut menyaksikan kebahagiaan mereka. Alessa tersenyum menengadah ke atas membiarkan air hujan membasahi wajahnya.
"Hujan dan Kamu sama-sama memberikan kebahagiaan dan penuh ke syukuran bagi hidupku. Banyak perjuangan cinta yang aku lalui sampai dititik ini. Kini cintaku berlabuh kepada sosok lelaki yang tepat untuk mendampingi sisa hidupku."
HUJAN DAN KAMU TAMAT.
Terima kasih kepada my Readers yang masih setia membaca Hujan dan Kamu.
Jangan lupa mampir ke novelku sebelumnya.
. The fate of marriage.
. RETALIATION
. Whisper of love.
. Whisper of love season ke 2.
. Mafia Berhati Malaikat
. Setidaknya lihat aku suamiku.
. Love of Fate
TERIMA KASIH.
__ADS_1
Karya baru ☺️😊