
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
VISUAL LEVIN HORALD.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Pagi hari yang cerah. Matahari semakin bergerak ke atas sehingga sinarnya menyeruak menerangi alam. Cahaya semakin terang kemudian berhasil meluncur bebas menembus masuk ke dalam rumah Levin Horald.
Bunyi napas terengah dan keringat yang menetes sudah mewarnai pagi Levin. Ia sedang berlari di atas treadmill. Ia tak juga menyelesaikan tahap akhir olahraganya. Bayangan Alessa selalu hadir di otaknya dan terus menari-nari mengganggu aktivitasnya. Levin semakin mempercepat treadmillnya.
Tit...tit...tit...
Bunyi jam tangan digital membuat Levin harus menyudahi kegiatan itu. Ia memperlambat larinya, menyelesaikan tahap akhir olahraga ringannya dengan kardio pagi ini. Levin menghentikan mesin yang membuat kakinya berlari itu sambil menyapu keringat yang membasahi dahinya.
Sebelum turun dari sana, ia melihat akhir yang tertampil di display layar. Untuk melihat jumlah kalori yang terbakar. Levin mengembuskan napas berulang kali. Ia melangkah mengambil botol sport yang berujung kecil. Diteguknya air mineral segar, ia sedikit mendongak sehingga jakun mungil nampak bergerak naik turun di kulitnya yang mulus dan bersih. Aktivitas tersebut membuat rambutnya terlihat basah alami. Dengan menggunakan celana pendek dan jaket sport berbahan latex yang selalu menemani olahraga paginya.
Usai melegakan daganya, Levin melangkah menuju balkon dan bersandar dipagarnya. Kebiasaan Levin setiap hari, menatap ke rumah Alessa. Rumah yang kini ditempati Alessa sudah satu bulan. Matanya yang penuh pancaran penuh harap, berharap menemukan Alessa di sana. Tak ada Alessa. Ada rasa kecewa menyergap dirinya. Ya, semenjak pertemuan terakhir mereka, Levin sudah tidak pernah bertemu dengan Alessa lagi.
Levin menarik napas dalam-dalam. Saat memikirkan wanita itu, ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Ia melepaskan senyum penuh arti sambil mengusap pelan wajahnya. Beberapa detik kemudian Levin menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia menatap jauh, memandang ke arah jalan. Sebagaimana pagi-pagi biasanya, terlihat adanya lalu-lalang para pengendara motor. Levin sesaat memejamkan mata, merasakan angin pagi menyapu wajahnya. Cuaca pagi sehabis hujan masih bisa ia rasakan. Masih terasa sejuk walau matahari sudah memancarkan sinarnya.
DDDRRRTTT.... DDDRRRTTT....!
Panggilan dari handphone Levin bergetar dari atas meja. Ia segera melangkah mengambil handphonenya sebelum panggilan itu mati. Levin mengerutkan kening karena panggilan itu dari asistennya Desmond.
"Hmmm." Levin hanya menjawab sambil berjalan di depan cermin ruangan private gym. Ia berhenti dan menatap tubuhnya yang atletis.
"Tuan, anda dimana?"
"Kenapa?" tanya Levin mengernyit heran. Tentu saja ia masih di rumah.
"Salah satu investor kita menarik kembali modalnya." Ucap Desmond dengan nada hati-hati.
Levin menautkan kedua alisnya hingga saling menyatu. "Siapa?" tanya Levin dengan rahang mengeras. "Apa maksudmu Mr Julian yang menarik modalnya?" tanya Levin memastikan.
"Benar tuan." jawab Desmond dengan cepat
"Cih..." Levin berdecak sambil menarik sudut bibirnya ke atas. "Apa alasannya?" tanya Levin tanpa ekspresi. Beberapa hari yang lalu, Mr Julian memberikan peringatan kepada Levin. Ia sendiri tidak tahu alasannya apa. Yang jelas Mrs Julian pasti ada maksud terselubung.
Desmond nampak menarik napas singkat. Ia pun mengatur kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada bos-nya itu. "Alasan karena stigma negatif tentang pasar modal kita. Mereka menilai pasar modal mendapati reputasi buruk. Mr. Julian sepertinya mempunyai kecurigaan cukup mendalam tentang investasi di pasar modal yang katanya semakin menurun. Jadi beliau menarik"
__ADS_1
Levin menggeram kesal sambil mencengkram handphonenya dengan emosi. "Jadi apa maksud Mr Julian perusahaan kita akan bangkrut Desmond?" Levin meninggikan suaranya. Emosinya tersulut karena perkataan Desmond. Selama ini, Levin tidak pernah main-main dalam mengolah perusahaan. Ia sekali pun tidak pernah mengecewakan kolega bisnisnya. Kini yang membuatnya geram. Mr Julian menilai perusahaannya buruk. Sungguh Levin tidak bisa menerima itu.
"Sepertinya begitu tuan, Mr Julian sendiri menghasut para investor lainnya untuk menarik modalnya. Mereka juga mengatakan risiko keamanan transaksi perusahaan kita sangat buruk, hingga Mr Julian sangat takut uangnya akan hilang. Berita ini sudah tercium oleh perusahaan asing termaksud itu rumah sakit Medika."
Deg!
Levin mengusap tengkuknya berulang-ulang. "Dia benar-benar mencemarkan nama baik perusahaan. Nanti malam pertemukan aku dengan Mr Julian. Aku ingin memberinya perhitungan."
"Baik tuan." Jawab Desmond.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu ruangannya.
"Levin, kenapa lama sekali olahraganya? Kamu jadi kan ngantar Elana sekolah? Aku sudah tak sempat lagi ngantar Elana, aku benar-benar terlambat nih..." Kata Liliana dari balik pintu. Sudah dua hari mereka tinggal di rumah Levin, karena Liliana dan suaminya sedang ribut. Liliana tidak ingin pulang sebelum hatinya membaik.
Saat mendengar nama Elana, hati Levin menghangat. Emosi di dadanya tiba-tiba hilang begitu saja.
"Ya. Tunggu saja 20 menit. Aku segera turun."
"Oke, aku tunggu ya," Kata Liliana. Langkah kakinya terdengar menjauh dari ruangan private gym Levin.
"Baiklah Desmond, jangan lupa. Pastikan Mr Julian menemuiku malam ini." Kata Levin tegas.
"Baik tuan."
Setelah mendengar konfirmasi dari Demian. Levin langsung mematikan handphonenya lebih dulu.
TOK TOK TOK!
"Levin, aku pergi ya." Liliana mengetuk pintu dan berucap dibalik pintu.
"Elana dimana?" Ucap Levin sambil memilih kemeja yang ingin dikenakannya hari ini.
"Dia lagi sarapan." Sahut Liliana.
"Oke, baiklah."
"Oh, iya, Elana jangan sampai terlambat ya."
Levin tersenyum, "Ya beres!" sahut Levin dari dalam kamarnya. Jika Elana terlambat dunia bisa kacau. Elena tak akan berhenti menangis dan bisa-bisanya ia menyalahkan semua orang.
"Aku titip Elana dua hari, jangan sampai Jack menghubunginya. Kamu mengerti?"
"Hmmm. Pergilah!"
"Oke, terima kasih Levin. Kamu adik yang sangat pengertian. Hanya sayang, aku belum pernah bertemu dengan gadis yang sering diceritakan Elana itu."
Levin lagi-lagi tersenyum, tak ada lagi pembicaraan setelah itu. Liliana sudah pergi. Levin melihat jam dinding di atas tempat tidurnya sekilas.
"Sudah jam 07.50" gumamnya.
__ADS_1
Dengan sedikit tergesa, ia segera memakai pakaiannya. Levin menggunakan kemeja putih dan celana panjang berwarna cream. Ia tidak lupa membawa jas hitamnya. Tuntunan pekerjaan membuat ia tidak bisa lepas dari pakaian formal itu. Levin pun berjalan keluar dari kamarnya dan melihat Elana sudah rapi dengan pakai sekolahnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Levin disambut hangat oleh semua semua karyawan yang mengikuti rapat hari ini. Levin dikenal sebagai direktur yang hangat dan baik hati. Sebelum rapat dimulai, ia mereview ulang beberapa pekerjaan karyawannya. Tiba-tiba wajahnya mengerut. Saat memeriksa dokumen yang di bawa Desmond. Ia memberi tanda di setiap berkas yang tak sesuai.
"Ini, tolong diperiksa kembali," Kata Levin menggeser berkas itu dan beralih ke berkas yang lain.
Desmond segera mengambilnya dan memberikan dokumen itu kepada pak Daniel. Ia kemudian mundur dengan sopan, tepatnya berdiri di belakang Levin.
Levin melakukan itu agar karyawannya tetap semangat dan termotivasi untuk maju dan memperbaiki setiap kesalahan. Meski awalnya tantangan ini begitu berat bagi Levin selama dua tahun menjabat sebagai direktur utama. Tapi ia tidak bisa menyerah. Ia harus memberikan contoh kepada karyawannya dengan satu tujuan agar perusahaan ini bisa berkembang dengan baik.
Levin menunjukkan kesuksesannya bukan dengan cara instan. Ada hal yang harus diperjuangkan dan dikorbankan untuk mencapai semua itu. Karena Levin yakin sukses itu bukanlah kebetulan. Ia terbentuk dari kerja keras ketekunan, pembelajaran, pengorbanan. Dan yang paling penting, semua itu karena cinta dari orang-orang yang selalu mendukungnya.
Setelah memeriksa hasil pekerjaan karyawannya. Rapat pun dimulai. Semua berjalan sesuai yang diharapkan. Mereka memberikan ide-ide untuk kemajuan perusahaan ini. Hingga akhirnya, riuh tepuk tangan menyambut akhir rapat hari ini. Levin menyudahi arahannya. Senyuman menawan tak pernah lepas dari bibirnya, walau sedari tadi Levin menahan sakit kepala yang luar biasa. Ia mengedip pelan, merapatkan jas hitam yang berbalut mantap di tubuhnya.
"Rapat hari ini selesai," Ucap Levin bangun dari duduknya, melangkah meninggalkan ruang rapat. Dengan cepat Desmond mengikutinya.
Levin masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan direktur utama itu. Ia duduk di kursi kekuasaannya sambil menyenderkan punggungnya kesandaran kursi dan mendongak ke atas menatap langit- langit ruangannya. Levin memejamkan matanya. Menarik napasnya pelan. Badannya sudah dirasa tak enak sejak mengikuti rapat tadi. Tulangnya serba linu, badan agak hangat, meski belum demam.
Udara belakangan ini memang tidak bersahabat. Kadang-kadang panas terik, kadang-kadang mendung menggantung, kadang-kadang hujan tak lepas-lepas. Levin memijit pelipisnya berulang-ulang.
"Tuan?" panggil Desmond dengan suara terendahnya.
"Hmmm." Levin hanya bergumam, tak melihat ke arah Desmond.
"Apa perlu saya panggilkan dokter? dari tadi saya memperhatikan, anda sepertinya kurang sehat." Kata Desmond sedikit ragu dengan ucapannya.
"Saya tidak sakit."
"Tapi ..."
"Persiapkan saja rapat untuk sore ini. Ada beberapa kendala yang harus kita selesaikan dan jangan lupa malam ini, pertemukan saya dengan Mr Julian." ucapnya datar tanpa menatap ke arah Desmond. Ia masih nyaman dengan posisinya. Cara untuk meredakan sakit kepalanya.
"Ah, baik pak. Kalau begitu saya permisi." Desmond sedikit menunduk lalu melangkah pergi.
Levin memijit pelipisnya. Rasa sakit pada bagian kepalanya tak tertahankan lagi.
"Apakah aku harus menghubungi dokter Alessa?"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1