
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Christian kembali duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ia membiarkan Jordan berdiri seperti orang asing. Suasana masih hening. Jordan menelan salivanya berulang kali. Lalu, membuang napasnya setengah-setengah melalui mulut. Matanya terus menatap ke arah Kakek Christian yang memiliki kekuasaan itu.
"Kau yakin ingin mengetahui segalanya?" tanya Christian menatap ke arah Jordan sambil menyeruput secangkir kopi dan menghisap sepertiga rokok cerutu yang ada di tangannya.
Jordan tidak menjawab, tangannya mengepal kuat saat kakek Christian tak mempersilahkannya duduk.
Melihat Jordan diam, Christian tersenyum miring. "Baiklah. Dari tatapanmu, sepertinya kau sudah tidak sabar. Aku juga tidak ingin menyimpan keburukan Johan lagi. Kau harus mengetahui seperti apa ayahmu itu. Selama ini aku masih bisa menyimpannya sendiri. Kau adalah cucuku, aku masih menjaga perasaan seluruh keluarga. Karena tindakan bodoh ayahmu itu."
Jordan menahan napasnya sesaat. Giginya saling bergesekan saat mendengar kalimat itu terlontar lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu dengan cemas apa yang ingin di sampaikan kakek Christian.
Christian melepaskan cangkirnya ke tempat semula. Ia mengangkat alis ke arah Jordan dengan tatapan penuh penghakiman. "Kau tahu, sejak ayahmu mempermalukan keluarga Luthfi. Aku dengan ayahmu tidak ada hubungan keluarga lagi." Ucap Christian dengan sinis.
Jordan terdiam, belum sepenuhnya mengerti apa maksud ucap kakeknya itu. Bagaimana mungkin seorang ayah memutuskan hubungan keluarga kepada anaknya sendiri.
Christian menatap Jordan tanpa ekspresi. "Apa kau mendengarku? tidak ada yang berubah. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Ayahmu sudah dikeluarkan dari daftar keluarga Luthfi. Tapi sepertinya ibumu tahu diri sekali, dia tidak menggunakan nama Luthfi di belakang namamu. Kau menggunakan nama keluarga dari ibumu. Jika sampai kamu menggunakan nama Luthfi, sungguh tidak tahu malu sekali."
Jordan memandang Christian dengan dada naik turun. Sungguh hatinya begitu terluka mendengar perkataan kakeknya itu. Rahangnya mengencang dan tangannya mengepal kuat. Ia menarik napasnya perlahan.
"Apa yang membuat ayahku dikeluarkan dari daftar keluarga, kakek? Bukankah selama ini kau menunjukkan bahwa kau menyayangi aku? Soal hadiah yang sering aku berikan, bukankah kakek menyukainya?"
Christian tersenyum miring. "Siapa yang menyayangimu. Aku tidak pernah menyayangimu. Soal hadiah yang selalu kau berikan? Semua itu tidak ada artinya. Percaya diri sekali kau. Ingat, aku tidak pernah menyayangimu. Bahkan melihatmu saja, aku tidak ingin." Desis Christian dengan penuh kebencian.
DEG
Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Jordan diam membeku di tempatnya. Ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya.
"Kenapa, kau terkejut..? Ya tentu kau sangat terkejut, karena kalian manusia yang tidak punya rasa malu. Kau seperti ayahmu."
"Sekarang apa yang membuat keluarga membenci ayahku?" Jordan berusaha bersabar. Setiap kalimat yang diucapkan kakeknya itu mengoyak hatinya.
__ADS_1
"Apakah ibumu tidak pernah menceritakannya?" sinis Christian.
"Jika aku tahu, aku tidak akan berada di sini, Kakek."
Christian meremas tangannya erat-erat dan tersenyum smrik. "Tentu saya ibumu tidak pernah memberitahu masalah ini, karena ini adalah aib bagi keluarga Luthfi."
"Jangan mengulur waktu, sekarang katakan apa aib itu?" Kata Jordan tidak sabaran. Posisi Jordan masih tetap berdiri dan tidak dipersilakan duduk.
Christian menarik napasnya dengan berat. Ia memilih kata yang tepat untuk diucapkan. Setelah perjuangan batin yang kuat, akhirnya Christian mengatakannya. "Johan pernah memperkosa sepupunya sendiri sampai mengandung. Hingga wanita itu mengalami depresi berat dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."
Mendengar itu Jordan begitu terkejut, Ia menggeleng berusaha mencoba mencerna setiap kata yang baru di dengarnya. Ia diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Lidahnya keluh bak dipatuk ular. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara.
"Ayahmu bahkan melakukanya pada beberapa orang. Ini benar-benar memalukan. Sampai sekarang kebencian itu masih melekat di sini." Christian menempuk dadanya. "Aku sangat membencinya dan kebencian ini, kau tidak akan bisa mengubahnya. Dan ini berimbas kepadamu. Kau tetap anak Johan. Darahmu mengalir di sana. Termaksud itu ibumu." Tegas Christian di setiap ucapannya.
Jordan menggeleng, "Tidak mungkin, Daddy tidak mungkin melakukan itu, aku percaya dengan daddy. Dia sosok yang baik dan mencintai keluarga."
"Tau apa kau dengan masa lalu ayahmu yang brengsek itu. Heuh? Dan cinta? Jika ayahmu mencintai keluarga, seharusnya ia menjaga nama baik keluarga. Tidak melakukan berulang-ulang dan memalukan seluruh keluarga." Suara Christian sudah naik satu oktaf, ia bahkan mengebrak meja dengan kuat.
"Aku mengenal daddy. Tidak mungkin daddy Seperti itu." Jordan menggeleng dengan tatapan kosong. Ia masih sangat shock dengan apa yang di dengarnya.
"Kau tidak tahu bagaimana perasaan keluarga. Keluarga tersakiti dan sangat kecewa. Dan bukan hanya ini. Masih banyak kejahatan yang dilakukan Johan. Dia juga membocorkan rahasia perusahaan demi mendapatkan keuntungan. Apa kau sadar itu?"
"Jadi apa karena itu Uncle menyuntik mati daddy?"
"Aku tidak pernah memerintahkan siapapun untuk melakukan itu. Tapi di sini saya tegaskan, ayahmu lah yang meminta Dokter Dev untuk menyuntik mati."
Jordan mundur beberapa langkah sambil memegang keningnya. Ia menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin Daddy meminta Dokter Dev menyuntik mati. Sungguh Jordan masih tak percaya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Christian. "Kenapa dan untuk apa daddy meminta dokter Dev untuk menyuntiknya, Kakek?"
Mendengar itu Christian tertawa hambar. "Kau terlalu naif Jordan, kau bahkan tidak bertanya dulu kepada ibumu sebelum kau bertindak mempermalukan dirimu."
Jordan mengusap wajahnya dengan kasar. "Jangan mengalihkan pembicaraan Kakek. Kenapa daddy melakukan itu? apa Daddy mempunyai penyakit serius?"
Christian meneguk habis sisa kopi yang ada di cangkirnya. Menarik napas singkat lalu melanjutkan ucapannya. "Ayahmu terkena HIV. Ia sudah tidak sanggup menahan sakit lagi."
Jordan begitu shock mendengarnya itu semua. Matanya berkaca-kaca dan mengedip pelan. Ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara.
Lagi Christian mendesah. "Awalnya ayahmu masih berusaha menyembunyikan hasil diagnosis penyakitnya dari keluarga. Sampai akhirnya ia memberitahu semuanya karena kondisi mentalnya yang semakin memburuk. Hingga ia meminta Dokter Dev menyuntik mati."
Mendengar itu, mata Jordan kembali berkaca-kaca. Ia tidak kuat menahan segala gejolak yang ada di dalam hatinya. Ia menatap kakeknya dengan pandangan nanar. Jordan menurunkan kaki dan berlutut dengan gemetar dihadapan kakeknya itu. Menanggalkan semua harga diri yang ada padanya. Melucuti semua yang ada padanya.
__ADS_1
"Maafkan daddy Kakek, aku tahu kakek tidak akan bisa memaafkan daddy. Tapi semua sudah berlalu. Daddy sudah tenang dan bahagia. Lupakan semua yang terjadi. Aku mohon kakek, Heeeehhh." Napas Jordan bertahan dalam tangisan. Bibirnya gemetar, begitu juga dengan tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap sendu dengan air mata yang terjatuh di pipi. Ia berlutut dengan bahu yang gemetar dan menangis dihadapan Christian.
Christian diam dengan tatapan tanpa ekspresi. Ia mengeraskan rahangnya sambil meremas tangannya dengan kuat. Dan lebih-lebih ia malah menguatkan hatinya agar keyakinannya tidak goyah. Christian tersenyum sinis.
"Aku sudah yakin tujuanmu datang ke sini."
"Apa maksud Kakek?"
"Kau merendahkan dirimu demi kekuasaan, bukan?"
Jordan sama sekali tidak perduli atas penghinaan itu, walau hatinya terluka. Semua kembali demi memperbaiki nama baik keluarganya.
"Tidak semudah itu Jordan. Semua itu tidak mengubah apapun. Kau sama seperti ayahmu. Kau tamak akan kekuasaan."
Mendengar perkataan Kakeknya itu, bagaikan petir yang menyambar hati Jordan. Tubuhnya Kembali gemetar. Rahangnya mengencang dan Jordan mencengkeram kepalan tangannya dengan semakin keras. Perasaannya seketika terluka bahkan terkoyak-koyak. Tangannya semakin gemetar. Jordan menghembuskan napasnya yang gemetar dan terbata-bata. Emosi seketika mencuat memenuhi kepalanya. Dadanya benar-benar terbakar. Api di hatinya tersulut. Panas membara. Mencoba untuk bernapas. Namun yang dirasakannya bertambah sesak. Kenapa mommy tidak pernah menceritakan ini semua. Bagaimana perasaan mommy-nya saat itu. Saat semua keluarga membenci mereka. Ia terus menunduk mencerna setiap apa yang dikatakan kakeknya itu. Hatinya begitu hancur.
Melihat Jordan diam, Christian tersenyum sinis. "Sekarang kau sudah mengetahui faktanya. Jadi lebih baik kau pergi dari sini. Sebelum kesabaranku hilang." tukas Christian dengan suara rendahnya. Ia tidak merasa kasihan. Ia bahkan tersenyum penuh kemenangan. Tiada kata maaf bagi siapa yang telah mempermalukan keluarga Luthfi.
Tubuh Jordan kembali gemetar saat ia berdiri. Matanya tidak lepas memandang Christian. Tatapan yang tajam karena hatinya sudah tertutup kata maaf.
"Jangan pernah kembali lagi. Kau mengerti!" Ucap Christian mengisap cerutunya kembali.
Jordan berusaha tetap kuat dihadapan Christian. Walau hatinya begitu sesak saat ini.
"Semoga hidupmu penuh kebahagiaan Kakek. Aku percaya, Tuhan tidak pernah tidur Kakek. Kakek hari ini bisa tersenyum melihat penderitaan orang lain. Tapi ingat, Tuhan akan membalas semua perbuatanmu saat aku melangkah meninggalkan tempat ini." Kata Jordan mengepalkan tangannya begitu kuat. Ia lalu melangkah mantap. Namun hatinya begitu remuk, terkoyak bahkan hancur saat ini. Ia menarik napasnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Hidungnya perih dadanya sesak sampai tidak bisa bernapas dengan baik. Dengan langkah cepat ia meninggalkan villa Lutfhi.
BRAKKKK
Christian membuang semua yang ada di atas mejanya. Perkataan Jordan sangat melukai perasaannya. Ia tidak terima dengan perkataan itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1