Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
PERTEMUAN TIDAK DIDUGA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SATU BULAN KEMUDIAN.


Jordan memarkir mobilnya di restauran terkenal di kota A. Hari ini adalah perayaan ulang tahun Jane. Seluruh keluarga dari mommy-nya di undang makan bersama, kecuali dari keluarga Lutfhi. Jordan setengah jam terlambat dari perkiraan. Ia tidak bisa meninggalkan jadwal operasi karena itu adalah tugasnya menyelamatkan nyawa manusia.


Dalam dunia kedokteran, keahlian Jordan yang berfokus pada pisau dan kecepatan dalam operasi bedah bisa diacungkan jempol. Jordan memiliki banyak prestasi dalam hal irisan cepat. Dia adalah seorang instruktur bedah yang sangat dihormati dan penemu yang produktif. Tangannya yang cepat sangat dicari sehingga pasien terkadang harus berkemah di ruang tunggunya selama berhari-hari, menunggu giliran untuk menemuinya. Ia mencoba melihat setiap pasiennya, apa pun kondisinya. Dia suka menangani kasus-kasus yang oleh rekan-rekan ahli bedahnya dianggap mustahil.


Beberapa ciptaannya, seperti tang pengunci Jordan splint dan bulldog yang masih diakui banyak dokter lainnya. Jordan juga menerbitkan dua teks medis, Elemen Bedah dan Bedah Praktis. Ia membuat sejarah medis dan melakukan operasi dengan gesit. Sampai saat ini rasa sakit tidak lagi menjadi penghalang keberhasilan operasinya.


Jordan melangkah panjang menuju ruangan VIP yang sudah di reservasi Jane sendiri.


Restauran ini menjadi tempat favorit keluarganya jika ada acara keluarga. Pihak restauran sudah memahami selera keluarga besar Mark itu. Keluarga Mark selalu menggunakan ruangan VIP di restoran ini.


Restauran yang menyajikan makanan khas Perancis ini memiliki interior ala Eropa.


Di kelola langsung oleh Chef asli Perancis.


Keluarga besar Mark menyukai tempat ini karena menu handalannya adalah selera semua keluarga. Restauran ini menyediakan menu degustation, disajikan bersamaan dengan wine. Pihak restauran sudah menyambut kedatangan mereka dan sudah menyajikan makanan pembuka.


Mereka hanya tinggal menunggu Jordan saja.


"Jordan?" Monika memicingkan matanya ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia mengernyitkan keningnya dan mengikuti Jordan yang berjalan agak cepat sembari menerima panggilan.


"Benarkah itu kamu Jordan?"


Mereka hanya berjarak beberapa meter. Mata Monika sudah berkaca-kaca. Monika merasa rindu melihatnya. Mulutnya terbuka dan gemetar. Hidung dan matanya mulai memerah. Monika menarik napasnya lagi. Mencoba menahan perih yang mulai terasa di hidungnya. Monika semakin mempercepat langkahnya mengikuti langkah Jordan. Untuk memanggil ia belum siap.


"Aaahhhhhh..." Monika melepas napas panjang. Air matanya dengan cepat tergelincir bebas di pipinya. Dengan cepat ia mengusapnya. Monika masih tak percaya bisa bertemu Jordan di sini. Melihatnya langsung seperti sudah membuatnya bahagia.


"Alessa, saya disini...!" Panggil Jordan melambaikan tangannya ketika melihat Alessa masih berbicara dengannya melalui ponsel. Alessa tersenyum membalas melambaikan tangannya juga. Mereka sama sama memutuskan panggilan.


"Kenapa begitu lama sekali Jordan?" Kata Alessa menyimpan handphonenya kembali dan tersenyum menyambut kedatangan Jordan.


"Maaf sayang, aku tidak bisa meninggalkan operasi." sahut Jordan memeluk Alessa dan mengecup singkat puncak kepalanya.


"Sekarang kita masuk. Keluarga sudah menunggu kita." ajak Jordan memeluk pinggang Alessa. Mereka pun melangkah masuk ke dalam ruangan VIP itu.


Sementara Monika sudah bersembunyi, ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Suara itu sangat di bencinya, bahkan Monika bersumpah tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi. Jantungnya langsung terpicu cepat saat melihat sosok wanita yang tampak serius berbicara dengan Jordan. Tidak salah lagi. Dia adalah Alessa. Wanita sok ramah sedunia. Posisi Alessa sedang membelakanginya. Monika terdiam dibalik persembunyiannya. Ia masih terkejut dan sangat terkejut. Monika berusaha menstabilkan napasnya.


"Tidak mungkin...ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?" Monika menggeleng tak percaya.


"Apakah jangan-jangan..?" Kalimatnya menggantung. Namun, sepersekian detik ia menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin mereka memiliki hubungan?" Monika masih mematung dengan mulut terbuka.


Jantungnya berdebar tak beraturan di dalam rongga dadanya. Napasnya berhembus cepat dari mulutnya. Ia berusaha untuk menarik napas dalam-dalam agar bisa memenuhi paru-parunya. Namun tidak berhasil. Ia semakin sulit bernapas. Monika lalu mencengkram tangannya sendiri karena masih bingung dengan situasi ini.

__ADS_1


Dengan perlahan Monika berjalan mendekati ruangan VIP restauran. Ia mendengar jelas tawa dari dalam ruangan. Monika menatap pintu dengan tatapan mata yang tajam. Alisnya menukik dengan tajam. Monika berlalu pergi, ia langsung meninggalkan teman sosialitanya. Monika hanya ingin cepat-cepat tiba di rumah dan menanyakan langsung kepada mommy-nya.


"Alessa, aku tidak akan membiarkanmu merebut Jordan dariku. Kau akan tahu kebenarannya, bahwa Jordan pernah menjalin hubungan denganku. Kau akan menangis saat Jordan kembali ke dalam genggamanku. Aku sudah tidak sabar melihat reaksimu saat kau mengetahui kami sudah memiliki anak. Hahahaha..." Monika tertawa seakan menikmati permainan yang baru di mulainya. Wajah sangat dingin, rahangnya bahkan mengeras memancarkan kebencian.


Monika semakin menancap gas mobilnya berlari mengejar waktu agar tiba di rumah dengan cepat. Dalam sekejap Monika sudah sampai di rumah. Ia sedikit berlari dan membuka pintu secara paksa.


"Mommy... Mommy....! Dimana Mommy? " tanya Monika ke salah satu pembantu yang ada di rumah.


"Di kamar, nona!"


Monika langsung melangkah cepat menuju kamar utama. Ia membuka pintu sedikit kasar sehingga membuat wanita paruh baya itu kaget.


"Monika, kau mengagetkanku!" pekik wanita itu. Matanya membulat menatap putrinya dengan tajam.


"Sekarang mommy hubungi aunty, aku ingin tahu dimana Alessa tinggal." Kata Monika berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena ia berlari tadi.


"Untuk apa kau tanyakan keberadaan Alessa, bukankah mommy sudah bilang, soal Alessa biar mommy yang mengurusnya. Kau cukup diam dan menunggu hasilnya."


"Tidak mom, aku tidak ingin menunggu. Melihat Alessa tersenyum bahagia aku tidak terima." Ucap Monika dengan emosi.


"Apa maksudmu?"


"Alessa merebut Jordan dariku mom, aku tidak bisa terima itu. Selama ini aku mencari Jordan dan ternyata...." Monika menggantungkan kalimatnya. Bibirnya bergetar menahan perasaannya yang membuncah. Hatinya sakit mengetahui kenyataan ini.


"Kamu serius?"


"Ya, aku serius mom. Apa aku terlihat berbohong. Apakah Alessa sengaja merebut Jordan dariku?" Tatapannya nanar menatap mommy-nya.


"Tidak mungkin sayang."


"Jadi sekarang apa rencanamu?"


"Aku ingin merebut Jordan kembali. Alessa harus tahu bahwa kami pernah menjalin hubungan dan sudah memiliki anak."


"Baiklah, mommy akan membantumu."


"Bantu aku mom. Jordan harus kembali padaku."


"Pasti sayang. Mommy akan membantumu. Semuanya akan baik-baik saja, percaya dengan mommy." Kata wanita itu sambil memeluk putrinya. "Jordan akan jatuh ke tangan kita sayang!" Ia mencoba menenangkan putrinya itu.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


"Kak Alessa?"


"Heh.." Alessa membalikkan badannya menatap ke arah Jane. Ia membuang napas singkat. Lalu melambaikan tangannya. "Jane?" panggil Alessa tersenyum samar. Tadi ia ke toilet. Tanpa sengaja bertemu dengan Levin. Ia sepertinya sedang bertemu investor di sini. Namun, Alessa hanya bisa melihat punggung Levin. Levin tidak tahu, jika ia berada di restoran yang sama dengannya.


Jane langsung menghampiri Alessa. "Kakak mencarimu? Kita masuk lagi, yuk!" Kata Jane tersenyum dan meraih tangan Alessa agar mereka kembali ke ruangan VIP.


Mereka melangkah dan memilih diam. Alessa larut dalam pikirannya. Entah mengapa ia terus memikirkan Levin. Sudah satu bulan ini, ia tidak pernah bertemu lelaki itu. Apakah Levin sengaja menghindarinya? Alessa juga tidak tahu. Elana juga tidak pernah menghubunginya lagi. Tapi kenapa rasanya begitu sakit? Alessa hanya bisa menarik napasnya dengan pelan.


Sementara Jane memperhatikan Alessa. Ia mengagumi Alessa. Cantik dan berpendidikan. Ia tersenyum samar dan mengakui Jordan memang selalu bisa memilih wanita.


"Kak Alessa," Panggil Jane dengan suara lembut.

__ADS_1


"Hmm." jawabnya.


"Mommy berharap kalian menikah secepatnya." kata Jane mengulangi pembicaraan mereka tadi.


"Aku akan memikirkannya. Jordan juga sepertinya tidak ingin menunggu lama lagi." jawab Alessa tersenyum samar. Pandangannya tetap ke depan.


"Aku juga tidak sabar kakak masuk dalam keluarga kami." Kata Jane melirik sekilas kepada Alessa.


"Benarkah?" kata Alessa tersenyum.


"Hmm. Mommy juga sangat menyukai kakak." Jawab Jane ikut tersenyum. Ia tidak mau membahas soal siapa pria dan anak yang pernah dilihatnya di mall itu. Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu. Mereka hanya diam memasuki ruangan VIP itu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah makan malam bersama keluarga. Jordan mengantarkan keluarganya lebih dulu. Setelah itu Jordan mengantarkan Alessa lagi. Sepanjang jalan mereka hanya diam dan hanya melempar senyum saja.


"Sayang," Panggil Jordan tersenyum melihat ke samping.


"Hmm."


"Kau sudah mendengarnya langsung. Mommy tidak ingin menunggu lama lagi. Dia ingin melihat kita menikah secepatnya."


"Seperti yang aku katakan tadi, aku harus membicarakan masalah pernikahan ini ke orangtuaku dulu."


"Hmm, aku tahu. Minggu ini aku tunggu kabar darimu."


"Pasti. Sesuai janjiku, aku akan mengabarimu secepatnya."


Jordan tersenyum simpul. "Aku akan menunggunya." kata Jordan lagi. Ia menarik tangan Alessa dan menciumnya.


"Kita berhenti di sini." kata Alessa menunjuk jalan yang tidak jauh dari perumahan Flower.


"Heuh, di sini?" Jordan mengernyit bingung. Ia menginjak rem tiba-tiba.


"Ya, aku mau turun di sini. Aku ingin mampir ke supermarket dulu."


"Oke, baiklah." Kata Jordan memarkir mobilnya dengan baik tepat di pinggir jalan.


"Aku bisa sendiri." Kata Alessa dengan cepat sebelum Jordan ikut turun.


Lagi-lagi Jordan menatap bingung. Membuat Alessa tersenyum di sana.


"Kau tidak perlu menemaniku ke supermarket, aku bisa sendiri." Kata Alessa kembali.


"Baiklah, tapi izinkan aku membuka pintu untukmu." Kata Jordan langsung keluar dengan postur tubuh yang tegap dan penuh karisma. Ia mengitari mobil dan melangkah membuka pintu untuk Alessa.


"Terima kasih, Jordan."


"Hmm. Sama-sama." Jordan mendekat dan mencium kening Alessa dengan lembut. "Sampai bertemu besok."


Alessa hanya mengangguk. Jordan kembali masuk ke mobil dan meninggalkan perumahan flower itu. Alessa segera melangkah menuju supermarket yang hendak ditujunya. Namun tiba-tiba langkahnya melambat saat melihat Levin keluar dari supermarket.


DEG!

__ADS_1


Jantung Alessa serasa berhenti saat melihat sosok itu.


"Levin?"


__ADS_2