Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
DEBARAN ANEH.


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Pandangan mereka saling bertemu dan kedua mata mereka saling mengunci begitu dalam.


"Selamat pagi dokter, Alessa!" Sapa Levin dengan sejuta pesonanya.


Alessa mengerjap dan mengembalikan pikirannya. Ia menggunakan name tagnya kembali. Alessa harus tetap profesional. Apalagi pria yang berdiri di depannya adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit ini. Mana kata sambutannya masih terngiang-ngiang di otaknya lagi. Alessa harus benar-benar memberikan pelayanan terbaiknya.


"Oke, Alessa. Anggap saja tidak terjadi apa-apa pada malam itu. Berikan yang terbaik. Kamu mengerti??? Semangat !!!" ucapnya menyemangati dirinya. Ia pun menarik napas singkat dan tersenyum di sana.


"Selamat pagi, tuan Horald. Silakan duduk." Alessa melempar senyum manis dan berucap lembut. Tangannya menunjuk ke kursi depan meja.


Sementara Levin menatapnya dari atas kepala hingga ke bawah. Ini pertemuan ketiga kalinya buat mereka. Ada perasaan aneh yang terus menggelitik hatinya. Dokter yang berdiri di depannya hari ini benar-benar sangat berbeda. Penampilannya begitu sederhana. Dengan rambut kuncir rendah ke belakang, tidak ada hiasan kelap-kelip, hanya jubah dokter putih dan anting kecil yang tidak menyolok. Bau steril dari cairan antiseptik bahkan masih melekat erat di tubuhnya. Pada saku dadanya terdapat beberapa pulpen yang diselipkan.


Make-upnya terlihat biasa saja. Ia nampak begitu natural. Kecantikannya terlihat jelas hari ini. Pertemuannya mereka saat di rumah, tak sebegitu jelas karena Levin menggunakan lampu remang saat itu. Dan senyumannya hari ini, benar-benar membuat hatinya menghangat. Ia tidak pernah mendapatkan senyum setulus itu dari Monika. Senyum ini berbeda, begitu tulus tanpa kepalsuan, tanpa menginginkan sesuatu. Dan ini untuk ketiga kalinya, jantung Levin terpukul lagi.


"Silakan duduk, tuan Levin." Lagi Alessa menunjuk ke arah kursi pasien di depan mejanya. Ia mengernyit bingung saat melihat pria itu hanya diam mematung di tempatnya. Alessa benar-benar tidak nyaman diperhatikan seperti ini.


"Apakah dia mengingat kejadian itu? Astaga...Mau kemana lagi kutaruh wajah ini."


Tak ingin membuat pasien lainnya menunggu. Alessa kembali berucap. "Tuan Horald, jika anda tidak duduk, saya tidak bisa mengetahui keluhan anda."


Tentunya sebagai seorang dokter, Alessa harus lebih dulu melakukan proses anamnesis. Dimana ia harus melakukan komunikasi dengan pasien untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan pasien tersebut.


Mendengar ajakan dari dokter Alessa, bagai baru sadar dari hipnotis, Levin pun mengerjap dan langsung beranjak maju untuk duduk di kursi yang telah disediakan di ruangan itu. Wajah Levin tetap tenang dan berwibawa. Namun tidak dengan jantungnya. Debaran-debaran itu semakin sulit di diamkan. Terpukul seperti genderang yang membuat keributan di dalam rongga dadanya. Mampu melumpuhkan benteng pertahanannya.


Alessa tersenyum lagi dan siap dengan pulpen di tangannya.


"Nama, tuan Levin Horald." Alessa mencatat. Ia tak perlu menanyakannya lagi, karena Alessa sudah tahu nama pria yang duduk di depannya itu. "Umur berapa, tuan?"


"Tiga puluh."


"Baik. Mohon maaf, kalau bisa saya tahu keluhannya apa?"


Dahi Levin mengernyit. "Keluhan?"


"Iya, keluhan anda." Alessa mempertahankan senyumannya. "Gejala atau sakit yang tuan rasakan."


"Tidak ada keluhan."


"Hmm?" Alessa mengernyit. Baru kali ini pasien ditanya tak ada keluhan. "Jadi untuk apa ke sini?" Batin Alessa. "Sebelumnya, maaf tuan. Bukankah Anda biasanya rajin periksa kesehatan?"


"Ya, tapi tidak di tanya seperti ini."

__ADS_1


"Heuh?" Alessa tambah dibuat bingung. "Siapa Dokter yang biasa memeriksa anda, tuan?"


"Dokter Mark."


Alessa tersenyum. "Dokter Mark ada di ruangannya. Bagaimana jika anda saya arahkan ke sana? Saya tidak bisa melakukan pemeriksaan jika tidak ada keluhan."


"Tidak perlu. Saya tetap ingin anda yang memeriksa saya."


Alessa tersenyum lagi. Hampir terpekik. Tuan Horald benar-benar unik. "Baik. Jika anda benar-benar ingin diperiksa. Silakan duduk dulu di ranjang periksa. Kita akan mulai pemeriksaan fisik."


Levin menurut saja, ia duduk di ranjang berukuran satu orang itu. Tatapan matanya masih tetap mengunci Alessa. Alessa pun mengecek tekanan darah.


GLEK!


Levin menelan salivanya berulang kali. Saat Alessa menyentuh tangannya, perasaannya menjadi tidak tenang, ia gelisah.


Usai mencatatnya, Alessa pun lanjut menatap Levin. Ia sedikit ragu untuk mengatakannya. Namun, karena ia adalah seorang dokter, Alessa harus tetap bersikap profesional. Melayani pasien dengan sepenuh hati adalah motto hidupnya. Menjadi dokter bukan hanya bertanggung jawab pada fisik saja, tetapi pada psikisnya juga. Dengan perjuangan batin, Alessa pun berucap.


"Permisi, tuan. Bisa buka kancing bajunya. Saya ingin memeriksa denyut jantung anda." Alessa berucap sambil menyiapkan stetoskopnya. Alessa mencoba mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya saat Levin mengangguk dan membuka kancing bajunya itu.


Levin membuka tiga kancing bajunya. Alessa seketika menelan salivanya. Garis tonjolan tulang selangka di dada Levin terlihat manis. Berpadu dengan lehernya yang jenjang bersama. Bagian dada kekar dan berotot. Putih dan halus, tapi juga maskulin dengan bentuk dan shapenya. Sepertinya nyaman untuk disandari. Tiga tahun menjadi seorang Dokter baru kali ini ia melihat pemandangan seindah itu.


"Apa? indah?" Beberapa detik kemudian, Alessa tersadar. Apa yang sedang dipikirkannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Merasa bodoh. Kini ia berusaha untuk tidak berpikir macam-macam. Ia harus ingat telah memiliki Jordan. Alessa kembali bersikap profesional dengan pembawaan kalem dan lembutnya.


Dengan perlahan, Alessa menyisipkan stetoskopnya ke dada mulus itu. Alessa mendengar detak jantung Levin itu. Ia sedikit mengernyit sembari tersenyum bingung.


"Aneh, debaran jantung tuan Horald, seakan tidak normal, sedikit lebih cepat dan keras. Seperti sedang penuh dengan berbagai macam emosi atau gugup." Alessa terus mendengarkan detak jantung itu. Ia tak bisa memastikan. Namun ia tetap mencacat hasil pemeriksaan pria itu.


"Apa tuan, pernah merasakan sesak di bagian dada?"


"Saya tidak pernah merasakan itu."


Alessa tersenyum lagi. Hal itu semakin membuat Levin merasakan getaran itu kembali. "Apa yang aku pikirkan? Monika atau....?" Wanita ini seperti mampu menguasai dirinya.


Alessa sesaat terdiam, mulutnya seperti tidak sanggup untuk berbicara. Ia menatap sesaat, menangkap tatapan Levin yang duduk di depannya sedang memperhatikan gerak-geriknya. Wajahnya terasa panas karena tidak nyaman dengan tatapan itu. Ia melarikan pandangannya ke bawah dan mencoba tetap berkonsentrasi di sana. "Apakah dia sedang menilai hasil kerjaku?"


Alessa mencoba berpijak pada tingkat kesadaran nyata. Bagaimana ia bisa tidak berkonsentrasi seperti ini. Alessa tetap fokus memeriksa denyut jantung pria itu.


"Sekarang kita periksa bagian perut. Silakan berbaring." Ucap Alessa dengan sopan.


Levin tak menjawab, Ia menurut saja. Setiap melakukan pemeriksaan dengan dokter Mark, ia tidak pernah diperiksa seperti ini. Levin menarik napasnya. Dengan posisi tiduran seperti ini, wajah Levin merah merona. Ini baru pertama kali, seorang wanita menarik keluar kemejanya. Ada rasa geli yang mendebarkan hadir disaat bersamaan. Ada sesuatu yang mengumpul di dada dan di bawah sana.


Dan disaat tangan Alessa menyentuh dan menekan bagian perutnya.


DEG


DEG


DEG


Kali ini jantung Levin begitu jelas bermain-main di dalam rongga dadanya, saat tangan itu menyentuhnya. Levin tak tahan lagi, ia langsung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Heuh?" Alessa tersentak dan begitu terkejut.


"Maaf, saya ke toilet dulu." Levin langsung beranjak dan bergegas masuk ke toilet yang ada di ruangan itu.


Levin mengembuskan napas panjang. "Ada apa denganku, kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini? Apakah aku benar-benar sakit?" Ucap Levin sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin.


"Dan jantung ini kenapa masih berdebar seperti ini? Apakah aku benar-benar sakit?"


Levin menarik napasnya lagi. Kepalanya tertunduk lesu. Tangannya bersandar di sisi beton wastafel.


"Apa yang sebenarnya aku rasakan?" Levin membatin sambil memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat Monika. Tapi perasaan ini biasa saja. Ia tidak merasakan sesuatu di dalam dadanya.


"Apakah aku menyukainya?"


Levin dengan cepat menggeleng, "Tidak...tidak...tidak mungkin." Ia mengembalikan pikiran rasional di atas perasaannya. Ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Berulang kali melakukannya, agar perasannya bisa sedikit lebih baik. Ia lalu membuka kran dan membasuh wajahnya. Ia terus menyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah cinta. Tapi perasaan aneh itu terus menggelitik hatinya.


Tak ingin Alessa menunggunya terlalu lama, Levin pun keluar dari sana.


Ceklek!


Pintu terbuka.


Alessa mengangkat wajahnya dan melihat Levin keluar dari kamar mandi.


"Maaf, dokter Alessa. Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pemeriksaan ini."


"Heuh?" Alessa lagi-lagi dibuat bingung. "Tapi anda belum selesai melakukan pemeriksaan, tuan."


"Saya harus mengikuti rapat pukul 10." Ucapnya berbohong. Namun Levin hanya tidak ingin mengetahui hasil pemeriksaannya hari ini. Ia yakin pasti sesuatu terjadi pada jantungnya. Bagaimana bisa di usianya yang masih muda, bisa menderita penyakit seserius ini.


Embusan napas yang diikuti dengan bahu yang turun menunjukkan Alessa mengalah. Alessa bangun dari duduknya. Ia masukkan tangan ke dalam jas putih panjangnya. Stetoskop yang tadi ia digunakan masih mengalung di leher. "Baiklah, tuan. Anda bisa kembali di lain waktu."


"Terima kasih atas pengertiannya dokter Alessa."


"Bagaimana kabar Elana?" Tanya Alessa sebelum Levin meninggalkan ruangan itu.


Levin tersenyum sambil membalikkan badannya. "Elana sehat. Dia merengek ingin bertemu denganmu. Sepertinya Dia merindukanmu."


Alessa hanya tersenyum mendengar itu. Sesungguhnya ia juga merindukan kelucuan Elana.


"Elana, malam ini ke rumah. Jika kamu bersedia, datanglah ke rumah."


"Heuh?" Alessa terdiam. Lagi mereka saling berpandangan. Dan kali ini, Alessa yang merasakan gugup. Seketika suasana menjadi hening. Mereka saling memandang dan larut dalam tatapan penuh arti.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2