
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Levin berdiri tanpa ekspresi di taman tepat di belakang rumahnya. Ia menatap lurus dan tidak menoleh ke arah Monika. Levin memberikan waktu untuk dirinya agar bisa setenang mungkin. Ia menghembuskan napas panjangnya, lalu berbicara.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kau sampaikan, Monika?" Kata Levin dengan nada datar, matanya menatap lurus tanpa menoleh sedikit pun ke arah Monika.
"Aku ingin tahu kenapa kau mengabaikan panggilanku? Dari kemarin dan sampai detik ini. Apa yang membuatmu seperti itu, kau berubah, Levin! Apa kau sadar itu?" Kata Monika dengan kesal, ia mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal hatinya. Levin tak pernah seperti ini, itu yang membuatnya frustasi.
"Hanya karena itu kau datang ke sini, Monika?" Ucap Levin tak percaya. "Hanya karena aku mengalihkan panggilanmu, kau datang dan sengaja membuat keributan di sini?"
"Aku tidak suka kau mengabaikanku, Levin." Sungut Monika tak suka.
"Dan aku juga tidak suka melihat sikapmu seperti itu Monika, setiap kau mengikuti seminar, kau juga mengabaikan panggilanku, bahkan untuk mengirim kabar pun tidak. Apa kau sadar itu?" Levin melempar kalimat yang sama. Ia menatap Monika dengan tajam. Terlihat dingin dan menakutkan.
"Kenapa kau mengungkit itu lagi, bukannya sudah jelas bahwa aku sibuk dan tidak ada waktu untuk mengangkat teleponmu."
"Oke, aku bisa terima alasanmu. Karena kamu adalah wanita tersibuk yang bahkan mengirimkan pesan saja tidak ada waktu. Jadi sekarang kau juga tidak perlu mempermasalahkan yang aku mau angkat atau tidak, anggap saja itu balasan karena kau tidak pernah membalas pesanku. Bagaimana, kau bisa terima?" Alis Levin menukik tajam, mengalihkan pandangannya sebentar lalu melanjutkan kalimatnya. "Itu adalah konsekuensi atas perbuatanmu dan kau tak perlu lagi memperpanjang masalah itu. Sekarang yang aku tanyakan, apakah kau benar-benar mengikuti seminar, atau.....?" Levin sengaja menggantung kalimatnya. Senyumnya menyeringai.bMembuat bulu kuduk monika berdiri.
Monika terdiam mematung di posisinya, ia seperti terkunci tidak dapat bergerak, wajahnya berubah menjadi cemas. Ekspresi pun terlihat menegang. Monika benar-benar ketakutan kalau Levin mengetahui rahasianya, bisa tamat hidupnya. Monika tersenyum getir di sana. Ia berusaha tersenyum untuk menutupi rasa cemasnya.
"Apa maksudmu, sayang? Tentu saja aku mengikuti seminar di sana." ucap Monika dengan suara seperti tercekat dileher, lidahnya keluh seperti di patuk ular. Ia mencengkram bajunya begitu erat.
"Jika kau ingin hubungan kita bertahan, aku ingin kau jujur! Aku ingin kau mengatakan sebenarnya. Tidak ada yang di tutupi." Kata Levin menekan setiap perkataannya. "Karena kau tau sendiri siapa aku Monika, aku tidak suka ada kebohongan!"
Sumpah, saat ini wajah Monika bertambah pucat ketika Levin mengatakan itu. Pikirannya langsung kacau. Ia ingin menutup ke dua telinganya agar tidak mendengar apa yang ingin di katakan kekasihnya itu. Keringat dingin langsung membasahi dahinya.
Melihat reaksi tubuh Monika, Levin melepaskan senyum smriknya. Ia mengangkat setengah alisnya. "Kenapa kau begitu takut sayang, apa ada yang kau sembunyikan?" tanya Levin mencoba memancing Monika untuk berkata jujur sebelum ia mengeluarkan video yang tersimpan di handphonenya.
"Tentu tidak sayang, seperti yang kau katakan hubungan kita harus di dasari kejujuran. Aku tidak berani untuk menyembunyikan sesuatu darimu, jadi katakanlah!" Kata Monika memaksa wajahnya untuk tersenyum, walau sebenarnya ia benar-benar ketakutan dan ingin berlari sebelum Levin mengatakannya. Monika begitu khawatir jika kebohongannya terungkap. Ini akan menjadi akhir hubungan mereka.
"Apakah ini bagian dari kesibukanmu juga?" Levin mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Membuka video Monika bersama lelaki lain dan langsung memberikannya kepada Monika.
Monika mengerutkan keningnya saat Levin mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Matanya terbeliak saat melihat isi video itu ternyata dirinya. Wajah tegangnya berubah melembut. Monika bernapas lega, Ia membuang napasnya secara perlahan.
Ketakutannya benar-benar tidak terbukti.
__ADS_1
Levin tersenyum sinis saat melihat reaksi Monika yang hanya diam sambil melihat isi video itu. "Apa kau bisa jelaskan itu Monika? video itu diambil saat kau mengikuti seminar di kota A." Tatapan Levin yang begitu dingin membuat Monika menelan salivanya begitu susah, seperti ada duri yang mengganjal tenggorokannya.
Karena tidak ada jawaban Levin berdecak sambil menaikkan sisi bibirnya. Ia menggeram. Tatapannya mendominasi. Rahangnya mengencang kuat dan sorot matanya semakin menajam. "Kau tidak bisa menjelaskan itu?"
Monika memijit pelipisnya, kebiasaan yang dilakukannya saat menutupi kegugupannya. Ia ingin mencari alasan yang tepat.
"Apakah kau selingkuh, Monika? jawab!" Suara Levin meninggi.
Monika tidak terima saat dikatakan selingkuh. Ia menggeleng cepat dan terus menatap ke arah Levin. Mencoba membela diri. "Selingkuh, siapa yang selingkuh?"
"Jadi siapa pria itu?"
"Apa kau tidak mempercayaiku lagi Levin?" Suara Monika pelan dan matanya mulai berkaca-kaca. "Apa kau sengaja memerintahkan orang untuk mengikutiku?" Ucapnya parau dan gemetar.
Levin menarik napas berat. Ia tidak suka melihat Monika menangis. Itu adalah kelemahannya. "Sekarang kau hanya menjawabnya, siapa lelaki itu?"
"Dia sepupuku Levin,"
"Sepupu?" Levin memasukkan tangannya ke kantong celana. Berdiri dengan posisi santai.
"Ya dia sepupuku."
"Kau tidak pernah menceritakan kepadaku mempunyai sepupu lelaki, Monika. Selama ini yang aku tahu, kau hanya mempunyai sepupu wanita yang bekerja sebagai dokter juga."
Monika menunduk dengan tatapan kosong. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak bisa menutupi betapa sedihnya hatinya saat kekasihnya sudah tak lagi memercayainya. "Apa sekarang kau meragukan cintaku? Aku tak pernah mengkhianati cintamu. Aku bersumpah!"
Monika menatap nanar saat melihat keseriusan wajah Levin, Ia tak bisa menutupi segala gejolak di dalam dadanya. Hatinya sakit saat Levin mengatakan cintanya akan terkikis tanpa sisa. Itu tidak bisa terjadi. Monika tidak mau berpisah dari Levin. Ia begitu mencintai lelaki itu.
Monika berjalan pelan dan hanya bisa terdiam. Semakin mendekat dengan langkah-langkah kecilnya. Ia memasukkan tangannya dengan perlahan di dalam lengan Levin. Ia memeluk pinggang kekasihnya dengan lembut. Kepalanya disandarkan dengan nyaman di punggung Levin. Monika memejamkan matanya dan menikmati pelukan itu.
"Maafkan aku sayang, aku tidak menyadari kau begitu kecewa menghadapi sikapku. Tapi aku tak pernah mengkhianati cintamu. Dan video itu..." Monika tak bisa melanjutkan kalimatnya, suaranya bergetar karena tak bisa menutupi rasa sedihnya. "Aku hanya mencintaimu, sayang." Monika menghapus cepat air matanya.
Sementara Levin membuang napasnya melihat kesamping, merasakan pelukan itu kembali. Ia tidak bisa menolak, hatinya berubah hangat. Rasa marahnya hilang bersama dekapan Monika.
"Tetaplah mempercayaiku Levin. Aku sudah pernah mengatakan, aku hanya mencintaimu. Pria yang ada di video itu tidak lain adalah sepupuku. Aku menghubunginya karena aku kebetulan sekali berada di kota A."
Levin hanya diam dengan posisinya. Handphonenya sedari tadi bergetar di dalam kantong celananya. Dia tahu panggilan itu pasti dari Desmond.
"Kau tahu? yang aku butuh itu adalah kau. Kau bisa membuatku nyaman. Aku hanya ingin kau adalah pria terakhir yang mengisi hatiku. Aku serius Levin. Apapun yang terjadi, aku ingin kita selalu bisa bersama selamanya." Monika memejamkan matanya. Mengeratkan pelukan, agar ia nyaman menyandarkan kepalanya di punggung Levin. "Maafkan aku Levin, kamu mau kan memaafkan aku?"
Levin memejamkan matanya dan menghela napas panjang. " Hmmm…Aku memaafkanmu. Tapi aku harap jangan ulangi lagi. Meek komunikasi itu adalah hal yang paling penting. Tentang bagaimana kau membagi, apa yang sedang kau pikirkan dan bagaimana kau memahami perasaan pasanganmu."
"Hmm. Aku mengerti." Ucap Monika hampir tak terdengar oleh Levin.
__ADS_1
Levin membalikkan badannya, ia menatap langsung ke mata Monika yang sudah mengkristal dengan air bening yang siap menetes di pipinya. "Kamu menangis?"
Monika menggeleng. "Aku hanya terlalu bahagia memilikimu." Monika menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Levin menarik tubuh Monika dan memeluk tubuh mungil itu. Beban Monika seketika hilang. Hatinya lega, bagaimana pun Levin tidak boleh tahu masa lalunya. Jika itu terjadi, tidak ada harapan untuk bersatu lagi. Dengan cepat Monika membalas pelukan Levin dengan erat.
"Bagaimana kalau kamu tidak bekerja hari ini, Levin? Kita bisa di rumah seharian. Aku bisa masak makanan kesukaanmu. Kita bisa melakukan apa saja yang kita sukai. Bagaimana?" Monika tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Namun posisi tangannya masih berada di pinggang Levin.
"Aku tak bisa hari ini. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."
Bibir Monika mengerucut sedih. "Untuk hari ini tidak bisa?"
Levin menarik napas singkat, lalu mengusap punggung Monika dengan lembut, "Aku benar-benar tidak bisa hari ini. Kita cari hari yang baik."
"Maksudmu kau ingin mengajakku liburan."
"Liburan?" Levin membuat gestur berpikir sambil mengetuk dagunya. Kemudian ia mengangguk. "Bisa. Kita bisa berlibur. Aku akan menentukan waktunya."
"Kamu serius sayang?" ucap Monika antusias.
"Hmm." Levin mengangguk dan tersenyum saat melihat reaksi bahagia Monika. Sudah lama mereka tidak menikmati liburan bersama.
"Ahhhhh....aku bahagia sekali." Monika kembali memeluk Levin. "Aku tunggu janjimu, sayang."
Levin membelai pipi Monika dengan lembut. "Sepertinya aku harus pergi."
"Heuh, kamu langsung ke kantor?"
"Tidak. Hari ini aku ada jadwal pemeriksaan kesehatan. Habis dari rumah sakit, aku harus mengikuti rapat penting dengan investor asing."
"Baiklah. Tapi kau tidak men...."
Levin sudah lebih dulu melangkah. Monika terdiam kecewa di sana. Biasanya Levin selalu memberikan ciuman hangat dan menggetarkan hati. Monika tersenyum kecewa. Ia terlalu berharap ciuman itu.
Saat melihat Monika tidak mengikutinya. Levin membalikkan badannya. "Kau tidak ikut?"
Monika tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum dan mengikuti langkah Levin. Mereka pun mengambil jalan masing-masing. Levin ke rumah sakit Mitra. Sementara Monika kembali ke rumah. Karena ia bekerja pada shift malam, jadi Monika libur hari ini.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^